Masuk Daftar
My Getplus

Geger PSG

Klub “kemarin sore” yang bikin geger sepakbola Eropa. Ada tangan bos Real Madrid yang membidani kelahirannya lewat “operasi merger”.

Oleh: Randy Wirayudha | 18 Feb 2021
Euforia Kylian Mbappé Lottin dkk. usai memecundangi Barcelona 4-1 di Camp Nou. (psg.fr).

STADION Camp Nou memang kosong pada Selasa (16/2/2021) malam lalu. Namun hal itu tak mengurangi sengitnya duel antara tuan rumah Barcelona melawan Paris Saint-Germain (PSG) di leg pertama babak 16 besar Liga Champions.

Hanya saja laga itu sempat dinodai sebuah hukuman penalti kontroversial. Kala durasi laga berjalan 25 menit, sebuah umpan lambung ke kotak penalti PSG hendak dikejar gelandang Barça Frenkie de Jong. Ia mendapat pengawalan bek Layvin Kurzawa. Namun apa lacur, tetiba De Jong terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri. Namun wasit malah menunjuk titik putih. PSG dirugikan.

Tetapi Les Parisiens (julukan PSG) pantang patah arang. Kecemerlangan Kylian Mbappé dengan hattrick-nya dan sebutir gol tambahan dari Bloty Moise Kean sukses menghukum balik Lionel Messi dkk. Skor 4-1 untuk PSG bertahan hingga wasit Björn Kuipers meniup peluit panjang.

Advertising
Advertising

Neymar da Silva Santos Júnior, bintang PSG yang pernah berseragam Barça, sempat mengejek “hadiah” penalti mantan klubnya itu. “Penalti itu lelucon,” katanya di akun Twitter-nya, @neymarjr. Namun dia lantas menghapusnya.

Baca juga: Derita Barcelona

Entraîneur (pelatih) PSG Mauricio Pochettino tak berkomentar lebih jauh soal kontroversi penalti itu. Pochettino sudah puas pada hasil laga, terutama setelah Mbappé menepati janji kepadanya sebelum duel tersebut.

“Kemarin saat latihan, dia (Mbappé) tanya pada saya berapa kali saya pernah menang di Camp Nou? Saya jawab, ‘satu kali.’ Katanya lagi: ‘besok, kita akan menang untuk kedua kalinya.’ Dia benar-benar seorang pemain top,” puji Pochettino sebagaimana disitat Metro, Rabu (17/2/2021).

Mauricio Roberto Pochettino Trossero (kanan bawah) bangga dengan Mbappé (kiri bawah) yang jadi pencetak hattrick ketiga ke gawang Barcelona setelah Faustino Asprilla & Andriy Shevchenko (psg.fr)

Kemenangan PSG itu ibarat penuntasan dendamnya terhadap Barcelona. Lima tahun lampau, PSG lebih “dipermak” Messi cs. di Camp Nou dengan skor mencolok, 6-1.

Musim ini PSG kian percaya diri menargetkan memboyong “si kuping besar” trofi Liga Champions untuk pertamakali. Musim lalu mereka sekadar jadi runner-up. PSG sekaligus ingin membuktikan diri bahwa mereka bukan klub “kemarin sore”, terlebih usianya sudah memasuki 50 tahun.

Lahir dari Operasi Merger

Puluhan tahun Paris dijuluki sebagai kota mode, namun tidak soal sepakbola. Tim-tim yang lahir di kota ini tak pernah punya gaung besar di Eropa sebelum eksisnya PSG. Kebelasan RC Paris yang sudah berdiri sejak 1882, Club Français yang lahir delapan tahun kemudian, CA Paris-Charenton pada 1896, dan Red Star FC tahun 1897 semua tak berprestasi di “benua biru”. Tetapi semua itu berubah ketika PSG lahir pada 1970.

Berdirinya PSG timbul dari ambisi seorang pebisnis lokal, Guy Crescent, pada akhir 1960-an. Crescent yang merupakan bos perusahaan transportasi Calberson itu menularkan kecintaannya pada sepakbola ke teman-teman bisnisnya, di antaranya Pierre-Étienne Guyot dan Henri Patrelle.

Menengok dokumenter bertajuk “PSG: Ce Club Qui a Failli Ne Pas Exister” garapan rumah produksi Spicee pada Desember 2016, disebutkan pada Juli 1969 Crescent dkk. memulainya dengan membentuk klub yang sekadar di atas kertas, Paris FC. Rancangan klub yang baru punya dewan direksi berisikan Crescent, Guyot, dan Patrelle itu belum punya tim, stadion, apalagi suporter. Kesulitan finansial menjadi pangkalnya. Paris FC Baru sekadar didaftarkan ke federasi sepakbola Prancis.

Baca juga: Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal

Guy Crescent (kanan, berjas) pendiri PSG (psg.fr)

Untuk merancang timnya, Crescent lalu melakoni “study tour” ke lima klub mapan di tiga negara Eropa: Arsenal dan Chelsea (Inggris), SV Hamburger dan FC Köln (Jerman Barat), dan Real Madrid (Spanyol). Dari kelimanya, Crescent paling terkesan dengan model manajemen dan perkembangan tim Chelsea yang masih dipegang keluarga Mears. Sementara kala bertamu ke Madrid, ia mendapat wejangan paling berharga terkait kekusutan finansial Paris FC dari suprema klub, Santiago Bernabéu.

Disebutkan pula dalam dokumenter itu, Bernabeu memberi saran agar Crescent dkk. menggelar petisi dan kampanye penggalangan dana secara sukarela kepada warga Paris jika menginginkan kota itu mau bangga punya sebuah klub besar.

“Anda harus berpegangan pada keyakinan Anda sendiri dan kecintaan warga Paris,” kata Bernabéu menasihati.

Baca juga: Suprema Real Madrid Bernama Lorenzo Sanz

Saran itu dituruti Crescent. Dia kemudian mendirikan badan hukum untuk penggalangan dana, L’Association Paris Saint-Germain, seiring dengan mergernya Paris FC dengan Stade Saint-Germanois pada 17 Juni 1970. Tak disangka, petisi dan penggalangan dana lewat siaran radio Europe 1 dan media cetak macam L’Equipe, France Football, dan Le Parisien itu ramai sambutan warga kota. Sekira 20 ribu di antaranya turut menyumbang.

Selain mengandalkan para bekas pemain Stade Saint-Germanois yang sudah lahir pada 1904, dewan direksi akhirnya bisa membeli beberapa pemain dari klub-klub lain. Antara lain Jean Djorkaeff dan Pierre Phélipon yang sekaligus merangkap menjadi pelatih pertama PSG.

Pertandingan pertama PSG kemudian dihelat di Stade Jean-Bouin pada 1 Agustus melawan US Queville. PSG kalah 1-3. Kala itu, jersey yang dipakai PSG berwarna merah darah dengan motif putih-biru plus logo berupa sebuah bola berwarna biru di dada kirinya.

Jean Djorkaeff di tengah-tengah petinggi Paris Saint-Germain menjelang musim perdana klub di Divisi 2 pada 1970 (psg.fr)

PSG secara administratif resmi berdiri pada 12 Agustus 1970. Lima hari kemudian diterima FFF (induk sepakbola Prancis) untuk mulai ikut kompetisi resmi Divisi 2 (kini Ligue 2) musim 1970-1971.

“Hebatnya, Djorkaeff cs. mampu langsung juara dan otomatis promosi ke Divisi 1 (kini Ligue 1) untuk musim 1971-1972. Lalu kemudian bencana terjadi. Diterpa problem finansial, tim tak punya pilihan selain bercerai menjadi dua klub. Salah satunya menjadi Paris FC lagi dan diperbolehkan bertahan di Ligue 1. Satunya lagi nama Paris Saint-Germain, walau terpaksa terdemosi ke liga amatir, Championnat National atau setara Divisi 3,” tulis Kate Shoup dalam Soccer’s Greatest Clubs: Paris Saint-Germain FC.

Baca juga: Larbi Benbarek, Legenda Prancis yang Dilupakan

Pecahnya PSG disebabkan krisis finansial seiring menurunnya prestasi klub. Di musim 1971-1972, PSG mati-matian hanya untuk bertahan di posisi ke-16 liga. Solusi finansial kemudian datang dari Dewan Kota Paris yang menawarkan 850 ribu franc demi melunasi utang-utang klub. Namun syaratnya, dewan kota ingin klub itu menggunakan nama yang lebih kental kota Parisnya, Paris Football Club.

Dari seluruh petinggi klub, hanya Henri Patrelle yang menolak perubahan nama. Patrelle akhirnya memutuskan berpisah dengan Crescent dan Guyot pada 20 Juni 1972. Patrelle mempertahankan nama PSG, sementara Crescent dan Guyot mengubah nama klub menjadi Paris FC.

Patrelle mesti membangun PSG dari nol lagi dengan para pemain mudanya lantaran para bintang tim memilih tetap merumput di Divisi 1 bersama Paris FC. Kebangkitan PSG baru tiba ketika Patrelle menyerahkan tampuk kepemimpinan klub ke desainer fesyen ternama yang berinvestasi besar, Daniel Hechter, pada 1973. Sejak itu, berangsur-angsur PSG mendaki dari kompetisi Divisi 3 hingga ke Divisi 1 di musim 1974-1975.

Era Baru PSG

Debut PSG di Eropa baru terjadi di Piala Winners musim 1982-1983. Langkahnya  terhenti di babak perempatfinal usai kalah dari Waterschei Thor (Belgia) dengan agregat 2-3 lewat dua leg kontra.

Di dalam negeri, butuh waktu lama buat PSG mendobrak dominasi klub-klub mapan langganan juara Liga Prancis macam Girondins Bordeaux, AS Monaco, Olympique Lyonnais, atau Olympique Marseille. PSG baru bisa muncul sebagai kampiun liga pada musim 1985-1986 dan mengulanginya pada musim 1993-1994.

Dua tahun sebelumnya, kepemilikan klub berpindah dari Francis Borelli ke perusahaan penyiaran Canal+ akibat klub terbelit utang hingga 50 juta franc. Di tangan Canal+ sejak 1991, PSG lebih stabil secara keuangan meski sekadar jadi penantang gelar liga yang kerap gigit jari di akhir musim. Walau demikian, PSG mulai jadi klub yang disegani.

Baca juga: Enam Muslim Pionir di Sepakbola Prancis

Paris Saint-Germain di era 1980-an (kiri) dan 1990-an (psg.fr)

Di masa ini pula PSG mulai menyulut perseteruan dengan Marseille. Hingga kini duel keduanya dijuluki “Le Classique. Julukan itu bermula dari sebuah laga brutal di Parc des Princes pada 18 Desember 1992 kala PSG menjamu Marseille.

Menukil laman FIFA, 12 Maret 2009, perseteruan PSG dan Marseille bermula dari adu gengsi di bursa transfer hingga di dalam stadion. Di bursa transfer, Marseille tampak kalap dengan mendatangkan banyak pemain bintang macam Chris Waddle, Jean-Pierre Papin, Eric Cantona, Didier Deschamps, Marcel Desailly, Rudi Völler, hingga Enzo Francescoli. PSG yang tak mau kalah gengsi merespon dengan merekrut David Ginola, Safet Sušić, George Weah, dan Youri Djorkaeff.

Rivalitas itu lalu dilanjutkan dengan saling sindir di media-media, terutama dilakukan oleh Ginola dan pelatih PSG Artur Jorge melawan Presiden Marseille Bernard Tapie. Nuansa panas berlanjut ke dalam laga kala kedua tim bertemu di Parc des Princes, 18 Desember 1992.

Baca juga: Intisari Rivalitas Sepakbola Sejagat

Laga yang berakhir 1-0 untuk Marseille itu bergulir secara brutal. Tidak kurang dari 50 pelanggaran dan enam kartu kuning dikeluarkan wasit Michel Girard, termasuk perkelahian dan pemukulan bek Marseille Éric Di Meco kepada bek PSG Patrick Colleter.

Di luar laga brutal itu, hingga 1998 PSG kembali terbelenggu utang. Akibatnya pada 2004 PSG terpaksa menjual banyak pemain bintangnya macam Marco Simone, Pauleta, dan Ronaldinho. PSG pun tertatih-tatih hanya untuk bertahan di Ligue 1. Canal+ lalu menjual saham-saham PSG seharga 41 juta euro ke Colony Capital, Butler Capital Partners, dan Morgan Stanley pada Mei 2006.

Presiden PSG Nasser bin Ghanim Al-Khelaifi (psg.fr)

Lima tahun berselang, firma-firma itu menjual lagi saham-saham PSG senilai 100 juta euro hingga kepemilikan klub berpindah tangan ke Qatar Sports Investments milik hartawan Timur Tengah Tamim bin Hamad al-Thani. Sejak saat itulah PSG bikin geger dengan menjadi satu dari dua klub terkaya dunia yang dimiliki konglomerasi Timur Tengah.

Duit PSG yang tak berseri membuat presiden klub, Nasser al-Khelaifi, bisa mendatangkan bintang-bintang dunia semudah membalikkan telapak tangan. David Beckham, Zlatan Ibrahimović, Neymar, hingga Kylian Mbappé merupakan deretan bintang yang didatangkan PSG.

Sejak 2011 pun PSG mulai jadi langganan juara domestik yang merusak hegemoni Lyon, Marseille, AS Monaco, dan Bordeaux. Hanya satu gelar yang belum didapatnya sehingga paling diburu hingga hari ini, yakni Liga Champions. Setelah musim lalu pulang dari final Liga Champions dengan tangan hampa, Al-Khelaifi berharap musim ini giliran PSG yang berjaya. Kemenangan 4-1 atas Barcelona kemarin membuatnya kembali optimis.

“Para pemain menampilkan laga yang lebih dari kata sempurna. Tetapi masih ada 90 menit lagi yang harus dimainkan (di leg kedua). Penting untuk kita tetap tenang. Terlepas dari itu, saya sangat bangga pada skuad yang kuat ini dan mereka harus bertahan di level ini. Saya juga bangga pada Kylian atas hattrick-nya. Itu momen bersejarah baginya dan bagi klub,” tandas Al-Khelaifi, dilansir PSG Talk, Rabu (17/2/2021).

Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola

TAG

sepakbola prancis

ARTIKEL TERKAIT

Tendangan dari Sakartvelo Singa Mesopotamia yang Menyala Naga Wuhan di Bawah Mistar Persebaya Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian II - Habis) Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian I) Memori Historis Barcelona di Wembley Di Balik Rekor Eropa Real Madrid Johny Pardede dari Sepakbola hingga Agama Jatuh Bangun Como 1907 Comeback ke Serie A Bata Selain Pabrik Sepatu