Masuk Daftar
My Getplus

Putri Sunda Penyebab Perang Bubat

Satu versi dari sumber Sunda Kuno tentang penyebab Perang Bubat: Putri Sunda terlalu besar keinginannya.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 26 Mei 2019
Ilustrasi adegan perang dalam relief di dinding Candi Panataran, Blitar.

Prabu Maharaja sudah tujuh tahun menjadi raja. Dia terkena muslihat, mendapat bencana akibat putrinya yang bernama Tohaan akan menikah. 

Terlalu besar kemauan sang anak. Dalam rangka pernikahannya, banyak orang yang berangkat mengantarkan ke Jawa. Sebabnya, sang putri tak mau punya suami orang Sunda. Maka terjadilah perang di Majapahit.

Demikianlah penyebab Perang Bubat dalam Carita Parahyangan, sumber tertulis dari masa Sunda Kuno.

Advertising
Advertising

Baca juga: Cerita Tutur Perang Bubat

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada, Biografi Politik, kisah dalam naskah itu merujuk kepada peristiwa di Bubat, yang menurut Pararaton terjadi pada 1279 Saka atau 1357 M. Ceritanya tak dituturkan secara rinci.

“Bagi masyarakat Sunda Kuno Perang Bubat pastinya merupakan peristiwa yang menyedihkan,” kata Agus.

Menariknya, Carita Parahyangan punya sudut pandang yang berbeda dari sumber lainnya. Naskah itu justru menyalahkan Putri Sunda yang dijuluki Tohaan atau “yang dihormati”.

Sang putri dikisahkan memiliki keinginan terlalu besar karena tak mau menikah dengan orang Sunda. Dia lebih memilih menikah dengan raja besar Majapahit, Hayam Wuruk.

Baca juga: Batalnya Pernikahan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka

“Dia pun disebut menta gede pameulina, atau terlalu besar keinginannya. Akibatnya, ayahandanya rela mengantarnya hingga ke Majapahit,” kata Agus.

Kendati berbeda nama, Agus meyakini Tohaan yang dimaksud dalam kisah itu pastilah Putri Sunda. Dia bunuh diri di Bubat setelah kematian ayahnya.

Dibandingkan kisah itu, sumber lain yang lebih banyak diacu, seperti Pararaton, Kidung Sundayana, dan Kidung Sunda, menyatakan tragedi di Bubat disebabkan ambisi Gajah Mada yang ingin menaklukkan Sunda di bawah panji Majapahit.

Kebetulan, orang nomor satu dari Kerajaan Sunda telah hadir ke wilayah Majapahit. Maka tinggal ditekan agar mau mengikuti keinginan sang patih. Namun, recananya tak berjalan. Orang-orang Sunda menolaknya mentah-mentah. Mereka tak mau membawa putri ke hadapan Hayam Wuruk.

Baca juga: Ambisi Gajah Mada di Perang Bubat

“Kedatangan mereka bukan untuk menyerahkan putri sebagai tanda takluk, namun mengantarkan putri untuk menikah dengan Hayam Wuruk,” kata Agus.

Suasana bertambah tegang. Puncaknya pertempuran berdarah di Lapangan Bubat. Permaisuri, para istri pejabat, juga sang putri yang akan dinikahkan dengan Hayam Wuruk, memilih bunuh diri.

Dalam Pararaton, penuturannya dapat ditafsirkan Raja Sunda hendak menuruti keinginan Gajah Mada untuk menyerahkan putrinya langsung ke istana Majapahit. “Mungkin ini dikarenakan keinginan sang putri yang menurut Carita Parahyangan terlalu besar keinginannya,” kata Agus.

Baca juga: Perang Bubat dalam Memori Orang Sunda

Namun, para bangsawan dan ksatria Sunda yang mengiringi kepergian keluarga raja ke Majapahit menolak tegas. Mereka gugur di Bubat demi mempertahankan kehormatan Sunda yang memang tak layak mempersembahkan putri sebagai tanda takluk.

“Dalam hal ini, Gajah Mada memanfaatkan emosi Raja Sunda,” kata Agus.

Lalu apakah peristiwa di Bubat ini benar-benar terjadi atau hanya sekadar sisipan dari penyalin Pararaton, atau malahan tambahan orang Belanda pertama yang meneliti kitab itu atau alasan-alasan lainnya?

Baca juga: Perang Bubat dan Dampaknya Buat Majapahit

Agus menjawab, banyak ahli sejarah yang menolak terjadinya Peristiwa Bubat. Padahal peristiwa ini diuraikan dengan gamblang dalam Pararaton. Peristiwa Bubat menjadi satu segmen di Kitab Pararaton. Kitab ini juga yang memerikan kehidupan Ken Angrok dan para raja Singhasari dan Majapahit. Uraiannya telah diamini oleh para ahli sejarah kuno.

Sebaliknya, banyak pula yang berpendapat kalau kejadian ini tak perlu diingkari. “Jika hendak mempercayai berita Pararaton, mestinya semua bagiannya ikut pula dipercayai, jangan sepotong-sepotong. Kisah Ken Angrok yang penuh mistis dipercaya, sedangkan Pasundan-Bubat tidak, maka ini mengherankan,” kata Agus.

Baca juga: Panas-Dingin Hubungan Majapahit-Sunda

TAG

Majapahit Sunda Bubat

ARTIKEL TERKAIT

Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda Kerajaan Tarumanagara dalam Berita Cina Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon Naskah Pegon Tertua di Jawa Koko Koswara, Pembaharu Karawitan Sunda Memahami "Preman" yang Diberantas Gajah Mada Kala Sumedang Larang di Bawah Kuasa Mataram Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji Hikayat Putri Cempa dan Islam di Majapahit