Masuk Daftar
My Getplus

Isaac Irot dari Marsose ke TNI

Dia penyintas Perang Dunia II yang oleh Belanda dianggap berjasa dalam melawan tentara Jepang. Pensiun di TNI.

Oleh: Petrik Matanasi | 18 Agt 2023
Isaac Irot (Ilustrasi: Yusuf Awaluddin/Historia)

Menjelang kedatangan tentara Jepang ke Hindia Belanda pada awal 1942, beberapa anggota pasukan khusus tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), Marechaussee alias Marsose, dikirim ke daerah koloni Inggris Malaka. Pasukan Marsose itu dipimpin Kapten Supheert.

Agar perlawanan terhadap tentara Jepang bisa dilanjutkan, setelah Februari 1942 pasukan itu harus mundur ke Sumatra. Pasukan itupun dibagi menjadi dua kelompok ketika akan menyeberangi Selat Malaka dengan perahu.

Baca juga: Marsose dari Eropa sampai Perang Aceh

Advertising
Advertising

Saat itulah Prajurit kelas dua Irot mengambil peran besar bagi pasukannya. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk tugas berbahaya yang tak satupun dari rekannya bersedia mengambilnya.

“Setelah seluruh Malaka jatuh ke tangan musuh Jepang dan pasukan Marechaussee di sana harus mundur ke Sumatera, Irot, setelah mendarat dengan selamat di Pulau Bengkalis bersama komandan dan sebagian kecil pasukan, dengan sukarela kembali sebagai satu-satunya prajurit dengan proa (perahu, red.) menyeberangi Selat Malaka,” tulis https://www.onderscheidingen.nl.

Baca juga: Upaya Berarti di Saumlaki

Prajurit Irot, yang bergabung di KNIL sejak 1934 dari pangkat prajurit rendahan (fusilier), dengan berani melewati bahaya untuk menjemput kawan-kawannya. Usaha Irot berhasil. Semua yang dijemputnya tiba dengan selamat di Sumatra. Menurut koran Het Dagblad edisi 29 April 1947, pasukan Marsose Irot dua kali menyeberangi Selat Malaka ke Sumatra, untuk mengevakuasi anggota pasukan lain ke Sumatra dengan perahu layaknya nelayan.

Tindakan Irot itu diingat para perwiranya sebagai sebuah kesetiaan besar, bijaksana sekaligus berani.

Ketika Sumatra dikuasai tentara Jepang, banyak anggota KNIL menjadi tawanan perang. Sebagai serdadu KNIL, Irot tentu hidup tak nyaman di zaman tentara pendudukan Jepang. Baru setelah 1945, pemuda kelahiran Keresidenan Manado, 12 September 1913, itu bisa kembali terima gaji sebagai anggota KNIL usai bergabung lagi di Medan dan naik pangkat menjadi sersan kelas dua pada Maret 1946.

Baca juga: Didi Kartasasmita dan Pengkhianatan Seorang KNIL

Tak hanya itu, Irot menjadi pahlawan perang bagi pihak Belanda. Berdasarkan Koninklijk Besluit nomor 75 tanggal 28 Februari 1947, Irot dianugrahi penghargaan sebagai ksatria kerajaan Belanada, Ridder 4e Militaire Willemsorde. Penghargaan itu diberikan kepadanya secara resmi oleh Jenderal Mayor P. Scholten pada November 1947 di Medan.

Pada sekitar 1948, Irot ikut dalam rombongan ksatria Kerajaan Belanda yang diundang makan malam di Istana Gambir oleh para pejabat Belanda. Dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950, sejarawan Harry A. Poeze dkk. menulis Sersan Irot bersama Sersan Tatang Wahyu dari Batalyon Keamanan dan Kopral J. Matahelemoal sang penerima Bronzen Kruis, termasuk prajurit KNIL yang diundang ke Negeri Belanda.

Setahun kemudian, 1949, Irot naik pangkat lagi dari sersan kelas dua ke sersan kelas satu. Sebelum KNIL dibubarkan pada 1950 sebagai kelanjutan dari pengakuan kedaulatan RI oleh Kerajaan Belanda pada 27 Desember 1949, Sersan Infanteri Isaac Irot masuk ke Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Baca juga: Kala Prajurit TNI Memenuhi Panggilan Tugas

Kendati biasanya anggota KNIL yang masuk TNI pada 1950 mendapatkan kenaikan pangkat dua tingkat, gajinya turun empat tingkat. Namun Irot bisa memulai dinasnya di TNI sebagai letnan dua atau pembantu letnan. Dengan pengalamannya, dia bisa menjadi komandan peleton atau instruktur di TNI dan bisa bisa mencapai pangkat kapten atau mayor ketika pensiun sekitar 1960-an.

Isaac Irot bertahan di Sumatra Utara. Seperti banyak orang Minahasa yang sudah lama merantau, Irot berani menghabiskan masa tuanya jauh dari tanah kelahirannya atau tanah moyangnya. Dia bahkan tutup usia di Medan, Sumatra Utara pada 12 April 2005.*

TAG

perang pasifik knil pendudukan jepang

ARTIKEL TERKAIT

Murid Westerling Tumbang di Jogja Pengemis dan Kapten Sanjoto Abdoel Kaffar Ingin Papua dan Timor Masuk Indonesia JJ Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik Arief Amin Dua Kali Turun Pangkat Serdadu Württemburg Berontak di Semarang Cinta Ditolak, Mandor Bertindak KNIL Pakai Pendeta dan Ulama Sersan Zon Memburu Panglima Polim Dikira Sudah Mati, Boediardjo Ternyata Selamat