Masuk Daftar
My Getplus

Merpati Terbang untuk Perang

India menangkap merpati yang dicurigai mata-mata China. Penggunaan merpati untuk perang sudah masif sejak peradaban kuno hingga Perang Dunia.

Oleh: Randy Wirayudha | 07 Feb 2024
Penerbang RAF (AU Inggris) membawa merpati dalam Perang Dunia II (Imperial War Museum)

SAAT dunia sudah di zaman nuklir dan AI (Artificial Intelligence), India masih paranoid dengan burung merpati. Lantaran itulah seekor burung merpati sampai ditahan selama delapan bulan oleh aparat keamanan India karena dituding jadi aset mata-mata China.

Merpati tersebut ditangkap polisi India dekat Pelabuhan Mumbai pada Mei 2023. Lantas merpati diserahkan ke Bai Sakarbai Dinshaw Petit Hospital for Animals (BSDPHA) di Mumbai dengan alasan diperiksa kesehatannya sekaligus diinvestigasi gara-gara terdapat selembar catatan dengan tulisan mirip aksara China di sayapnya. Baru setelah organisasi non-profit People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) India mengintervensi, merpati tersebut “dibersihkan” dari tudingan mata-mata China.

“Setelah berbulan-bulan, pihak rumahsakit hewan minta izin kepada kepolisian untuk melepaskan merpati itu tetapi tidak diperbolehkan. Maka itu PETA India mengintervensi dengan mengontak kepolisian dan mendapatkan surat keterangan yang diperlukan untuk melepaskan merpati itu. Pada 30 Januari pengawas BSDPHA melepaskannya,” ungkap PETA di laman resminya, 1 Februari 2024.

Advertising
Advertising

Ini bukan kali pertama pemerintah India mencurigai seekor burung yang berujung penangkapan. Pada 2016, aparat hukum menangkap seekor burung yang membawa sebuah catatan dengan tulisan ancaman terhadap Perdana Menteri (PM) Narendra Modi. Lalu pada 2020, kepolisian juga menangkap seekor burung di perbatasan India-Pakistan di Kashmir karena dicurigai mata-mata dari Pakistan.

Baca juga: Konflik Kashmir Tiada Akhir

Kepala Pengawas Medis BSDPHA Kolonel BB Kulkarni melepaskan merpati yang sudah diinvestigasi selama 8 bulan (peta.org)

 

Aset Peperangan

Penggunaan merpati untuk keperluan militer sudah terjadi sejak peradaban kuno, baik di Eropa maupun Asia. Merpati umumnya menjadi aset untuk membawa informasi tentang wilayah terjauh atau situasi musuh karena terbilang hewan yang mudah dilatih.

“Sekitar tahun 500 Sebelum Masehi (SM), kaisar-kaisar China menerima pesan dari wilayahnya yang jauh dari merpati pos. Jenderal Hannibal (dari Kartago) yang melintasi Pegunungan Alpen untuk mengancam Roma sekitar tahun 219 SM menggunakan merpati untuk mengirim pesan-pesan kepada para prajuritnya. Julius Caesar juga menggunakan merpati dalam kampanye militernya di Gaul (kini Prancis) sejak 58 SM. Dan sekitar tahun 1250 M Genghis Khan dan cucunya, Kubilai Khan menciptakan jaringan besar komunikasi dengan merpati yang meliputi seperenam dunia yang ia kuasai,” tulis Connie Goldsmith dalam Pigeons at War: How Avian Heroes Changed History.

Pada medio 945 M, Putri Olga dari Kerajaan Kievan Rus’ (kini Ukraina) bahkan pernah menggunakan merpati sebagai senjata untuk balas dendam. Putri Olga dendam kepada suku Drevlian pasca-kematian suaminya, Pangeran Igor, yang dibunuh saat mengumpulkan upeti dari Drevlian.

“Orang-orang Drevlian lalu memohon pengampunan dan Olga menuntut masing-masing tiga ekor merpati dan burung gereja dari setiap rumah di desa Drevlian. Ketika Olga sudah menerimanya, ia menyerahkannya kepada para prajuritnya dan menginstruksikan untuk mengikatkan sekantung kain berisi sulfur di kaki setiap burung. Malamnya, semua burung itu dilepaskan dan terbang kembali ke rumah-rumahnya di desa Drevlian. Seketika seluruh desa dilalap api,” ungkap John Hinson dalam 100 Stories: The Lesser Known History of Humanity.

Baca juga: Legiun Merpati untuk Komunikasi

Penggunaan merpati terus berlanjut di era-era lebih modern. Pihak-pihak yang bertikai menggunakan merpati sebagai kurir. Saat Pengepungan Paris dalam Perang Prancis-Prusia (1870-1871), warga kota Paris menerbangkan banyak merpati untuk mengirim pesan ke pasukan Prancis di wilayah lain. Prusia merespons dengan melepaskan banyak burung elang untuk memburu merpati-merpati itu.

Di Perang Dunia I (1914-1918) pun, sebelum penggunaan radio untuk keperluan komunikasi militer marak, merpati terus digunakan secara masif baik oleh pihak Sekutu maupun Jerman. Beberapa di antaranya bahkan punya peran vital. Seperti seekor merpati kepunyaan pasukan Korps Sinyal Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat bernama Cher Ami. Ia punya 12 “misi” sepanjang Pertempuran Verdun (21 Februari-18 Desember 1916) hingga akhirnya merampungkan misi terakhirnya pada Oktober 1918.

Patung Putri Olga (kiri) & lukisan warga Paris menggunakan merpati saat dikepung Prusia (Britannica/Musée d'Orsay)

Peter Gardella dan Laurence Krute dalam Wings of the Gods: Birds in the World’s Religions mencatat, Cher Ami terbang untuk misi komunikasi tiga resimen dari Divisi Infantri ke-77 AD Amerika pimpinan Mayor Charles Whittlesey yang dikepung pasukan Jerman di Hutan Argonne sejak 2 Oktober 1918. Mereka dihantam artileri dari kubu sendiri (friendly fire) karena unit artileri tak tahu posisi mereka.

“Mereka kekurangan amunisi dan yang terburuk, posisi mereka tak diketahui unit artileri. Mayor Whittlesey menyematkan pesan ke dalam kapsul perak di kaki merpatinya: ‘Kami berada di jalan paralel arah 276.4. Artileri kita membombardir posisi kami. Demi Tuhan, hentikan.’” tulis Gardella dan Krute.

Baca juga: Laika Mengangkasa

Sebagaimana merpati lain, Cher Ami ditembaki pasukan Jerman tapi masih bisa selamat ke unit artileri Amerika meski terluka. Berkat jasanya, Cher Ami dianugerahi medali Croix de Guerre pada 13 Juni 1919.

Dalam Perang Dunia II ketika peralatan komunikasi sudah lebih mutakhir, merpati masih juga jadi aset penting. Merpati bernama G.I. Joe (Amerika) dan Paddy (Inggris) jadi dua di antara merpati yang paling berjasa.

G.I. Joe, yang akhirnya dianugerahi Dickin Medal, merupakan merpati yang bertugas di Dinas Merpati AD Amerika dengan sejumlah misi komunikasi dan pengintaian di Kampanye Italia (1943-1945). Sementara, Paddy punya catatan terbang tercepat saat menyampaikan pesan seiring Invasi Normandia (D-Day) pada 6 Juni 1944. Jarak sejauh 370 kilometer ditempuhnya hanya selama empat jam 50 menit.

Cher Ami (kiri) yang diawetkan & William of Orange (Smithsonian/mod.uk)

Ada pula merpati milik dinas intelijen militer Inggris MI14 bernama William of Orange. Ia berjasa mengirim pesan-pesan krusial dalam Pertempuran Arnhem (17-27 September 1944). Perannya sangat besar dalam menyelamatkan sekira 2.000 serdadu pasukan payung Inggris yang dikepung Jerman via pesan-pesan yang dikirim ke London, usai radio komunikasi mereka mengalami malfungsi.

Di Indonesia, penggunaan merpati juga dilakukan para pejuang dalam Perang Kemerdekaan. Sebuah merpati bahkan sampai diberi pangkat kehormatan letnan akibat jasa-jasanya dan aksi heroik di akhir hidupnya.

Baca juga: Anjing Penjaga Galaksi

Selain untuk komunikasi, penggunaan merpati untuk senjata pun pernah diupayakan Burrhus Frederic Skinner, pakar hewan dan teknologi, lewat Project Pigeon pada medio 1944. Idenya adalah menjadikan merpati sebagai pembawa sistem pemandu untuk bom atau roket-roket yang ditembakkan ke arah kapal-kapal permukaan musuh.

“Merpati-merpatinya harus dilatih terlebih dulu, setelah itu baru bisa disiapkan untuk menavigasikan bom-bom berpandu yang dijatuhkan dari pesawat,” tulis William Wolf dalam Off Target: America’s Guided Bombs, Missiles and Drone 1917-1950.

Namun, ide itu kemudian ditolak AD Amerika. Kendati begitu, dinas Laboratorium Riset Angkatan Laut (AL) Amerika menghidupkan gagasan itu dengan bekerjasama dengan Skinner lewat Project Organic Control (ORCON) pada 1948.

“Pengujian-pengujian dilakukan selama lima tahun menggunakan pelatih yang mensimulasikan sebuah roket. Dari sejumlah pengujian menunjukkan bahwa merpati-merpati itu mampu memandu roket dengan memuaskan dengan syarat kondisi-kondisinya ideal. Akan tetapi Project ORCON dibatalkan pada 1953 ketika sistem pemandu elektronik dianggap lebih bisa diandalkan,” tandas Wolf.

Baca juga: Panglima Besar Pelihara Ular

TAG

merpati perang-dunia perang dunia i perang dunia ii hewan burung

ARTIKEL TERKAIT

Kemelut Bismarck di Atlantik Mata Hari di Jawa Roland Garros Pahlawan di Udara Mendarat di Arena Tenis Ada Rolls-Royce di Medan Laga Sebuah Keluarga Ambon Setelah KNIL Berontak di Jatinegara Jenderal Patton Tampar dan Cekik Anak Buah Hari-Hari Terakhir Mussolini Lima Selebritis yang Terjun ke Perang Dunia Juru Foto di Bawah Desingan Peluru Si Jago Udara di Bawah Panji Swastika