Masuk Daftar
My Getplus

Agen CIA dalam Operasi Habrink

Kerja sama agen CIA dengan orang Belanda dalam Operasi Habrink di Indonesia. Salah satu operasi CIA paling sukses terhadap Uni Soviet.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 30 Mar 2021
Ilustrasi rudal SAM (surface-to-air missile) Uni Soviet mengejar F-16 Fighting Falcon. (Wikimedia Commons).

David Henry Barnett bertugas sebagai agen CIA selama tiga tahun di Indonesia (1967–1970). Dia kemudian mencoba peruntungan menjadi pengusaha. Namun, gagal dan terlilit utang. Sebagai mantan agen, dia tahu cara cepat mendapat uang banyak.

Barnett menjual hasil operasi rahasia bersandi Habrink kepada KGB (Dinas Intelijen Uni Soviet). Habrink disebut sebagai salah satu operasi rahasia CIA paling sukses terhadap Uni Soviet. Operasi ini mendapatkan data mengenai senjata dan alutsista canggih Uni Soviet yang dijual kepada Indonesia.

Barnett diidentifikasi oleh Kolonel Vladimir Piguzov, seorang perwira KGB di Jakarta yang direkrut sebagai agen ganda oleh CIA. Pada gilirannya Piguzov kemudian dikhianati oleh Aldrich Ames, agen CIA yang bekerja untuk KGB, dan dieksekusi mati. 

Advertising
Advertising

Baca juga: Operasi Rahasia CIA Paling Sukses di Indonesia

John Mcbeth dalam “How a CIA operation in Indonesia turned the Vietnam War” di asiatimes.com menyebut bahwa Barnett menjadi perwira CIA pertama dalam 33 tahun sejarah CIA yang didakwa atas tuduhan spionase. Dia dipenjara selama 18 tahun karena menjual rincian Operasi Habrink. Dia juga mengekspos Wim Vermeulen dan 29 operator lokal ke KGB untuk membayar utangnya sebesar $92.000 kepada pengusaha Indonesia.

Peran Wim Vermeulen diungkap oleh mantan agen CIA di Indonesia, Daniel F. Cameron, dalam memoarnya yang baru terbit, In Red Weather Turmoil in Indonesia. Dalam data Amazon disebutkan bahwa Cameron tiba di Surabaya pada 1960-an ketika Uni Soviet, China, dan Amerika Serikat bersaing untuk mendapatkan pengaruh strategis di Indonesia. Dia segera bekerja sama dengan Wim Vermeulen.

Cameron lahir di Brooklyn, New York pada 1 Agustus 1931. Dia memulai kariernya dengan bekerja di National City Bank (1949–1952). Dia mendapat gelar A.B. (Bachelor of Arts) dalam bidang pemerintahan dari Harvard College tahun 1956, dan master administrasi publik dari Maxwell School of Citizenship and Public Affairs, Syracuse University, tahun 1957.

Parade rudal SA-2 dalam sebuah defile tahun 1960-an di Istora Senayan, Jakarta. (indomiliter.com). 

Dalam The Biographic Register yang diterbitkan Department of State pada 1966, disebutkan bahwa Cameron masuk US Army tahun 1957 dan bekerja sebagai perwira urusan politik di Department of Army (1957–1960). Dia kemudian ditugaskan di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya pada 18 Agustus 1960 sebagai perwira urusan politik, kemudian wakil konsul pada 21 November 1960.

Cameron pindah ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta untuk menangani urusan politik pada 22 Juli 1962, kemudian sebagai atase pada 31 Maret 1963. Dari Indonesia, dia pindah ke Singapura sebagai wakil konsul pada 20 Juni 1965, kemudian atase pada 4 April 1966.

Menurut Mcbeth, Cameron mendarat di Surabaya pada akhir 1960 dengan samaran (cover) diplomatik. Ini misi pertamanya di Asia Tenggara. Atasannya di Washington memberitahunya bahwa “sembilan kali dari sepuluh sumber terbaik kami datang kepada kami secara tidak sengaja dan kebetulan”. “Ternyata itu Vermeulen,” tulis Mcbeth.

Baca juga: Agen KGB di Indonesia Dieksekusi Mati

Mcbeth menyebut bahwa Vermeulen adalah mantan pejuang perlawanan bawah tanah Belanda pada Perang Dunia II. Dia menikah dengan Hilke, seorang pedagang barang seni Belanda. 

“Ketenangan Wim dalam situasi yang terkadang sulit membuat saya yakin dia akan menjadi agen utama yang hebat, mengingat tingkat akses yang tepat ke informasi yang berharga, terutama di bidang militer,” kata Cameron dikutip Mcbeth.

Menurut Mcbeth, Vermeulen menggambarkan lingkaran sumber-sumber yang ditempatkan di tempat yang tinggi, termasuk sosok misterius yang memiliki hubungan dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan berbagai komando militer yang identitasnya tidak terungkap.

“Pada Juni 1964, Vermeulan akhirnya menerima pengiriman manual SA-2, yang difoto dan diteruskan ke markas CIA di Langley,” tulis Mcbeth.

Pesawat tempur Angkatan Udara Amerika Serikat F-105D Thunderchief meninggalkan jejak api dan asap setelah dicegat oleh rudal SA-2 pada 14 Februari 1968. (Wikimedia Commons).

Vermeulen pun mendapat pujian dari CIA untuk pekerjaan rahasianya dalam memperoleh manual rudal Uni Soviet, SA-2 (surface-to-air). Rudal ini digunakan Vietnam Utara untuk menembak pesawat tempur Amerika Serikat. Manual tersebut memungkinkan Amerika Serikat mengembangkan tindakan pencegahan terhadap senjata mematikan itu pada tahap awal Perang Vietnam.

“SA-2 telah membuktikan dirinya pada 1959 ketika China, dalam sebuah insiden diam-diam, menembak jatuh seorang pengebom Taiwan-Canberra yang terbang pada ketinggian 65.000 kaki. Tapi itu [baru] mendapat perhatian dunia setahun kemudian ketika serangan rudal serupa menjatuhkan Gary Powers yang menerbangkan pesawat mata-mata U-2 di atas Rusia,” tulis Mcbeth.

Baca juga: Saat Pesawat Mata-mata AS Ditembak Jatuh Soviet

Mcbeth menyebut Vermeulen meninggalkan Indonesia kira-kira pada waktu yang sama dengan Cameron. Perubahan sikap Indonesia dalam politik internasional akibat penggulungan PKI membuat jaringan mata-mata Habrink dibubarkan saat Barnett tiba di Surabaya pada 1967. Awalnya, Vermeulen menetap di Belanda. Setelah istrinya meninggal, dia pindah ke Portugal dan masih berhubungan dengan pengendali CIA-nya yang menjadi teman seumur hidup. Dia meninggal pada 1989.

Sementara itu, Cameron meninggalkan Indonesia pada Juli 1965, tetapi kembali sebentar pada akhir Oktober 1965. Dia bekerja di CIA selama 22 tahun, dari tahun 1960 sampai pensiun pada 1982 sebagai kepala operasi Asia Timur. Dia mendapat penghargaan dua medali intelijen dari CIA.

“Kesuksesan terbesarnya adalah Operasi Habrink di mana, melalui kerja keras, ketekunan, dan keberuntungan, dia bisa mendapatkan panduan pengoperasian sangat rahasia persenjataan tercanggih Uni Soviet,” tulis Amazon.

Setelah keluar dari CIA, Cameron bekerja sebagai penulis lepas dan peninjau rekaman. Pada 1990, dia menjadi direktur pelaksana Hemsing Associates, sebuah agen publisitas seni. Dia menikah dengan Barbara Peck pada 1957 sampai meninggal pada 1987; mereka memiliki enam anak. Pada 1990, dia menikah lagi dengan Josephine Hemsing dan tinggal di New York City.

TAG

intelijen cia

ARTIKEL TERKAIT

Gempa Merusak Keraton Bupati dan Masjid Agung Cianjur Ibu Kota Pindah dari Cianjur ke Bandung Gempa Besar bagi Bupati Cianjur Gempa Bumi Mengguncang Cianjur Roebiono Kertopati, Bapak Persandian Indonesia Kiprah Putin di KGB Johanna Mengalihkan Intelijen Belanda Arsip Pembunuhan JFK Dirilis, Kasus Tetap Masih Samar Naim yang Malang Duka Kuba di Laut Karibia