Masuk Daftar
My Getplus

Seni Pertunjukan dalam Resepsi Pernikahan Jawa Kuno

Parade musik, arak-arakan, hingga wayang wong sudah dijadikan hiburan dalam resepsi pernikahan pada masa Jawa Kuno.

Oleh: Sulistiani | 27 Okt 2022
Alat musik gamelan (digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Putra terakhir Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, dikabarkan akan melangsungkan pernikahan akhir tahun ini. Kendati belum diketahui pasti kapan pernikahan tersebut akan diselenggarakan, berita rencana  pernikahan Kaesang Pangarep sudah berseliweran di media sosial. Bukan hanya dirinya sendiri, kakak-kakak Kaesang yakni Gibran dan Kahiyang memberi tanda-tanda mengenai rencana tersebut.

Pernikahan bagi orang Jawa adalah suatu acara sakral. Oleh sebab itu, perencanaannya dilakukan sebaik mungkin dan dilakukan jauh hari. Termasuk berbagai hiburan dan pertunjukan yang akan tersaji dalam acara tersebut.

Hal itu sudah terjadi sejak masa Jawa Kuno. Antara lain digambarkan dalam Kakawin Sumanasantaka. Kakawin Sumanasantaka yang merupakan karya fiksi ciptaan Mpu Monaguna, seorang pujangga asal Kediri abad ke-13. Meskipun cerita rekaan, dalam kakawin ini sang pujangga menggambarkan kehidupan sosial di Jawa pada masanya.

Advertising
Advertising

Baca juga: 

Hiburan Masyarakat Jawa Kuno   

Dalam dunia kesusastraan Jawa, Kakawin Sumanasantaka memang tergolong asing. Tidak ditemukan penceritaan kakawin ini di dalam bahasa Jawa Baru, apalagi dalam cerita-cerita wayang. Salinan-salinan kakawin ini justru banyak ditemukan di Bali. Akan tetapi, Peter Worsley, profesor Kajian Indonesia di Universitas Sydney, menyatakan bertumpu pada Sumanasantaka dalam mempelajari bagaimana orang Jawa pada abad ke-13 sampai ke-16.

Kakawin Sumanasantaka mengisahkan mengenai kehidupan Dewi Indumati. Dalam pupuh 111 episode 7 dikisahkan, Dewi Indumati menikah dengan Pangeran Aja. Pada saat resepsi, masyarakat berkumpul di pusat pemerintahan negeri Widarbha demi bisa menyaksikan acara sakral tersebut. Mereka berdesak-desakan tidak peduli sedang hamil atau memiliki anak kecil.

Pangeran Aja datang menggunakan keris yang menakutkan. Ia diiringi pasukan darat yang berposisi di depan dan juga belakangnya. Suara alat musik mengiringi kedatangan rombongan sang pangeran.

“Genderang kerucut berlomba-lomba menggemuruh di depan, diiringi derap kaki perwira samya di belakangnya,” kata Kakawin Sumanasantaka pupuh 111.

Baca juga: 

Empat Tipe Perempuan Jawa Kuno

Saat kedua mempelai (Dewi Indumati dan Pangeran Aja) sudah sampai ke dalam kuil dan duduk di pelaminan, berbagai instrumen musik masih terdengar. Kali ini bukan hanya suara gendang kerucut namun juga ada suara simbal yang berpadu dengan genta (lonceng). Alunan musik tersebut dilakukan untuk mengiringi upacara Tawur, sebuah upacara untuk memohon kesejahteraan dan keselarasan alam. Iringan musik baru berhenti setelah mantra Panca Brahma dibacakan.

Upacara Tawur dilanjutkan dengan ritual mengelilingi Agni (dewa api). Bunyi musik tidak terdengar di sini. Musik baru kembali bergemuruh di luar kuil saat sang putri keluar bersama pangeran. Kedua mempelai saat itu bersiap melakukan ritual Pras.

Ritual Pras mirip kirab pengantin menuju ke lokasi tempat pesta besar dilakukan masa kini. Pengantin diapit menggunakan payung putih dan diiringi arak-arakan. Keduanya harus terlihat mencolok dan menjadi bintang paripurna. Arak-arakan tersebut diiringi bunyi tepakan rebana yang bersahut-sahutan.

“Gong Kongsi mengiringi kidung, sementara gendang murawa terdengar lembut, tidak kasar, tapi halus dan makin merdu,” kata  Kakawin Sumanasantaka pupuh 112

Baca juga: 

Pakaian Mewah pada Masa Jawa Kuno

Di depan arak-arakan, para penabuh ketipung berdiri tegap. Sebagian dari mereka ada yang bertugas menepuk ketipung, ada pula yang bertugas mendendangkan tembang dengan iringan ketipung.

“Mereka yang menembang bermaksud melantunkan gending pengantar, sedap didengar seperti hujan badai yang turun mendadak,” sambung Kakawin Sumanasantaka pupuh 112.

Arak-arakan pengiring Dewi Indumati dan Pangeran Aja lalu menuju ke balai paprasan. Di balai tersebut seluruh keluarga sudah berkumpul untuk menyambut pengantin.

Puncak acara resepsi itu adalah pertunjukan wayang wong. Ada panggung besar untuk tempat pertunjukan.

Selain keluarga yang berkumpul, masyarakat Widarbha tumpah ruah. Sepanjang tepi panggung dipenuhi orang-orang yang siap menonton.

Baca juga: 

Pernikahan Orang Jawa Kuno

Suasana acara makin meriah lantaran para pemain wayang wong sangat pintar memancing tawa penonton. Lelucon yang ditampilkan kadang cerita cabul. Ada juga pertunjukan berupa istri menirukan orang buang air kecil lalu suaminya terangsang dan mereka berakting seolah-olah seperti kambing membuntuti dan mengawini pasangannya. Ada pula pelawak yang menari-nari dengan adu kemaluan.

“Wajah mereka kaku dan tegang karena berusaha keras,” ujar Kakawin Sumanasantaka.

Pertunjukan tersebut sukses membuat penonton tertawa geli. Bahkan ada seorang kakek yang tertawa hingga kaget kemudian ambruk berguling di tanah. Suara tawa penonton bagaikan suara deru ombak besar.

Selain lelucon dan cerita, pertunjukan wayang wong pada pernikahan Dewi Indumati dan Pangeran Aja juga menampilkan tarian. Sekelompok widu (penari) tampil memukau membuat rakyat takjub.

TAG

jawa kuno seni pertunjukan arak-arakan tari gamelan musik

ARTIKEL TERKAIT

Sri Nasti Mencoba Melepas Trauma 1965 dengan Suara Mengenal Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama yang Jadi Pahlawan Nasional Menengok Cerita dalam Tari Golek Ayun-ayun Mengenal Tari Kukila Annie Landouw, Biduanita Tunanetra Lief Java dan Ismail Marzuki Gendhing Mares, “Anak Kandung” Perkawinan Musik Jawa dan Eropa Hari Tersedih God Bless Lagu untuk Pattie Boyd Tayub yang Dilarang Sultan