Masuk Daftar
My Getplus

Sukarno, Jones, dan Green

Kepada Duta Besar Jones, Sukarno bersikap manis. Berkebalikan terhadap penggantinya.

Oleh: Martin Sitompul | 30 Agt 2023
Howard Jones, Presiden Sukarno, dan Marshall Green. Ilustrasi Foto: Yusuf/Historia.

Jika ada orang Amerika yang paling disenangi Presiden Sukarno, orang itu tentu bernama Howard Palfrey Jones. Selama delapan tahun, Jones menjembatani hubungan Jakarta dan Washington sebagai duta besar. Sukarno dalam otobiografinya menyanjung Jones selayaknya seorang sahabat yang karib.

“Seorang orang asing yang mengerti kepadaku adalah Duta Besar Amerika di Indonesia, Howard Jones,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Kerapatan Jones dan Sukarno terbukti dari begitu banyaknya hal-hal yang mereka bincangkan. Mulai dari keluarga, kelinci yang beranak-pinak, nasi goreng, aktor Hollywood, hingga persoalan serius mengenai hubungan politik antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Ketika Irian Barat dimenangkan Indonesia lewat Perjanjian New York, Jones adalah orang pertama yang memberitahu Sukarno kabar itu. Jones bahkan berperan dalam mendorong Sukarno untuk menuliskan otobiografinya.

Advertising
Advertising

Baca juga: Howard Jones, Duta Besar Penyambung Jakarta-Washington

Kendati hubungan diplomatik Indonesia-AS memburuk karena konflik pembentukan Federasi Malaysia, secara pribadi Jones dan Sukarno tetap saling menghormati. Kesan itu dapat ditangkap dari kenangan Jones terhadap Sukarno dalam memoarnya Indonesia: The Possible Dream yang terbit pada 1973. Namun, pada pertengahan 1965, pemerintah AS mengganti Jones dengan diplomat Marshall Green. Sebelumnya, Green bertugas sebagai kuasa usaha AS di Korea Selatan.  

Rumor tidak sedap melekat pada diri Green jelang penugasannya ke Indonesia. Ketika Presiden Korea Selatan Syngman Rhee dikudeta oleh Jenderal Park Chung Hee pada 1960, Green diisukan terlibat di dalamnya. Pergantian duta besar AS dari Jones kepada Green tentu menimbulkan kecurigaan di kalangan Indonesia, tidak terkecuali Presiden Sukarno. Hal ini diungkapkan Manai Sophiaan, politisi PNI yang saat itu menjabat duta besar RI di Uni Soviet.

“Bung Karno mengatakan, sudah mempelajari riwayat hidup Marshall Green yang berperan dalam penggulingan Perdana Menteri Mossadegh dari Iran yang menasionalisasi perusahaan minyak Abadan pada tahun 1956. Ia juga berperan dalam penggulingan Presiden Syngman Rhee di Korea Selatan pada tahun 1960,” catat Manai Sophiaan dalam Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI.

Baca juga: Laporan Pembasmian Komunis dalam Dokumen Rahasia AS

Kedatangan Green ke Indonesia molor hampir dua pekan dari dari jadwalnya. Penundaan ini disebabkan massa yang berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS di Jakarta. Baru pada 26 Juli 1965, Green menyerahkan surat kepercayaan pemerintah AS kepada Presiden Sukarno.

Pada pertemuan pertama itu, insiden terjadi antara Green dengan Sukarno. Dalam sesi pertukaran pernyataan, Sukarno memungkasi pidatonya dengan serangan terhadap kebijakan politik luar negeri AS. Mendengar itu, Green hampir kalap untuk meninggalkan ruangan kredensial. Untungnya dia masih bisa menahan diri. Di akhir sesi, Sukarno memperkenalkan Green kepada beberapa pejabat penting Indonesia. Hingga tibalah pada Nyonya Supeni, Duta Besar Keliling RI, pejabat nomor tiga di Departemen Luar Negeri, Green melancarkan triknya.   

Supeni yang terlihat cantik dalam balutan kebaya hijau itu dipuji-puji oleh Green. Sejurus kemudian, Green melontarkan komentarnya, “Nyonya Supeni, senang sekali bertemu dengan Anda. Tahukah Anda, dengan kebaya hijau dan selendang keemasan, saya menjadi bengong ketika Presiden berpidato tadi, sehingga saya tidak dapat menangkap semua kata-kata yang diucapkannya. Dapatkah Anda menceritakan kepada saya apa yang diucapkannya tadi?” Ucapan Green cukup keras terdengar melalui mikrofon oleh seisi hadirin dalam ruangan.

“Saat itu suasana terasa tegang dan semua berdiam diri sampai Sukarno menepuk paha dan meledak tawanya. Semua hadirin melepaskan desah yang melegakan,” kenang Green dalam memoarnya Dari Sukarno ke Soeharto: G30S-PKI dari Kacamata Seorang Duta Besar.   

Baca juga: Ha...Ha...Ha... Buat Sukarno

Meski sadar dirinya kurang begitu disukai, Green mengaku terpukau ketika mendengar Sukarno berpidato. Ingatan Green merekam pidato Sukarno saat mewisuda kadet penerbang dan peresmian pameran penerbangan di Yogyakarta pada 29 Juli 1965. Begitu banyak ungkapan dan kalimat Sukarno dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Italia. Ketika meluncur kata berbahasa Italia, kata Green, penampilan Sukarno yang mengenakan peci tampak seperti Benito Mussolini. Seragam militer yang gagah, tongkat komando, dan kefasihan pidato Sukarno menimbulkan gairah.

“Sukarno seorang pembicara yang benar-benar dapat menawan hati pendengarnya, bahkan orang-orang di luar negeri, termasuk kalangan Kongres AS ketika ia berkunjung ke Washington pada tahun 1950-an,” ungkapnya, “Tetapi ia membiarkan rakyatnya menderita ketika ia bergerak ke kiri menuju komunisme dan mengabaikan kebutuhan ekonomi rakyatnya.”   

Tidak lama setelah Green bertugas, peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 meletus. Pada hari-hari genting setelahnya, pemerintah AS terlibat dalam upaya memperkuat militer. Green dalam memoarnya mengaku memasok bantuan kepada Angkatan Darat berupa peralatan komunikasi walkie-talkie senilai 40.000 dolar AS.

Baca juga: CIA Menyadap Angkatan Darat

“Saya membuat keputusan untuk memberikan beberapa walkie-talkie Kedutaan Besar kepada Angkatan Darat begitu kup pecah, ketika keselamatan Nasution dan Soeharto terancam,” terang Green, “Sesungguhnyalah, keselamatan mereka merupakan perlindungan yang terbaik bagi kami.”

Namun, arsip-arsip luar negeri AS yang telah dideklasifikasi menyimpulkan bantuan pemerintah AS lebih dari itu. Campur tangan AS melalui intelijennya (CIA) termasuk dalam penyediaan dana. Bantuan ini dimaksudkan untuk melancarkan operasi penumpasan orang-orang komunis di Indonesia. Menyusul terjadinya pembunuhan massal di sejumlah daerah, pengaruh Sukarno kian melemah hingga akhirnya Jenderal Soeharto menggantikannya.  

“Washington melakukannya dengan membuat rencana menyalurkan uang 50 juta rupiah, atau senilai 1,1 juta dolar AS menurut kurs saat itu, kepada kekuatan militer dan sipil anti-PKI – satuan-satuan tak resmi yang oleh satu artikel dalam International Herald Tribune disebut ‘army-backed death squads’ atau ‘pasukan maut yang didukung Angkatan Darat’,” ulas Frances Gouda dan Thijs Brocades Zaalberg dalam epilog Indonesia Merdeka karena Amerika? Politik Luar Negeri AS dan Nasionalisme Indonesia, 1920—1949.

Baca juga: Penumpasan PKI di NTT dalam Dokumen Rahasia AS

Green tentu terlibat atas kebijakan tersebut. Atau setidak-tidaknya – sebagai pejabat kedutaan tertinggi – mengetahui. Green mengakhiri tugasnya di Indonesia pada 1969 untuk kemudian menjabat asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik.

Dalam memoarnya, Green membantah partisipasi pemerintah AS dalam operasi penumpasan dan pembunuhan massal kaum komunis di Indonesia. Green juga menyangkal tudingan miring dirinya sebagai kolaborator CIA yang disebutnya sebagai informasi sesat. Namun, mantan Menteri Luar Negeri Soebandrio dalam Kesaksianku Tentang G30S, terang-terangan menyebut Green salah satu agen CIA yang handal.

Sejarawan Baskara Tulus Wardaya yang meneliti dokumen dan arsip luar negeri AS mensinyalir keterlibatan AS dalam tragedi 1965. Setidaknya, AS melalui pejabat kedutaannya mengikuti dari dekat setiap jengkal perkembangan yang ada di Indonesia pada saat-saat kritis itu. Baskara juga meragukan sebagian pengakuan Green dalam memoarnya, khusus mengenai perannya setelah peristiwa G30S.

Baca juga: Jenderal AD dalam Dokumen Rahasia AS

“Oleh karena itu, perlulah kiranya dilakukan revisi atas memoir mantan Subes AS Marshall Green,” kata Baskara dalam bukunya Bung Karno Menggugat: Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65, hingga G30S.

TAG

sukarno duta-besar amerika serikat cia marshall green

ARTIKEL TERKAIT

Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Indonesia Pertama Lima Tokoh Bangsa Bibliofil Nasib Pelukis Kesayangan Sukarno Setelah 1965 Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno Guyonan ala Bung Karno dan Menteri Achmadi Pejuang Tanah Karo Hendak Bebaskan Bung Karno M Jusuf "Jalan-jalan" ke Manado Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi Supersemar Supersamar Mr. Laili Rusad, Duta Besar Wanita Indonesia Pertama