Masuk Daftar
My Getplus

Enam Muslim Pionir di Sepakbola Prancis

Sejak lawas persepakbolaan Prancis acap diwarnai peranakan muslim.

Oleh: Randy Wirayudha | 30 Okt 2020
Di antara skuad Timnas Prancis pemenang Piala Dunia 2018, tujuh di antaranya pemain imigran muslim. (fifa.com).

PERSEPAKBOLAAN Prancis turut terguncang oleh pernyataan kontroversial Presiden Emmanuel Macron pada 2 Oktober 2020. Ia menyatakan akan menetapkan undang-undang (UU) tentang sekularisme lantaran menganggap Islam kini sudah menjadi agama yang berada di ambang krisis.

Pernyataan itu diperparah dengan pidatonya pada 21 Oktober 2020 setelah munculnya kasus pemenggalan Samuel Paty, guru sejarah di Paris, oleh seorang imigran muslim Chechen. Paty dibunuh setelah memamerkan karikatur Nabi Muhammad SAW di hadapan murid-muridnya.

“Kita tidak akan menghentikan kartun-kartun, gambar-gambar, bahkan jika yang lain menghentikannya. Sang guru (Paty) dibunuh karena ia mewakili republik. Kami akan melindungi kebebasan yang Anda ajarkan dan kami akan membawakan sekularisme,” cetusnya di Universitas Sorbonne, dinukil Euronews, 21 Oktober 2020.

Advertising
Advertising

Pidato Macron pun menuai kecaman, termasuk dari pemerintah Indonesia. Karikatur Nabi Muhammad dianggap penodaan dan penghinaan terhadap tokoh paling dihormati dunia Islam.

Presiden Prancis Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron (kiri) saat berpose dengan trofi Piala Dunia 2018 yang tujuh di antara skuad Prancisnya terdapat para pemain muslim. (fifa.com).

Kecaman juga datang dari dunia sepakbola Prancis. Paul Pogba menyesalkan penghinaan terhadap agamanya itu yang sejatinya merupakan agama yang mengajarkan perdamaian.

“Saya marah, syok, dan frustrasi oleh media yang memanfaatkan saya untuk membuat headline palsu terkait isu yang kini sedang terjadi di Prancis dan membubuhkan tentang agama saya dan timnas Prancis. Saya menentang semua bentuk teror dan kekerasan. Agama saya adalah agama perdamaian dan penuh kasih,” ungkap Pogba di akun Instagram-nya @paulpogba, Selasa (27/10/2020).

Baca juga: Mesut Özil dan Peranakan Muslim Turki di Jerman

Pogba jadi bagian dari tujuh pemain muslim yang menghuni Les Bleus (julukan timnas Prancis) kala memenangkan Piala Dunia 2018. Selain Pogba, pemain imigran muslim Prancis kala itu adalah Benjamin Mendy, N’Golo Kanté, Adil Rami, Djibril Sidibé, Nabil Fekir, dan Ousmane Dembélé.

Prestasi mereka mengulang prestasi dua dekade sebelumnya. Di Piala Dunia 1998, Zinedine Zidane, yang juga muslim peranakan, berjasa besar menghadirkan trofi Piala Dunia ke Prancis untuk pertama kalinya.

Para bintang tersebut menjadi penyambung untaian historis sepakbola Prancis yang sejak 1930-an sudah diramaikan pemain, pelatih, hingga wasit peranakan muslim. Berikut enam pionirnya:

Ali Benouna

Ali Benouna (jongkok paling kanan) pemain muslim pertama di Timnas Prancis. (sfrc.fr).

Lahir di Alger, Aljazair pada 23 Juli 1907, Benouna tercatat jadi pemain muslim dan peranakan Afrika Utara pertama yang bermain di Liga Prancis. Dia bahkan jadi yang pertama menghuni tim nasional (timnas) Prancis, pada 1936.

Benouna memulai kariernya di Prancis sejak Juli 1930 bersama klub FC Sète. Kala itu klub-klub Prancis memulai tren merekrut pemain dari Aljazair dan Maroko.

“Sejak 1929 FC Sète dan Olympique Marseille jadi klub spesialis merekrut para pemain dari Arika. Selama musim 1933-1934, winger brilian Ali Benouna berjasa membawa FC Sète memenangi dua gelar (Coupe de France dan liga) dan menjadi pemain Afrika Utara pertama yang terpilih masuk timnas Prancis,” tulis Claude Boli dalam “African Sports Personalities and the African Diaspora in Europe” yang dimuat dalam buku Sport in the African World.

Baca juga: Lima Atlet Muslim Jerman

Benouna tercatat hanya dua kali membela panji triwarna Prancis di bawah asuhan pelatih asal Inggris, Gabriel Sibley ‘Kid’ Kimpton. Data FFF (induk sepakbola Prancis) menyingkap, debut Benouna terjadi pada 9 Februari 1936 di stadion Parc des Princes, Paris.

Dalam laga persahabatan kontra Cekoslovakia itu, Prancis menelan kekalahan 0-3. Laga kedua cum terakhir Benouna dilakoni dalam laga persahabatan kontra Belgia di Stade Olympique de Colombes, 8 Maret 1936. Prancis menang 3-0.

Selebihnya, Benouna bertualang di level klub. Selain bersama FC Sete, ia memperkuat US Boulougne pada 1936-1937, Stade Rennais setahun berikutnya dan mengakhiri karier pada 1939 di RC Roubaix.

Larbi Benbarek

Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek yang berjuluk "Mutiara Hitam" di skuad Prancis. (lcfc.com).

Meski dipuja legenda sepakbola Pelé, Haj Abdelkader Larbi Ben M’Barek alias Larbi Benbarek, pesepakbola pertama yang berjuluk “Mutiara Hitam”, dilupakan oleh publik. Padahal, Benbarek bintang sepakbola Prancis pertama yang diakui dunia, pada 1930-an, meski bukan muslim pertama yang bermain di Liga Prancis atau timnas Prancis.

“Pelé mengatakan (pada 1975): ‘Jika saya raja sepakbola, maka dia (Benbarek) adalah dewanya sepakbola.’ Tetapi pada 1990-an Benbarek begitu terisolasi dan terlupakan, bahkan di tanah kelahirannya (Maroko, red.), di mana jasadnya hampir sepekan tak ditemukan setelah kematiannya,” tulis Matt Rendell dalam Olympic Gangster.

Baca juga: Tendangan dari Bauru

Pemain kelahiran Casablanca, 16 Juni 1914 itu memulai petualangannya di Eropa bersama Marseille pada 1938. Meski kedatangannya terlambat lantaran beberapa bulan sebelumnya Piala Dunia 1938 sudah digelar di Prancis, performanya di musim perdananya (1938-1939) begitu dahsyat. Sepuluh gol torehannya membuat publik Prancis berdecak kagum. Pelatih Gaston Barreau pun manggilnya ke timnas.

Kala Perang Dunia II berkobar, Benbarek pulang kampung ke Maroko dan baru kembali ke Prancis pada 1945 bersama Stade Français. Namanya makin bersinar kala direkrut Atlético Madrid pada 1948. Hingga enam tahun berikutnya ia membukukan 113 gol serta berperan menyumbang dua gelar Liga Spanyol di musim 1949-1950 dan 1950-1951.

Sempat kembali ke Marseille pada 1953, Benbarek menghabiskan kariernya di kampung halamannya bersama Fath Union Sport de Rabat pada 1957. Sementara, kariernya di timnas Prancis membentang dari 1938-1954 dengan koleksi 17 gol. Pada 1998 atau enam tahun pasca-kematiannya (16 September 1992), ia dianugerahi FIFA Order of Merit.

Amadou Jean Tigana

Nama Amadou Jean Tigana melejit bersama Girondins Bordeaux. (girondins.com).

Pada 1950-an, rasisme masih jadi isu paling mengusik kaum imigran di Prancis. Termasuk yang dialami Jean Tigana, bintang Prancis era 1980-an, di masa kecilnya. Lahir di Bamako (Mali), 23 Juni 1955, Tigana sempat menyembunyikan identitasnya sebagai muslim setelah bermigrasi ke Prancis pada usia empat tahun.

“Sebelumnya, para pesepakbola menyembunyikan fakta bahwa mereka seorang muslim. Contohnya Jean Tigana, yang mengganti namanya dari Touré Amadou Tidiane. Di masa kini kebalikannya, para pesepakbola menjadi mualaf setelah mendapatkan hidayahnya,” tutur Charaffedine Mouslim, Presiden Étudiants Musulmans de France (EMF/Perhimpunan Pelajar Muslim Prancis), disitat SoFoot, 13 Desember 2009.

Baca juga: Rasisme di Sepakbola Tak Kunjung Habis

Tigana mengakui, sejak kecil acap jadi korban perundungan berbau rasisme di sekolahnya. “Saya sering diserang dan dihina. Saya dicaci dengan kata-kata negro kotor atau Arab busuk, tanpa memedulikan bahwa di dalam hati saya merasakan sakit hati. Saya tak bisa melawan dengan tangan kecil saya,” kenang Tigana, dikutip Lindsay Sarah Krasnoff dalam The Making of Les Bleus: Sport in France, 1958-2010.

Sepakbola jadi satu-satunya tempat Tigana menyalurkan emosinya. Ia bersinar sebagai gelandang sentral bersama Olympique Lyonnais sejak 1978 dan dua tahun kemudian dipanggil ke timnas Prancis. Untuk pertama dan terakhir kali, Tigana menyandang ban kapten timnas pada 16 Juni 1987 kala Prancis meladeni Norwegia dalam kualifikasi Euro 1988 di Stadion Ullevaal, Oslo. Tigana tercatat sebagai pemain muslim imigran pertama yang menyandang ban kapten timnas Prancis.

Zinedine Zidane

Zinedine Yazid Zidane yang keturunan Aljazair menyandang ban kapten Timnas Prancis periode 2005-2006. (fifa.com).

Jika di era klasik Benbarek jadi pujaan, di era modern Zidane-lah yang paling disanjung. Lahir di Marseille pada 23 Juni 1972, Zidane sudah berseragam timnas Prancis sejak 1988 di kategori U-17 setelah mendaki karier bersama Cannes.

“Saya memang punya keterkaitan dengan dunia Arab. Ada di dalam darah saya melalui orangtua saya. Saya sangat bangga sebagai orang Prancis tapi saya juga bangga akan keturunan ini dan keragaman yang ada di dalamnya” kata Zidane saat diwawancara Esquire, 8 Agustus 2016.

Sejak melejit bersama Bordeaux pada 1992 dan Juventus empat tahun kemudian, Zidane tak pernah luput dari pemanggilan timnas. Prestasi demi prestasi dia gapai baik untuk perorangan maupun kolektif. Puncaknya, dua golnya di final Piala Dunia 1998 mengantarkan Prancis meraih Piala Dunia pertamanya. Zidane satu-satunya pemain muslim di skuad besutan Aime Jacquet itu.

Baca juga: Zidane dan 11 Pesepakbola di Layar Perak

Tapi nahas, ia mengakhiri masa baktinya di timnas Prancis, di final Piala Dunia 2006, dengan “coreng”. Peristiwa pahit itu terjadi akibat provokasi berbau rasisme. Emosi Zidane meledak setelah keluarganya diejek sebagai keluarga teroris oleh bek Italia Marco Materazzi. Zidane langsung menanduk Materazzi dan akibatnya dikartu merah oleh wasit.

Meski Pancis akhirnya kalah dalam adu penalti di laga itu, publik Prancis tetap berada di belakang Zidane.

“Saya tahu Anda sedih dan kecewa tapi saya juga Ingin mengatakan bahwa seluruh negeri sangat bangga. Anda telah memberi kehormatan pada negara dengan kualitas luar biasa dan semangat petarung yang fantastis, di mana itu selalu menjadi kekuatan Anda di masa-masa sulit dan masa-masa kemenangan,” ujar Presiden Prancis Jacques Chirac dikutip The Guardian, 10 Juli 2016.

Vahid Halilhodžić

Lahir di Bosnia, Vahid Halilhodžić mendapat kewarganegaraan Prancis pada 2004. (fifa.com).

Meski paspornya belum lama berganti dari Bosnia ke Prancis setelah dinaturalisasi, Vahid Halilhodžić dihormati publik dan bahkan pemerintah Prancis sebagai salah satu pionir pelatih muslim dalam sepakbola Prancis. Pada 2004, ia menerima anugerah Legion d’honneur atau medali kehormatan dari pemerintah Prancis kelas Chevalier (ksatria) untuk pengabadiannya dalam sepakbola selama 34 tahun.

“Kehormatan dari hati saya yang paling dalam. Tak pernah dalam hidup saya mengalami perasaan semacam ini. Saya merasa sangat senang, melebihi capaian meraih sebuah trofi. Tapi apakah saya laik mendapatkannya? Terlepas dari itu saya ingin berterimakasih kepada (publik) Prancis dan Presiden Prancis (Jacques Chirac). Ini sangat berarti buat saya yang datang dari Bosnia dan belum lama dinaturalisasi,” ungkapnya kepada Le Parisien, 15 Juli 2004.

Mantan kapten timnas Yugoslavia era 1980-an itu mulai berkarier sebagai pelatih di Prancis pada 1993 dengan menangani klub kasta keempat Liga Prancis, AS Beauvais. Pria kelahiran Bosnia (Jablanica) itu mengukir reputasinya di liga teratas kala mulai menukangi OSC Lille pada 1998. Setelah menangani Stade Rennais pada 2002, dia menukangi Paris Saint-Germain (2003-2005) dan mempersembahkan trofi Coupe de France di musim perdananya.

Saïd Ennjimi

Saïd Ennjimi wasit muslim asal Prancis pertama berlisensi FIFA. (Twitter @SaidEnnjimi75).

Kendati Prancis punya sekitar 45 wasit berlisensi FIFA baik yang masih aktif maupun yang sudah gantung peluit, Saïd Ennjimi masih jadi satu-satunya wasit peranakan muslim. Dia lahir di Casablanca, Maroko, 13 Juni 1973.

Sosok yang juga berprofesi sebagai akuntan itu sudah berkecimpung sebagai wasit profesional sejak 1998 setelah bermigrasi dari Maroko pada 1975. Pada usia 17 tahun dia sempat mengadu peruntungan dengan jadi pemain di klub AS Coubertin. Namun ia ditolak dan malah disarankan menukar masa depannya dari pemain jadi wasit. Ennjimi yang tak takut mencoba, perlahan mendapatkan lisensi nasionalnya pada 1991. Delapan tahun kemudian, dia dipercaya memimpin kompetisi profesional di liga kasta keempat, Championnat National 2.

Baca juga: Wasit Indonesia Berlisensi FIFA Pertama

Namun sebagai imigran muslim, ia pernah ditempa perlakuan rasis kala memimpin laga. “Prancis selalu menjadi negara rasis. Akan tetapi saya merasa keadaannya selalu berbalik dengan sendirinya. Terdapat enam juta muslim di Prancis dan walaupun terdapat beberapa pengecualian, mereka mencintai negaranya (Prancis). Saya berpikir bahwa sepakbola selalu membuat orang-orang rukun dan mempromosikan integrasi. Saya salah satu contohnya,” tutur Ennjimi, dikutip Jeune Afrique, 12 November 2016.

Karier Ennjimi melejit pada 2004 kala mulai memimpin laga-laga di Ligue 1, kasta teratas Liga Prancis. Puncak karier sosok yang dikenal tegas di lapangan itu ialah mendapat lisensi UEFA dan FIFA pada 2008. Dari situ ia mulai jadi pengadil di laga-laga Liga Champions, Euro, dan Piala Dunia hingga kini.

TAG

prancis sepakbola rasisme muslim

ARTIKEL TERKAIT

FIFA Uncovered dan Tikus-Tikus Berdasi Pejabat Sepakbola Sepakbola Jepang dan Indonesia Si Kulit Bundar di Saudi Adidas dan Kemenangan Jerman Barat di Piala Dunia 1954 Tentara, Pengusaha, dan Pengurus Sepakbola Celaka Dua Belas di Pintu Dua Belas Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola Purnawirawan Jenderal Pendiri Arema Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola Ada Apa dengan Sepakbola India?