Masuk Daftar
My Getplus

Suka Duka Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza

Kisah para prajurit Indonesia pertama dalam misi perdamaian saat pecah Krisis Suez. Bertugas di tengah gurun yang panas, ladang ranjau, dan jauh dari keluarga. Meski begitu mereka mendapatkan hiburan dan pengalaman yang lebih dari memuaskan

Oleh: Martin Sitompul | 07 Jun 2024
Anggota-anggota Batalion Garuda I sedang berada di Kairo waktu mereka masih tinggal di El shandura. Tampak mereka sedang mengunjungi Pyramid. Sumber: Star Weekly, 1 Juni 1957.

Sebanyak 559 prajurit TNI Batalion Garuda I disiapkan menuju Mesir. Dua kompi berasal dari Tentara Teritorium (TT) IV/Diponegoro dan satu kompi dari TT V/Brawijaya. Mereka terpilih mewakili Kontingen Indonesia dalam United Nations Emergency Force (UNEF/Pasukan Polisi PBB) untuk misi perdamaian di tengah Krisis Suez. Sebelum berangkat, Presiden Sukarno melepas mereka dengan amanat.

“Adalah satu kebanggaan bagi kita bangsa Indonesia dapat menyumbangkan tenaga dalam membantu penyelesaian bersama di Mesir itu,” kata Presiden Sukarno seperti dikutip dalam “Sam Karya Bhirawa Anoraga”: Sedjarah Militer Kodam VII/Brawidjaja.

“Tugas ini adalah berat,” lanjut Bung Karno, “Tetapi apabila anggota-anggota pasukan Garuda I itu menjalankan tugasnya dengan penuh kecintaan, sedikitpun tak akan terasa beratnya.”

Advertising
Advertising

Baca juga: Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza

Tugas berat seperti yang dikatakan Bung Karno dalam taklimatnya memang benar adanya. Krisis Suez pecah pada akhir Oktober 1956. Mesir digempur oleh Israel, Inggris, dan Prancis. Agresi terhadap Mesir itu menyusul keputusan Presiden Gammal Abdul Nasser menasionalisasi Terusan Suez. Putusan ini berimbas terhadap kepentingan Inggris dan Prancis selaku pemegang saham jalur perdagangan yang menghubungkan tiga benua itu.

Situasi cukup menegangkan begitu pasukan Batalion Garuda I tiba di Mesir pada 15 Januari 1957. Sersan Mayor Mukidi yang bertugas di Teluk Akaba merekam pengalamannya bertugas sebagai pasukan perdamaian di Mesir selama empat bulan pertama. Sejak 10 April 1957, kompinya dipindahkan dari El Shandura ke El Rafah, tidak berapa jauh dari Gaza. Satu kompi lain masih bertugas di Sinai dan 1 kompi lagi di Port Said, sebelah timur laut Mesir.

Kota El Rafah terletak di Jalur Gaza bagian selatan. Sudah sejak lama kota ini menjadi tempat pengungsian bagi warga Arab-Palestina. Pelarian rakyat Palestina ke Rafah tersebab orang-orang Israel mencaplok tanah Palestina sejak 1948. Begitupun ketika terjadi Krisis Suez, berduyun-duyun warga Palestina melarikan diri ke Rafah karena menjadi sasaran pasukan Israel.

“Ditempat yang baru ini kami menghadapi pelarian Arab-Palestina yang mengungsi ketempat ini. Mereka kebanyakan bandel-bandel, tiap-tiap hari berkumpul dan berkeliaran diluar kamp kami untuk minta pekerjaan. Walaupun diusir mereka tak mau pergi, sehingga kadang-kadang terpaksa kami mengusirnya dengan kekerasan senjata,” tutur Mukidi dalam Star Weekly, 1 Juni 1957.

Baca juga: Pratu Misdi, Pasukan Perdamaian Indonesia yang Gugur di Gaza

Tapi, yang paling sulit menurut Mukidi ialah ketika dia dan rekan-rekan sekompinya mesti dituntut siaga pada malam hari. Orang-orang Arab-Palestina itu tidak takut memasuki kamp untuk mencuri. Dan memang sudah ada barang-barang yang hilang di sekitar kamp pasukan UNEF. Pengalaman itulah yang juga dialami juga oleh pasukan Kontingen Kanada, Brasilia, dan lain-lain.

Selain itu, di Rafah air bersih agak sukar diperoleh. Air mesti diambil dari tempat yang jauh dan rasanya asin pula. Perut para pasukan Indonesia yang terbiasa dengan air melimpah di Jawa, harus berlatih mengebalkan diri terhadap situasi ini. Belum lagi persoalan hawa gurun yang lekas berubah. Kadang-kadang panasnya sampai 45 derajat celcius, disertai angin topan bercampur debu pasir. Di waktu malam, suhu turun dan menjadi dingin sekali. Kadang-kadang sampai turun menjadi 15 derajat celcius. Mereka mesti bertahan meski kepanasan di bawah terik siang dan kedinginan kala malam.

Namun, ancaman yang lebih berbahaya ialah ranjau-ranjau yang ditanam secara tersembunyi di bawah padang pasir. Salah-salah berpijak, nyawa bisa melayang. Beruntung tidak ada yang termakan ranjau.   

Baca juga: Pak Oerip Nyaris Terkena Ranjau

Di balik kesulitan yang dihadapi, pasukan perdamaian Indonesia juga mengalami berbagai pengalaman berkesan, yang barangkali tidak akan dirasakan bila bertugas di dalam negeri. Mukidi mencatat, perpindahan kompinya ke Rafah bertepatan dengan bulan puasa dan Idul Fitri. Otoritas UNEF kemudian memfasilitasi para anggota kompi berziarah ke kota suci Jerusalem yang termasuk bagian negara Yordania.    

“Kami diundang oleh pemerintah Yordania untuk berhari raya di Jerusalem serta melihat-lihat kota itu untuk beberapa hari lamanya,” kenang Mukidi.

Di Jerusalem, kompi Mukidi diajak walikota mengunjungi masjid-masjid, gereja-gereja, dan makam para nabi. Semuanya adalah tempat-tempat menakjubkan yang baru pertama kali dilihat oleh mereka. Selain Jerusalem, pasukan melanjutkan kunjungan tamasyanya ke Betlehem, Jerikho, sampai ke Laut Mati. Rakyat di sana pada umumnya peramah. Mereka bersimpati kepada anggota-anggota UNEF yang dijuluki “Master of Peace”.

Baca juga: Suatu Hari di Yerussalem

Masa cuti tentu adalah waktu yang paling ditunggu para personel Pasukan Garuda. Setelah berpeluh di medan tugas, para anggota Batalion Garuda I punya jatah cuti yang bisa dipakai untuk berlibur. Biasanya para pasukan yang cuti menghabiskan waktunya pergi ke Beirut, ibu kota Lebanon. Semuanya ditanggung oleh UNEF, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi. Masa cuti berikut hiburannya itu digilir terus-menerus sampai semuanya mendapat bagian.

Menurut Komandan Batalion Garuda I Kolonel Suadi Suromihardjo, hiburan bagi para pasukannya lebih dari memuaskan. Dalam Harian Nasional, 2 Oktober 1957, setelah kepulangan Batalion Garuda I ke Indonesia, Suadi berkisah penyanyi terkenal asal Spanyol Xavier Cugat bersama bandnya pernah didatangkan ke kamp untuk menghibur para pasukan. Selain itu, penari perut juga pernah didatangkan dari Mesir. Tidak hanya hiburan yang sifatnya sekuler, para anggota Batalion Garuda I itu bahkan ada yang berkesempatan menunaikan rukun Islam kelima, yaitu naik haji.  

“Di antara para petugas itu 30 orang yang menunaikan haji yang dipimpin oleh Mayor Sudijono,” terang Suadi dalam Nasional.

Baca juga: Pemerasan Jemaah Haji Indonesia

Mendekati akhir masa bertugas, rasa rindu kepada keluarga kian membuncah. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Banyak anggota pasukan Indonesia yang anggota keluarganya bertambah saat ditugaskan ke Mesir, tapi belum melihat bayinya. Perasaan rindu itu lebih-lebih dirasakan oleh mereka yang bertugas di Sinai karena jauh dari tempat ramai.

“Sebagai hiburan sekedarnya dari tanah air, kami sering mendengarkan siaran-siaran RRI yang ditujukan kepada anggota-anggota Batalion Garuda I, berupa lagu-lagu permintaan dan suara para istri melalui tape di RRI Jakarta, yang disiarkan tiap Rabu malam dan Jumat makam jam 20.30 waktu ditempat kami,” kenang Mukidi.

Krisis Suez berangsur mereda setelah Israel menarik mundur pasukannya dari Sinai pada Maret 1957. Namun, Batalion Garuda I tetap berada di front hingga memasuki paruh kedua 1957. Setelah kurang lebih delapan bulan, barulah perintah penarikan pasukan Indonesia datang dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mayor Abdul Haris Nasution.

Baca juga: Berebut Kendali Terusan Suez

Setelah keluar perintah persiapan untuk pulang, pergantian dari hari ke hari rasanya sangat lambat. Batalion Garuda I akhirnya dibebaskan dari tugas jaga. Untuk mengisi kekosongan waktu sebelum berangkat, mereka mengadakan pekan olahraga. Mulai dari sepakbola, voli, ping-pong, baris berbaris, speed march, hingga bongkar-pasang senjata.

Pada malam terakhir sebelum mereka pulang, Kedutaan Republik Indonesia mengadakan pesta perpisahan di Kairo. Pesta berlangsung meriah. Suasana hangat penuh gembira mewarnai acara perpisahan kepada anggota Batalion Garuda I itu.

“Malam itu merupakan satu kenang-kenangan yang sukar untuk dilupakan, dimana para ibu dari anggota Kedutaan Republik Indonesia memamerkan suara-suara merdunya. Saat yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga, maka kembalilah Batalion Garuda I ke tanah air,” demikian diulas dalam Sejarah TNI AD 1945—1973 oleh Dinas Sejarah TNI AD.

Baca juga: Malam Muda-Mudi Jakarta

TAG

pasukan perdamaian mesir israel palestina tni ad

ARTIKEL TERKAIT

Kelakar Gus Dur dan Benny Moerdani Tentang Israel Benjamin Netanyahu Ditolak Berkunjung ke Indonesia Epilog Tragis Sang Pengusung Bendera Palestina di Olimpiade Pratu Misdi, Pasukan Perdamaian Indonesia yang Gugur di Gaza Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza Simson, Si Manusia Perkasa Bangsa Israel Petugas Imigrasi Mesir Menahan Rombongan Agus Salim Mempertanyakan Solusi Dua Negara Israel-Palestina Lobi Israel Menyandera Amerika? Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno