Masuk Daftar
My Getplus

Harmoko Anak Senen

Sebelum jadi menteri penerangan, Harmoko hidup sebagai anak Senen. Menjadi wartawan seni dan mengulas teman sendiri.

Oleh: Hendaru Tri Hanggoro | 14 Jul 2021
Harmoko sedang melihat proses pengambilan gambar. (Matra, 31 Februari 1989).

Lelaki muda itu turun dari kereta. Wajahnya kucel setelah menempuh perjalanan belasan jam Solo-Jakarta. Dia menyeret kopor kulitnya dan berjalan keluar Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Becak-becak menyambutnya. Dia memilih satu untuk mengantarkannya ke daerah Planet Senen. Di sini dia akan tinggal sementara untuk mencari pekerjaan dan belajar kepada seniman Senen.

Harmoko, lelaki muda yang kelak menjadi menteri penerangan 1983–1997 itu, telah lama mendengar tentang keajaiban di Pasar Senen. Selama belajar mendalang wayang dan karawitan di sanggar Himpunan Budaya Surakarta, Solo, pada 1950-an, dia diberitahu oleh kawannya tentang tempat berkumpulnya para seniman di Jakarta. Semacam Rue de Montmarte-nya Jakarta.    

Di tempat inilah para penulis syair, orang film, pemain sandiwara, buaya keroncong, intelektual, pejuang bawah tanah masa Jepang, dan pelukis berkumpul bersama dengan kaum gelandangan, tukang catut, dan tukang copet. Mereka mengobrol, berdebat, merencanakan pertunjukan atau pameran seni, dan minum bergelas-gelas kopi dari malam sampai jelang pagi.

Advertising
Advertising

Baca juga: Harmoko: Darah Daging Saya Wartawan

“Semua berjalan damai. Yang mengherankan, beberapa gembong pencoleng senang bergaul dengan seniman. Salah satunya Bung Y, yang mengepalai anak-anak gelandangan. Ia serius sekali ingin menulis naskah sandiwara,” sebut Misbach Yusa Biran dalam Keajaiban di Pasar Senen.

Cerita-cerita semacam itulah yang menarik Harmoko untuk hijrah dari Solo ke Jakarta. Dia memperoleh cerita itu langsung dari rombongan orang film Jakarta yang sedang keliling Solo. Mereka antara lain Misbach Yusa Biran, Chaidir Rachman, Zulharmans, S.M. Ardan, Usmar Ismail, dan Wahyu Sihombing.

Mencoba Jadi Seniman

Harmoko senang dengan seni dan bercita-cita jadi wartawan seni. Menurutnya, Senen akan memberikan semua hal yang diperlukan untuk menempa dirinya. “Ini terminal baru baginya! Stasion baru dalam hidupnya!” terang Motinggo Busye dan Rudjito SK dalam 50 Tahun Harmoko Menatap dengan Mata dan Hati Rakyat.

Harmoko pun masuk lingkaran seniman Senen. Zulharmans, teman karib Harmoko di Senen, menyaksikan Harmoko bergaul dengan siapa saja selama di Senen. “Ragam yang dapat dikatakan terdiri dari orang-orang, mulai dari pengemis dan kuli, pedagang dan penganggur, gelandangan dan seniman,” kata Zul dalam “Profil Seorang Sahabat” termuat dalam Mengabdi pada Professi.

Zul menambahkan, Harmoko mencoba-coba ikut bikin syair, menulis cerpen, dan menggambar karikatur dan sketsa. Dia mengirimkannya ke sejumlah surat kabar atau majalah. Tapi jarang ada yang dimuat.

Baca juga: Harmoko Hari-Hari Omong Konfrontasi

Harmoko lalu mendapat pekerjaan di harian Merdeka. Tapi tak langsung menjadi wartawan. Dia memulainya sebagai korektor, sebuah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan membaca secara terbalik. Sebab dia harus membaca melalui perangkat untuk mencetak huruf-huruf surat kabar yang dipasang secara terbalik. Biasanya pekerjaan ini dilakukan pada malam hari saat surat kabar naik cetak.

Meski tak bisa langsung jadi wartawan, Harmoko mengaku senang dengan pekerjaan pertamanya. Baginya, memanjat pohon memang harus dimulai dari bawah. Dia juga pernah mendengar dari orang-orang film di Senen bahwa banyak sutradara merangkak dari bawah sebelum menjadi sutradara.

Saat terang tanah, Harmoko sering mendatangi studio Persari milik produser film terkenal, Djamaluddin Malik, yang juga sering nongkrong di Senen. “Untuk melihat shooting film, dan membuat laporan peristiwa pembuatan film di sana atau mewawancarai artis. Memang tugas jurnalistik ini sudah dimulainya juga sebelum ia menjadi karyawan Merdeka,” lanjut Motinggo dan Rudjito.

Baca juga: Aksi Beken Jagoan Senen

Beberapa bulan kemudian, Harmoko diangkat menjadi wartawan Merdeka. Desk pertamanya adalah seni. Ini sesuai dengan harapannya. Dia menjadi wartawan yang meliput acara kebudayaan seperti pementasan teater atau tari, pemutaran film, dan pameran lukisan. Bidang-bidang yang dia telah akrabi sebelum jadi wartawan.

“Pilihan Harmoko memasuki komunitas Pasar Senen tidaklah salah,” urai Fachry Ali dan Kholid Novianto dalam Dari Rakyat ke Panggung Politik: Politik Komunikasi Harmoko.

Harmoko tak pernah kehabisan tema atau ide liputan. Dia tahu harus kemana dan menghubungi siapa. Pergaulannya dengan seniman Senen sangat membantunya mengerjakan tugasnya.

Mengulas Teman Sendiri

Tapi Harmoko mengaku ada juga susahnya menjadi wartawan seni. Sebab dia harus mengulas penampilan dan karya teman-temannya sendiri.

“Jika kita mengkritik aktor, mereka kurang senang. Jika menulis resensi pameran seni lukis, mereka marah, jika tulisan itu menyinggung perasaan. Jika mengkritik pementasan musik, orang musik jengkel. Serba berabe,” kata Harmoko kepada Motinggo dan Rudjito.

Harmoko menganalogikan pahitnya jadi wartawan seni sepahit teh dengan 42 akar-akaran buatan warung Tjauw An, warung kopi paling terkenal di kalangan seniman Senen. Pernah Harmoko mengulas penampilan Wahid Chan yang didaulat sebagai lurahnya seniman Senen. Isinya sedikit kritik atas penampilan Wahid Chan. Karena itu, Wahid Chan marah ketika membacanya.

Baca juga: Harmoko dan Aneka Safari

Harmoko didiamkan selama berminggu-minggu oleh Wahid Chan. Padahal tadinya mereka sangat akrab. “Untunglah kemudian Wahid Chan menyadari pentingnya sebuah kritik. Dan mau omong lagi dengan Harmoko,” terang Motinggo dan Rudjito.

Selain menjadi wartawan seni, Harmoko ternyata juga ikut menjadi impresario sejumlah pertunjukan teater. “Sampai mencetak pamflet pementasan, mencetak karcis, bahkan minta bebas pajak ke kantor Walikota Jakarta Raya,” sebut Motinggo dan Rudjito.

Darah Seniman Pahit

Memasuki 1960-an, seniman Senen ikut terpengaruh situasi politik yang terpolarisasi menjadi dua kubu besar: kubu Manikebu dan Lekra. Harmoko sering pusing melihat pertentangan itu. Dia pun mampir di warung Tjauw An dan minum lebih banyak teh. Dia lalu tertidur di kantornya.

Zulharmans melihat Harmoko dirubung nyamuk. Dia menepuk beberapa di antaranya. Tapi tak ada darah hasil sedotan nyamuk. Zul berpikir darah Harmoko pahit karena kebanyakan ngumpul di Senen dan minum teh pahit Tjauw An sehingga nyamuk tak jadi mengisapnya.   

Baca juga: Ciputra dan Proyek Senen

Pasar Senen menjadi wilayah yang diremajakan pada 1966. Kehidupan seniman Senen pun tergeser. Saat bersamaan, kompleks budaya Taman Ismail Marzuki mulai dibangun. Kompleks ini kelak menjadi episentrum baru para seniman. Senen sebagai tempat kumpul seniman pun tinggal cerita. Tapi jebolannya mulai mewarnai dunia seni Indonesia dan tersebar di mana-mana.

Harmoko lalu menjadi menteri penerangan pada 1983. Teman-temannya eks seniman Senen sempat menaruh harapan tinggi padanya. Salah satunya Misbach Yusa Biran. Dia beharap Harmoko dapat membantu keberlangsung hayat Sinematek, sebuah pusat dokumentasi dan arsip film yang diusahakannya sejak lama.

Baca juga: Misbach Yusa Biran dan Sinematek

“Tapi ternyata meski sama-sama ‘Anak Senen’ dan bersahabat erat, namun sebagai menteri Harmoko tidak menaruh perhatian terhadap Sinematek,” sebut Ajip Rosidi dalam Lekra Bagian dari PKI.

Itulah sekelumit kisah Harmoko sebagai anak Senen.

TAG

harmoko

ARTIKEL TERKAIT

Call Me Mbak Harmoko: Darah Daging Saya Wartawan Harmoko dan Aneka Safari Mencari Pasangan Lewat Koran Pengemis dan Kapten Sanjoto Insiden Menghebohkan di Stasiun Kroya Bersepeda Keliling Dunia Mengirim Bayi dan Anak-anak Lewat Paket Pos Al-Shifa, dari Barak Inggris hingga Rumah Sakit Terbesar di Gaza Jayapura Bermula dari Kamp KNIL