Masuk Daftar
My Getplus

Ketika Panglima Besar Soedirman Turun Gunung

Pimpinan tertinggi TNI itu sempat menolak untuk pulang ke Yogyakarta. Baginya selama tentara Belanda bercokol di wilayah Indonesia, tak ada kata “berdamai” dengan mereka.

Oleh: Hendi Johari | 11 Jul 2021
Panglima Besar Soedirman saat tiba di Yogyakarta (IPPHOS)

Perjanjian Roem-Royen disepakati oleh pihak Indonesia dengan Belanda pada 7 Mei 1949. Salah satu klausul dalam kesepakatan itu adalah Belanda harus menarik pasukannya dari ibu kota RI Yogyakarta jika ingin melanjutkan proses penyelesaian konflik antar dua negara tersebut.

“Itu yang menjadi tawaran mutlak dari pihak Indonesia,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein.

Karena ada desakan internasional yang sangat kuat, Belanda tak bisa “menghindar” dan terpaksa menyetujuinya. Maka pada 29 Juni 1949, secara berangsur, tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta. Kepergian mereka kemudian disusul dengan masuknya para prajurit TNI ke dalam kota Yogyakarta.

Advertising
Advertising

Anehnya, kesepakatan tersebut hanya berlaku untuk Yogyakarta saja. Sedangkan untuk wilayah-wilayah lain, militer Belanda masih bercokol. Dalam buku Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia karya Tjokropranolo (eks pengawal Soedirman), bahkan disebutkan jika mundurnya tentara Belanda hanya radius 5 km dari Yogyakarta.

Baca juga: Demi Pengakuan Kedaulatan

Kenyataan tersebut membuat Panglima Besar Soedirman marah. Ketika pada 23 Mei 1949, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mochamad Hatta menyuratinya untuk bersiap mendekati Yogyakarta, Soedirman seolah tak memperdulikannya. Dia menolak untuk turun gunung.

“Tetapi karena ada surat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Kolonel Gatot Soebrot yang memintanya supaya lekas pulang, akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta,” demikian menurut buku Djenderal Soedirman: Pahlawan Sedjati yang ditulis dan diterbitkan oleh Kementerian Penerangan RI pada 1950.

Sri Sultan dan Kolonel Gatot Soebroto adalah dua orang yang sangat dihormati oleh Soedirman. Kendati dalam urusan pangkat dan jabatan, Gatot Soebroto merupakan bawahan Soedirman, namun dari segi umur dan pengalaman sang kolonel jelas di atas panglima besarnya.

Dalam suratnya, Gatot menyatakan sangat paham dengan ketegasan dan pendirian kuat Soedirman. Dia juga mendukung sikap tersebut. Tetapi sebagai manusia, kata Gatot, untuk mencapai suatu tujuan diperlukan berbagai upaya dan ikhtiar. Terlebih dia pun mengingatkan kondisi Soedirman yang harus mendapatkan perawatan maksimal.

“Ini supaya jangan mati konyol, tetapi supaya cita-cita adik tercapai. Meskipun buahnya tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan mengucapkan terimakasih kepada Yang Maha Kuasa. Ini kali, saya selaku suadara tua dari adik, minta ditaati…” ungkap Gatot.

Baca juga: Jika Pak Gatot Bilang Monyet

Soedirman akhirnya menyanggupi untuk turun gunung. Setelah mendapatkan beberapa informasi dan kepastian dari Letnan Kolonel Soeharto (Komandan Brigade ke-10 Divisi III) berangkatlah Soedirman dengan rombongan pengawal dari Ponjong pada 9 Juli 1949.

Sehari kemudian, rombongan Soedirman sudah ditunggu oleh Kolonel T.B. Simatupang dan Kolonel Soehardjo Hardjowardjojo di mulut Jembatan Kali Opak. Selain sedan yang mereka kendarai, kedua perwira tersebut juga menyediakan satu jip Land Rover, dua kendaran pick-up dan satu truk untuk para pengawal Soedirman.

Sebelum bergerak ke Yogyakarta, Soedirman, Simatupang dan Soehardjo terlibat suatu pembicaraan serius di dalam mobil sedan. Tak ada yang tahu apa isi pembicaraan tersebut, kata Tjokropranolo. Menurut T.B. Simatupang dalam otobiografinya, Laporan dari Banaran, dalam pembicaraan enam mata itu Soedirman menyatakan belum bisa menerima perkembangan yang terjadi terkait perundingan Indonesia-Belanda. 

“Akan tetapi dalam pembicaraan itu, Pak Dirman membenarkan juga bahwa bagi kita sekarang ini tidak ada lagi jalan lain daripada mendukung persetujuan  yang telah tercapai sambil menyusun kekuatan…” ungkap Simatupang.

Ada sebuah kejadian menarik yang dikisahkan Soeharto dari pertemuan ketiga petinggi TNI tersebut. Beberapa saat sebelum bergerak ke Yogyakarta, ujar Soeharto, Simatupang dan Soehardjo memohon Soedirman agar menukar mantel Australia-nya dengan pakaian kebesaran panglima besar. Alih-alih langsung menerima, Soedirman malah menoleh kepada Soeharto.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Kalau menurut saya, lebih baik begini saja. Begini juga sudah baik, Pak,” jawab Soeharto seperti yang dia kisahkan dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (disusun oleh G.Dwipayana dan Ramadhan K.H.).

Baca juga: Tak Ada Nama Panglima

Mendengar jawaban dari Soeharto, Soedirman pun memutuskan untuk menuruti kata-kata Soeharto: tidak mengganti mantel-nya dengan pakaian kebesaran seorang pimpinan tertinggi TNI.

Namun menurut kesaksian Tjokropranolo, saat Soedirman berdiskusi dengan Simatupang dan Soehardjo di dekat Jembatan Kali Opak, sesungguhnya Soeharto sudah tidak ada di tempat itu.

“Pak Harto sendiri, pagi itu juga langsung menuju Yogya mendahului rombongan untuk mempersiapkan suatu parade akbar untuk menyambut kedatangan kembali Panglima Besar Jenderal Soedirman ke Yogyakarta yang rencananya akan dilaksanakan  di lapangan Alun-alun Lor, depan Sitihinggil, Keraton Yogya pada sore hari itu,” ungkap Tjokropranolo.

TAG

jenderal soedirman

ARTIKEL TERKAIT

Ibnu Hadjar, Pejuang yang Kecewa Mencari Kakak yang Ternyata Ikut Belanda Kapten Matheus Sihombing, Jago Revolusi dari Tapanuli Romusa Jadi Serdadu KNIL Cerita Gerilya dari Sanggabuana, Tempat Ditemukannya Ular Naga Liku-liku Otto Abdulrachman Batalyon Jawa yang Merepotkan Tuan Tanah di Toraja Belanda Membantai TNI dalam Pertempuran Titi Bambu Suradi Bledheg Si Bandit Gunung Nanlohy Bersaudara di Kapal Maut Junyo Maru