Masuk Daftar
My Getplus

Mula Turnamen Para Juara

Digagas wartawan dan diadaptasi dari turnamen di Amerika Latin, pamor Liga Champions justru hampir menyamai Piala Dunia.

Oleh: Randy Wirayudha | 25 Mei 2018
Replika trofi Liga Champions di Deutsches Fußballmuseum Dortmund. (Randy Wirayudha/Historia.id).

Meski hanya diikuti klub-klub top Eropa, Liga Champions mampu menghipnotis pecinta sepakbola dari berbagai penjuru dunia. Prestis Liga Champions tak kalah hebat dari Piala Dunia.

Real Madrid menjadi klub pertama yang menjuarai Liga Champions tahun 1956 kala turnamen itu bernama European Champion Club's Cup. Hingga kini, klub ibu kota Spanyol itu juga pengoleksi terbanyak trofi Liga Champions.

Bagaimana sebetulnya awal mula Liga Champions?

Advertising
Advertising

Pentas Akbar yang Dibidani Suratkabar

Kejuaraan sepakbola antarklub Eropa berakar dari Challenge Cup. Kejuaraan antarklub amatir ini dicetuskan John Gramlick, pendiri klub Vienna FC, pada 1897. Namun, partisipan ajang ini masih terbatas untuk tim-tim di Kekaisaran Austria-Hungaria.

Seiring perjalanan waktu, muncul pula Mitropa Cup yang dibidani tokoh sepakbola Austria Hugo Meisl. Turnamen ini mengadu klub-klub Eropa Tengah. Lalu, ada pula Coupe des Nations pada 1930, dan Latin Cup pada 1949.

Namun, turnamen-turnamen itu lingkup dan gregetnya dirasa kurang oleh Gabriel Hanot, editor suratkabar Prancis L’Equipe, dan rekannya Jacques Ferran. Terlebih setelah dibandingkan dengan kehebohan Campeonato Sudmamericano de Campeones musim 1948 yang diliput Ferran. Turnamen Campeonato, tulis Jose Carluccio dalam Historia y Futbol, merupakan turnamen akbar berlingkup benua pertama di dunia. Turnamen ini cikal-bakal Copa Libertadores –Liga Champions-nya Amerika Selatan.

Baca juga: Wartawan Pencetus Ballon d'Or

Logo European Cup (kiri) dan logo Liga Champions (kanan) yang diperkenalkan pada 1992. (fifamuseum.com dan Wikipedia).

Baca juga: Europa League Tempo Doeloe

Di luar kurang gregetnya turnamen-turnamen Eropa tadi, klaim sebagai juara dunia oleh juara Liga Inggris Wolverhampton Wanderers setelah mengalahkan Budapest Hanved FC 3-2 di Stadion Molineux, 13 Desember 1954 amat menjengkelkan Hanot. Hal itu mendorong Hanot dan Ferran meracik cetak biru sebuah turnamen antarklub Eropa baru. Formatnya mengadopsi Campeonato.

Pada 2-3 April 1955, L’Equipe menghelat pertemuan antarklub Eropa yang dihadiri 16 perwakilan. Di pertempuan inilah Hanot mengajukan cetak biru turnamennya. Mayoritas perwakilan yang hadir menyetujuinya.

L’Equipe membawa hasil kesepakatan itu ke Kongres UEFA di Wina, Austria, hingga ke pertemuan FIFA di London, 9 Mei 1955. Ide turnamen antarklub Eropa akhirnya mendapat lampu hijau. “Proposal ini akan sangat menarik dan akan jadi kesuksesan besar,” cetus Presiden FIFA Rodolphe Seeldrayers, dikutip Alan Tomlinson dalam A Dictionary of Sports Studies.

Label Turnamen dan Trofi Prestisius

Untuk mewujudkan turnamen itu, dibuat sebuah komite swasta dengan pemimpin Ernest Bedrignans. Komite ini membahas nama turnamen, format, dan trofinya. Bedrignans sempat mengusulkan nama turnamen dengan La Coupe du President Seeldrayers. Namun, presiden FIFA enggan namanya diabadikan untuk turnamen itu lantaran turnamen tak berskala global.

Komite yang mempersiapkan helatan pertama musim 1955/1956 itu akhirnya menyepakati European Champion Club’s Cup sebagai nama turnamen. Sistem turnamennya menggunakan format dua leg (tandang-kandang) dan babak knockout. Untuk hadiah utamanya, L’Equipe menyediakan trofi perak mirip trofi Henry Delaunay (Piala Eropa).

Sementara Hanot kembali membawa hasil itu ke pertemuan UEFA, komite mengundang 16 klub top Eropa. Menurut situs resmi UEFA, ke-16 tim yang berlaga adalah AC Milan (Italia), AGF Aarhus (Denmark), Anderlecht (Belgia), Djurgarden (Swedia), Gwardia Warszawa (Polandia), Hibernian (Skotlandia), Partizan Belgrade (Yugoslavia), PSV Eindhoven (Belanda), Rapid Wien (Austria), Rot-Weiss Essen (Jerman Barat), Saarbrucken (Saar), Servette (Swiss), Sporting Lisbon (Portugal), Stade de Reims (Prancis), Voros Lobogo (Hungaria), dan Real Madrid (Spanyol).

Baca juga: Trofi Piala Dunia Tinggal Kenangan

Trofi pertama Liga Champions atau European Cup jadi milik Real Madrid. (fifamuseum.com).

Madrid menjadi pemegang pertama turnamen tersebut. Trofi pertama ini akhirnya jadi milik Madrid selamanya setelah berhasil memenangi European Cup untuk keenam kalinya pada musim 1966/1967.

Trofi pengganti, untuk “digilir”, diperkenalkan musim berikutnya. Menurut UEFA Direct, trofi baru didesain pakar pembuat perhiasan asal Swiss Jorg Stadelmann. Berbahan perak setinggi 74 cm dan berbobot 11 kilogram, trofi dibuat dengan biaya 10 ribu Franc Swiss. Desain pegangannya yang mirip telinga menjadi ikon sampai sekarang hingga trofi itu dijuluki The Big Ear.

Baca juga: Piala AFF, Turnamen Para Jawara Asia Tenggara

Setiap pemenang hanya bisa menyimpan secara permanen replikanya buatan GDE Bertoni. Trofi asli baru bisa dimiliki secara permanen bila sebuah klub bisa enam kali memenangkannya. Sepanjang sejarah, baru lima klub yang bisa memiliki trofi asli: Real Madrid, Ajax Amsterdam, Bayern Munich, AC Milan, dan Liverpool.

Pada 1992, European Cup bertransformasi menjadi UEFA Champions League. Tim partisipan tak lagi pemuncak liga masing-masing, tapi cukup tiga besar. Alhasil jumlah partisipan tiap musim mencapai 32 tim. Pada tahun itu juga UEFA memperkenalkan theme song bertajuk “Champions League” karya komposer Inggris Tony Britten, yang diperdengarkan setiap jelang kickoff. Menurut Johan Fornas dalam Signifying Europe, “Champions League merupakan adaptasi dari “Zadok the Priest” karya George Frideric Handel.

Sementara, format turnamen berubah jadi bersistem delapan grup. Per musim 2016/2017, mereka (finalis) tak lagi hanya berebut trofi, tapi juga bonus uang mencapai 15,5 juta euro (juara) dan 11 juta euro.

TAG

sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Dua Kaki Andreas Brehme Petualangan Tim Kanguru Piala Asia Tanpa Israel Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer Ingar-Bingar Boxing Day Sinterklas Terjun hingga Tumbang di Stadion Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia Getirnya Tragedi di Stadion Luzhniki Bill Shankly dalam Kenangan Samoa Amerika Mengusir Hantu 31 Gol Tanpa Balas