Masuk Daftar
My Getplus

Özil dan Perkara Peranakan Muslim Turki

Isu etnis muslim Turki di Jerman melambung lagi. Dikompori Mesut Özil yang mengklaim jadi korban rasial.

Oleh: Randy Wirayudha | 24 Jul 2018
Mesut Özil, gelandang Jerman berdarah Turki memutuskan pensiun dari timnas gara-gara merasa jadi korban diskriminasi dan dikambinghitamkan DFB (Foto: Twitter @MesutOzil1088)

MESUT Özil, playmaker Jerman, memutuskan pensiun membela timnas Jerman. Playmaker berdarah Turki itu sakit hati dan menumpahkan curhat-nya panjang lebar via akun Twitter pribadi, @MesutOzil1088, Minggu (22/7/2018).

Özil merasa dikambinghitamkan secara politis terkait kegagalan Jerman di Piala Dunia 2018. Fotonya bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Ilkay Gündoğan, yang juga pemain Jerman berdarah Turki, di sebuah acara amal di London, Inggris pada 14 Mei 2018 diungkit oleh sejumlah fans, media Jerman, dan terutama Presiden DFB (Induk Sepakbola Jerman) Reinhard Grindel.

“Saya takkan lagi bermain untuk Jerman di level internasional, di mana saya mengalami rasisme dan sikap tidak hormat. Di mata Grindel dan para pendukungnya, saya hanya jadi orang Jerman saat kami menang, namun saya dianggap imigran saat kami kalah,” ketus Özil.

Advertising
Advertising

Banyak yang bersimpati, namun banyak pula yang ikut mengkritik Özil. Pengamat dan kolumnis sepakbola berdarah Jerman Timo Scheunemann memaparkan, kasus itu mestinya tak jadi besar kalau sedari awal Özil memberi klarifikasi.


“Foto itu dikritik pedas karena timing-nya sebelum pemilihan presiden Turki. Di Jerman banyak orang Turki sehingga Özil sengaja atau tidak, tentu membantu Erdoğan meraup suara di Jerman. Dalam pernyataannya, Özil membenarkan atau sama sekali tidak mengakui kesalahannya. Beda dengan Gündoğan. Alasan Özil tak melakukannya secara politis naif karena dari sisi sang politisi pasti menggunakan momen tersebut,” ujar sosok yang biasa disapa Coach Timo itu kepada Historia.

Meski manajer timnas Oliver Bierhoff dan pelatih Joachim Löw tak menanggapi isu foto itu secara serius sejak awal, sikap diam memicu keresahan di internal Die Mannshaft. “Mereka seharusnya bisa menyuruh Özil membuat pernyataan demi ketenangan dalam tim,” lanjutnya.

Alih-alih menjelaskan, Özil malah menyatakan media-media Jerman berstandar ganda lantaran tak memberitakan buruk foto legenda Jerman Lothar Matthäus bersama Presiden Rusia Vladimir Putin.

Bagi Timo, kasus Özil dan Matthäus harus dibedakan konteksnya. “Matthäus tak menulis ‘My President’ dan tidak dalam konteks kampanye. Meski Putin juga sangat dikritik di Jerman. Sementara pernyataan ‘My President’ yang ditulis Gündoğan secara tidak langsung diamini Özil, tidak disertai pernyataan seperti contohnya: ‘Tapi saja juga cinta Jerman, kok’,” sambung Timo.

Meski ada hak Özil untuk mendukung Erdoğan –sosok presiden yang oleh publik Jerman dianggap menindas kebebasan pers– sekalipun, diamnya Özil saat foto itu jadi isu politis membuat suasana jadi keruh.

“Tidak benar media Jerman mengkritik asal-usul bahkan agama. Kebetulan saya sedang di Jerman dan melihat sendiri kritikan pada Özil. Intinya, dia main jelek dan tidak memberikan penjelasan soal foto. Kalau soal Grindel, bos DFB itu juga dikritik keras. Pakar-pakar bola Jerman menganggapnya amatiran,” lanjutnya.

Muasal Imigran Turki di Bumi Jerman

Masyarakat berdarah Turki sendiri, sebagaimana dituangkan David Horrocks dan Eva Kolinsky dalam Turkish Culture in German Society Today, merupakan etnis minoritas terbesar di Jerman dengan sebutan Deutsch-Türken. Mereka sudah menetap permanen di beberapa wilayah Jerman pasca-Pertempuran Wien (kini ibukota Austria) antara Koalisi Kristen (Polandia, Lithuania, Austria, Bavaria, Swabia, Saxony, Franconia, Habsburg Hungaria, dan Zaporozhian) melawan Kesultanan Usmani, 12 September 1683.

Mereka kemudian mulai dirangkul. Sejumlah orang Turki di Jerman dijadikan serdadu bayaran Kerajaan Prusia pada 1701. Jørgen Nielsen dalam Muslims in Western Europe menuturkan, jumlah terbesar serdadu muslim berdarah Turki di bawah panji Prusia mencapai 1000 orang, yang ditugaskan di unit kavaleri di bawah Raja Frederick William I. Itu berlanjut terus, termasuk saat Prusia diperintah Frederick II.

“Semua agama sama baiknya, selama mereka bersikap tulus dan bahkan jika orang Turki ingin jadi bagian dari populasi di negeri ini, kami akan membangunkan masjid dan tempat-tempat persembahyangan bagi mereka,” cetus Frederick II pada 1740, dikutip Otto Bardon dalam Friedrich der Grosse.

Kata-kata itu terealisasi pada 1779 kala masjid pertama di Jerman dibangun di kompleks Istana Schwetzingen. Pada 1798, situs pemakaman muslim pertama dibangun dalam rangka memakamkan Ali Aziz Efendi, seorang utusan Kekaisaran Ottoman.

Hingga abad ke-20, kultur Turki mulai berbaur dalam masyarakat Jerman. Hubungan politik Jerman dan Turki-Usmani kian erat setelah bermitra dalam Perang Dunia I. Bangkitnya Jerman pasca-Perang Dunia II tak lepas dari peran orang-orang Turki.

Saat Jerman mengalami krisis buruh pada 1961, pemerintah Jerman Barat meneken perjanjian dengan pemerintah Republik Turki mengenai perekrutan buruh dengan dengan status Gastarbeiter atau buruh tamu. Para buruh itu diperkenankan membawa keluarga untuk bekerja di Jerman. Tumbuhnya komunitas Turki kian meningkat setelah eksodus orang-orang Turki dari Bulgaria pada 1974.

Terlepas dari adanya sentimen anti-imigran dari kelompok sayap kanan Jerman, sejak 1990 para buruh Turki mulai mengajukan naturalisasi menjadi warga Jerman jika sudah mencapai usia 18 tahun sesuai Undang-Undang Kewarganegaraan Jerman. UU itu memperbolehkan naturalisasi dengan syarat seseorang tidak boleh memiliki status dwi-kewarganegaraan.

“Kalau kita mengizinkan dwi-kewarganegaraan, tak lama lagi akan ada empat, lima atau enam juta orang Turki di Jerman, bukannya tiga juta,” cetus Kanselir Jerman Helmut Kohl pada 1997, dikutip Philip L. Martin dalam Germany: Managing Migration in the Twenty-First Century.

Namun, UU Kewarganegaraan 1999 menetapkan, orang-orang Turki baru bisa mengajukan status warga negara setelah delapan tahun tinggal di Jerman. Sementara, keturunannya tetap diperbolehkan memegang dwi-kewarganegaraan sampai usia 23 tahun dan harus memilih antara Turki atau Jerman setelahnya.

Khusus untuk atlet sepakbola, “naturalisasi” mulai eksis sejak 1993 kala timnas Jerman menjadikan Mehmet Yüksel sebagai pilarnya. Gelandang Bayern Munich kelahiran Karlsruhe, 16 Oktober 1970 itu ibunya, Hella, seorang Jerman dan ayahnya, Ergin Yüksel, seorang Turki. Nama belakangnya berganti “Scholl” setelah ibunya bercerai dan menikah lagi dengan pria asli Jerman, Hermann Scholl.

Scholl membuka jalan bagi banyak pemain berdarah Turki lain yang mengikuti jejaknya masuk timnas Jerman. “Makanya saya juga menyayangkan hal yang relatif kecil bisa jadi besar. Soal Özil, karena tidak langsung beri penjelasan: 'Maaf, tak ada maksud politis. Saya sendiri cinta Jerman dan Turki'. Bahwa ada orang rasis (di Jerman), tentu iya. Sayangnya di seluruh dunia juga ada manusia-manusia bumi datar seperti itu. Tetapi menggambarkan Jerman dan DFB rasis, tentu kelewatan,” tandas Timo.

Baca juga: 

Der Panzer Tersungkur
Kiper Keblinger Blunder
Di Balik Sepakbola di Lapangan Merah
Final Piala Dunia Berujung Gempita dan Prahara

TAG

Timo-Scheunemann Jerman Turki Ozil Imigran Sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Nasib Tragis Sophie Scholl di Bawah Pisau Guillotine Petualangan Tim Kanguru Piala Asia Tanpa Israel Sisi Lain Der Kaiser Franz Beckenbauer Ingar-Bingar Boxing Day Pesawat Multifungsi Tulang Punggung Matra Udara Jerman Sinterklas Terjun hingga Tumbang di Stadion D.I. Pandjaitan dan Aktivis Mahasiswa Indonesia di Jerman Garrincha dari Pabrik Tekstil ke Pentas Dunia Getirnya Tragedi di Stadion Luzhniki