Masuk Daftar
My Getplus

Johanna Mengalihkan Intelijen Belanda

Peran Johanna mengalihkan intelijen Belanda membuat suaminya cemburu. Rumah tangga pun retak dan dia kembali ke Belanda.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 23 Feb 2022
Johanna Sophie de Goede, istri Harjono Aditjondro, bersama dua putranya. (Repro Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif tentang Orangtua).

Harjono Aditjondro berasal dari keluarga ningrat kecil di Solo, Jawa Tengah, sebagai bagian dari keluarga besar Pakubuwono. Dia lahir di Kaliwungu, Kendal, pada 7 November 1904. Dia mengenyam pendidikan ELS (lulus 1920), MULO (lulus 1924), dan AMS di Yogyakarta (lulus 1927).

Dengan latar belakang ningrat Jawa, Harjono mendapat beasiswa kuliah hukum di Universitas Leiden, Belanda. Selain kuliah, dia aktif dalam organisasi mahasiswa. Dia menjadi sekretaris Perhimpunan Indonesia yang dipimpin Mohammad Hatta.

Baca juga: Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan di Negeri Belanda

Advertising
Advertising

Sejarawan Belanda, Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah menyebut bahwa Harjono memimpin delegasi ke Kongres Perdamaian Sedunia yang diselenggarakan oleh Rassemblement Universal pour la Paix (Kongres Perdamaian Universal atau RUP) di Brussel pada awal September 1936. Empat puluh negeri diwakili oleh 4.000 utusan dari kalangan gerakan sosial-demokrat, perdamaian, komunis, dan antikolonial.

Perwakilan kaum komunis sangat kuat dan dominan dalam kongres itu. Banyak pidato diucapkan dengan nada antifasis dan ditujukan kepada Jerman. Delegasi Indonesia memperlihatkan sikap puasnya terhadap jalannya kongres.

“Dalam rapat di Leiden, di mana pemimpin delegasi Harjono Adi Tjondro memberikan laporannya, diputuskan untuk menyusun Indonesisch Vredes Bureau (Biro Perdamaian Indonesia atau IVB) yang permanen dan menggabungkan diri dengan RUP,” tulis Poeze.

Mahasiswa hukum Soedjarwo Tjondronegoro yang baru datang dari Indonesia, menjadi ketua IVB. Sedangkan Harjono menjadi salah satu anggota pengurus. “IVB bertujuan menyebarkan berita dan gagasan tentang perdamaian dunia di Indonesia, dan mendorong gerakan perdamaian di Indonesia sendiri,” tulis Poeze.

Baca juga: Pejuang yang Terlupakan

Karena aktif dalam organisasi pergerakan, Harjono baru meraih gelar sarjana hukum (meester in de rechten) setelah sembilan tahun pada 1939. Setelah pulang ke Indonesia, pada 1940 dia bekerja sebagai penasihat dan pokrol (pengacara) di pengadilan Semarang. Pada masa pendudukan Jepang, dia menjadi pegawai pembantu Tihoo Hooin (pengadilan negeri) Tegal dan Pemalang sejak pertengahan tahun 1942.

Harjono menikahi perempuan Belanda, Johanna Sophie de Goede dari Den Haag, sekitar tahun 1942. Mereka dikaruniai dua anak, yaitu Adjidjoelrochman lahir di Semarang tahun 1943 dan George Joenoes Aditjondro lahir di Pekalongan tahun 1946 ketika Harjono menjabat ketua Pengadilan Negeri di Pekalongan.

“Selama masa revolusi fisik, Papa dan Mama ikut mendukung para gerilyawan, dengan cara yang unik,” kata George Joenoes Aditjondro dalam “Anti Sogok dan Cinta Budaya”, termuat dalam Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif tentang Orangtua.

Baca juga: Mata-mata Rantai Emas

Intelijen Belanda tidak menduga rumah Harjono di Pekalongan menjadi salah satu tempat pertemuan gerilyawan, antara lain Hoegeng Imam Santoso (kelak menjadi Kapolri) dan Ali Moetopo (kemudian asisten pribadi Presiden Soeharto). Ternyata, ada peran Johanna.

“Untuk mengalihkan perhatian intelijen Belanda, di saat-saat para gerilyawan mengadakan rapat di rumah kami di Pekalongan, Mama saya yang Belanda asli itu mengalihkan perhatian intelijen Belanda, dengan menghibur opsir-opsir Belanda di Societeit di Pekalongan. Malangnya, kedekatan Mama dengan opsir-opsir tertentu menimbulkan kecurigaan, persisnya kecemburuan Papa,” kata George.

Baca juga: Bayi Revolusi Berbaju Sampul Buku

Akibatnya, mereka sering bertengkar. Selain itu, sebagai perempuan kelas bawah di Belanda, Johanna sangat terganggu dengan tuntutan unggah-ungguh dari kedua mertuanya. Akibatnya, dia pulang ke Belanda dengan membawa kedua anaknya.

Setelah tinggal selama tiga tahun di Belanda, kedua anaknya diambil oleh Harjono yang telah menikah lagi dengan Elyana Lovink, juru rawat perusahaan tambang timah Banka Billiton di Bangka. Dia bertemu Elyana ketika menjabat ketua Pengadilan Negeri Pangkalpinang.

Harjono dan Elyana menjemput kedua anaknya ke pelabuhan Tanjung Priok yang diantar oleh seorang juru rawat dengan kapal Willem Ruijs. Dari sana, mereka langsung ke Banyuwangi karena Harjono sudah dipindahkan menjadi ketua Pengadilan Negeri Banyuwangi.

Baca juga: Kesaksian Putri Tentara KNIL

Berbeda dengan teman-temannya yang juga lulusan Belanda, Harjono justru meminta ditempatkan di pengadilan-pengadilan negeri yang baru didirikan, di daerah-daerah yang jauh dari Jakarta, seperti Pangkalpinang, Banyuwangi, Pontianak, dan akhirnya pensiun di Makassar.

Harjono terkenal di Departemen Kehakiman sebagai penegak hukum yang antisogok. Ali Moertopo yang telah menjadi jenderal sekaligus kapitalis birokrat heran dengan kesederhanaan hidup Harjono.

“Melihat oportunisme mantan teman seperjuangan ayah saya itu, sewaktu masih menjadi reporter majalah Tempo, saya sering nongkrong di rumah alm. Hoegeng, tetapi belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di rumah Ali Moertopo,” kata George yang terkenal sebagai pengkritik pemerintahan Soeharto mengenai kasus korupsi dan Timor Timur. Akibatnya, George dicekal rezim Orde Baru sehingga harus meninggalkan Indonesia ke Australia dari tahun 1995 hingga 2002. Di Australia, dia menjadi dosen sosiologi di Universitas Newcastle. Sebelumnya, dia mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, Jawa Tengah.

Baca juga: Kisah Keluarga Tionghoa Saat Revolusi

Sementara itu, di Negeri Belanda, kisah Johanna berakhir tragis. Dia akhirnya menikah lagi dengan laki-laki Belanda, J. Hulshof, namun tidak dikaruniai anak. Dia masih bisa berkomunikasi dengan anak-anaknya lewat surat yang dibawakan oleh Pater J. Deinse, S.J. dari SMA Kolese Loyola, Semarang.

Waktu itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Belanda soal Irian Barat. Suatu ketika, Pater Deinse mengabarkan bahwa Johanna sudah meninggal pada 12 November 1964 di usia 55 tahun.

“Bertahun-tahun kemudian saya mendapat berita bahwa Mama meninggal karena meloncat dari apartemen yang ditinggalinya bersama suami keduanya,” kata George. “Rupanya, komunikasi yang terputus dengan kedua anak kandungnya di Indonesia selama bertahun-tahun, akibat pemutusan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Belanda, sangat menyiksa batinnya, sehingga Mama mengambil langkah drastis untuk mengakhiri hidupnya. Berarti Mama sudah dua kali menjadi korban kemelut politik.”

TAG

revolusi indonesia intelijen

ARTIKEL TERKAIT

Roebiono Kertopati, Bapak Persandian Indonesia Kiprah Putin di KGB Naim yang Malang KGB di Indonesia Ada Intel di Jamaah Imran Jenderal Yoga dan Pembajakan Garuda Woyla Agen CIA dalam Operasi Habrink Allied dan Kisah Mata-Mata Perempuan di Tengah Perang Kegamangan Sukarno Mengganyang Malaysia CIA Kecewa pada PRRI