Masuk Daftar
My Getplus

Kontroversi Ballon d’Or

Ramalan pemain legendaris Johan Cruyff soal rekor Ballon d’Or Lionel Messi terbukti. Dikitari kontroversi seperti lima pemenang sebelumnya.

Oleh: Randy Wirayudha | 04 Des 2021
Trofi Ballon d'Or yang untuk ketujuh kalinya jatuh ke tangan Lionel Andrés Messi Cuccittini pada 2021 (francefootball.fr)

SEANDAINYA Johan Cruyff masih hidup, mungkin ia bisa tersenyum puas. Nubuatnya pada 2012 tentang rekor Ballon d’Or Lionel Messi menjadi kenyataan pada akhir tahun ini (2021) atau lima tahun pascapesepakbola legendaris Belanda peraih tiga trofi bola emas itu mangkat.

“Sejauh ini dia pemain terbaik di dunia. Dia mungkin akan memenangkan lima, enam, atau tujuh Ballon d’Or. Dia tiada bandingannya. Messi berada dalam nominasi karena dia memenangkan setiap titel penting, karena dia telah memenangkan dua Ballon d’Or dan akan memiliki koleksi Ballon d’Or terbanyak dalam sejarah,” kata Cruyff kepada media Argentina, Olé, 8 Januari 2012.

Untuk ketujuh kalinya, Messi menerima penghargaan pesepakbola terbaik itu. Lewat penganugerahan yang berlangsung di Théâtre du Châtelet di Paris, Senin (29/11/2021) malam itu sekaligus menegaskan Messi menjadi pemain terbanyak yang mengoleksinya (2009, 2010, 2011, 2012, 2015, 2019, 2021).

Advertising
Advertising

Baca juga: Lionel Messi, Alien Sepakbola yang Membumi

Bintang Argentina yang membela klub Paris Saint-Germain (PSG) itu merengkuh trofi ketujuhnya setelah mendapat poin terbanyak dari 180 jurnalis yang jadi voters-nya. Dari 30 nama yang dinominasikan, Messi meraih 613 poin, diikuti Robert Lewandowski (Polandia/Bayern Munich) 580 poin, Jorginho (Italia/Chelsea) 460 poin, Karim Benzema (Prancis/Real Madrid) 239 poin, dan N’Golo Kanté (Prancis/Chelsea) 186 poin. Bintang Portugal yang main di Manchester United, Cristiano Ronaldo, dan Mohamed Salah (Mesir/Liverpool) hanya menempati urutan keenam dan ketujuh.

Namun capaian Messi itu menuai suara sumbang. Media Jerman Bild menyatakan itu hasil skandal. Beberapa tokoh sepakbola, seperti Lewandowski, pun menganggap ada pemain lain yang lebih baik dan lebih pantas mendapatkannya ketimbang Messi.

“Saya tidak yakin dengan (hasil Ballon d’Or) itu, 100 persen. Anda bisa selalu memberikannya kepada Messi atas kariernya tapi jika Anda tak memberikannya kepada Lewandowski kali ini, setelah tahun ini, akan cukup tricky baginya untuk mendapatkannya sama sekali. Dan Mo (Salah) harusnya mendapat hasil lebih tinggi. Votingnya oleh jurnalis, kan? Jangan tanya saya –itu salah kalian. Bicaralah pada para kolega kalian jika mestinya hasilnya berbeda,” tutur pelatih Liverpool Jürgen Klopp, dikutip ESPN, Selasa (30/11/2021).

Baca juga: Wartawan Pencetus Ballon d'Or

Jurgen Norbert Klopp bersama Mohamed Salah Hamed Mahrous Ghaly (kiri) & Robert Lewandowski (liverpoolfc.com/fcbayern.com)

Kritikan lebih pedas dilayangkan Jean-Pierre Papin. Striker Prancis yang merengkuh Ballon d’Or 1991 itu menilai tahun ini Messi sedang dalam performa yang sangat buruk, terutama jelang kepindahannya dari Barcelona ke PSG pada Agustus lalu. Prestasinya hanya raihan Copa América 2020 bersama timnas Argentina.

Itu berkebalikan dengan catatan Lewandowski tahun ini. Lewandowski memainkan 51 laga dengan 61 gol, sedangkan Messi dengan 56 laga hanya mengumpulkan 41 gol. Di klub, Messi hanya memenangkan Copa del Rey. Padahal, Lewandowski memenangkan Bundesliga, DFL-Supercup, dan Piala Dunia Antarklub. Jangankan dibandingkan dengan Lewandowski, prestasi Ronaldo di laga-laga penting MU masih dianggap lebih baik ketimbang Messi di PSG. Maka hasil itu dianggap kontroversi.

“Dia (Messi) sempat tak bermain selama lima bulan! Sejak memenangkan Copa América, apa yang telah dilakukan Messi di Paris? Dia mencetak satu gol di liga, tiga di Champions League. Tahun ini dia tak laik mendapatkannya. Memilih Messi di 2021 hanya akan mendevaluasi Ballon d’Or karena sepertinya trofi itu tak lagi untuk diberikan kepada pemain yang sedang dalam performa tinggi,” kata Papin kepada Le Parisien.

Baca juga: Argentina dan Trofi Copa America yang Dirindukan

Lewandowski sendiri lewat akun Twitter-nya, @lewy_official, legawa dan bersikap sportif dengan mengucap selamat kepada Messi. Ucapan selamat itu mendorong Messi untuk menanggapinya.

“Robert, Anda laik mendapatkan Ballon d’Or Anda. Tahun lalu semua orang tak sepakat jika Anda menang penghargaan ini. Semoga (penyelenggara) France Football akan memberikan Anda Ballon d’Or 2020. Kami semua yakin dan saya berharap Anda mendapatkannya di rumah,” kata Messi, dilansir talkSPORT, (Selasa 30/11/2021).

Bukan kali ini saja pemenang Ballon d’Or banjir kritik. Berikut lima pemain yang meraihnya namun diliputi kontroversi:

Igor Belanov (1986)

Igor Ivanovich Belanov dan trofi Ballon d'Or 1986 (francefootball.fr)

Bagi pecinta sepakbola era 2000-an kemari, nama Igor Belanov mungkin terdengar asing. Padahal, striker Uni Soviet yang membela Dynamo Kyiv itu memenangi Ballon d’Or tahun 1986.

Karier sepakbola Belanov –kelahiran Odessa, Ukraina pada 25 September 1960– terdongkrak setelah bergabung dengan Dynamo Kyiv yang ditangani pelatih tenar Valery Lobanovski. Lobanovski yang menginspirasi Ralf Rangnick, pelatih Manchester United saat ini, kala menciptakan taktik gegenpressing yang kondang saat ini.

Lewat tangan dingin Lobanovski, Belanov mulai dikenal sebagai pemain yang punya power dan kecepatan. Itu membuatnya setara dengan bintang Kyiv lain, Oleg Blokhin. Hasil dari duetnya adalah juara Piala Winners 1985-1986.

Baca juga: Kisah Klopp, Liverpool dan Gegenpressing

Namun, di level internasional, Belanov hanya mampu mengantarkan timnas Soviet ke babak 16 besar Piala Dunia 1986 dengan torehan empat gol sepanjang turnamen. Maka ketika 26 voters memenangkan nama Belanov meraih Ballon d’Or 1986 dengan 84 poin, banyak pihak terhenyak. Yang paling jengkel adalah Diego Maradona. Pasalnya, tahun 1986 tahun keemasannya baik di Napoli dan maupun timnas Argentina.

“Sejak 1984 mestinya saya sudah menangkan (Ballon d’Or), tapi orang Prancis (Michel Platini) itu yang menang. Katakanlah saya menang sekali. Pada ’85 Platini menang lagi. Apakah dia membeli trofinya? Lalu pada ’86 Belanov yang menang. Igor Belanov? Di ’86? Ayolah! Itu tahun Piala Dunia di mana saya menang bersama Argentina, seandainya Anda lupa. Mestinya saya sudah dapat dua,” ujar Maradona dalam Touched by God yang ditulisnya bersama Daniel Arcucci.

Maradona sial lantaran terbentur regulasi. Sebelum 1995, Ballon d’Or masih dikhususkan untuk pemain Eropa. Namun jika Maradona tidak bisa, banyak pihak menganggap Gary Lineker lebih pantas menerima trofi itu ketimbang Belanov. Pasalnya, bomber Inggris itu penampilannya lebih konsisten dan jadi topskorer Piala Dunia 1986 (enam gol).

“Selain Maradona ada Careca dari Brasil tapi mereka tak bisa masuk nominasi karena dulu masih khusus pemain Eropa, jadi saya berasumsi saya yang akan menang. Tetapi voting-nya dilakukan para jurnalis dan mereka belum pernah memilih pemenang dari Blok Timur. Untuk alasan tertentu itulah mereka memilih Igor Belanov. Dia bukan pemain fantastis, terlepas membantu Dynamo Kyiv menang Piala Winners. Dia mengalahkan saya,” kata Lineker dalam Match of the Day: Our Ultimate Football Debates yang dituliskan bersama Alan Shearer dan Micah Richards.

Matthias Sammer (1996)

Matthias Sammer, satu dari sedikit pemain bertahan yang memenangi Ballon d'Or (francefootball.fr)

Sekarang, bisa dibilang Sukar bahkan mustahil untuk pemain bertahan, apalagi kiper, bisa menang Ballon d’Or. Virgil van Dijk (Belanda/Liverpool) pernah nyaris menang pada 2019 tapi akhirnya kalah tujuh poin dari Messi. Maka selain Fabio Cannavaro (Italia/Juventus) pada 2006, hanya ada Matthias Sammer (Jerman/Borussia Dortmund) yang pernah memenangkannya (1996) kendati berkalang kontroversi.

Pada 1996, jumlah voters sudah bertambah menjadi 51. Selain Sammer, kandidatnya di lima besar ada Ronaldo Luiz Nazario de Lima (Brasil/Inter Milan), Alan Shearer (Inggris/Newcastle United), Alessandro Del Piero (Italia/Juventus), dan Jürgen Klinsmann.

Mulanya, banyak yang mengira pemenangnya akan jatuh pada Ronaldo (Brasil/Barcelona). Tahun itu kebintangannya tengah benderang dengan raihan trofi Copa del Rey, Supercopa de España, dan Piala Winners. Ronaldo juga jadi topskorer La Liga dan meraih European Golden Shoe.

Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena

Jika bukan Ronaldo, Ballon d’Or diprediksi akan jatuh ke kapten Jerman saat menjuarai Piala Eropa 1996, Klinsmann. Selain sukses dengan timnas, Klinsmann bersama Bayern memenangkan Bundesliga dan Piala UEFA. Klinsmann jadi pemain tersubur turnamen itu.

Namun, banyak orang akhirnya tercengang ketika nama Sammer disebut sebagai pemenang Ballon d’Or 1996. Sammer unggul satu poin (144) dari Ronaldo (143).

Shearer yang menempati urutan ketiga (107) jadi salah satu yang kaget dan kecewa. Dia masih bisa terima jika kalah dari Ronaldo, namun tidak dengan Sammer.

“Saya pikir saya punya kesempatan memenangkan Ballon d’Or. Saya sudah melakukan segalanya yang saya bisa di tahun 1996: Saya finis topskorer di Piala Eropa musim panas itu, dan memecahkan rekor tranfer dunia ketika saya direkrut Newcastle, beberapa bulan setelahnya. Pada akhirnya saya hanya finis ketiga di bawah Matthias Sammer –si kapten Jerman– dan Ronaldo,” ungkap Shearer dalam Match of the Day: Our Ultimate Football Debates yang dituliskan bersama Gary Lineker dan Micah Richards.

Luís Figo (2000)

Kolase Luís Filipe Madeira Caeiro Figo yang menang Ballon d'Or menyingkirkan Francesco Totti (Twitter @ChampionsLeague)

Dunia sepakbola pada peralihan abad XX ke XXI melahirkan banyak pemain jempolan. Namun, tak satupun dari mereka yang lantas dimenangkan oleh 51 voters untuk trofi Ballon d’Or 2000.

Awalnya, publik memprediksi Zinedine Zidane yang akan menang. Selain tengah on fire bersama Juventus, dia menjadi motor Prancis menjuarai Piala Eropa 2000 dan Zidane jadi pemain terbaiknya.

Selain Zidane, kandidat kuat peraih Ballon d’Or 2000 adalah Francesco Totti. Striker AS Roma dan Italia itu jadi pemain terbaik Serie A 2000, man of the match final Piala Eropa 2000, dan sedang menyongsong titel Serie A bersama Roma.

Baca juga: AS Roma Harga Mati bagi Francesco Totti

Namun, tak satupun dari kandidat kuat itu yang menang Ballon d’Or 2000. Justru Luís Figo yang keluar sebagai pemenangnya dengan 197 poin, mengalahkan Zidane (181 poin) dan Shevchenko (85 poin).

Publik pun bertanya. Pasalnya, gelandang Portugal itu sepanjang tahun 2000 hanya punya prestasi berupa pemain asing terbaik La Liga 1999 dan 2000, mengantarkan Barcelona ke semi-final Champions League, dan runner-up La Liga 1999-2000. Figo juga tengah jadi sasaran murka fans Barcelona lantaran pada Juli 2000 membelot ke musuh bebuyutan, Real Madrid.

Toh, Figo tetap jadi pemenangnya. Namun butuh waktu lama baginya untuk mengakui bahwa trofi itu lebih pantas diraih Totti.

“Francesco yang luar biasa, kamu bertambah tua ya? Ulang tahun ke-40, harapan terbaik untukmu, temanku. Dan saya minta maaf telah mencuri Ballon d’Or di tahun 2000 –kamu yang pantas mendapatkannya,” kata Figo dalam video ucapan ulangtahun, dikutip Football-Italia, 27 September 2016.

Pavel Nedvěd (2003)

Pavel Nedvěd saja kaget menang Ballon d'Or 2003 (francefootball.fr)

Tahun 2003 adalah tahun kejayaan Thierry Henry (Prancis/Arsenal) dan Paolo Maldini (Italia/AC Milan). Nama-nama seperti Zinedine Zidane (Prancis/Real Madrid), Andriy Shevchenko (Ukraina/AC Milan), dan Raúl González (Spanyol/Real Madrid) pun tak kalah ciamik lantaran punya peran besar di tim masing-masing.

Henry punya catatan 42 gol dan 26 assist, baik untuk Arsenal maupun timnas Prancis, dalam setahun itu. Publik pun banyak yang menjagokan pemain kunci di skuad “The Invincibles” Arsenal asuhan Arsène Wenger itu.

Tetapi di malam penganugerahan Ballon d’Or 2003, kejutan terjadi. Pavel Nedvěd (Rep. Ceko/Juventus) mendapatkan 45 poin dari 52 voters sehingga memenangkannya. Henry harus puas di tempat kedua (37), dan Maldini (38) di posisi tiga.

Baca juga: Trofi Piala Dunia Tinggal Kenangan

Padahal, Nedvěd bukan satu-satunya pilar kunci Juventus kala menang Scudetto musim 2002-2003. Ia pun gagal tampil di final Champions League 2002-2003 karena akumulasi kartu kuning. Oleh karenanya, Nedvěd mengaku kaget saat namanya disebut sebagai pemenang.

“Saya bahkan tak pernah memimpikannya. Saya dengar hanya jadi bagian dari nominasi tapi saya tak pernah berpikir bakal menang. Ada banyak pemain yang permainannya bagus di musim ini, seperti Zidane, Maldini, dan Raúl. Henry bagi saya adalah penyerang terbaik saat ini. Saya tak pernah berpikir bisa mengalahkan Henry, Maldini atau Zidane dan jika saya berhak voting, saya akan memilih Thierry di podium,” tutur Nedvěd, dinukil BBC, 22 Desember 2003.

Cristiano Ronaldo (2013)

Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro mengoleksi Ballon d'Or keduanya pada 2013 (realmadrid.com)

Gelar juara Bundesliga, ceklis. DFB Pokal, ceklis. Trofi Champions League, ceklis. Piala Super Eropa, ceklis. Piala Dunia Antarklub, ceklis. Lembar prestasi Frank Ribéry bersama Bayern Munich di tahun 2013 sepertinya sudah kehabisan kolom ceklis. Ia juga pemain terbaik dan top-assist Bundesliga musim 2012-2013 dan peraih bola emas Piala Dunia Antarklub 2013. Namun apes buat winger lincah berpaspor Prancis itu lantaran sejumlah ceklis itu belum cukup untuk membuatnya dianugerahi Ballon d’Or.

Ballon d’Or tahun 2013 yang masih diselenggarakan bareng FIFA jatuh ke tangan Cristiano Ronaldo (Portugal/Real Madrid) dengan 1.365 suara. Itu jadi Ballon d’Or kedua Ronaldo setelah 2008. Ronaldo mengalahkan Messi (Argentina/Barcelona) di tempat kedua dengan 1.205 suara. Ribéry yang sudah memenangkan banyak hal cuma bertengger di tempat ketiga dengan 1.127 suara.

Memang kalau soal gol, Ribéry masih kalah dari Ronaldo atau Messi. Dari semua ajang, klub maupun internasional, tahun 2013, Ronaldo membukukan 66 gol dari 56 laga; Messi 42 gol dari 45 laga; dan Ribéry 22 gol dari 52 laga. Tetapi jika bicara raihan trofi, di tahun itu Ronaldo puasa gelar. Messi lebih baik, dia merengkuh titel La Liga. Sedangkan Ribéry, memenangkan segalanya.

Terang saja Ribéry sewot. Sampai 2019 pun ia mengenang momen itu sebagai “perampokan” berbau politis.

“Lebih dari sekadar kekecewaan. Itu adalah ketidakadilan terbesar, tak hanya dalam karier saya tapi juga bagi banyak orang. Saya tak merasa harus iri pada Messi atau Ronaldo tahun itu. Saya mengatakannya dengan segala kerendahan hati karena itulah kebenarannya. Saya memenangkan segalanya. Ronaldo tak memenangkan apapun. Saya merasa pantas mendapatkan penghargaan itu. Itu semua karena politik,” ujarnya, dikutip Essentially Sports, 14 Juni 2019.

Baca juga: Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira

TAG

ballon-d'or sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Maroko dan Piala Dunia FIFA Uncovered dan Tikus-Tikus Berdasi Pejabat Sepakbola Sepakbola Jepang dan Indonesia Si Kulit Bundar di Saudi Adidas dan Kemenangan Jerman Barat di Piala Dunia 1954 Tentara, Pengusaha, dan Pengurus Sepakbola Celaka Dua Belas di Pintu Dua Belas Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola Purnawirawan Jenderal Pendiri Arema Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola