Masuk Daftar
My Getplus

Harmoko Hari-Hari Omong Konfrontasi

Bukan sekadar jago bersilat lidah, Harmoko juga terampil membuat karikatur.

Oleh: Darma Ismayanto | 07 Jun 2021
Karikatur karya Harmoko di Merdeka, 28 April 1964.

Dua pria berhidung mancung mengenakan jas dan bertopi bak pesulap. Salah satunya, yang topinya bertuliskan Union Jack, memecutkan cambuk ke seorang pria yang sedang menunggang kuda lumping. Pria berkumis dan berpeci itu, dengan baju bertuliskan Tengku, seketika mengucapkan kata: “Perang... Perang”.

Karikatur itu, bertajuk “Circus from Malaysia”, dimuat di harian Merdeka, 28 April 1964. Temanya seputar Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia yang sedang hangat-hangatnya saat itu. Pesannya jelas: penggambarnya ingin menunjukkan bahwa Tengku Abdurahman Putra, perdana menteri Malaysia, adalah boneka Inggris, negara yang mendorong pembentukan Federasi Malaysia yang ditentang Sukarno.

Sebagai penunjuk identitas, terdapat goresan kecil inisial pembuat karikatur itu: “Mok ‘64”. Pemilik inisial itu adalah Harmoko, mantan menteri penerangan.

Advertising
Advertising

Sikap editorial Merdeka sejalan dengan pendirinya, B.M. Diah, yang mendukung politik Sukarno. Sikap ini pula yang terlihat dalam karikatur-karikatur politik Harmoko yang dimuat di harian dan majalah Merdeka selama 1963–1965.

Baca juga: Dono dan Karikatur-karikaturnya

Harmoko sendiri, dalam artikelnya bertajuk “Peranan Karikatur: Sebagai Alat dari Alat Revolusi”, dimuat Merdeka, 4 Maret 1964, menyatakan sikapnya terkait fungsi karikatur, yang secara tak langsung menyiratkan alasan pemilihan tema-tema karikaturnya. “Seperti halnya pengertian l’art pour l’art yang sudah usang itu, juga pengertian ‘karikatur untuk karikatur’ adalah pengertian yang akan menyesatkan kita. Kita lebih cenderung memberikan pengertian ‘Karikatur untuk Revolusi ‘, karena ia adalah merupakan alat dari alat revolusi,” tulis Harmoko.

Konsep berkesenian l’art pour l’art atau seni untuk seni, yang diusung kelompok Manifesto Kebudayaan, memang lagi digoyang. Manifest sendiri kemudian dilarang Presiden Sukarno pada 8 Mei 1964 karena dianggap anti-Manipol. Konsep berkesenian Harmoko malah mirip dengan apa yang diusung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang kerap dianggap sebagai onderbouw Partai Komunis Indonesia, yakni seni untuk rakyat.

Meniti Karier

Harmoko lahir di Patianrowo, Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939. Semasa remaja, dia ngenger (numpang hidup) dengan kakaknya, seorang guru sekolah menengah pertama (SMP) di Solo. Di sana dia mengenyam pendidikan di SMP Kristen I Banjarsari. Di masa inilah dia mulai karib dengan dunia kesenian. Dia aktif di Himpunan Budaya Surakarta (BHS), sebuah sanggar kebudayaan.

Selain menekuni dunia sastra, Harmoko belajar seni lukis dengan bimbingan Dr. Moerdowo, direktur seni lukis yang merangkap ketua HBS. “Dia punya kegemaran melukis segala macam peristiwa yang ia lihat. Dan memang tak bisa disangkal lagi, spirit untuk menjadi pelukis dan karikaturis membenih di sanggar HBS,” tulis Motinggo Busye dan Rudjito S.K. dalam 50 Tahun Harmoko.

Selepas sekolah menengah atas, bermimpi bisa jadi wartawan Merdeka, Harmoko merantau ke Jakarta. Mulanya Harmoko bekerja sebagai korektor, kemudian menjadi wartawan di desk film dan hiburan.

Selain menulis, Harmoko membuat karikatur. Dia sadar betul kekuatan penyampaian pesan lewat karikatur melalui media. “Derajat karikatur di sebuah suratkabar kini sudah mulai meningkat. Meningkat dalam arti menambah kekuatan pers Indonesia. Dan apabila dulu umum masih menganggap bahwasannya karikatur merupakan embel-embel suratkabar belaka, tetapi ternyata kini sudah tidak dapat diartikan demikian. Karikatur yang merupakan tajuk bergambar adalah bagian suratkabar yang menjadi sasaran utama dari para pembaca untuk menatapnya,” tulisnya dalam artikelnya di harian Merdeka.

Sebagian besar karikatur Harmoko bertemakan politik, terutama Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Ia menangkap suasana zamannya. Di Merdeka, 10 Maret 1964, misalnya, Harmoko menggambarkan kapal Dewarutji berbendera Indonesia melintas di lautan, sementara ikan-ikan berkepala manusia dengan tubuh bertuliskan “kolonialis”, “neokolonialis”, dan “imperialis” kalang-kabut ketakutan.

Baca juga: CIA dan Karikatur Bintang Timur

Ketika Merdeka terlibat polemik dengan media berhaluan kiri, Harian Rakyat, dari soal peleburan partai-partai politik hingga aksi sepihak, Harmoko ikut terlibat melalui karikaturnya. Dalam karya yang dimuat Merdeka, 21 Juni 1964, misalnya, Harmoko mengkritik keberpihakan Harian Rakyat dalam soal aksi sepihak yang dilakukan Barisan Tani Indonesia. Harmoko beranggapan aksi sepihak itu merupakan tindakan kontra revolusioner dan anti-Manipol.

“Karikatur-karikatur Harmoko antara karikatur tanggal 17 Juni1964 hingga 4 Juli 1964 merupakan karikatur-karikatur terberani dan terpenting dalam sejarah karikatur politik dalam pers anti-komunis secara global,” tulis Motinggo Busye dan Rudjito S.K.

Nilai Goresan

Fachri Ali dan Kholid Novianto dalam Dari Rakyat ke Panggung Politik, menggambarkan goresan karikatur Harmoko kala itu sebagai berikut: “Goresan karikatur Harmoko memang terlihat masih kaku. Namun cara dia mengungkapkan ide-ide terlihat –dalam bahasa sekarang– begitu terus terang, telanjang, dan tanpa basa-basi.”

Augustin Sibarani, yang karikatur-karikaturnya pernah dimuat harian Merdeka, punya penilaian sendiri. Dalam karyanya, Karikatur dan Politik, Sibarani menampilkan sekaligus mengkritisi karikatur-karikatur Harmoko. Menurutnya, banyak karikatur Harmoko menyalahi kode etik jurnalistik. Selain terkesan kotor, sadistis, vulgar, dan hal-hal lain yang membuat kualitasnya rendah, karikatur-karikatur Harmoko boros-kata dan tak logis. “Sebuah karikatur, dalam hal ini karikatur politik, adalah untuk penggambaran humor ataupun satir. Di sini terletak nilai dan mutu sebuah karikatur politik,” tulisnya.

Harmoko juga kerap menuliskan nama dalam gambar, misalnya “Teungku Antek Imperialis”, yang semestinya dihindari dalam karikatur. “Seorang karikaturis harus mampu menggambarkan tokohnya sedemikian rupa, hingga orang dapat langsung mengenal tokoh itu, tanpa disertai penulisan nama,” tulis Sibarani.

Baca juga: Cerita Augustin Sibarani Menggambar Sisingamangaraja XII

Setelah mengulas beberapa karikatur Harmoko, Sibarani pun memandang Harmoko sebagai salah seorang karikaturis Indonesia yang gagal. Bukan itu saja. Dia juga menyentil perubahan sikap Harmoko, yang tadinya membela politik Sukarno jadi ikut “merobohkannya”. Sibarani mencontohkan karikatur Harmoko bertema pewayangan yang menyerang pribadi Sukarno.

Setelah 1963–1965, masa produktif Harmoko di bidang karikatur, sulit menemukan karya-karyanya di media, termasuk di koran Pos Kota yang dirintisnya. Era 1970-an, di awal-awal Pos Kota terbit, memang ada dua kolom karikatur, “Senyum Hot Hari Ini” dan “Oom Kecpi”, tapi bukan garapan Harmoko. Sedangkan di era 1980-an, saat Pos Kota menyisipkan “lembar bergambar”, karikatur Harmoko juga absen. Bisa jadi kesibukannya sebagai menteri penerangan menyita waktunya.

Pada 2008, di acara Kick Andy di Metro TV, Harmoko memberi sebuah kejutan. Dengan lincah dan terampil dia membuat karikatur seorang pria berkacamata dan berambut kribo. Di bawah karikatur itu dia membubuhkan inisial “Mok” dan keterangan ilustrasi: “Menunggu gajian”.

TAG

harmoko karikatur media massa konfrontasi indonesia malaysia

ARTIKEL TERKAIT

Call Me Mbak Harmoko Anak Senen Harmoko: Darah Daging Saya Wartawan Harmoko dan Aneka Safari Merekam Dua Sisi Pematangsiantar Kisah Sukarno dan Planetarium Telepon Umum Primadona yang Kini Dilupa Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak” Jejak Bung Karno di Jakarta Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok