Masuk Daftar
My Getplus

Skandal Putri Gubernur Jenderal VOC

Gubernur Jenderal VOC J.P. Coen murka dengan perbuatan putri angkatnya dan kekasihnya. Keduanya mendapat hukuman berat.

Oleh: Amanda Rachmadita | 17 Apr 2023
Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen. (Rijksmuseum).

JAN Pieterszoon Coen, pendiri Batavia, ingin membangun koloni yang dihuni oleh orang-orang baik. Gubernur VOC ini tidak suka dengan pergundikan, perzinaan, dan pelacuran.

“Menurut Coen, pergundikan mengakibatkan pengguguran kandungan, pembunuhan bayi, dan terkadang peracunan suami oleh gundik yang cemburu. Di samping melahirkan anak-anak jadah,” tulis Alwi Shahab dalam Betawi Queen of The East.

Jacques Specx, anggota Dewan Hindia yang kelak menjadi Gubernur Jenderal VOC, menitipkan putrinya, Sara Specx kepada Coen. Specx menganggap telah menitipkan putrinya di tangan yang tepat.

Advertising
Advertising

Adolf J. Heuken, S.J. dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta menyebut Sara Specx merupakan putri tak sah Jacques Specx dengan wanita Jepang. Saat Specx kembali ke Belanda, ia menitipkan putrinya untuk diasuh Coen. Permintaan tersebut disambut baik oleh Coen yang kala itu telah menikah dengan Eva Ment. Coen berpikir melalui pengasuhan yang baik terhadap Sara, ia dapat memberi contoh dalam mewujudkan gagasannya terkait koloni yang dibangun dengan orang-orang yang menikah dan baik-baik.

Baca juga: Pahitnya Hidup Cornelia

Menurut Leonard Blussé dalam Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan dan Belanda di Batavia VOC, selama diasuh oleh Coen, Sara dipekerjakan sebagai salah seorang di antara dayang-dayang Eva Ment.

Michel Ketelaars dalam Compagniesdochters, Vrouwen en de VOC (1602–1795) menyebut Sara diasuh dengan penuh kasih oleh keluarga Coen sejak usia sepuluh tahun. Ia diizinkan menemani Nyonya Ment secara teratur pada acara-acara resmi.

“Coen tampak puas dengan tingkah laku putri barunya yang rapi dan bermoral. Mengingat standar moral yang ia tetapkan sangat penting baginya untuk mempertahankan perilaku teladan dan memancarkan kehormatan dan moralitas keluarga secara lahiriah,” tulis Ketelaars.

Baca juga: Benarkah Jan Pieterszoon Coen Tewas di Tangan Intel Mataram?

Kehidupan yang rukun dan penuh kasih itu seketika berubah di tahun 1629. Sara yang baru berusia tiga belas tahun bertemu dengan seorang pemuda, Pieter Jacobsz Cortenhoeff, putra pedagang Belanda dengan wanita pribumi yang lahir di Arakan.

Menurut Ketelaars, Pieter yang usianya hanya terpaut beberapa tahun, berusaha mati-matian mendekati Sara. Upaya Pieter tentu tak mudah, bukan hanya karena Sara berasal dari keluarga berkedudukan tinggi, tetapi juga karena Coen sangat ketat menjaga kesucian putri-putrinya. Meski demikian, Coen tetap kecolongan. Pada suatu hari, Pieter berhasil memasuki kediaman Sara dengan menyogok penjaga benteng. Setelah berhasil mendapatkan akses ke kamar wanita, Pieter bertemu Sara dan bermesraan hingga larut malam.

Perbuatan itu membuat Coen marah besar. Pieter tidak hanya telah menodai putrinya di kediamannya. Ia juga secara tidak langsung merusak nama baik keluarga dan menghancurkan reputasi Coen sebagai pemimpin di Batavia. Coen segera memerintahkan penangkapan Pieter.

Baca juga: Berbau Kolonial, Sekolah J.P. Coen di Belanda Ganti Nama

“Segara diperintahkannya untuk mendirikan sebuah panggung tempat menggantung kedua kekasih muda itu. Hanya berkat campur tangan ketua Dewan Pengadilan, maka Coen dapat diyakinkan, bahwa perkara seperti ini wajib dibawa ke pengadilan dan diputuskan oleh para hakim,” tulis Heuken.

Saat kasus tersebut dibawa ke Dewan Pengadilan, Coen menggunakan kekuatan dan kontaknya untuk menyelesaikan kasus tersebut. Suara hakim seri, namun suara kedua dari ketua Dewan Pengadilan yang merupakan saudara ipar Coen, maka dijatuhkan keputusan yang kejam: Pieter dihukum mati sementara Sara yang masih di bawah umur didera dengan badan setengah telanjang di pintu masuk Balai Kota yang terbuka.

Coen menolak memberikan grasi walau telah didesak oleh pendeta. Terkait hukuman mati kepada Pieter, Heuken menyebut Pieter dipancung di alun-alun kota, sedangkan Blussé menyebut Pieter dihukum tembak.

Baca juga: Gubernur Jenderal VOC Dijatuhi Hukuman Mati

Jacques Specx mengetahui kasus yang menimpa Sara setelah tiba di Batavia beberapa hari setelah kematian Coen pada 21 September 1629. Ia marah besar atas perlakuan terhadap putrinya. Ia meyakini Sara tidak bisa disalahkan karena putrinya dan Pieter telah berjanji setia.

Specx yang dipilih oleh Dewan Hindia menjadi gubernur jenderal menggantikan Coen pada 25 September 1629, kemudian menyerang orang-orang yang bertanggung jawab atas kasus putrinya. Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menyebut Specx memaksa Dewan Gereja Batavia melarang tiga anggota Dewan Pengadilan mengikuti perjamuan suci di gereja. “Suatu sikap yang menunjukkan dominasi pejabat tinggi VOC terhadap pejabat gereja,” tulis Mona.

Hal itu karena para pendeta menerima gaji dari VOC sehingga mereka juga pegawai VOC, sedangkan ketiga anggota Dewan Pengadilan merupakan anggota Dewan Hindia. Begitu absolutnya kekuasaan gubernur jenderal terlihat juga dari keputusan Specx mengasingkan pendeta ke sebuah kapal di pelabuhan karena membela ketiga anggota Dewan Hindia yang dilarang mengikuti perjamuan suci di gereja.

Baca juga: Skandal Pernikahan Raden Saleh

Sara mendapat perawatan hingga sembuh. Ia kemudian menikah dengan Georg Candidus, seorang pendeta dari Jerman pada 1632. Heuken menyebut suami Sara itu dipecat dari jabatannya di Maluku karena menentang poligami gelap beberapa pejabat Belanda.

Sementara itu, Specx tidak lama menjabat gubernur jenderal. Rupanya Dewan Tujuhbelas di Amsterdam tidak menyetujui keputusan Dewan Hindia mengangkat Specx sebagai pengganti Coen. Menurut Mona, Dewan Tujuhbelas mencurigai ada yang tidak beres dalam soal keuangan di kantor Firando ketika Specx bertugas di sana. Melalui surat tertanggal 17 Maret 1632, Specx dipanggil kembali ke Belanda. Ia baru meninggalkan Batavia pada 3 Desember 1632.

Beberapa bulan kemudian, Sara dan suaminya juga meninggalkan Batavia untuk pergi ke Formosa (kini, Taiwan). Sara meninggal di sana pada 1635.*

TAG

voc skandal

ARTIKEL TERKAIT

Asal Nama Wakatobi Tanpa Pajak, Palembang Kaya Kecakapan Elie Ripon Sang Sersan Swiss di Banda Serdadu Württemburg Berontak di Semarang Cikal Bakal Bursa Saham Orang Pertama yang Menjual Saham VOC Asisten Rumah Tangga Jadi Pemilik Saham Pertama VOC VOC Sebagai Perusahaan Saham Gabungan Bataha Santiago Digantung Akibat Lawan VOC Antek-Antek Presiden Amerika Mengintip Jeroan Lawan Politik