top of page

Kisah Naga di Jawa

Naga menghiasi bangunan-bangunan kuno di Jawa. Mereka dianggap sebagai penyangga bumi.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 6 Agu 2019
  • 4 menit membaca

PADA suatu masa, di sebuah negeri yang makmur di Pancala utara, seorang raja memerintah dengan belas kasih. Kerajaannya damai dan harmonis. Karena itu, seekor naga menjadi tertarik datang dan tinggal di danau dekat istananya. Adanya sang naga lantas membuat ladang-ladang kerajaan teraliri dengan baik. 


Sebaliknya, kerajaan saingannya, Pancala selatan, diperintah oleh raja yang kejam. Akibatnya negara itu kering dan dilanda kemiskinan.


“Perilaku baginda takkan membuat naga mana pun mau memberkati alam,” kata menteri kepada sang raja ketika mereka pergi berburu dan melewati desa-desa. 


Raja pun bertitah akan memberi hadiah kepada siapa pun yang mampu membawa naga di Pancala utara ke kerajaannya. Syahdan, pawang ular mulai menenun mantra pemikat sang naga. Mereka menjamin dalam tujuh hari naga akan datang.


Sang naga merasakan mantra itu dan sulit membebaskan diri. Untungnya, seorang pemburu bernama Halaka tinggal di samping danau tempat ia tinggal. Halaka membantunya membebaskan diri dari jeratan mantra. Sebagai imbalan, sang naga memberinya kemampuan ajaib. Pemburu itu takkan gagal menjerat mangsanya.


Lukisan yang menggambarkan pengadukan Lautan Susu dari sekira 1860 sampai 1870. (Wikipedia)
Lukisan yang menggambarkan pengadukan Lautan Susu dari sekira 1860 sampai 1870. (Wikipedia)

Cerita tentang naga itu membuka kisah Pangeran Sudhana dan Bidadari Manohara dalam relief Avadana di dinding Candi Borobudur.


Menurut John Miksic dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, baik dalam tradisi Buddha maupun Hindu, naga dikenal sebagai hewan mistis. Tradisi Hindu acap mengisahkan naga lewat literatur dan kesenian mereka. Seringkali kehadirannya dihubungkan dengan keberkahan. 


"Di Borobudur, mereka digambarkan dalam bentuk manusia, namun di tempat lain mereka akan muncul dalam bentuk asli sebagai hewan," tulis Miksic. 


Kata Naga sebetulnya berasal dari bahasa Sanskerta. Arti harfiahnya ular. Namun, di Jawa, naga lebih merujuk pada dewa ular. Dalam budaya Jawa Kuno, mereka sering berhubungan dengan air dan kesuburan.


"Mereka bisa jadi jahat, bisa jadi baik," tulis Miksic.

Ada banyak kisah tentang naga di Jawa. Yang muncul dalam pahatan di candi biasanya dihubungkan dengan air amrta atau air kehidupan dalam kisah Samudramanthana.


Dikisahkan, dewa dan asura berebut mencari air amrta. Kelak, siapa pun yang berhasil mendapatkan air itu dan meminumnya akan hidup abadi.


Konon, air itu terdapat di dasar Ksirarnawa atau Lautan Susu. Gunung Mandara yang terletak di Pulau Sangkha, tak jauh dari Lautan Susu, lalu dicabut dan dijadikan alat untuk mengaduk lautan. Ular naga Basuki dipakai sebagai tali yang melilit gunung. Kura-kura Akupa menjadi landasan gunung. Ini semua agar gunung mudah berputar dan tak tenggelam.



Maka diaduklah Ksirarnawa. Dewa-dewa menarik ekor sang Naga. Para asura menarik kepalanya. 


Hiasan naga pada bangunan pendopo di Kompleks Percandian Penataran. (Wikipedia).
Hiasan naga pada bangunan pendopo di Kompleks Percandian Penataran. (Wikipedia).

Dalam arsitektur Jawa Kuno, naga ditemukan pada era kerajaan-kerajaan Jawa Timur, dari abad ke-10 sampai 16.Yang tertua ada di petirtaan Jalatunda di lereng Gunung Penanggungan. Tampak seekor naga melilit di bagian bawah lingga-lingga semu yang ada di kolam pusat.


Menurut Hariani Santiko dalam "Ragam Hias Ular-Naga di Tempat Sakral Periode Jawa Timur", terbit di Jurnal Amerta, itu adalah penggambaran adegan pengadukan Lautan Susu. Naga digambarkan seperti Naga Basuki yang melilitkan tubuhnya pada Gunung Mandara.


Naga juga ditemukan di salah satu candi dalam kompleks percandian Panataran, Blitar. Disebut Candi Naga karena punya relief seekor naga besar yang menghiasinya. Sang naga disangga sembilan dewa yang berpakaian mewah. 


Di kompleks Panataran itu ada pula tiga bangunan yang disangga oleh naga. Ukurannya besar-besar. Setiap bangunan disangga oleh delapan ekor naga. 


"Keterkaitan dengan cerita Samudramanthana, selain bangunan disangga naga, pada kaki candi teras ketiga terdapat arca Garuda dan kepala Naga Bersayap berselang seling keliling candi," tulis Hariani. 


Candi Naga di Kompleks Percandian Penataran, Blitar. (Tropenmuseum).
Candi Naga di Kompleks Percandian Penataran, Blitar. (Tropenmuseum).

Lalu di Candi Kidal. Hiasan sepasang naga jantan dan betina, terlihat di ujung pipi tangga candi. Menurut Hariani, hiasan semacam ini belum pernah ditemukan pada bangunan percandian Jawa Tengah. Ragam hias ini juga ada di pintu masuk Candi Jabung di Kraksaan. Candi ini berasal dari masa Majapahit.


Arca kepala naga ditemukan juga sebagai penjaga pintu bangunan sakral. Misalnya pada pintu masuk Gua Selamangleng di Kediri. Pun di tangga bangunan teratas Candi Penampihan di Gunung Wilis, sepasang kepala naga menjadi jaladwara atau pancuran air. 


"Ular-naga dalam beberapa mitologi dianggap sebagai lambang air dan dunia bawah," tulis Hariani.


Naga juga muncul dalam kisah terkenal, Angling Dharma atau Aridharma. Pada pembuka kisah, Prabu Aridharma yang sedang berburu di hutan memergoki Nagagini bermesraan dengan ular tampar. Nagagini adalah istri gurunya, Raja Naga.


Sang prabu merasa perilaku Nagini tak pantas. Dia pun menarik busurnya untuk membunuh ular jantan itu. Nagaraja berterima kasih kepada Aridharma dan menganugerahinya ajian memahami bahasa binatang.


Kisah Aridharma banyak versinya. Salah satunya tergambar pula dalam relief Candi Jago di Malang.


Hariani menjelaskan, dalam beberapa mitologi, naga seringkali dibedakan secara fisik dari ular biasa. Naga digambarkan bertubuh lebih besar dari ular biasa. Ia sering digambarkan mengenakan mahkota dan perhiasan lainnya. Kadang juga berkaki empat. 


Beberapa naga dianggap setengah dewa. Ia dianggap penyangga bumi. Misalnya ular-naga Anantabhoga, ular Sesa, ular Basuki.


Sanghyang Antabogadalam versi pewayangan
Sanghyang Antabogadalam versi pewayangan

Kitab Udyogaparwa, Agastyaparwa, Tantu Panggelaran, dan Korawasrama juga menceritakan naga. Dalam Udyogaparwa dikisahkan naga berada di Saptatala. Agastyaparwa dari abad ke-11 menyebut ular-naga dan kura-kura menyangga bumi. Tantu Panggelaran mengatakan Sang Hyang Anantabhoga adalah dasar bumi. Dan Korawasrama dari abad ke-16 menyampaikan kalau Pulau Jawa disangga oleh Badawang Nala (kura-kura) dan Anantabhoga.


"Dari uraian naskah diketahui tempat tinggal naga ada di dunia bawah (patala). Karenanya naga dianggap sebagai penyangga bumi," tulis Hariani.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
bg-gray.jpg
This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.
bg-gray.jpg
Jambi termasuk daerah sulit direbut pasukan payung dan Gadjah Merah Belanda. Diprioritaskan untuk direbut karena menjadi penghasil minyak buat Indonesia.
bg-gray.jpg
Before Tarumanagara, there was a civilization called Buni. What is the story of Tarumanagara's origin?
Keluarga keturunan Italia ini keluarga tentara. Ada yang harum namanya, ada pula yang suram.
Keluarga keturunan Italia ini keluarga tentara. Ada yang harum namanya, ada pula yang suram.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
transparant.png
bottom of page