Masuk Daftar
My Getplus

Achmad Salim Taruna Revolusioner

Achmad Salim dipecat karena dianggap revolusioner. Dalihnya karena perampingan kavaleri.

Oleh: Petrik Matanasi | 21 Nov 2023
Sebuah detasemen kadet Akademi Militer Breda sedang defile, 25 Juli 1932. (Regionaal Archief Nijmegen/Wikimedia Commons).

SETELAH kursus pendidikan calon perwira bumiputra di Sekolah Militer Jatinegara ditutup, maka calon perwira yang akan menjadi perwira tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) terpaksa harus belajar dulu ke Belanda. Mereka yang pernah sekolah sampai kelas tiga Hoogere Burgerschool (HBS) memenuhi syarat mendaftar ke Cadetten School (Sekolah Kadet) Alkmaar dan kemudian masuk Akademi Militer Koninklijk Militaire Academie (KMA) Breda.

Sebagai jebolan HBS di Batavia, Achmad Salim mencoba peruntungannya untuk bisa jadi opsir KNIL. Ia akhirnya diterima di sekolah kadet Alkmaar.

Achmad Salim, menurut Studbook'Oost-Indisch Boek (koleksi Arsip Nasional Den Haag), adalah pemuda kelahiran Padangsidempuan, Tapanuli, Sumatra Utara, 28 Desember 1901. Putra dari Djanin Gelar Djasadjoeangan dan Si Hadji itu tinggi badannya 1,577 cm. Sebelum di Belanda, dia tinggal di Batavia. Pada 23 Juli 1918 dia mulai menjadi kadet di Sekolah Kadet Alkmaar.

Advertising
Advertising

Ketika belajar di sekolah kadet itu, Salim adalah calon kadet bermasalah. Direktur sekolah menemukan beberapa surat Achmad Salim.

“Ternyata Salim telah didekati dari India untuk menjadi 'koresponden pusat' organisasi Menangkabau Bergerak,” catat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950.

Baca juga: Wardiman Menyambut Kemerdekaan

Salim dengan demikian sudah dicap punya kecenderungan revolusioner. Penasihat Oudemans menyebutnya sebagai orang yang “sulit diatur dan tidak dapat diandalkan.” Kendati begitu, Salim tak dikeluarkan, bahkan sejak September 1920 dia diperbolehkan memulai tahun terakhirnya di sekolah kadet itu hingga lulus.

Pada 1921 Salim berhasil menjadi taruna di KMA Breda. Het Vaderland tanggal 3 Agustus 1921 memberitakan, dia taruna kavaleri KMA Breda yang praktik di Resimen Infanteri ke-6. Selanjutnya, masih menurut Het Vaderland tanggal 16 Juli 1922, dari 18 Juli 1922-30 Agustus 1922 Salim ditempatkan di Resimen Pertama.

Namun, Salim tak pernah lulus dari KMA atau mengucap sumpah setia kepada ratu Belanda. Bouman meyebut Salim dikeluarkan dari KMA pada 26 Mei 1924 karena dianggap punya kecenderungan revolusioner.

Salim pernah bertemu Menteri Kolonial De Graaff. Penjaga ruangan pertemuan yang terjadi pada 25 April 1924 itu menyebut bahwa Salim tidak memiliki kecenderungan komunis. Ada yang menyebut tuduhan kepada Salim cukup berlebihan. Dia sempat diberi pilihan menjadi prajurit infanteri atau mengundurkan diri. Salim memilih mundur. Namun dia kemudian dikeluarkan dengan alasan bahwa terjadi perampingan di tubuh kavaleri (pasukan berkuda) KNIL di Hindia Belanda.

Baca juga: Ganden Sang Ksatria

Sekitar tiga tahun setelah Salim, ada taruna lain, asal Jawa Tengah, yang bernasib seperti dirinya. Namanya Soeardjo Tirtosoepono. Soeardjo juga dikeluarkan pada tahun terakhir di KMA Breda dengan alasan sama-sama ada keterkaitan dengan pergerakan nasional yang kala itu sedang tumbuh. Koran Het Volk edisi 23 Juni 1927 menyebutnya sebagai simpatisan komunis hanya berdasarkan buku-buku atau artikel-artikel yang dibaca dan ditemukan di sekitar tempat tidurnya.

“Jelas bahwa taruna pribumi, baik yang bertugas maupun yang tidak bertugas, mendapat perhatian khusus dari semua pihak yang merasa terlibat,” catat Bouman.

Kedua bekas taruna itu tentu berberat hati untuk pulang ke kampung halaman mereka. Berbeda dari Salim yang setelah itu tak ada kabarnya lagi, Soeardjo malah lebih melibatkan diri dalam pergerakan nasional Indonesia. Dengan masuk Partai Indonesia (Partindo), dia menjadi pengasuh dan pemimpin kepanduan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) dan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Dia juga menjadi guru di sekolah menengah pertama berbahasa Belanda milik Taman Siswa. Salah satu anak didiknya adalah Sudirman, yang belakangan menjadi Panglima Besar TNI.*

TAG

knil

ARTIKEL TERKAIT

Murid Westerling Tumbang di Jogja Pengemis dan Kapten Sanjoto Abdoel Kaffar Ingin Papua dan Timor Masuk Indonesia JJ Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik Serdadu Württemburg Berontak di Semarang KNIL Pakai Pendeta dan Ulama Sersan Zon Memburu Panglima Polim Dikira Sudah Mati, Boediardjo Ternyata Selamat Persahabatan Dua Insan Bumiputra Beda Pandangan Politik Usai Peristiwa Olo Orang Nias Berontak Kepada Belanda