Masuk Daftar
My Getplus

Menjejaki Peristiwa Kenaikan Yesus

Kenaikan Yesus ke surga meninggalkan pengharapan bagi umat Kristen akan kedatangannya kali yang kedua. Bagaimana sejarah mencatat peristiwa kenaikan Yesus?

Oleh: Martin Sitompul | 13 Mei 2024
Lukisan peristiwa kenaikan Yesus ke surga karya John Singleton Copley berjudul "Ascension" pada 1775, Sumber: Wiki.

Setelah bangkit dari kematian, Yesus beberapa kali memperlihatkan diri kepada murid-muridnya. Bukan dalam wujud roh, Yesus hadir dalam rupa manusia. Tampak tangan dan kakinya yang bolong bekas tancapan paku saat penyaliban. Kepada Tomas, salah satu muridnya yang ragu, Yesus bahkan memperlihatkan bekas luka di perutnya akibat tikaman tombak tentara Romawi. Hingga tibalah di Bukit Zaitun, Yesus menuntun kesebelas muridnya untuk kali yang terakhir.  

“Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia terpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat sukacita,” demikian tercatat dalam Injil Lukas 24:50—52.

Kenaikan Yesus terjadi pada hari ke-40 setelah kebangkitannya. Peristiwa ini diperkirakan berlangsung pada tahun 30 M. Dari empat penulis kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), Lukas paling gamblang dalam mencatat peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Selain kitab Lukas, Lukas juga mencatat peristiwa itu dalam kitab Kisah Para Rasul.

Advertising
Advertising

Baca juga: Suatu Hari di Yerussalem

Para murid, seperti dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 1:8—12, menyaksikan Yesus terangkat ke langit. Yesus berkata, para murid akan menjadi saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Awan kemudian meluputkan Yesus dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit, tiba-tiba berdirilah dua orang berpakaian putih dan berujar:

”Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga,” demikian Lukas mencatatnya dalam Kisah Para Rasul 1: 11. Para peneliti dan penafsir Injil sepakat, dua orang berpakaian putih dihadapan para murid itu adalah malaikat.

Injil Lukas ditulis antara tahun 60 dan 62 M, sedangkan kitab Kisah Para Rasul pada 63 M. Penulis kedua kitab tersebut adalah Lukas, seorang dokter dari Anthiokhia. Lukas menjadi penganut Kristen setelah mengikut rasul Paulus di Antiokhia pada tahun 50 M.

Baca juga: Penginjil Kristen dan Wabah di Tanah Batak

Selain dokter, Lukas juga seorang sejarawan yang dididik dalam lingkungan budaya Yunani. Dari antara empat penulis Injil, Lukas merupakan satu-satunya orang non-Yahudi. Kedua kitab yang ditulisnya, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, mengandung sejarah. Dengan latar belakang itu, Lukas boleh disebut sebagai pencatat sejarah Kristen awal.

Kitab Lukas yang pertama, Injil Lukas, mencatat peristiwa dari tahun 4 SM hingga 30 M. Dalam 24 pasal, Injil Lukas berisikan tentang biografi Yesus. Mulai dari nubuat tentang kelahiran Yesus, kehidupan pelayanan Yesus, kematian Yesus disalib, hingga kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Sementara itu, Kisah Para Rasul, memuat sejarah misi Kristen mula-mula, dari kenaikan Yesus pada 30 M hingga pemenjaraan Paulus pertama di Kota Roma pada tahun 60 M.  

“Karena Lukas, adalah seorang sejarawan sekaligus seorang dokter, tulisan-tulisannya jelas merefleksikan dan gaya tulisan seorang sejarawan,” ungkap Pendeta Thomas Hwang, pendiri Antioch Missions International (AIM)  dalam The Four Gospel & The Great Commission.

Baca juga: Tokoh Yosua dalam Alkitab

Penulis profetik Ellen Gould White dalam bukunya The Desire of Ages menerangkan, setelah kebangkitan-Nya, Yesus tinggal di dunia beberapa waktu lamanya. Dia ingin agar murid-murid dapat terbiasa berhubungan dengan-Nya dalam tubuh yang dibangkitkan dan dipermuliakan. Dengan begitu, murid-murid tak perlu lagi menghubungkan Dia dengan alam kubur. Para murid dapat memikirkan tentang Yesus sebagai yang dipermuliakan di hadapan semesta alam.

Sebagai tempat kenaikan, Yesus tidak memilih Gunung Sion, tempat Kota Daud atau Gunung Moria tempat bangsa Israel zaman dulu kala mendirikan bait suci. Yesus memilih Bukit Zaitun yang terletak di sebelah timur Yerusalem. Di kaki bukit itulah yang dikenal sebagai Taman Getsemani, Yesus berdoa semalaman menjelang akhir hidupnya hingga kemudian ditangkap dan disalibkan.

“Di taman Getsemani di kaki bukit itu, Ia telah berdoa dan menderita kesengsaraan sendirian. Dari bukit inilah Ia harus naik ke surga. Di atas puncaknya, kaki-Nya akan berpijak bila Ia akan datang lagi,” tulis Ellen White.

Baca juga: Alkitab Seribu Bahasa

Sementara itu, menurut Albertus Purnomo, teolog Sekolah Tingggi Filsafat Driyarkara, awan yang menyelubungi Yesus ketika naik ke surga memiliki makna penting dalam Alkitab. Dalam peristiwa transfigurasi atau perubahan rupa Yesus, awan yang terang menaungi Yesus dan para murid-Nya. Dalam Alkitab Perjanjian Lama, awan menjadi tanda kehadiran Allah di Kemah Suci. Juga dalam perjalanan pengembaraan bangsa Israel di padang gurun, awan menjadi penuntun mereka.

“Bicara tentang awan dalam Alkitab berarti bicara tentang Allah sendiri, kehadiran-Nya, dan tempat kediaman Allah. Ketika Yesus ditutupi awan berarti Yesus sedang masuk dalam misteri Allah. Yesus berada dalam keagungan kemuliaan Allah yang sangat berbeda dengan dunia manusia,” jelas Purnomo dalam Melacak jejak Surga.

Tradisi perayaan hari kenaikan Yesus, seturut dalam Encyclopedia Britannica, telah dikenal sejak Abad Pertengahan (Abad 5-15 M) di Eropa. Ia juga turut memengaruhi ke dalam seni di mana banyak lukisan atau litograf yang menggambarkan tentang peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Karya seni seperti ini banyak dijumpai pada dekorasi gereja di Byzantium pada Abad Pertengahan.

Baca juga: Pergi ke Gereja pada Masa VOC

Hari raya kenaikan Yesus selalu jatuh pada hari Kamis, yaitu 39 hari setelah hari raya Paskah atau 10 hari sebelum hari Pentakosta. Ia biasanya disebut sebagai Hari Kenaikan, Kamis Agung atau Kamis Kudus dan dirayakan secara oikumene dari gereja-gereja Kristen kebanyakan. Di Indonesia, baru pada tahun ini nomenklatur hari raya tersebut diganti dari Hari Kenaikan Isa Almasih –sebutan nama Yesus yang diserap dari bahasa Arab– menjadi Hari Kenaikan Yesus Kristus.   

TAG

agama kristen yesus hari raya yerussalem

ARTIKEL TERKAIT

Menengok Transformasi Peranan Tarekat Islam Simson, Si Manusia Perkasa Bangsa Israel Hamka “Monk” Islam Tuah Guru Soeharto Muhammadiyah dan Musik Buya Hamka dan Musik Cerita Tentang Hamka Alkisah Gereja Tertua di Gaza Saul, Raja Israel yang Berakhir di Tangan Bangsa Filistin Di Balik Kemenangan Daud atas Goliat