Masuk Daftar
My Getplus

Kisah Keluarga Tionghoa Saat Revolusi

Di balik cerita dalam buku Baby Jaren in Indie tergambar sejarah pahit Tionghoa saat revolusi kemerdekaan Indonesia.

Oleh: Basilius Triharyanto | 15 Feb 2022
Kwee Tjoe Houw, putra Letty Kwee. (Youtube Rijksmuseum).

Batavia (kini, Jakarta), 12 Agustus 1945. Lim Him Nio atau dikenal dengan Laetitia, yang juga dipanggil Letty Kwee tengah berada di rumah sakit di daerah Menteng, Jakarta, yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Letty melahirkan Tjoe, yang berarti lemah lembut, pada momen bersejarah. Tiga hari sebelum kelahirannya, Jepang menyerah dan kalah dalam Perang Dunia II. Lima hari kemudian, Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan.

Halaman dalam buku Baby Jaren in Indie (Tahun-tahun Bayi di Hindia). (Youtube Rijksmuseum).

Baca juga: Kesaksian Putri Tentara KNIL

Advertising
Advertising

Letty menceritakan kisah hidup Tjoe dalam buku Baby Jaren in Indie (Tahun-tahun Bayi di Hindia), yang diterbitkan oleh Vereniging van Huisvrouwen te Batavia (Perkumpulan Ibu Rumah Tangga Belanda di Batavia). Letty pernah belajar di sekolah Eropa untuk menjadi guru ekonomi.

Kwee Tjoe Houw, putra Letty, menceritakan buku tentang saudari dan keluarganya itu dalam tayangan channel Youtube Rijksmuseum. Dia menyimpan buku itu selama puluhan tahun dan sekarang meminjamkannya untuk ditampilkan dalam pameran Revolusi! Indonesia Independent yang berlangsung dari 12 Februari hingga 5 Juni 2022.

Baca juga: Kisah Revolusi Kemerdekaan Indonesia dalam Pameran

Houw mengisahkan bahwa buku itu bercerita mengenai kegiatan sehari-hari ibu dan keluarganya. Sambil membuka lembar demi lembar buku itu, dia menuturkan kisah sehari-hari, seperti tinggi dan berat badan anak-anak, penyakit anak balita, serta tentang ayahnya yang suka pesta agar bisa menyantap makanan kesukaannya yaitu sate kambing.

“Ibu saya mencatat kehidupan sehari-hari. Bukan sesuatu yang luar biasa. Dia menggambarkan kunjungan dokter seolah-olah tidak ada yang salah. Dipikir-pikir tidak masuk akal bahwa hanya satu kilometer dari rumah sakit tempatnya berada, Proklamasi sedang berlangsung, dia tak tahu apa-apa. Agak tidak umum,” kata Houw.

Letty Kwee dan anak-anaknya. (Youtube Rijksmuseum).

Houw mengatakan, buku itu tak menyebut Proklamasi atau kapitulasi. Namun, ibunya menyebut dua situasi yang penting telah menggambarkan perang yang terjadi di Jakarta ketika itu. “Menurut ibu saya, ayah memanggil saudari saya ‘malaikat kedamaian’ karena kapitulasi baru ditandatangani,” katanya.

“Dia juga mengungkapkan harapan untuk saudaranya yang keberadaanya tak diketahui, agar suatu saat kembali. Saudaranya seorang pilot yang ditempatkan di Australia. Dan dia memang pulang kembali,” kata Houw.

Baca juga: Istilah "Bersiap" yang Problematik

Suasana revolusi tergambarkan dalam buku ini. Saat tahun baru, 1 Januari 1946, Letty menulis, mendengar suara ledakan yang keras. Dia mengamankan putrinya di bawah meja. Saat itu semua merayakan tahun baru dengan peledak, termasuk tembakan bedil dan senapan.

“Mereka khawatir, peluru-peluru itu akan menyebabkan luka bahkan kematian. Mereka harus berlindung, karena ledakan keras bisa jadi adalah suara tembakan,” kata Houw.

Letty Kwee dan anak-anaknya pada 1947. (Youtube Rijksmuseum).

Migrasi ke Belanda

Pada 1946, keluarga Kwee memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan mencari masa depan di Belanda. Mereka tiba di Amsterdam pada Desesember tahun itu. Dalam buku itu, dia menceritakan tubuhnya merasakan hawa dingin di negeri Belanda setelah naik bus keliling kota Amsterdam.

Houw membayangkan keputusan ayahnya di antara bayang-bayang perang dan situasi tak menentu dan penuh kekacauan. Dia mengerti bahwa selama perang, orang Tionghoa di Indonesia dianggap pengkhianat oleh Jepang dan dipenjarakan.

Baca juga: Polemik "Bersiap" dan Meremehkan Sudut Pandang Indonesia

“Saya yakin, selama revolusi orang Tionghoa, yang dianggap pengkhianat, sekali lagi amat menderita. Tetapi ayah tak pernah membahas alasan dia berimigrasi ke Belanda. Entah itu karena orang Tionghoa menghadapi begitu banyak permusuhan,” kata Houw.

“Saya bisa bayangkan, bila Anda cukup mampu, selagi negara masih dalam kondisi kacau-balau berkepanjangan, Anda akan tergoda menggunakan uang itu dan mencari tempat yang lebih tenang,” kata Houw.

Namun, kata Houw, ayahnya akhirnya kembali ke Indonesia. Setelah menyadari orang-orang Tionghoa sering mengalami pelecehan (kekerasan), dia memutuskan menetap di Belanda.

Baca juga: Kenapa Kata "Bersiap" Memancing Amarah Besar?

Keluarga Kwee di Amsterdam, Belanda. (Youtube Rijksmuseum).

Baca juga: Beranilah Melihat Sejarah Bersama Kita

Selama periode perang kemerdekaan, orang-orang Tionghoa menjadi korban kekerasan. Dalam keterangan yang ditulis oleh Rijksmuseum, diperkirakan sekitar sepuluh ribu orang Tionghoa di Jawa terbunuh karena tindakan kekerasan oleh pihak Indonesia dan Belanda selama revolusi 1945–1949.

Sejak Oktober 1945, Jakarta jadi tempat berbahaya. Teror dan tindakan kekerasan mengancam orang-orang Belanda, Eurasia, dan siapa pun yang dicurigai pendukung atau setia kepada kekuasaan kolonial Belanda. Keluarga Kwee, salah satu yang hidup dalam ancaman aksi kekerasan kelompok-kelompok militan revolusioner.

Letty Kwee atau Lim Him Nio, potret keluarga Tionghoa, yang mengisahkan hidupnya dalam kecamuk revolusi. Keluar dari Indonesia dan memilih menetap di Belanda adalah jalan mencari keselamatan dan melanjutkan hidup keluarganya. Meski Indonesia telah menjadi tanah airnya.

TAG

revolusi indonesia pameran tionghoa

ARTIKEL TERKAIT

Uang Tak Bisa Membeli Kebahagiaan Yōkai, Amabie, dan Pandemi Ende dan Perenungan Bung Karno Ketika Merdeka Datang ke Australia Menyesapi Cerita-Cerita Tersembunyi di Pameran Revolusi! Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak” Bayi Revolusi Berbaju Sampul Buku Kesaksian Putri Tentara KNIL Ketika Pemerintah RI Menjamin Eksistensi Orang Tionghoa Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok