Masuk Daftar
My Getplus

Pertemuan Rahasia di Malam Lebaran

Sukarno bertemu tamu misterius bernama Abdulrajak dari Kalimantan di malam Lebaran. Dia menunjuknya sebagai penggantinya.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 06 Mei 2022
Tan Malaka.

Sehari sebelum Lebaran, Sukarno meminta dokter pribadinya, Soeharto, menyediakan kamar di rumahnya di Kramat Raya 128 Jakarta untuk menerima tamu. Sukarno tidak menyebutkan nama tamu itu.

Menjelang isya pada malam Lebaran pertama tanggal 9 September 1945, Sukarno dan tamu itu datang hampir bersamaan. Sukarno diantarkan oleh ajudannya, Mantoyo, sedangkan tamu itu diantarkan oleh Sayuti Melik. Soeharto kemudian menuntun Sukarno dan tamu misterius itu ke kamar yang telah disediakan.

“Dalam kegelapan malam itu sang tamu rahasia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai Abdulrajak dari Kalimantan. Saya tuntun dia melalui garasi menuju ke kamar belakang,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah.

Advertising
Advertising

Baca juga: Pertemuan dr. Soeharto dan Abdurachim

Selama berlangsung pembicaraan antara Sukarno dan Abdulrajak seluruh lampu rumah dimatikan. Sebab, pertemuan itu harus dirahasiakan. Mantoyo dan Sayuti berjaga di depan rumah. Sedangkan Soeharto duduk di luar kamar pertemuan.

“Saya tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Bung Karno dan Abdulrajak itu,” kata Soeharto.

Soeharto baru mengetahui secara jelas pertemuan rahasia itu pada awal tahun 1946, ketika menyertai perjalanan Sukarno dan Mohammad Hatta ke Solo dalam rangka menghadiri Sidang Pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (28 Februari sampai 3 Maret 1946). Ketika itu, Hatta menolak permintaan Tan Malaka untuk mengadakan pembicaraan empat mata di luar penginapannya.

“Menurut Bung Karno, nama Abdulrajak itu nama samaran. Nama sebenarnya Tan Malaka,” kata Soeharto.

Baca juga: Dr. Soeharto dan Abdurachim Menemui Sosrokartono

Menurut Searawan Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Tan Malaka mencatat sifat percakapan mereka sangat rahasia sebagai akibat dari adanya orang-orang Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Dalam pembicaraan itu, Sukarno menyinggung soal Massa Actie karya Tan Malaka. Dia mengenal risalah-risalah politik Tan Malaka dari tahun 1920-an, yaitu Naar de Republiek-Indonesia dan Massa Actie. Risalah politik kedua sangat berpengaruh pada pemikiran politik Sukarno. Ketika Sukarno diadili pada 1931 karena tuduhan menghasut pemberontakan, dalam vonis berkali-kali disebut referensi pada Massa Actie yang sangat penting baginya.

Baca juga: Aksi Massa yang Disita Polisi

Poeze menyebut bahwa dalam pertemuan itu, Sukarno dengan menunjuk Tan Malaka, berkata: “kalau saya tiada berdaya lagi, maka kelak pimpinan nasional akan saya serahkan kepada saudara”.

Soeharto mengatakan bahwa dalam pertemuan empat mata di rumahnya pada malam Lebaran itu dibicarakan soal siapa yang akan memegang pimpinan nasional, seandainya Sukarno dan Hatta secara fisik tidak dapat melanjutkannya karena dibunuh atau ditawan oleh pihak Jepang, Belanda, atau Sekutu.

“Secara lisan Bung Karno mengatakan akan membuat testamen berisikan penunjukan siapa yang akan meneruskan pimpinan nasional, jika terjadi hal-hal seperti tersebut di atas,” kata Soeharto.

Baca juga: Pertemuan Terakhir Sukarno dan Abdurachim

Pertemuan Kedua

Beberapa hari kemudian, Sukarno dan Tan Malaka bertemu lagi. Kali ini siang hari di rumah dr. Muwardi di Jalan Mampang Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Moewardi menjadi pemimpin Barisan Pelopor yang setelah Proklamasi berkembang menjadi korps tempur Barisan Banteng.

“Pertemuan selalu berlangsung enam mata, sebab saya juga ikut mendengarkan. Sedangkan dr. Muwardi ataupun dr. Soeharto meski pertemuan itu di rumahnya tetapi tidak ikut berbincang-bincang,” kata Sayuti Melik dalam Wawancara Dengan Sayuti Melik karya Arief Priyadi.

Baca juga: Sayuti Melik Mengubah Beberapa Kata dalam Naskah Proklamasi

Sayuti menyebutkan bahwa topik yang dibicarakan dalam dua kali pertemuan itu soal perjuangan sesudah Proklamasi kemerdekaan. Dalam pembicaraan itu, Tan Malaka lebih banyak berbicara karena lebih berpengalaman dalam perjuangan tidak saja di Indonesia melainkan juga di luar negeri. Yang urgen dan menarik perhatian Sukarno adalah analisis tajam Tan Malaka mengenai kedudukan pemerintahan Indonesia di waktu dekat. Tan Malaka mengatakan bahwa tidak lama lagi Belanda akan datang dengan menumpang Sekutu. Jakarta dipastikan akan menjadi medan pertempuran. Oleh karena itu, pemerintahan tidak dapat tetap tinggal di Jakarta melainkan harus pindah ke pedalaman.

Menurut Sayuti, analisis panjang lebar dari Tan Malaka mendapatkan perhatian dari Sukarno, yang pada akhirnya Sukarno mengatakan, “… jika nantinya terjadi sesuatu atas diri kami, sehingga tidak dapat memimpin revolusi kita, saya harap saudaralah yang melanjutkannya. Dan untuk ini saya akan membuat testamen.”

Baca juga: Sayuti Melik-SK Trimurti: Kisah Asmara Sepasang Pejuang

“Jadi adanya testamen atau surat wasiat untuk Tan Malaka itu, menurut pengamatan saya memang berpangkal pada kata Bung Karno sendiri,” kata Sayuti.

Tan Malaka menganggap testamen itu sebagai kehormatan dan tanda kepercayaan. “Saya sudah cukup senang bertemu presiden Republik Indonesia, republik yang sudah sekian lama saya idamkan,” kata Tan Malaka.

Testamen

Sukarno menyampaikan rencana mengeluarkan testamen dalam rapat kabinet pada pekan ketiga September 1945. Bila Sekutu menangkapnya karena dianggap berkolaborasi dengan Jepang, Sukarno akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada orang yang mampu memimpin perjuangan.

Pada 30 September 1945, Sukarno bertemu dengan Tan Malaka, Menteri Sosial Iwa Kusumasumantri, dan Jaksa Agung Gatot Tarunamihardja, di rumah Ahmad Subardjo. Mereka sepakat menunjuk Tan Malaka sebagai pengganti Sukarno-Hatta dalam memimpin perjuangan.

Sukarno dan Subardjo kemudian pergi ke rumah Hatta. Hatta tidak setuju kalau hanya ditunjuk satu orang dan menawarkan jalan keluar: empat orang sebagai penerima testaman. Dia sendiri menunjuk Sutan Sjahrir.

Baca juga: Ketua Umum PSI Sutan Sjahrir Jadi Perdana Menteri

“Kok semuanya orang Padang? Lalu Ahmad Subardjo mengusulkan orang Jawa yakni Wongsonegoro. Kok dari Sunda belum ada? Lalu Bung Karno mengusulkan Iwa Kusumasumantri,” kata Sayuti.

Alasan utama karena keempat orang penerima testamen mewakili empat aliran besar: Tan Malaka mewakili aliran kiri, Sutan Sjahrir dari kelompok kiri tengah, Wongsonegoro wakil kanan dan feodal, dan Soekiman Wirjosandjojo representasi kelompok Islam. Soekiman yang sudah berangkat ke Jawa Tengah digantikan oleh Iwa Kusumasumantri atas dasar hubungan persahabatannya dengan Soekiman dan politik Islamnya di masa lalu.

Baca juga: Indonesia dalam Mimpi Tan Malaka

Menurut Poeze, Sukarno puas dengan jalan keluar ini. Dia menelepon Subardjo untuk bertemu lagi keesokan harinya. Di rumah Subardjo, Tan Malaka dan Iwa menyambut kedatangan Sukarno dan Hatta. Hatta memaparkan ide-idenya.

“Dia mengingatkan Tan Malaka bahwa di kalangan kiri dia dianggap kontroversial. Maka, akan lebih baik jika Tan Malaka melakukan perjalanan keliling Jawa, selain untuk memperkenalkan diri kepada rakyat juga untuk menjajaki sejauh mana pengaruhnya. Sesudah melalui beberapa diskusi, semua menyetujui usul Hatta,” tulis Poeze.

Baca juga: Tahun Terakhir Tan Malaka

Sukarno lalu meminta Tan Malaka menyusun kata-kata testamen. Setelah semuanya setuju, naskah testamen diketik Subardjo dan dibuat rangkap tiga. Dokumen itu ditandatangani Sukarno-Hatta tanggal 1 Oktober 1945. Subardjo ditugaskan untuk memberikan naskah itu kepada Sjahrir dan Wongsonegoro. Namun, Subardjo tidak pernah menyampaikannya dengan alasan gonjang-ganjing revolusi menghambat penyampaian teks itu.

Tan Malaka membawa testamen itu dalam perjalanan perjuangannya. Tragisnya, dia yang ditunjuk sebagai salah satu pemimpin nasional jika Sukarno-Hatta tidak dapat melanjutkannya karena dibunuh atau ditawan, justru mati dieksekusi tentara pada 21 Februari 1949 di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.

TAG

lebaran idulfitri tan malaka sukarno

ARTIKEL TERKAIT

Sukarno Sakit Ginjal Ende dan Perenungan Bung Karno Sukarno di Usia 29 Insiden Hartini di Singapura Bu Fat Wafat Belanda Menghalangi Salat Id di Jakarta Lebaran Pertama Setelah Zaman Perang Suasana Mudik dan Lebaran di Awal Orde Baru Kerangkeng Belanda Mimpi Ibukota di Tengah Rimba Raya