Masuk Daftar
My Getplus

Harmoko dan Aneka Safari

Safari menjadi istilah politik Orde Baru. Dari safari Ramadan hingga mobil safari. Tujuannya untuk memenangkan Pemilu.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 22 Mei 2013
Menteri Penerangan Harmoko tahun 1983. (Perpusnas RI).

Harmoko mengadakan safari Ramadan semasa menjabat menteri penerangan pada 1983 berlanjut hingga dia menjadi ketua DPP Golkar (1993-1998). Tujuannya komunikasi politik dengan kegiatan keagamaan. Tapi ujung-ujungnya: kampanye pemenangan pemilihan umum partai berkuasa, Golkar.

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, Harmoko melakukan safari Ramadan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia sambil bertemu kader-kader Golkar. Perjalanan itu dibiayai Departemen Penerangan tapi digunakan pula untuk kepentingan kampanye partai. Beberapa ulama dibawa dalam kunjungan dengan tujuan ganda tersebut.

“Harmoko memang piawai memanfaatkan semaksimal mungkin aspek agama dalam berkampanye meski ia pernah keliru mengucapkan ayat Al-Qu'ran,” tulis Asvi dalam “Safari Ramadhan", Kompas, 21 Oktober 2005.

Advertising
Advertising

Baca juga: Harmoko Hari-Hari Omong Konfrontasi

Karena safari telah menjadi istilah politik Golkar, para penyanyi dan musisi yang diminta Golkar menghibur rakyat pada kampanye Pemilu dari satu daerah ke daerah lain disebut artis safari. Sampai-sampai ada acara artis safari di TVRI.

Safari juga melekat pada pakaian pegawai negeri berkedudukan tinggi, lengkap dengan lencana Korpri terpasang di dada. Menurut Daniel Dhakidae dalam Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, pakaian safari adalah pakaian kolonial Eropa yang berburu binatang di Afrika demi kesenangan dan mengisi masa senggang kaum borjuis.

“Dalam perkembangannya memang menjadi mode, untuk salah satu alasan yang tidak jelas diambil alih oleh para birokrat,” tulis Daniel.

Baca juga: Cerita Lawas Golkar Terpecah Belah 

Daniel mencium aroma bisnis dalam pelembagaan pakaian seragam safari, yang “berhubungan langsung dan kontan pada industri tekstil yang pada tahap ini sudah mencapai konsentrasi tinggi di tangan para pejabat Orde Baru dan konco-konconya.”

Selain pakaian, safari identik dengan mobil merek VW (Volkswagen) dengan kap terbuka dari terpal. Mobil ini dinamakan mobil safari karena menjadi kendaraan dinas para camat yang dibagikan untuk kemenangan partai Golkar.

Dalam biografinya, Azwar Anas yang ikut berkampanye untuk kemenangan Golkar sejak Pemilu 1971 menceritakan bahwa menjelang 1977 Gubernur Sumatera Barat Harun Zain membagikan sebuah mobil VW buat para camat. Pembagian ini merupakan kebijakan nasional.

Baca juga: Ajian Rawarontek Golkar

“Tujuannya agar para camat memiliki mobilitas tinggi, terutama bagi kelancaran pelaksanaan pemilihan umum, dengan harapan Golkar menang dan jumlah suara meningkat dari Pemilu 1971,” tulis Abrar Yusra dalam Azwar Anas: Teladan Dari Ranah Minang. Azwar Anas kemudian jadi gubernur Sumatra Barat, menteri perhubungan, dan menteri koordinator kesejahteraan rakyat.

Selain maksud politik, pengadaan mobil VW safari juga bermuatan bisnis. Perusahaan yang merakit mobil tersebut adalah PT Garuda Mataram. Direkur utamanya, Brigjen Sofyar, orang dekat Soeharto. Ketika Soeharto menjabat Pangkostrad, Brigjen Sofyar di bawahnya sebagai Kastaf Kostrad.

Di masa Orde Baru, aneka safari itu melenggang tenang. Sehingga Golkar pun selalu menang.

Baca juga: Golkar Sepeninggal Daripada Soeharto

Tulisan ini diperbarui pada 4 Juli 2021.

TAG

harmoko partai politik golkar pemilu

ARTIKEL TERKAIT

ABRI Masuk Desa Demi Golkar di Bali Ketika Komedian Mencalonkan Diri Jadi Presiden Suami-Istri Cerai Gara-gara Beda Partai Gambar Partai Dilumuri Tahi Lika-liku Quick Count yang Krusial Serba-serbi Politik Gentong Babi Empat Pilpres Kontroversial Amerika Redup Terang Bulan Bintang Pesan Bung Hatta untuk Pemilih dalam Pemilu Memilih dengan Menulis atau Mencoblos