Masuk Daftar
My Getplus

Marcel Dassault dan Jet Tempur Kebanggaan Prancis

Mirage 2000-5 dan Rafale yang dibeli Indonesia merupakan jet tempur pabrikan Prancis. Pendirinya penyintas kamp konsentrasi Nazi.

Oleh: Randy Wirayudha | 12 Jul 2023
Marcel Ferdinand Bloch alias Marcel Dassault sang pendiri pabrikan Dassault Aviation (Alchetron/dassault-aviation.com)

MUSIM semi 6 April 1945, sejumlah pasukan SS (Schutzstaffel/Paramiliter Nazi Jerman) penjaga kamp konsentrasi Buchenwald dekat kota Weimar, Jerman makin sibuk. Upaya evakuasi makin kacau seiring kian mendekatnya pasukan Amerika. Di hari itu, sekitar 46 nama masuk daftar evakuasi.

“Daftar 46 tahanan diperintahkan untuk melapor ke gerbang depan pada 6 April 1945. Perancang pesawat Marcel Bloch satu di antaranya. Tetapi dia jadi satu-satunya tahanan yang diperintahkan kembali oleh SS (ke barak tahanan),” ungkap Harry Stein dalam Buchenwald Concentration Camp, 1937-1945: A Guide to the Permanent Historical Exhibition.

Kondisi Bloch saat itu sudah sangat memprihatinkan. Selain tubuhnya kurus karena kekurangan gizi, beberapa anggota tubuhnya juga mengalami banyak luka akibat penyiksaan, hingga membuatnya harus berjalan dengan terpincang-pincang.

Advertising
Advertising

Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman

Sejak dijebloskan ke kamp Buchenwald pada 1944, Bloch memang jadi sasaran intimidasi dan akhirnya penyiksaan gegara menolak membantu Jerman mengembangkan teknologi penerbangan. Namun dewi fortuna masih menyertainya di hari-hari akhir di kamp itu. Nyawanya terselamatkan dari tiang gantung jelang pembebasan kamp oleh Sekutu.

“Bloch hendak digantung, tetapi seorang aktivis Partai Komunis Prancis menyelamatkannya dengan menukar identitasnya dengan seorang tahanan lain yang sudah dieksekusi beberapa jam sebelumnya,” tulis Shlomo Aloni dalam Mirage III vs MiG-21: Six Day War 1967.

Bloch alias Dassault saat dibebaskan dari kamp konsentrasi Buchenwald (dassault-aviation.com)

Aktivis komunis yang juga sesama tahanan kamp Buchenwald yang dimaksud adalah Marcel Paul. Paul, yang usai Perang Dunia II menjadi menteri Produksi Industri di kabinet pemerintahan interim Jenderal Charles de Gaulle, juga memainkan peran penting bagi kehidupan Bloch usai sang teknokrat kembali ke Paris pada 23 April 1945.

Namun Bloch pulang sebagai penyintas kamp konsentrasi Buchenwald juga membawa penyakit post-diphtheria paralysis hingga membuat kesehatannya memburuk. Kendati begitu, Bloch menampik saran keluarga dan para sahabatnya untuk pensiun.

“Pada 23 April 1945, Marcel Bloch kembali dari Buchenwald dalam keadaan kesehatan yang buruk tetapi ia bersikeras untuk menemui Menteri Angkatan Udara (AU) yang baru, Charles Tillon, lewat rekomendasi Menteri Produksi Industri Marcel Paul. Bloch menawarkan jasanya lagi, bahkan sebelum ia memulihkan kesehatannya,” kata Michel Villette dan Catherine Vuillermot dalam From Predators to Icons: Expoxing the Myth of the Business Hero.

Empat tahun pasca-Perang Dunia II, Bloch mengubah namanya usai pindah keyakinan dari Yahudi menjadi Katolik. Bloch mengadopsi nama Marcel Dassault, di mana nama itu juga jadi nama alias kakaknya yang pejuang gerakan bawah tanah Jenderal Darius Bloch. Nama tersebut bersumber dari sebutan serangan tank dalam bahasa Prancis: ‘char d’assault’.

Baca juga: Si Jago Udara di Bawah Panji Swastika

Jet tempur Mirage 2000 (kiri) dan Rafale yang jadi karya fenomenal pabrikan Dassault (osd.mil/dassault-aviation.com)

Sekelas Perancang MiG

Seandainya Dassault tak selamat dari kamp konsentrasi atau ia memilih pensiun di usia kepala lima, mungkin saja Armée de l’Air (AdA) (AU Prancis) saat ini tak memiliki dua jenis jet tempur yang paling dibanggakan: Mirage 2000 dan Rafale. Takkan mungkin juga dua alutsista canggih itu dibeli Kemenhan RI senilai Rp11,8 triliun untuk 12 unit Mirage 2000-5 bekas pakai AU Qatar dan Rp116,1 triliun untuk 42 Rafale anyar belum lama ini.

Dassault merupakan pria kelahiran Paris, 23 Januari 1892 dengan nama Marcel Ferdinand Bloch. Ia merupakan bungsu dari empat bersaudara di keluarga Yahudi pasangan Adolphe Bloch dan Noémie Allatini.

Minatnya terhadap teknologi penerbangan terus membesar sejak menyaksikan Charles de Lambert melakukan flypass di sekitar Menara Eiffel menggunakan pesawat buatan Wilbur Bersaudara pada 18 Oktober 1909. Maka setelah lulus dari sekolah dasar Lycée Condorcet, Dassault melanjutkan studi teknik elektro dan mesin di Sekolah Tinggi Teknik Elektro Breguet dan kemudian sekolah penerbangan Ecole Supérieure d’Aéronautique (Supaéro). Di Supaéro, Dassault disebutkan jadi teman sekelas Mikhail Gurevich.

“Setelah lulus dari Breguet dan Supaéro, di mana itu sekolah yang punya spesialisasi teknik elektro. Di Supaéro pula Bloch (Dassault, red.) bertemu dan jadi teman sekelas siswa Rusia bernama Mikhail Gurevich yang dikemudian hari sangat berperan menciptakan pesawat-pesawat seri MiG Uni Soviet. Setelah lulus, Dassault juga pertamakali bekerja magang di salah satu pabrik milik Supaéro hingga kemudian bekerja di laboratorium riset aeronautika Prancis selama Perang Dunia I,” ungkap Malcolm Abbott dan Jill Bamforth dalam The Early Development of the Aviation Industry: Entrepreneurs of the Sky.

Baca juga: Flypass Nekat Montir Pesawat

Dassault pada 1912 saat masih studi dan magang di Ecole Supérieure d’Aéronautique (dassault-aviation.com)

Tugasnya merancang sejumlah komponen penting pesawat. Salah satu hasilnya adalah baling-baling Éclair pada 1916 yang bisa dipasok untuk pesawat bersayap ganda Caudron G3 yang ia rancang bersama sejumlah insinyur lain seperti Hirch Minckès dan Henry Potez.

Masih di tahun yang sama, Dassault bersama Potez dan Louis Coroller mendirikan perusahaan Société d'Études Aéronautiques (SEA). Buah pikiran mereka menghasilkan rancangan pertamanya pada 1917, yakni pesawat berkursi ganda SEA IV. Pesawat ini lantas jadi tulang punggung udara militer Prancis pasca-Perang Dunia I.

Seiring ekspansi bisnisnya, Dassault kemudian mendirikan perusahaannya sendiri pada 1929, Société des Avions Marcel Bloch. Perusahaan tersebut cikal-bakal Dassault Aviation SA saat ini. Satu karya Dassault pertama yang kemudian dikerjasamakan dengan Kementerian Udara Prancis adalah pesawat pembom Bloch MB.200.

Baca juga: Satir Penerbang Bengal dalam Catch-22

Pesawat SEA IV (atas) dan Pembom Bloch MB.200 (dassault-aviation.com)

Namun Perang Dunia II menghentikan semua upayanya. Dassault pada 10 Oktober 1940 diinternir pemerintah Vichy Prancis yang jadi kolaborator Jerman-Nazi gegara enggan membelot dan membantu Jerman. Sejumlah aset perusahaannya pun diambilalih saingannya asal Jerman, Junkers Flugzeug-und Motorenwerke AG. Pada medio 1944, Dassault dipindahkan ke kamp konsentrasi Buchenwald.

“Ia ditahan di Buchenwald hingga kamp itu dibebaskan Sekutu pada 11 April 1945. Sekembalinya ke Paris, ia mengalami kepincangan dan nyaris tak bisa berjalan. Ia disarankan dokter pribadinya dan istrinya untuk pensiun tapi ia menolak. Pada 1949 setelah mengubah namanya menjadi ‘Dassault’ dan pada 1951, ia merangkap manajer pelaksana perusahaannya dan deputi Majelis Nasional,” sambung Abbott dan Bamforth.

Pada 1947, Dassault membangun kembali sisa-sisa perusahaannya yang sudah ia ubah pula namanya, Société des Avions Marcel Dassault. Dua tahun berselang Dassault bangkit dari keterpurukan dengan menghasilkan pesawat tempur bermesin jet pertama untuk AU Prancis, MD-450 Ouragan.

Baca juga: Pesawat Pemburu dari Masa Lalu

Searah jarum jam: Mystère MD453, Mystère XXII/Etendard II, Mirage III, SEPECAT Jaguar (dassault-aviation.com)

Karya lain Dassault bersama para insinyur muda Prancis di pabrikannya yang mulai dilirik negara lain adalah jet tempur Mystère IV pada 1954. Jika jet MD-450 Ouragan turut dibeli Israel dan India, pesawat Mystère IV bahkan sampai dipesan 225 unit oleh Amerika Serikat.

Pada 1960-an dan 1970-an, Dassault bersama AU Prancis sempat menjalin kerjasama dengan RAF (AU Inggris) dan British Aircraft Corporation (BAC) membentuk konsorsium AFVG (Anglo-French Variable Geometry). Tujuannya untuk merancang bersama pesawat tempur supersonik baru dengan variabel swing-wing atau sayap fleksibel. Namun, proyek itu mangkrak gegara problem politis kedua negara.

Meski begitu, Dassault Aviation tetap menelurkan sejumlah pesawat yang jadi tulang punggung AU Prancis berikutnya. Dimulai dari jet tempur Étendard (1956-1974), “keluarga” Mirage (1956-1982), hingga Rafale (1986-sekarang). Salah satu dari seri Mirage, yakni jet tempur multi-peran generasi keempat Mirage 2000, bahkan jadi pesawat tempur Prancis pertama yang dilengkapi sistem kendali fly-by-wire.

Baca juga: Hikayat Pesawat N2130

Dassault di Paris Air Show 1979 (dassault-aviation.com)

“Mirage 2000 jadi yang pertama dalam keluarga Mirage yang memanfaatkan teknologi fly-by-wire sebagai alutsista pencegat untuk menggantikan Mirage F1. Pengembangannya dimulai setelah kegagalam program AFVG. Rancangan Mirage 2000 kemudian diadopsi secara resmi oleh pemerintah (Prancis) pada 18 Desember 1975 sebagai alutsista tempur udara yang utama kurun 1980-an,” terang Robert Jackson dalam Military Jets Up Close.

Jet tempur multi-peran Rafale juga jadi karya fenomenal Dassault Aviation yang pelan-pelan menggantikan Mirage 2000 sebagai garda utama kedaulatan udara AU Prancis. Rafale mulai didesain pasca-penerbangan pertama Mirage 2000 pada 1978.

Sayangnya Marcel Dassault tak bisa menyaksikan demonstrasi penerbangan perdana Rafale pada 4 Juli 1986. Dassault sudah mengembuskan nafas terakhir di usia 94 tahun pada 17 April 1986.

Baca juga: Lika-liku Pesawat T-50

Purwarupa jet tempur Rafale yang didemonstrasikan pada 4 Juli 1986 (Wikipedia)

TAG

pesawat sejarah-pesawat teknologi-militer prancis alutsista

ARTIKEL TERKAIT

Heroisme di Tengah Kehancuran dalam Godzilla Minus One Kemelut Bismarck di Atlantik Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Indonesia Pertama Mata Hari di Jawa Ada Rolls-Royce di Medan Laga Tepung Seharga Nyawa Pengawal Raja Charles Melawan Bajak Laut Pengawal Raja Charles Masuk KNIL Strategi Napoleon di Balik Kabut Austerlitz Napoleon yang Sarat Dramatisasi