Masuk Daftar
My Getplus

Jejak Langkah Gusmiati Suid

Sempat menjadi guru di Sumatra Barat, Gusmiati Suid memilih berhenti untuk fokus pada seni tari. Salah satu tokoh penting dalam seni tari kontemporer Indonesia.

Oleh: Amanda Rachmadita | 26 Jun 2023
Peluncuran buku Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi di Studio Tari Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (24/06/2023). (Amanda Rachmadita/Historia.ID).

NAMA Gusmiati Suid tak dapat dilepaskan dalam perkembangan seni tari Indonesia. Selama hidupnya, wanita kelahiran Batusangkar, Sumatra Barat, 16 Agustus 1942 itu aktif melahirkan karya-karya tari monumental seperti Kabar Burung (1997), Api dalam Sekam (1998), Asa di Ujung Tanduk (1999), hingga Menggantang Asap (2000). Tak heran, Ibu Yet, sapaan akrab Gusmiati, kemudian dikenal sebagai salah satu ujung tombak sejarah tari kontemporer di Tanah Air.

Perkenalan Gusmiati dengan tari dimulai sejak belia. Gusmiati muda kerap mengisi waktu luang dengan belajar menari. Salah satu tokoh yang menjadi mentornya adalah Huriah Adam, seorang penari dan koreografer asal Padang Panjang. Menurut peneliti dan kurator seni lepas, Helly Minarti dalam Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi, Huriah merupakan koreografer pascakolonial Indonesia pertama yang mengulik kedalaman khazanah tari dan kebudayaan Minang sebagai sumber inspirasi dan mentransformasikannya menjadi ekspresi artistik individual.

Selain tari, Gusmiati juga akrab dengan silek (pencak silat) sedari muda. Sejak usia empat tahun, putri tunggal pasangan Said Gasim Shahab dan Asiah itu menekuni silek dengan bimbingan sang paman, Wahid Sampono Alam, yang dikenal sebagai pendekar silek. Melalui silek, Gusmiati belajar mengamati dan memahami kehidupan, mengenal diri sendiri, serta memusatkan pikiran. Latihan-latihan itu pula yang menjadi modal dasar dalam perjalanan keseniannya di kemudian hari.

Advertising
Advertising

Baca juga: Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah

Beranjak dewasa, ketertarikan Gusmiati terhadap seni tari tak memudar. Ia mulai mencoba menciptakan koreografi yang berangkat dari gerakan silat. Kecintaannya terhadap tari bahkan mendorong lulusan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang itu berhenti menjadi guru dan mendirikan sanggar Gumarang Sakti pada 1982 di Batusangkar. Gumarang berasal dari nama binatang dalam legenda orang Minang.

Selang beberapa tahun setelah mendirikan sanggar, Gusmiati bersama anak-anaknya merantau ke Jakarta pada 1987. Di tahun yang sama, ia mengikuti Asian Festival of Theatre, Dance, and Martial Arts di Kolkata, India.

Kepindahan Gusmiati ke Jakarta membuka peluang dan kesempatan untuk berkembang dengan menciptakan karya-karya yang memukau khalayak luas. Setelah ambil bagian dalam pagelaran internasional di India, Gusmiati turut tampil dalam International Festival of Dance Accademies di Hongkong (1989) dan Recontres Internationales de La Baule di Prancis pada 1990.

Seiring waktu popularitas Gusmiati Suid dan Gumarang Sakti kian bersinar. Penampilan grup tari itu kerap mencuri perhatian dan menjadi perbincangan publik. Ketenaran yang diraih diiringi kritik dari sejumlah pihak. Di antaranya dari para elite Minang di Jakarta yang menganggap pertunjukan tari Gumarang Sakti kurang menarik dan kurang merepresentasikan Minang. Ada pula yang mengkritik kostum penari yang hitam kusam dan tak gemerlap seperti pakaian orang Minang.

Baca juga: Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah

Helly menyebut bahwa konsep diri Minang yang tercermin melalui rangkaian repertoar Gusmiati merupakan segala yang tampak bertentangan dengan referensi kultural Minang yang dominan pada masa itu, di mana tarian Minang umumnya menampilkan penari yang bergerak lincah gemulai mengikuti irama yang gembira serta mengenakan kostum gemerlap. Meski begitu kritik yang menyasar Gumarang Sakti tak membuat Gusmiati berhenti berkarya. Berbagai kritik justru dibungkam oleh Gusmiati saat grup tarinya sukses membawa pulang penghargaan Bessies Award dari New York Dance and Performance Award. Penampilan Gumarang Sakti yang menjadi salah satu perwakilan di Festival Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) pada 1991, dipandang sebagai pertunjukan terbaik yang dipentaskan di Kota New York tahun itu. Penghargaan tersebut semakin membuka kesempatan bagi Gusmiati dan Gumarang Sakti untuk unjuk penampilan di panggung internasional. Pada 1994, Gusmiati diundang tampil dalam festival Von Isadora zu Pina: 100 Jahre der Moderner Tanz yang dikuratori Jochen Schmidt di Jerman.

Kondisi sosial dan politik pada akhir 1990-an dan awal 2000-an memicu keresahan dalam diri Gusmiati. Ia mengekspresikan keresahan-keresahan itu dalam karya Api dalam Sekam yang menggambarkan peristiwa 1998. Karya terpanjang Gusmiati ini khusus diciptakan untuk tampil dalam ajang Art Summit Indonesia (ASI) edisi kedua tahun 1998.

Baca juga: Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda

Kiprah Gusmiati dalam seni tari serta prestasi-prestasi yang diraihnya bersama Gumarang Sakti menjadi bahasan dalam peluncuran buku Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi yang diterbitkan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) Society. Dalam acara yang diselenggarakan di Studio Tari Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (24/06/2023) itu ditampilkan demo gerak cuplikan karya Gusmiati Suid dan pemutaran video karya Gusmiati yakni Limbago (1987–1991) dan Seruan (1995–1997). Acara tersebut juga diisi dengan bincang buku yang dihadiri oleh Helly Minarti, salah satu penulis buku Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi, Diana Trisnawati, penanggung jawab arsip dan kelola buku Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi, komposer Epi Martison, serta Bondan Kanumoyoso, sejarawan dan dosen sejarah Universitas Indonesia.

Diana mengatakan buku ini disusun sebagai upaya mendokumentasikan peran serta kiprah Gusmiati Suid sebagai salah satu maestro tari Indonesia. Oleh karena itu, buku ini tak hanya berisi tentang karya-karya Gusmiati dan kenangan dari orang-orang terdekat mengenai sang maestro yang tutup usia pada 28 September 2001, tetapi juga menceritakan tentang latar belakang serta proses produksi dari karya-karya Gusmiati sejak di Sumatra Barat hingga merantau ke Jakarta dan Depok.

Baca juga: Nani Wijaya dari Tari ke Film

Sementara itu, Bondan menyebut buku ini menjadi saksi perjalanan Gusmiati yang mencoba memformulasikan kembali warisan budayanya. Menurutnya, Gusmiati bukan sekadar penari maupun koreografer, tetapi juga seorang pemikir budaya. “Gusmiati juga merupakan orang yang selalu berdiri di depan, berani untuk membuka jalan. Hal inilah yang membuat dia berbeda dan membuat kita terpana saat melihat karya-karyanya,” kata Bondan.

Tak hanya itu, Bondan juga mengungkapkan bahwa Gusmiati melalui karya-karyanya mencoba untuk mengangkat budaya Indonesia terlepas dari berbagai macam sekat. “Dan inilah yang selalu diupayakan oleh Gusmiati,” tambahnya.

Dengan demikian, Helly mengungkapkan bahwa buku ini tak sekadar mengenalkan sosok sang maestro dan grup tarinya, Gumarang Sakti, kepada masyarakat luas tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran bagi para penari maupun koreografer muda tentang sejarah tari Indonesia.*

TAG

tari buku

ARTIKEL TERKAIT

Lima Tokoh Bangsa Bibliofil Mata Hari di Jawa Roket Rusia-Amerika Menembus Bintang-Bintang Melawan Sumber Bermasalah Kisah Polisi Kombatan di Balik Panggung Sejarah Saatnya Melihat Indonesia dari Beraneka Sudut Pandang Anjing Super Penjaga Galaksi Tanneke Burki dari Balet ke Senam Seks Mengenal Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama yang Jadi Pahlawan Nasional Menengok Cerita dalam Tari Golek Ayun-ayun