Masuk Daftar
My Getplus

Mayor Untung di Palagan Irian Barat

Sekelumit rekam jejak Mayor Untung sebelum Gestapu. Terjun ke belantara Papua dan mendapatkan bintang sakti, modal menembus Istana sebagai komandan batalion Tjakrabirawa.

Oleh: Martin Sitompul | 20 Sep 2021
Mayor Untung Sjamsuri (diantara yang berbaju putih) ditengah pasukannya di Kaimana, Papua, 1962. (Repro "Manisnya Ditolak: Sebuah Autobiografi").

Penampilan lusuh. Badan kurus akibat kurang makan. Begitulah keadaan prajurit TNI usai menyelesaikan misi infiltrasi ke pedalaman Irian Barat. Kebanyakan dari mereka mengalami frustrasi lantaran hampir mati ketika terjun dari pesawat dan menyusuri ganasnya hutan belantara Papua. Ada pula yang sempat menjadi tawanan tentara Belanda.

Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen Ahmad Yani mafhum akan derita batin anak buahnya yang berjuang di Papua. Untuk menghibur mereka, Yani mengirimkan satu rombongan kesenian ke Papua. Rombongan itu berpindah-pindah dari markas militer satu ke markas militer yang lain. Di Manokwari, mereka bertemu dengan Herlina - sukarelawati yang ikut terjun ke Irian - dengan raut wajah pucat pasi dan tubuh lunglai.

Rombongan kesenian tersebut dipimpin mantan tentara pelajar Arif Suratno. Mereka disertai seniman kenamaan seperti Norma Sanger bersaudara, Said Kelana, Kris Biantoro, dan bintang film Elya Rosa. 

Advertising
Advertising

Baca juga: 

Ongkos Pembebasan Irian Barat

“Di Kaimana, saya bertemu dengan Mayor Untung. Saya tinggal satu kamar dengan perwira militer yang nantinya bakal memberontak ini,” kenang Kris Biantoro, salah satu anggota rombongan kesenian yang kelak menjadi penyanyi pop dekade 1970-an, dalam Manisnya Ditolak: Sebuah Autobiografi.

Mayor Untung yang dimaksud Kris tidak lain ialah Untung Sjamsuri. Setelah kampanye Irian Barat berakhir, Untung ditarik ke Jakarta untuk memimpin batalion Tjakrabirawa. Kelak, Untung terlibat dalam memimpin operasi makar “Gerakan 30 September”.

Bertahan di Hutan

Mayor Untung Sutopo bin Sjamsuri adalah komandan Batalion 454 Banteng Raiders (BR). BR merupakan pasukan elite yang berasal dari Komando Daerah Militer VII Diponegoro. Selain berkualifikasi antigerilya, BR dikenal dengan kemampuan lintas udara serta bertempur di tengah rimba dan gunung. Ketika Presiden Sukarno menggaungkan kampanye pembebasan Irian Barat, BR turut dilibatkan dalam operasi militer.

Menurut buku Sedjarah Militer Kodam VII Diponegoro, pasukan Indonesia melancarkan Operasi Jatayu sebagai infiltrasi dari udara yang terakhir pada 14 Agustus 1962. Enam pesawat Hercules menembus pertahanan radar Belanda dan menerjunkan beratus-ratus pasukan payung di sekitar Sorong, Kaimana, dan Merauke. Dalam penerjunan ini ikut serta satuan Para BR 454 yang dipimpin Mayor Untung Sjamsuri sebagai komandan batalion.

Baca juga: 

Operasi Jatayu, Penerjunan Terakhir di Irian Barat

Operasi Jatayu yang menenerjunan pasukan sebanyak 407 orang terdiri dari tiga kelompok: Elang dengan tujuan Sorong, Gagak dengan tujuan Kaimana, dan Alap-alap dengan tujuan Merauke. Untung yang memimpin kelompok gagak diterjunkan bersama 140 orang anak buahnya.

“Pasukan ini didrop oleh pesawat Hercules yang dipiloti Mayor Mhd. Slamet dan Navigator Mayor Gan Sing Liep/Gunadhi B,” tulis sejarawan Saleh Djamhari dan tim Pusat Penerangan Sejarah ABRI dalam Tri Komando Rakyat Pembebasan Irian Barat.

Tidak banyak catatan yang menjelaskan tentang penerjunan pasukan Untung menjangkau Kaimana. Namun, kebanyakan operasi penerjunan ke Irian Barat mengalami sejumlah kendala. Mulai dari titik penerjunan yang melenceng dari ketetapan, parasut tersangkut di pohon, kelompok terpencar satu sama lain, sampai kehabisan bahan makanan.     

Baca juga: 

Pasukan Penerjun Operasi Naga Kesasar di Hutan Papua

Pasukan Untung, dalam catatan Mayor Jenderal Pranoto, asisten III/Personalia Menpangad, menghadapi kesulitan untuk konsolidasi. Lebatnya hutan Irian Barat menyebabkan radio antar-peleton dan kompi tidak dapat menangkap sinyal. Apalagi kontak dengan Komando Pusat Mandala di Ambon, terputus sama sekali.

Selama 10 hari pasukan Untung bertahan di hutan dengan terkatung-katung akibat ransum terbatas. Strategi bertahan hidup darurat sesuai petunjuk mengenai jenis tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan di tempat itu mereka terapkan. Ada kalanya petunjuk itu tidak sesuai dengan kondisi di lokasi dan justru membawa petaka. Sebagai misal, pondoh pohon pakis menurut petunjuk buku merupakan bahan sayuran yang mengandung gizi tinggi. Pada kenyatannya, pakis hutan di Irian Barat membuat mabuk setiap prajurit yang memakannya.

Kelamaan mendekam di pedalaman Irian, posisi pasukan Untung akhirnya diketahui tentara Belanda. Rencana kelompok Gagak menyerang pos-pos militer Belanda kandas. Mereka terlanjur dikepung musuh. Penduduk lokal bahkan berperan dalam membocorkan keberadaan mereka kepada tentara Belanda.

Baca juga: 

Awal Luka Orang Papua

“Mereka tertawan dan baru dibebaskan setelah Irian Barat kembali ke tangan Republik,” kata Pranoto seperti dikutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang.

Menuju Istana

Pertempuran berakhir menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda. Pasukan-pasukan TNI yang telah tersebar di penjuru Irian kemudian diorganisasikan kembali. Seluruh pasukan itu dibagi ke dalam 4 detasemen (A,B,C,D) sesuai dengan basisnya masing-masing. Detasemen tersebut, menurut buku Irian Barat dari Masa ke Masa terbitan Kodam XVII/Tjenderawasih, bertugas membantu jalannya proses peralihan pemerintahan dari Belanda kepada Indonesia. Detasemen B yang dipimpin Untung terdiri dari Kompi Garuda Putih (Yon 454), Kompi Gagak (Yon 454), dan Kompi Rajawali (Yon 328).

Pada September 1962, Untung sudah mendirikan markasnya di Sisir, Kaimana. Pasukannya mengibarkan bendera Merah-Putih sebagai tanda kedaulatan Indonesia. Padahal, menurut Perjanjian New York, Indonesia baru boleh mengibarkan benderanya pada pergantian tahun. Aksi itu terekam oleh seorang pejabat kontrolir Belanda yang diperbantukan kepada UNTEA bernama Arie Brand. Dia berkunjung ke Kaimana pada akhir bulan.

Baca juga: 

Kemenangan yang Ternoda di Papua

Ketika berhadapan dengan Untung, Arie mendapati sesosok perwira berpostur kecil untuk ukuran orang Indonesia. Sang perwira tampak berwibawa dan berpembawaan tenang. Oleh para anak buahnya, Untung diperlakukan dengan penuh hormat. Mereka memanggilnya meneer yang berarti “tuan” dalam bahasa Belanda.

“Ketika kami berpamitan, sedikitpun kami tidak mengira bahwa beberapa tahun kemudian ia dihukum mati. Dialah Mayor Untung,” kenang Arie Brand dalam bunga rampai Belanda di Irian Jaya: Amtenar di Masa Penuh Gejolak 1945—1962 suntingan Pim Schoorl. Anak buah Untung, menurut Arie, sama sekali tidak menduga diterjunkan begitu saja di atas hutan belukar. Pada waktu hendak diterbangkan, mereka hanya diberitahu sedang menjalankan operasi latihan militer. Yang memilukan, mayat beberapa kawan mereka masih ditemukan bergelantungan di pohon-pohon berbulan-bulan kemudian.  

Setelah menyelesaikan tugas Operasi Pembebasan Irian Barat, Untung disambut bak pahlawan. Atas jasa dan keberaniannya, Untung bersama Mayor Benny Moerdani dari RPKAD menerima Bintang Sakti. Itulah tanda kehormatan tertinggi bagi seorang prajurit TNI. Bintang penghargaan sangat prestisius itu disematkan sendiri oleh Presiden Sukarno di halaman Istana Merdeka begitu Untung dan Benny tiba di Jakarta.

Baca juga: 

Perisai Presiden Bernama Tjakrabirawa

Bintang gemilang Untung memuluskan jalannya di ketentaraan. Sempat dikembalikan sebentar ke kesatuan asalnya, Istana kemudian menjadi tempat yang tidak asing bagi Untung. Pada awal 1965, Untung diangkat menjadi komandan Batalion I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa. Dari belantara Papua, Letkol Untung pun bertugas di Istana.  

TAG

untung sjamsuri irian barat pasukan-elite

ARTIKEL TERKAIT

Kipasko, Pasukan Komando Pertama di Indonesia Oposan Sepanjang Zaman Orang Toraja dan Luwu Melawan Belanda Suka Duka Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza Orang Wana Melawan Belanda Pratu Misdi, Pasukan Perdamaian Indonesia yang Gugur di Gaza Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza Perdamaian Maludin Simbolon dan Djamin Gintings Menjaring Soumokil Cerita Orang Biasa dalam Perang Kemerdekaan