Masuk Daftar
My Getplus

Turnamen Penentu Klub Terbaik Sekolong Langit

Selayang pandang turnamen-turnamen penentu klub terbaik di dunia sejak abad ke-19.

Oleh: Randy Wirayudha | 16 Feb 2023
Selebrasi skuad Real Madrid yang meraih trofi Piala Dunia Antarklub untuk kelima kalinya (fifa.com)

BANYAK tolok ukur untuk menyebut klub mana yang paling top dan terbaik sejagat. Antara lain filosofi permainan, pemain-pemain yang dicetak di akademi tiap klub, kuantitas basis fans setia, kekuatan finansial, hingga prestasi. Tapi bagaimana jika langsung diadu di lapangan? Suka-tidak suka, penggila bola sekolong langit harus mengakui Real Madrid yang terbaik.

El Real mencatatkan raihan trofi Piala Dunia Antarklub FIFA untuk kelima kalinya pada Minggu (12/2/2023) di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko. Di laga final, Karim Benzema cs. sukses menekuk jawara Liga Champions Asia (AFC) asal Arab Saudi, Al-Hilal FC, dengan skor 5-3.

Dengan perolehan lima trofi itu, Real Madrid tercatat sebagai klub terbaik di antara klub-klub terbaik Eropa, Asia, dan Amerika. Gelar yang sama juga direngkuh Real Madrid pada 2014, 2016, 2017, dan 2018. Rivalnya sesama klub Spanyol, Barcelona, mengikuti dengan raihan tiga titel, lalu klub Brasil SC Corinthians Paulista dengan dua trofi.

Advertising
Advertising

Baca juga: Piala AFF, Turnamen Para Jawara Asia Tenggara

Seiring berakhirnya turnamen edisi ke-19 itu juga diumumkan tuan rumah Piala Dunia Antarklub edisi ke-20 yang akan balik ke tanah Asia. Arab Saudi terpilih jadi tuan rumah turnamen yang terjadwal pada 12-22 Desember 2023 tersebut.

“Kami merasa sangat terhormat dan antusias diberikan kesempatan menyambut klub-klub top dunia beserta para fansnya ke Arab Saudi. Kami menggelar event olahraga internasional dengan alasan yang sederhana, yakni kami sangat percaya kekuatan olahraga untuk menginspirasi generasi muda, untuk menciptakan dan membangun hubungan-hubungan baru,” kata Menteri Olahraga Saudi Pangeran Abdulaziz bin Turki al-Saud dikutip Eurosport, Rabu (15/2/2023).

Semenjak inagurasinya pada tahun 2000, Piala Dunia Antarklub paling sering digelar di Asia. Jepang terhitung delapan kali jadi host, Uni Emirat Arab (UEA) lima kali, lalu Qatar dua kali. Amerika Selatan dengan diwakili Brasil hanya sekali jadi tuan rumah ketika debut turnamen pada 2000. Justru Maroko yang mewakili Afrika sudah tiga kali jadi tuan rumah (2013,2014, dan 2022).

Menariknya, kendati klub-klub Eropa paling sering menjuarainya, turnamen yang mempertemukan para jawara masing-masing benua itu tak pernah sekalipun dihelat di “Benua Biru”. Spanyol pernah terpilih jadi host pada 2001, namun turnamennya kemudian dibatalkan gegara problem finansial yang tengah mendera FIFA.

Baca juga: Si Kulit Bundar di Saudi

Emblem Arab Saudi usai terpilih sebagai host Piala Dunia Antarklub 2023 (saff.com.sa)

Turnamen-Turnamen Pendahulu

Jauh sebelum FIFA secara resmi menaungi turnamen penentu klub terbaik pertamakali pada permulaan abad ke-21, setidaknya ada delapan turnamen antarklub serupa tapi tak sama. Kedelapan turnamen sama-sama mengklaim mempertandingkan jawara masing-masing wilayah dengan menggunakan label “dunia”.

Inggris jadi pelopornya, bahkan sudah sejak 1876 dengan menggelar Football World Championship. Turnamen yang diprakarsai FA dan Scottish FA ini kadang juga disebut International Club Championship atau United Kingdom Championship lantaran yang dipertandingkan adalah kampiun Inggris dan Skotlandia semata.

Mengutip suratkabar The Glasgow Herald, 6 November 1876, event perdana yang mempertemukan Wanderers FC asal London selaku jawara FA Cup kontra Queen’s Park FC asal Glasgow sang kampiun Scottish Cup itu dihelat di stadion kriket yang disulap jadi lapangan sepakbola, Kennington Oval, London. Meski kemudian wakil Skotlandia menang telak 6-0, belum ada trofi yang diraih. Hanya prestis serta nama harum yang dibawa pulang.

Trofinya baru dihadirkan untuk diperebutkan pada 19 Mei 1888 ketika Renton FC menang 4-1 atas West Bromwich Albion. Di Tontine Park yang jadi kandang Renton FC pun sampai dipajang spanduk bertuliskan “Champions of the World”.

Baca juga: Arena Sejarah Piala Eropa

Tim Queen's Park FC asal Glasgow, Skotlandia pada 1870-an (theglasgowstory.com)

Ajang itu digulirkan rutin setiap lepas guliran FA Cup dan Scottish Cup hingga musim 1903-1904. Bury FC jadi pemenang terakhirnya usai mengalahkan Glasgow Rangers di laga home-away dengan skor serupa, 2-1.

Lima tahun pasca-dibubarkannya turnamen tersebut, tokoh Inggris Sir Thomas Lipton memprakarsai ajang lintas-Eropa pada 1909. Meski tanpa restu FA, Lipton melakukan pendekatan dengan sejumlah petinggi sepakbola Italia agar event-nya digelar di Italia dengan keikutsertaan tim-tim Inggris. Pasalnya setahun sebelumnya, Torneo Internazionale Stampa Sportiva tak mengundang satupun klub Inggris.

“Miliuner Thomas Lipton pendiri Lipton Tea Company, selalu menginginkan adanya perwakilan Inggris di turnamennya tapi FA menolak memilihkan satu tim pun untuknya. Ia pun memerintahkan salah satu pegawainya yang dahulu pernah menjadi wasit di Northern League untuk mencarikan wakil Inggris sampai ditemukanlah tim West Auckland,” ungkap Russell Ash dan Ian Morrison dalam Top 10 Football: 250 Lists on the Beautiful Game.

Lantaran trofinya pun disumbang Lipton, maka turnamennya dinamai Sir Thomas Lipton Trophy. Pertamakali digelar di Torino, Italia selama dua hari (11-12 April 1909), turnamen diikuti empat tim: Torino XI (Italia), Stuttgarger Sportfreunde (Jerman), FC Winterthur (Swiss), dan West Auckland Town FC (Inggris). Oleh karenanya, Sir Thomas mengklaim event itu sebagai Piala Dunia Antarklub pertama.

Baca juga: Rupa-Rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama

Skuad West Auckland Town FC dengan piala Sir Thomas Lipton Trophy 1909 (Wikipedia)

Namun, turnamen tersebut hanya dua kali dihelat, pada 1909 dan 1911. Keduanya dimenangi West Auckland.

Turnamen berlabel antarbenua pertama yang diakui FIFA adalah Copa Rio yang hanya dihelat dua kali, pada 1951 dan 1952. Turnamen ini merupakan ide jurnalis senior harian Jornal dos Sports, Mário Filho. Sejak 1950, dia mengangankan  membuat Piala Dunia versi klub di mana turnamennya mempertemukan klub-klub terbaik dunia. ide Filho lantas didukung dan direalisasikan federasi sepakbola Brasil, Confederação Brasileira de Desportos (CBD, kini CBF).

Akan tetapi, menurut suratkabar El Mundo Deportivo edisi 5 April 1951, Presiden FIFA Jules Rimet mengatakan, Copa Rio tetap bukan turnamen resmi dan tidak di bawah yurisdiksi FIFA lantaran ajangnya dilaksanakan dan disponsori CBD. Dua tokoh sepakbola FIFA, Stanley Rous dan Ottorino Barassi, memang ikut berpartisipasi dalam ajang itu, namun bukan membawa nama FIFA. Rous bertugas menegosiasikan keikutsertaan klub-klub di bawah naungan UEFA (otoritas sepakbola Eropa) dan Barassi membantu mengatur kerangka dan sistem kompetisi yang merujuk sistem dan regulasi Piala Dunia.

Edisi perdana Copa Rio digelar 30 Juni-22 Juli di dua venue, yakni Estádio do Maracaña (kini Estádio Jornalista Mário Filho) di Rio de Janeiro; dan Estádio do Pacaembu (kini Estádio Municipal Paulo Machado de Carvalho) di São Paulo. Di antara delapan pesertanya, CBD turut mengundang Juventus (juara Serie A 1949-1950), Austria Wien (juara Admiral Bundesliga Austria 1949-1950), OGC Nice (juara Divisi 1 Prancis 1950-1951), Sporting Lisbon (juara Primeira Divisão Portugal 1950-1951), Club Nacional (juara Primera División Uruguay 1950), dan Red Star Belgrade (juara First League Yugoslavia 1951). Sedangkan tuan rumah Brasil diwakili dua klub terbaiknya, Vasco da Gama (juara Campeonato Carioca 1950) dan Palmeiras (juara Campeonato Paulista 1950).

Baca juga: Argentina dan Trofi yang Dirindukan

Skuad Sociedade Esportiva Palmeiras di final Copa Rio 1961 (arquivonacional.gov.br)

Setelah melewati fase grup yang terdiri dari dua grup, lalu melewati dua leg laga semifinal dan final, Palmeiras keluar sebagai pemenangnya. Klub berjuluk “Periquito Verde” itu mengungguli Juventus di dua laga final, 1-0 dan 2-2 (agregat 3-2) untuk mengklaim piala berbahan perak yang punya label trofi Campeão Mundial atau juara dunia.

Di edisi Copa Rio 1952 yang juga diikuti delapan peserta, wakil tuan rumah, Fluminense FC, kembali menang. Di dua leg final bertajuk “all-Brazillian final” itu Fluminense mengungguli Corinthians dengan skor 2-0 dan 2-2 (agregat 4-2).

Melanjutkan “estafet” Copa Rio, sejumlah pebisnis Venezuela didukung perusahaan Venezuela Deportiva dan FVF (federasi sepakbola Venezuela) menginisiasi turnamen tahunan yang juga menghadirkan klub-klub Amerika dan Eropa mulai 1952. Dinamai Pequeña Copa del Mundo atau Piala Dunia Kecil, turnamen ini memperebutkan trofi Copa Coronel Marcos Pérez Jiménez –dinamakan sesuai pendonor trofinya.

Edisi perdananya digelar 12-29 Juli 1952 dengan mengundang empat klub peserta. Selain La Salle FC sebagai wakil tuan rumah yang juga jawara Primera División 1952, ajang itu turut menghadirkan klub Kolombia, Millonarios FC (juara Campeonato Profesional 1951); klub Brasil, Botafogo (juara Campeonato Carioca 1951); dan Real Madrid. Kendati saat itu Real Madrid bukan jawara La Liga dan hanya finis urutan ketiga musim 1951-1952, Alfredo di Stéfano dkk. tetap lebih superior sehingga merengkuh trofi perdananya usai dua kali menang dan empat kali imbang di ajang bersistem round-robin tersebut.

Baca juga: Piala Super Spanyol Sarat Drama

Skuad Real Madrid yang memenangkan trofi Pequeña Copa del Mundo (pmlagranfamilia.com/lagalerna.com)

Pequeña Copa del Mundo rutin digelar sampai 13 edisi. Namun setelah kemunculan European Champions Club’s Cup (kini Liga Champions) pada 1955, ajang ini mulai jarang lagi dilirik klub mentereng Eropa. Akibatnya, beberapa edisi terakhirnya justru mengundang tim nasional Jerman Timur yang tercatat jadi pemenang terakhir ajang itu pada 1975.

Sementara, ketika Venezuela masih menggelar ajang antar-benuanya, Prancis mulai 1957 juga menggelar turnamen yang nyaris serupa, Tournoi de Paris. Turnamen ini diprakarsai klub Racing Paris yang didukung UEFA dan CONMEBOL (otoritas sepakbola Amerika Selatan). Turnamennya digagas para pendiri PSG peringatan 25 tahun berdirinya klub.

Karena digelar di Paris, trofinya pun dibuat PSG dengan mengambil bentuk landmark ikonik Menara Eiffel. Pada edisi perdananya (1957), Tournoi de Paris dihadiri PSG dan tiga tim undangan: Real Madrid (juara European Cup 1956), Vasco da Gama (juara Campeonato Carioca 1956), dan Rot-Weiss Essen (juara Oberliga West 1955). Meski hanya sendirian mewakili Amerika Selatan, Vasco da Gama menunjukkan tajinya dengan memenangkan trofi perdana turnamen yang juga bersistem round-robin tersebut.

Seiring waktu, Tournoi de Paris hanya sekadar dijadikan turnamen pemanasan pramusim yang berlangsung hingga 2012. Dari 31 edisi yang digelar, Paris Saint-Germain (PSG) tercatat jadi klub dengan raihan titel terbanyak, 7 trofi.

Baca juga: Mula Turnamen Para Juara

Tim utama Real Madrid dengan trofi Intercontinental Cup (realmadrid.com)

Sedangkan sejak 1960, sebuah turnamen yang diprakarsai bersama oleh UEFA dan CONMEBOL tercipta dengan label Intercontinental Cup. Belakangan, sejak 1980 hingga edisi terakhirnya pada 2004, turnamennya lebih kondang disebut Toyota Cup lantaran disponsori raksasa otomotif Jepang Toyota.

Harian Tribuna de Imprensa edisi 23 Oktober 1958 mengungkapkan, gagasan Intercontinental Cup sedianya sudah diusung sejak medio Oktober 1958 dalam pembicaraan antara presiden federasi Brasil, João Havelange, dengan jurnalis Prancis Jacques Goddet. Havelange pula yang menyuarakan ide itu setiap kali hadir sebagai undangan di beberapa rapat UEFA.

“Ajangnya dilahirkan pada 1960 lewat inisiatif UEFA dan dukungan CONMEBOL dan dikenal sebagai Intercontinental Cup. Pertandingannya mempertemukan juara European Champions dan pemenang Copa Libertadores yang baru eksis pula. FIFA menolak mendukung kecuali pertandingannya diberi status ‘laga persahabatan’,” tulis El Mundo Deportivo, 3 Juni 1961.

Baca juga: Europa League Tempo Doeloe

Oleh karenanya, berbeda dari turnamen-turnamen lain pendahulunya, Intercontinental Cup pun hanya dihadiri dua peserta, yakni pemenang Liga Champions dan Copa Libertadores. Real Madrid memenangi edisi pertamanya pada 3 Juli 1960 di Estadio Centenario, Montevideo, Uruguay, usai unggul di dua leg, 0-0 dan 5-1 (agregat 5-1).

Hingga edisi terakhirnya pada 2004, turnamen yang diakui FIFA sebagai pendahulu Piala Dunia Antarklub itu cukup seimbang jika menilik siapa yang paling hebat antara jawara Eropa dan Amerika Selatan. Setidaknya ada lima klub yang menorehkan catatan meraih tiga trofi: AC Milan, Real Madrid, Peñarol, Boca Juniors, dan Club Nacional.

Last but not least, FIFA pun mulai memikirkan gagasan turnamen antarklub yang lebih global serta dinaungi sendiri olehnya. Menukil , 6 Desember 1999, Presiden FIFA Sepp Blatter menguraikan bahwa ide awal turnamen berlabel Kejuaraan Dunia Antarklub sudah dibicarakan di internal komite eksekutif FIFA sejak Desember 1993.

“Setiap Desember ada Toyota Cup di Tokyo, duel antara dua tim top dari Eropa dan Amerika Selatan. Tetapi sekarang ada lebih banyak tim kuat di setiap benua dan oleh karena itu dibutuhkan sebuah kejuaraan dunia, dan dasar keputusan untuk mengorganisasi kompetisi semacam itu baru diambil komite eksekutif FIFA pada 1996,” kata Blatter.

Perayaan tim Sport Club Corinthians Paulista yang memenangkan Piala Dunia Antarklub edisi perdana (corinthians.com.br)

Itu pula alasan di balik keputusan FIFA menetapkan pesertanya bukan hanya diikuti dua tim, tapi dari semua perwakilan konfederasi. Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, Afrika, Asia, hingga Oseania semua punya wakil.

“Dengan begitu kita akan melihat pertandingan sepakbola yang atraktif. Sepakbola level klub juga menjadi wilayah baru bagi FIFA dan saya percaya bisa berhubungan lebih dekat dengan banyak klub memberikan kami pengalaman yang akan berguna di masa mendatang,” imbuhnya.

Meski keputusannya sudah diambil FIFA pada 1996, turnamen yang diberi label FIFA Club World Cup itu baru digulirkan perdana pada 2000 dan setelah melakoni proses bidding yang diikuti Turki, Amerika Serikat, Arab Saudi, Uruguay, dan Brasil, diputuskan negara terakhir inilah yang terpilih jadi host pertamanya.

Piala bergilir yang diperebutkan juga dinamai FIFA Club World Championship Cup yang didesain perusahaan Italia, Sawaya & Moroni. Trofinya dibuat dari bahan perak berdimensi tinggi 37,5 centimeter dan berbobot 4 kilogram. Di perhelatan debutnya, trofi itu akan jadi hadiah untuk dimenangkan delapan partisipan dari enam konfederasi.

Brasil sebagai tuan rumah diberi keistimewaan diwakili dua klub, yakni Vasco da Gama (juara Copa Libertadores 1998) dan Corinthians (juara Campeonato Brasileiro 1998). Sedangkan enam peserta lainnya adalah SA Necaxa (juara CONCACAF Champions Cup 1999), Raja Casablanca (juara Liga Champions CAF 1999), South Melbourne FC (juara Oceania Club Championship 1999), Al-Nassr FC (juara Asian Super Cup), Manchester United (juara Liga Champions 1998-1999), dan Real Madrid (juara Intercontinental Cup 1998).

Baca juga: Jalan Panjang Piala Dunia Kaum Hawa

TAG

fifa sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Tendangan dari Sakartvelo Singa Mesopotamia yang Menyala Naga Wuhan di Bawah Mistar Persebaya Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian II - Habis) Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian I) Memori Historis Barcelona di Wembley Di Balik Rekor Eropa Real Madrid Johny Pardede dari Sepakbola hingga Agama Jatuh Bangun Como 1907 Comeback ke Serie A Bata Selain Pabrik Sepatu