Masuk Daftar
My Getplus

Ronald Koeman Pahlawan Katalan dari Zaandam

Barcelona menyambut kepulangan pahlawan Liga Champions pertamanya. Mampukah Koeman membawa Messi cs bangkit?

Oleh: Randy Wirayudha | 22 Agt 2020
Ronald Koeman kembali ke Barcelona sebagai pelatih (Foto: fcbarcelona.com)

HATI Ronald Koeman berbunga-bunga. Pada Rabu, 19-8-2020, ia “pulang” ke Camp Nou, markas FC Barcelona. Matanya berbinar-binar kala menengok dua foto yang terpajang di sebuah lorong. Foto pertama foto skuad Barça 1991-1992 dengan trofi Liga Champions dan foto kedua, foto tim Barça 1992-1993 dengan trofi La Liga yang di dalamnya terdapat sosok Koeman.

Koeman resmi kembali ke Barça sebagai pelatih dengan kontrak dua tahun. Koeman yang punya catatan historis di klub raksasa asal Katalan itu diharapkan bisa membawa perubahan dan membangkitkan Barça pasca-dipermak Bayern Munich, 2-8, di perempatfinal Liga Champions yang berbuntut pemecatan pelatih sebelumnya, Quique Setién.

Menurut Irfan Sudrajat, pemimpin redaksi harian olahraga TopSkor, Koeman sudah semestinya berbenah di sektor pertahanan dengan menemukan bek-bek yang secara kualitas di atas rata-rata, macam Sergio Ramos (Real Madrid) atau Virgil van Dijk (Liverpool). Nama terakhir ini pada 2010 diorbitkan Martin Koeman, ayah Ronald, eks pemain dan kemudian jadi pemandu bakat FC Groningen.

Advertising
Advertising

Baca juga: Derita Barcelona

“Pertahanan salah satu persoalan dari kompleksitas masalah yang ada di Barça. Nah, sebagai pelatih yang latar belakangnya pemain bertahan, saya yakin Koeman sudah bisa melihat persoalan ini. Koeman juga punya kemampuan teknis sebagai pelatih karena begitu banyak pengalaman sebagai pemain, tidak seperti Setién,” kata Irfan kepada Historia.

“Bayern contoh lain. Mereka butuhkan waktu yang tidak instan menjadikan duet Jérôme Boateng dan David Alaba. Tapi, untuk situasi Barça saat ini, mereka butuh perubahan cepat karena di atas kertas tak mungkin bintang seperti Lionel Messi terus-terusan melalui musim tanpa gelar,” sambungnya.

Gila Bola

Koeman yang lahir di Zaandam, 21 Maret 1963, tak asing dengan si kulit bundar sejak kecil. Ayahnya, Martinus Cornelis Koeman, merupakan pesepakbola profesional yang berposisi bek. Sang kakak, Erwin Koeman, yang penggila bola, juga mengikuti jejak ayahnya.

Meski begitu, ungkap Jonathan Wilson dalam The Barcelona Inheritance: The Evolution of Winning Soccer Tactics from Cruyff to Guardiola, pengaruh sang ayah terbilang minim dalam mengasah skill Ronald maupun Erwin yang dua tahun lebih tua. Keduanya lebih sering mempertajam kemampuan di jalanan.

“Dia (Roland) belajar sepakbola dengan bermain di jalanan dengan kakaknya, Erwin. Keduanya sangat menggilai sepakbola, sampai-sampai sering melewatkan waktu makan siang. Sang ibu, Marijke, kerap harus mengantarkan roti lapis selai kacang ke jalanan untuk mereka. ‘Anak-anak tak ingin melewatkan waktu bermain bola’,” tutur Marijke dikutip Wilson.

Baca juga: Para Ibu di Lapangan Hijau

Keluarga sepakbola Koeman, dari kiri ke kanan: Martinus Cornelis Koeman, Erwin Koeman & Ronald Koeman (Foto: nationaalarchief.nl)

Di usia lima tahun, Ronald bergabung dengan klub VV Helpman sebagai bek, sebagaimana sang kakak, dalam sepakbola amatir. “Ada banyak bocah dan teman-teman kami bermain untuk VV Helpman, makanya kami pun bermain di sana. Ibu yang pertamakali membelikan kostum VV Helpman. Saya masih ingat seperti apa kostumnya saat itu. Setengah biru, setengah lagi putih,” ujar Koeman.

Dalam wawancaranya dengan KNVB, induk sepakbola Belanda, 23 Desember 2019 dalam rangka 50 tahun debutnya, Koeman mengenang ia jadi sosok paling reaktif jika kalah dari tim GRC Groningen. “Saya lebih fanatik ketimbang Erwin. Jika kami kalah, Erwin hanya angkat bahu dan mengatakan: ‘Lain waktu, kita akan tampil lebih baik.’ Tetapi saya selalu emosi setelah kalah. Saya akan merajuk dan menjadi sangat merah,” tuturnya.

Baca juga: Setan Merah Berharap Tuah Solksjaer

Tapi kemudian Ronald justru membelot dengan bergabung ke GRC Groningen. Pembelotan terjadi setelah dia “disogok” perlengkapan sepakbola baru, mulai dari sepatu sampai kostum. Menginjak usia 17 tahun, Ronald beralih ke level profesional bersama FC Groningen.

“Theo Verlangen yang membawanya ke sepakbola profesional. Namun meski awalnya terkesan, Verlangen kemudian sering mencadangkannya karena menganggap Koeman terlalu banyak memegang bola. Koeman muda juga mulai dikenal sebagai sosok pemberontak, tak sabaran, keras kepala, dan percaya diri berlebihan,” sambung Wilson.

Ronald Koeman saat berkostum Ajax, PSV, dan Timnas Belanda yang meraih trofi Euro 1988 (Foto: southamptonfc.com)

Koeman membela diri terhadap penilaian itu. Menurutnya, dia merasa bisa bermain dengan baik jika banyak memegang bola. “Rekan-rekan setim Anda juga akan segera maklum. Jika Anda selalu melakukan hal bagus dengan bola, maka bola akan datang kepada Anda secara alamiah,” cetus Koeman dikutip Wilson.

Dari posisi awal sebagai gelandang di Groningen, lama-kelamaan posisinya mundur sebagai bek. Namun Koeman tergolong bek yang subur. Hingga tahun terakhirnya di Groningen pada 1983 sebelum pindah ke Ajax Amsterdam, Koeman menyumbang 34 gol dari total 90 laga. Kebanyakan dari bola mati. Skill itu yang membuatnya di kemudian hari dijuluki “Raja Tendangan Bebas” dan dipanggil masuk timnas Belanda pada 1983. Di level internasional, Koeman ikut mengantarkan tim “Oranye” yang merengkuh Euro 1988.

Baca juga: Lautan Manusia di Stadion Wembley

Gelar pertama Koeman di profesional dicicipinya di Eredivisie bersama Ajax pada  musim 1984/1985. Koeman menjalani musim itu dengan ekstra keras bersama pelatih Johan Cruyff.

“Di sesi latihan maupun pertandingan, Anda merasa melihat matanya membara. Saya juga tak terbiasa diteriaki tiada henti. Dalam hati terkadang saya berkata: ‘Tutuplah mulutmu untuk sekali-sekali!’ Namun setelah Anda pulang dan merenunginya, Anda akan berlatih lebih keras lagi di hari berikutnya. Saya rasa setiap pesepakbola mesti menjalani hal itu agar bisa lebih kuat dan tak mudah jatuh mental,” sambung Koeman.

Karier Koeman berlanjut bersama PSV Eindhoven pada 1986. Di bawah bimbingan Guus Hiddink, Koeman bersama PSV sukses berat. Dia berandil besar dalam tiga gelar Eredivisie, dua KNVB Cup, dan sekali juara European Cup (kini Liga Champions) pada 1987-1988, sebelum akhirnya reuni dengan Cruyff di FC Barcelona pada 1989.

Ronald Koeman (no. punggung 4) cetak gol semata wayang di final Liga Champions 1991/1992 (Foto: fcbarcelona.com)

Baca juga: Mula Turnamen Para Juara, Liga Champions

Jika di Ajax Koeman dijuluki “Tintin” lantaran penampakannya mirip dengan kartun populer ciptaan Georges Prosper Remi itu, di Barcelona Koeman mendapat julukan “Floquet de Neu” alias Gorilla Albino. Julukan itu berangkat dari tak kalah sangarnya Koeman dari barisan depan “Dream Team” Barcelona di gawang lawan. Hingga musim terakhirnya pada 1995, Koeman mencetak 67 gol dalam 192 kali penampilan.

Ia dipuja para Culers (fans Barça) sebagai pahlawan lantaran gol tunggalnya ke gawang Sampdoria di final Champions di Stadion Wembley, 20 Mei 1992, mengantarkan Barça meraih piala Champions pertamanya. Sebelum pindah ke Feyenoord Rooterdam pada 1995, Koeman juga meninggalkan warisan empat gelar La Liga, satu Copa del Rey, tiga Supercopa de España, dan satu Piala Super Eropa.

Walau tak mencicipi satupun titel bersama Feyenoord, Koeman tetap bek subur. Hingga gantung sepatu pada 1997, ia berhasil menorehkan 19 gol dari 61 pertandingan. Sepanjang kariernya, Koeman mencetak 193 gol dari 533 laga sehingga jadi bek tersubur di dunia setelah melewati rekor Daniel Passarella (182 gol, 556 laga).

Ke Tepi Lapangan

Tak bisa jauh dari sepakbola, Koeman memilih berkarier menjadi pelatih selepas pensiun. Ia memulainya dengan menjadi salah satu asisten Guus Hiddink di timnas Belanda pada Piala Dunia 1998 dan menjadi asisten pelatih Barça hingga tahun 2000 di bawah bimbingan Bobby Robson dan Louis van Gaal.

Vitesse Arnhem pada 2000 menjadi klub pertama yang ditukangi Koeman sebagai pelatih kepala. Setahun kemudian, Koeman melatih Ajax Amsterdam. Di tangan Koeman, Ajax yang melempem “dilahirkan” kembali. Gelar Eredivisie 2001/2002 dan 2003/2004 jadi bukti tangan dingin Koeman mengomando Zlatan Ibrahimović cs.

Ronald Koeman (kanan) saat menjadi asisten Louis van Gaal di Barcelona (Foto: fcbarcelona.com)

Namun Koeman mengarsiteki Ajax hanya sampai 2005. Dimasukkannya Van Gaal, eks mentor Koeman, sebagai direktur teknik per Januari 2004 menjadi penyebabnya. Meski awalnya akur, Van Gaal lantas sering campur tangan urusan Koeman sebagai pelatih kepala. Perkara bermula saat Ajax menjalani training camp di Portugal pada jeda musim dingin musim kompetisi 2003/2004.

“Saat latih tanding, Van Gaal mengambil kursi plastik dan menempatkannya di garis lapangan. Ia melihat sesi itu dengan sungguh-sungguh seperti pelatih kepala dan menilai setiap pergerakan. Van Gaal lalu bertanya apakah ia bisa ikut diskusi untuk meninjau performa pemain. Koeman mengizinkan asal ia tak ikut bicara,” sambung Wilson.

Baca juga: Frank Lampard Legenda Bermental Baja

Meski awalnya bisa mengunci mulutnya, Van Gaal gatal untuk membahas performa Zlatan. Koeman yang mencoba menahan diri hanya bisa menundukkan kepala. Di sesi latihan keesokannya, Van Gaal kembali datang dengan kursi plastiknya di pinggir lapangan. Saat Zlatan sedang berpenetrasi mendekati gawang, Van Gaal bertepuk tangan dan meneriakinya. “Sangat memalukan. Para pemain juga perlahan menjadi terganggu dengan kelakuannya,” kata Koeman.

Ketegangan Koeman-Van Gaal kian menjadi seiring berlanjutnya musim sampai Van Gaal mengundurkan diri Oktober 2004. Koeman angkat koper dari Amsterdam Arena (kini Johan Cruyff Arena) empat bulan berselang. Koeman lantas menyambung kariernya berturut-turut di SL Benfica (2005), PSV Eindhoven (2006), Valencia (2007), AZ Alkmaar (2009), Feyenoord (2011), Southampton (2011), Everton (2016), dan timnas Belanda (2018 sampai undur diri untuk menerima pinangan Barcelona bulan ini).

Ronald Koeman semasa melatih di Ajax periode 2001-2005 (Foto: ajax.nl)

Jalan Koeman di Barça pasti tak mudah. Dia harus lebih dulu membenahi sektor belakang Barça selain mesti meladeni Messi yang diisukan sudah tak betah di Camp Nou. Untuk yang terakhir, Koeman punya pengalaman dengan Zlatan saat di Ajax.

“Untuk Messi, hanya sedikit yang bisa dilakukannya, tapi ini sangat penting dan juga tidak mudah. Yaitu mengembalikan kembali sikap Messi untuk menghormati pelatih. Ini yang menjadi sangat sulit. Messi dan pemain lain hanya harus mengikutinya. Selebihnya, dari segi teknis (jika Messi bertahan), Koeman akan memberikan kebebasan kepada Messi di lini depan,” ujar Irfan.

Akankah kariernya sebagai pelatih di Barça akan sesukses sebagai pemain? Terlalu dini untuk menjawabnya.

“Jika kita membayangkan perubahan itu adalah Barcelona seperti era Josep Guardiola, harapan itu akan sangat sulit. Tapi, Koeman hanya perlu meyakinkan para bintang dunianya seperti Messi bahwa musim ini mereka bisa bersaing meraih gelar dan salah satunya dengan membangun kembali pertahanan mereka,” sambungnya.

Baca juga: Lionel Messi, Alien Sepakbola yang Membumi

TAG

barcelona sepak bola sepakbola pelatih belanda legenda

ARTIKEL TERKAIT

Mula Finalissima, Adu Kuat Jawara Copa América dan Piala Eropa Persija Kontra Salzburg di Lapangan Ikada Sekolah di Sabang Propaganda Anak di Masa Kolonial Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian II – Habis) Cerita di Balik Kedatangan Pele ke Indonesia Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian I) Luka Lama Konflik Balkan di Gelanggang Sepakbola Eropa Ketika Pele Dimaki Suporter Indonesia Pele Datang ke Indonesia