Masuk Daftar
My Getplus

Kesaksian Peristiwa Tanjung Priok

Ratusan orang tewas dan ditahan pasca insiden berdarah di Tanjung Priok. Sebagian dipaksa mengaku terlibat demonstrasi dan rencana penyerangan markas tentara.

Oleh: Hendi Johari | 26 Sep 2018
Situasi wilayah Tanjungpriok sehari sesudah terjadinya insiden berdarah. repro foto: Sinar Harapan.

SEBUT saja namanya Muhammad. Lelaki tua yang jalannya pincang itu hingga kini tak paham mengapa dirinya sempat dipenjara. Bermula dari kejadian pada 12 September 34 tahun lalu di Tajungpriok. Menjelang magrib seperti biasa dia pulang dari tempat kerjanya: sebuah bengkel kecil di bilangan Jalan Yos Soedarso, Jakarta Utara.

“Saya sedang menunggu bus yang lewat, ketika terjadi rame-rame lalu kaki kanannya saya tiba-tiba terasa nyeri,” kenang kakek berusia 68 tahun itu.

Kaki Muhammad ternyata terhantam sebutir peluru. Saat kejadian dia mengaku tak berdaya untuk ikut lari seperti yang lainnya. Memang sempat ada sekelompok orang yang membawanya ke rumah sakit terdekat, namun tak lama kemudian dia justru dijemput oleh lima petugas berpakaian preman lantas dibawa ke suatu tempat yang sangat asing baginya.

Advertising
Advertising

Baca juga: Peristiwa Tanjung Priok: Darah pun mengalir di Utara Jakarta

“Belakangan baru saya tahu itu adalah Rumah Tahanan Militer Cimanggis di Depok sana,” ujarnya.

Tiga bulan lamanya Muhammad berstatus sebagai tahanan di RTM Cimanggis. Dia kemudian diantarkan ke rumahnya dengan ancaman keras: tidak boleh bicara dengan siapapun terkait apa-apa yang sudah dialaminya. Namun benarkah dia terlibat dalam insiden berdarah di Tanjung Priok malam itu?

“Saya ini buta politik. Boro-boro ngurusin politik, makan sehari-hari saja sudah susah,” katanya dalam nada pelan.

Aktivis Pengajian

Berbeda dengan Muhammad, Dudung bin Supian (55) hadir dalam pengajian malam itu dalam kapasitas yang memang bisa disebut aktivis. Sebagai seorang muslim yang tidak menyetujui pemberlakuan Pancasila sebagai asas tunggal, Dudung termasuk  rajin mendengarkan para ustadz radikal itu berdakwah di wilayah Jakarta Utara.

Pada saat terjadinya insiden berdarah di Tanjung Priok, Dudung adalah salah satu dari ribuan massa yang bergerak ke markas Kodim Jakarta Utara.Masih segar dalam ingatannya, dia bersama kawan-kawannya tengah meneriakan takbir pada saat berondongan peluru menyiram barisan mereka. Akibatnya, beberapa tubuh langsung rubuh. Dia sendiri terluka di bagian lengan kananya dan cepat diangkut ke rumah sakit terdekat.

“Setelah dua bulan di rumah sakit, saya dijemput aparat untuk dipenjarakan,” kenang lelaki yang saat itu berprofesi sebagai penjual air bersih.

Baca juga: Pembersihan setelah pembantaian di Tanjung Priok

Aktivis pengajian lainnya yakni Amir bin Bunari (53) harus iklash kehilangan tiga jari tangannya akibat dihantam peluru tajam. Malam itu, dia bergabung dalam barisan massa yang bergerak menuju pos komando tentara. Tetapi di tengah perjalanan, Amir mendengar berondongan senjata menyalak tak hentinya sehingga membuat orang-orang di sekitarnya jatuh terjengkang.

“Saya sendiri mencoba lari, tetapi keburu tertembak,” ungkapnya seperti dikutip Tapol London dalam Muslim on Trial.

Seperti yang lainnya, Amir lantas dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan sekadarnya. Dia lantas dipindahkan ke sebuah rumah sakit tentara dan menjadi tahanan hingga tiga bulan ke depan.

Mencari Adik

Damsirwan bin Nurdin (55) masih ingat malam itu dia disuruh sang bapak untuk mendari dua adik laki-lakinya. Ketika mendengar di Jalan Sindang ada terjadi keributan, dia langsung berlari ke arah tempat tersebut dan berharap bisa menemukan adik-adiknya. Beberapa orang sudah memperingatinya, namun Damsirwan jalan terus, hingga dia bertemu dengan sekumpulan massa yang tengah berlari ke arahnya.

“Seorang yang lari melewati saya, tiba-tiba terkena peluru dan langsung roboh, saya sendiri secara spontan langsung menjatuhkan diri,” ujarnya.

Karena kondisi yang tak terkendali dan banyaknya orang yang tertembak, Damsirwan memutuskan untuk tidak bangkit lagi dan berpura-pura mati. Namun aksinya ini diketahui oleh seorang polisi yang langsung mendekatinya lantas menendang kepalanya.

Dia kemudian diseret dan dilemparkan secara kasar ke dalam satu truk tentara dan langsung diangkut ke rumah sakit tentara. Di sana dia bertemu dengan dua adiknya yang juga mengalami luka-luka karena tembakan.

Baca juga: Ketika rezim Orde Baru takut dengan jilbab

Ada ratusan orang yang menjadi korban dalam Peristiwa Tanjung Priok 1984, namun secara resmi hanya mayat Amir Biki (pemimpin demonstrasi) yang dikembalikan oleh pihak aparat kepada keluarganya untuk dimakamkan. Itupun setelah pihak aparat dibujuk oleh Mayor Jenderal TNI Edi Nalapraya, salah seorang link militer Amir Biki sejak penumpasan orang-orang kiri pada 1966-1967.

“Tidak kurang 400 orang muslim menjadi syahid, ratusan lagi yang luka-luka, lalu diikuti penangkapan para ulama dan mubaligh,” ungkap Abdul Qadir Djaelani dalam Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Islam di Indonesia.

Sepanjang kesaksian para korban yang dinukil Tapol London, selain Biki ada tiga mayat lagi yang dikembalikan kepada keluarganya masing-masing. Namun mereka dilarang keras untuk menguburkan para korban tersebut secara terbuka. Adapun ratusan korban lain, hingga kini keberadaan mereka masih misterius. Rumor-rumor menyebar bahwa mereka dibuang ke laut lepas di wilayah Kepualauan Seribu

Versi Pemerintah

Bagaimana pemerintah Orde Baru sendiri memandang kejadian berdarah di Tanjung Priok? Dalam suatu tulisan berjudul ‘Tragedi Berdarah di Priok”, jurnalis Sinar Harapan Panda Nababan menyebut insiden itu sebagai dipicu oleh adanya gap sosial yang disiram oleh isu SARA sehingga menimbulkan gejolak. Sinar Harapan sendiri menilai bahwa peristiwa berdarah itu diawali oleh penyerbuan massa bersenjata clurit, parang dan pentungan-pentungan besi ke markas Kodim Jakarta Utara, sehingga menimbulkan reaksi yang keras dari aparat.

Dalam pernyataan pers setelah 10 jam terjadinya insiden berdarah itu, Pangkopkamtib Jenderal L.B. Moerdani menyebut posisi sulit 15 prajuritnya yang harus menghadapi massa beringas berjumlah sekira 1.500 orang. Kendati demikian, Moerdani megatakan sesungguhnya pihak aparat telah melakukan tahapan persuasif namun ditolak mentah-mentah oleh massa. Para prajurit lantas melepaskan tembakan ke udara, namun tak digubris jua akhirnya terpaksa dilepaskan tembakan langsung.

“Karena massa terus menyerang dengan mengayunkan senjata clurit dan berusaha merebut senjata petugas keamanan,” ujar Moerdani dalam biografinya, Profil Prajurit Negarawan karya Julius Pour.

Baca juga: Benny Moerdani, loyalis yang disingkirkan Soeharto

Pengutukan terhadap para pengunjukrasa juga kembali dilontarkan oleh Moerdani saat melakukan konfrensi pers di Aula Deparetemn Hankam/Markas Besar ABRI pada 13 September 1984. Dalam kesempatan itu, Moerdani yang didampingi oleh Menteri Penerangan Harmoko dan Panglima Kodam V Jakarta Raya, Mayjen Try Soetrisno mengecam peristiwa itu sebagai bentuk nyata perlawanan terhadap hukum yang berlaku.

“Di samping itu, mereka menyalahgunakan ajaran agama dan tempat ibadah untuk menghasut umat beragama dan anak-anak sekolah,” ujar Benny Moerdani seperti dinukil oleh Sinar Harapan edisi 14 September 1984.

Peristiwa Tanjung Priok menyebabkan citra Benny Moerdani menjadi buruk di sebagian kalangan Islam. Kepada sejarawan Salim Said, seorang aktivis Islam terkemuka bahkan secara terang-terangan menyebut Moerdani sebagai “pembantai orang-orang Islam di Tanjung Priok”.

Situasi tersebut menyebabkan Benny Mioerdani harus melakukan klarifikasi kepada Menteri Agama Munawir Sjadzali. Bahkan tidak cukup sowan kepada Menteri Agama, Moerdani pun melakukan safari ke pesantren-pesantren terkemuka di daerah.

TAG

Islam Orde-Baru Tanjung-Priok Benny-Moerdani

ARTIKEL TERKAIT

Pencarian Islam Muhammad Ali Gold dan Kisah Penipuan Tambang Emas di Kalimantan Manuskrip-manuskrip tentang Pandemi di Dunia Islam Melihat Pesona Masjid Cut Meutia Debus dan Tarekat di Banten Jaringan Intelektual dan Spiritual dalam Jalur Rempah Di Balik Berdirinya Kesultanan Banjar Mangoenatmodjo, Penyebar Gerakan Islam Abangan Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon Ketika Indonesia Takut Revolusi Iran