Masuk Daftar
My Getplus

Melacak Jejak Jepang di Indonesia

Pameran ini menampilkan sejarah perjumpaan orang-orang Jepang dengan masyarakat Nusantara jauh sebelum Jepang menduduki Indonesia.

Oleh: Amanda Rachmadita | 10 Agt 2022
Pameran Sakura di Khatulistiwa di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, 9 Agustus hingga 10 September 2022. (Historia/Fernando Randy)..

Kehadiran Jepang di Indonesia tak dimulai pada Maret 1942 saat Dai Nippon mengambil alih kekuasaan dari Belanda. Beberapa abad sebelumnya, VOC (Perusahaan Dagang Hindia Timur) berperan dalam menghubungkan orang-orang Jepang dengan Nusantara.

Perdagangan VOC merambah wilayah Jepang. Mulanya pusat perdagangan VOC berada di wilayah Hirado. Pada 1641 penguasa Jepang memindahkannya ke Pulau Dejima, Nagasaki, yang dibangun sekitar tahun 1634 hingga 1636. Pulau Dejima menjadi pusat perniagaan VOC yang terbilang sukses di Asia Timur. Pusat dagang ini pula yang menjadi penghubung orang-orang Jepang dengan Nusantara pada abad ke-17.

Pada 1621, VOC mempekerjakan samurai tak bertuan atau ronin sebagai tentara bayaran untuk memadamkan perlawanan rakyat Banda yang menolak monopoli perdagangan rempah. Para ronin itu kehilangan tuannya sejak perang Sekigahara berakhir. Diperkirakan sekitar 68 samurai terlibat dalam pembantaian warga Banda.

Advertising
Advertising

Baca juga: Samurai dalam Pembantaian Banda

Memasuki abad 20, orang-orang Jepang makin banyak berdatangan ke Indonesia, kebanyakan untuk berdagang. Gelombang kedatangan mereka juga berkaitan dengan keberhasilan Jepang mengalahkan Rusia pada 1905. Kekalahan Rusia menyulut semangat bangsa timur yang masih berada di bawah kolonialisme Eropa.

Perang Dunia II membuka kisah baru dalam hubungan Indonesia dan Jepang. Tak lama setelah Belanda hengkang, pada Maret 1942 tentara Jepang menduduki Indonesia. Di bawah pendudukan Jepang, seluruh aspek kehidupan masyarakat disesuaikan menurut tata tertib mereka. Waktu, cara hidup, dan pergaulan berubah.

Kondisi itu digambarkan Kwee Thiam Tjing yang menggunakan nama samaran Tjamboek Berdoeri dalam Indonesia dalem Api dan Bara. Ia menyebut pengaturan waktu diberlakukan di Indonesia mulai tanggal 20 Maret 1942. Tak hanya menyamakan waktu di Indonesia dengan waktu di Tokyo, Jepang juga menyesuaikan sistem penanggalan di Indonesia dengan penanggalan Sumera. Pengaturan sistem penanggalan itu membuat umur orang Indonesia jauh lebih tua 660 tahun dari orang Jepang. “Hingga pada tanggal 21 Maret, tahun 1942 sudah tidak boleh dipake lagi dan diganti dengan tahun 2602,” tulis Tjamboek Berdoeri.

Baca juga: Karayuki di Bumi Pertiwi

Pembahasan mengenai rekam jejak perjumpaan orang-orang Jepang dan masyarakat Nusantara menjadi tema pameran “Sakura di Khatulistiwa” yang digelar di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat.

Pameran dibagi dalam lima area dengan tema Jepang di Nusantara, Perang dan Dagang, Di Bawah Matahari Terbit, Antara Berita dan Derita, serta Proklamasi. Setiap area menampilkan foto, lukisan, arsip, dan benda-benda bersejarah lainnya.

Salah satu foto yang dipamerkan di area Jepang di Nusantara adalah gambar sejumlah Karayuki yang berarti “pergi ke Tiongkok”. Para gadis Jepang itu merantau ke utara untuk bekerja sebagai penghibur karena desakan ekonomi. Memasuki abad ke-19, karayuki mulai berdatangan ke Hindia Belanda. Mereka tersebar mulai dari Sumatra, Sulawesi, hingga Jawa. Konsentrasi karayuki yang terkenal berada di kawasan Kembang Jepun, Surabaya.

Baca juga: Mengintip Kegiatan Sekolah Masa Jepang

Selain itu, di area Jepang di Nusantara, pengunjung juga dapat melihat surat izin tinggal yang diterbitkan oleh kantor urusan orang Jepang di Hindia Belanda. Sementara itu, pada area Di Bawah Matahari Terbit, pengunjung dapat melihat Gunto, pedang atau katana yang dibawa oleh perwira militer Jepang. Di area itu juga terdapat koleksi rapor sekolah Taman Siswa serta ijazah Sekolah Rakyat zaman Jepang.

Di area Proklamasi, pengunjung dapat melihat naskah Proklamasi yang disusun oleh Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Subardjo di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira Angkatan Laut Jepang, pada dini hari 17 Agustus 1945. Konsep naskah Proklamasi tulisan tangan Sukarno itu diketik oleh Sayuti Melik. Naskah Proklamasi hasil ketikan Sayuti Melik ditandatangani Sukarno dan Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia.

Baca juga: Begini Naskah Proklamasi Dirumuskan

Selain menampilkan naskah Proklamasi, terdapat pula foto-foto serdadu Jepang yang membantu Indonesia melawan Sekutu dan Belanda di Sumatra. Beberapa di antaranya Shichio Eto alias Jacob dan Hideo Fujiyama alias Husen. Untuk menghargai jasa mereka, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Gerilya. Keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Di area Proklamasi, pengunjung juga dapat melihat kamera Bell and Howell buatan Inggris yang digunakan untuk merekam peristiwa rapat raksasa Ikada pada 19 September 1945. Kamera ini dibawa tanpa izin oleh R.M. Soetarto dari kantor film propaganda Jepang, Nippon Eiga Sha, untuk mengabadikan momen bersejarah tersebut.

Pameran Sakura di Khatulistiwa sebagai bagian dari peringatan HUT ke-77 Republik Indonesia diselenggarakan mulai 9 Agustus hingga 10 September 2022.*

TAG

pameran jepang

ARTIKEL TERKAIT

Rakyat Sabah Membenamkan “Matahari Terbit” Aroma Kopi yang Menggugah Revolusi Dunia Di Balik Makam Roso Slamet Rijadi Masa Pendudukan Jepang Menjelajahi Era Jepang di Nusantara dalam Pameran Sakura di Khatulistiwa Kisah Taruna Indonesia dalam Angkatan Laut Belanda Karayuki di Bumi Pertiwi Bangsawan Jawa Memilih KNIL Tiga Tentang Jepang Berdarah Karena Ketakutan