Masuk Daftar
My Getplus

Menggoreskan Kisah Tragis Adinda dalam Lukisan

Lukisan “Kesaksian Adinda” menyajikan aneka simbol yang terlihat indah tapi memunculkan kematian bagi rakyat jelata.

Oleh: Randy Wirayudha | 06 Okt 2023
Lukisan "Kesaksian Adinda-Keganasan Kapitalisme" di Pameran The Book That Killed Colonialism (Riyono Rusli/Historia)

EKSPRESI sesosok dara dalam sebuah potret lukisan itu begitu datar tapi sepasang mata bolanya menatap tajam. Beberapa helai rambut hitamnya melambai ke samping tertiup angin. Namun takkan ada satupun pesan yang bisa keluar dari bibir manisnya karena ia terbungkam beraneka simbol –berupa barisan titik-titik, tentakel bercapit seperti kepiting, seekor kerbau terbalik, dan seekor kupu-kupu– yang saling bertumbukan dan menyumpal mulutnya.

Tidak hanya mulut yang ditutupi. Dadanya juga tertutup gambar seporsi burger dan kepala kerbau yang bak menggambarkan pembungkaman terhadap hatinya. Burger berbendera VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur, red.) itu kemudian dicokoti tiga ekor tikus putih.

Lukisan unik yang tersapu dengan cat akrilik di atas kanvas berdimensi 120 x 100 cm itu merupakan lukisan realis bertajuk “Kesaksian Adinda-Keganasan Kapitalisme” karya Bambang Prasadhi. Sang pelukis terinspirasi dari buku Max Havelaar (1860) karya Eduard Douwes Dekker yang bernama pena Multatuli.

Advertising
Advertising

Baca juga: Mengeksplorasi Max Havelaar lewat Karya-karya Seni Rupa

Lukisan itu merupakan satu di antara puluhan karya seni rupa yang dihadirkan dalam pameran “The Book That Killed Colonialism” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 5-9 Oktober 2023. Sesuai judul lukisannya, Bambang “memotret” kisah tragis Adinda –sosok dara dalam lukisan tadi, yang dalam novel Max Havelaar diselimuti kisah cintanya dengan Saidjah.

“Saya lihat (Max Havelaar) kayak cerita wayang. Jadi ada (segmen) untuk kita enggak mikir pusing-pusing, menceritakan ringan-ringan, romantisme. Ya segmen yang menceritakan Saidjah dan Adinda ini. Yang (bab) lainnya kan cerita tentang kolonial Belanda,” ujar Bambang kepada Historia.

Saidjah-Adinda merupakan simbolisasi dari fenomena sosial di Lebak semasa Tanam Paksa yang dilihat Eduard Douwes Dekker ketika menjadi asisten residen di Lebak. Sang penulis merupakan seorang “liyan” di antara para pejabat kolonial masa itu. Alih-alih memberi laporan baik kepada atasannya demi keamanan jabatannya sebagaimana umumnya pejabat kala itu, Dekker justru kerap melayangkan protes dan gugatan. Dia tak hanya berseteru dengan bupati –jabatan publik tertinggi yang bisa dipegang pribumi semasa penjajahan– setempat yang dianggapnya kepanjangan tangan para kolonialis yang amat menyengsarakan rakyat, tapi juga para atasannya yang berkulit putih.

Bambang Prasadhi dengan karyanya, "Kesaksian Adinda" (kiri) dan Pesan Kopi di Kafe Starbucks" (Riyono/Rusli/Historia)

Rasa kemanusiaan membuat Dekker tak kuat melihat penderitaan rakyat Banten yang terus-menerus dihisap para penguasa –kulit putih maupun berwarna– hingga dia memutuskan berhenti dan pulang ke Eropa. Di sana, dia kemudian menuliskan pengalamannya di Lebak itu ke dalam Max Havelaar.

Terbit pertamakali di Amsterdam pada 1860, Max Havelaar yang menelanjangi praktik kolonialisme –mulai dari korupsi, penghisapan, hingga penindasan– menggelinding liar dan terus membesar bak bola salju. Ia menjadi referensi dan inspirasi para humanis lain untuk menuliskan kritik mereka pada praktik kolonialisme. Salah satunya Van Deventer, yang menggagas Politik Etis di Hindia Belanda, lewat artikelnya di De Gids tahun 1899.

Dari sanalah kemudian muncul pendidikan terbatas untuk kaum pribumi, yang pada gilirannya menularkan kecendekiaan mereka pada bangsanya. Modal kecendekiaan itulah yang melahirkan nasionalisme dan kemudian membawa bangsa Indonesia lepas dari cengkeraman penjajahan.

“Kita mengajak teman-teman seniman untuk merayakan Max Havelaar. Di mana menurut Pramoedya (Ananta Toer, red.), buku ini berhasil membunuh kolonialisme,” kata Prawoto Indarto, ketua pameran, kepada Historia.

Baca juga: 150 Tahun Max Havelaar

Dirudapaksa dan Mati sebagai Martir

Desa Badur di Lebak, Banten pada pertengahan abad ke-19, Adinda tumbuh dengan memadu kasih dengan Saidjah yang merupakan sahabat masa kecilnya. Namun kebahagiaan tak datang sendirian ke dalam kehidupan mereka yang sederhana dan berasal dari keluarga petani. Ada kepahitan hidup yang turut mengikuti.

Sebagaimana diungkapkan Saut Situmorang dkk. dalam Manis tapi Tragis: Kisah Saidjah-Adinda dalam Max Havelaar, pada suatu ketika Adinda harus berpisah dari Saidjah karena sang pemuda harus merantau ke Batavia (kini Jakarta) untuk mencari uang agar bisa menikahi Adinda. Saidjah mengadu nasib sebatang kara karena ayahnya mati di penjara, disusul ibunya yang wafat karena sakit hati setelah kerbaunya disita seorang feodal yang menjabat demang Parangkujang.

“Desa mendidih karena eksploitasi dalam praktik cultuurstelsel (tanam paksa, red) yang seringkali diadaptasi menjadi pemerasan-pemerasan terhadap penduduk desa. Desa abad XIX adalah ruang kolonial yang tidak terkontrol dan berpotensi mengancam stabilitas kolonial seperti tampak dalam pemberontakan pelarian Banten di desa-desa Lampung,” tulis Saut dkk.

Baca juga: Menemukan Kembali Saidjah dan Adinda

Karena sudah tak bisa menyuarakan penindasan yang dialami, Adinda bersama ayah dan ketiga saudara laki-lakinya memilih angkat kaki dari Lebak untuk menyeberang ke Lampung via Ujung Kulon. Jarak yang memisahkan antara Saidjah dan Adinda pun makin panjang. Ayah dan ketiga saudaranya kemudian ikut gerakan perlawanan menentang Belanda di Lampung.

“Bapak Adinda kemudian meninggal bersama tiga saudara laki-laki dalam sebuah operasi penumpasan jaringan pemberontak di desa yang jadi basis pelarian orang-orang Banten di Lampung,” tambahnya.

Adinda lantas ikut menyusul keluarganya. Ia mati sebagai martir. Saidjah yang menyusul Adinda ke Lampung mendapati kekasihnya itu sudah tak lagi bernyawa dan tubuhnya penuh luka dirudapaksa tentara Belanda. Saidjah yang darahnya mendidih ikut memberontak walau nyawanya pun menguap di ujung bayonet tentara Belanda.

Novel Max Havelaar (kiri) karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker (kanan) (nationaalarchief.nl)

Kisah tragis itulah yang digambarkan Bambang dalam lukisannya tadi. Ia menggambarkan kerbau, jeratan tentakel bercapit kapitalis, hingga tikus-tikus putih yang sedang berfoya-foya di atas kepahitan hidup rakyat jelata.

“Titik-titik itu (simbol) filter. Semua yang diucapkan Adinda harus ter-filter, seperti masyarakat kita di Orde Baru, semua harus disaring. Kerbau di situ saya lihat metaforanya semangat kehidupan masyarakat. Kalau enggak ada kerbau, dia enggak makan karena cuman itu alatnya (bertani). Nah kerbau itu dirampas feodal untuk mengganti pajak,” sambung Bambang.

“Simbol ini (rantai/tentakel dan burger kerbau) simbol pesta pora masyarakat feodal dan kolonial. Harta ditarik oleh mereka semua. Lalu (kupu-kupu) seperti neokolonialisme yang terus berkembang, terus bermetamorfosa seperti kupu-kupu. Kelihatannya indah tapi di situ ada kematian untuk rakyat jelata,” lanjut sang pelukis.

Baca juga: Menyuarakan Nasib Nelayan Melalui Lukisan

Bambang mengambil simbolisasi Adinda semata zonder Saidjah dengan alasan tertentu. Terlebih, sosok Adinda sengaja digambarkannya dengan kulit wajahnya terbungkus berwarna ungu pekat sebagaimana latar lukisannya.

“Kenapa mengambil (simbol) perempuan? Karena perempuan dari perasaan dan pemikiran lebih mendalam,” imbuh sang pelukis.

Warna ungu juga punya banyak makna, tergantung sudut pandang mana kita melihatnya. Dalam psikologi, warna ungu kerap diartikan melambangkan kekayaan, kebijaksanaan, spiritualitas, atau keanggunan. Namun dalam dunia seni, warna gabungan merah dan biru itu acap jadi simbol kesedihan atau duka, sebagaimana nasib Adinda di akhir hayatnya.

“Adinda itu menyaksikan betul kebiadaban kapitalisme yang dilakukan kolonial Belanda dan kaum feodal. Bupati dan demangnya kan feodal banget. Kaki-tangan kolonial,” tukas Bambang.

Baca juga: Hikayat Lukisan Gatotkaca

TAG

max havelaar lebak multatuli kolonialisme tanam paksa pameran-lukisan lukisan seni rupa perempuan

ARTIKEL TERKAIT

Nasib Tragis Sophie Scholl di Bawah Pisau Guillotine Mr. Laili Rusad, Duta Besar Wanita Indonesia Pertama Tolo' Sang "Robinhood" Makassar Suami Istri Pejuang Kemanusiaan Jejak Para Pelukis Perempuan Emmy Saelan Martir Perempuan dari Makassar Mengeksplorasi Max Havelaar lewat Karya-karya Seni Rupa Affandi Marah pada Polisi Tragedi Tiga Belas Mawar di Madrid Koleksi Pita Maha Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi