Masuk Daftar
My Getplus

Ata Modo, Saudara Komodo

Mengenal Ata Modo atau penghuni awal Pulau Komodo. Hidup berdampingan dengan komodo. Kurang diperhatikan Kesultanan Bima.

Oleh: Hendaru Tri Hanggoro | 05 Nov 2020
Seorang penduduk Pulau Komodo menaiki perahu. (123rf,com).

P.A. Ouwens, kurator di Kebun Raya Buitenzorg, senang bukan kepalang menerima sepucuk surat dari koleganya di Flores, J.K.H. van Steyn van Hensbroek pada 1911. Steyn menyebut keberadaan seekor reptil raksasa di Pulau Komodo, sekarang bagian Nusa Tenggara Timur. Mereka kemudian datang ke pulau tersebut pada 1912 dan bertemu langsung dengan reptil itu.

Ouwens lalu menamai reptil itu sebagai varanus komodoensis dan mempublikasikan penelitiannya secara luas. Nama komodo berasal dari nama pulau habitat reptil itu. Sejak itu, dunia mulai mengenal komodo sebagai hewan purba dari timur Hindia. Berbagai macam publikasi terbit. Hampir semuanya tentang reptil purba itu.

“Tetapi di dalamnya hampir tidak ada perhatian yang diberikan kepada penduduk yang mendiami pulau itu, kecuali bila ada hubungannya dengan perlindungan sang varanus,” ungkap J.A.J Verheijen dalam Pulau Komodo: Tanah, Rakyat, dan Bahasanya. Padahal dari merekalah informasi awal tentang keberadaan ora, nama asli reptil tersebut, diberikan kepada peneliti.

Advertising
Advertising

Baca juga: Pertemuan Ilmuwan Amerika dengan Komodo

Penghuni awal Pulau Komodo menyebut dirinya sebagai ata modo. Temuan tengkorak-tengkorak manusia praaksara di pulau tersebut pada 1975 oleh A.A. Sukadana membuktikan mereka telah menghuni pulau sejak zaman neolitikum.

Dalam Tengkorak-Tengkorak Purba dari Pulau Komodo, A.A. Sukadana menyatakan ada kemiripan fisik antara temuan tengkorak tersebut dengan tengkorak purba di Anyer, Banten; Puger, Jawa Timur; Gilimanuk, Bali; dan Gua Alo, Flores. Ada kemungkinan penghuni awal itu kemudian menyeberang ke pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Rinca, Warloka, dan Donggo. Di pulau tersebut terdapat beberapa peninggalan zaman megalitikum.

Sementara itu, tradisi lisan ata modo menuturkan bahwa mereka berasal dari seorang perempuan bernama Umpu Najo. Dia tinggal di sebuah gunung dan mempunyai seorang putra yang menikah dengan perempuan bernama Epa. Dari Epalah lahir dua anak. Yang pertama berbentuk manusia, satunya lagi berupa ora.

Ayah dari dua anak ini hanya mengambil yang berbentuk manusia untuk dirawat. Ora lalu pergi ke hutan untuk hidup menyendiri. Karena itu, ata modo percaya bahwa ora adalah saudara kandungnya. Mereka hidup berdampingan berabad-abad. “Mereka tidak pernah membunuh naga komodo dan menyatakan naga itu belum pernah membunuh mereka,” catat Karl Brandt dalam “Mengapa Kebudayaan Masyarakat Kampung Komodo Terancam”.

Baca juga: Perlindungan Komodo dari Masa ke Masa

Kemudian datang manusia lain dari Sumba ke Pulau Komodo. Salah satunya dukun beranak. Dari orang Sumba inilah ata modo belajar persalinan alamiah. Mereka pun berbagi tempat dengan ata modo sejak zaman purba.

Hubungan ata modo dengan orang luar terekam juga dalam peninggalan gerabah keramik dari Tiongkok abad ke-13. Temuan ini mirip dengan keramik di Pulau Rinca dan Warloka. Verheijen menyebut adanya bukti peradaban dan hubungan antara Pulau Komodo dan sekitarnya dengan Tiongkok.

Keterangan lebih terang tentang aktivitas ata modo dapat diketahui secara lebih jelas pada masa penguasaan Kesultanan Bima terhadap wilayah ini sejak abad ke-14. Bersama itu, agama Islam turut masuk ke Pulau Komodo. Dari naskah-naskah lama tentang Kesultanan Bima, tersua keterangan tentang mata pencarian ata modo. Mereka nelayan ulung dan mampu membuat sampan-sampan kecil.

Ata Modo juga karib dengan sistem pertanian khas yang disebut lingko (lingkaran) dan perkebunan. Mereka telah mengenal manfaat dan jenis-jenis tanaman secara turun-temurun. Makanan utama mereka beras, sagu, dan jagung. Mereka lazim pula memanjat pohon asam saat musim panen tiba dan menjualnya kepada pedagang dari Ende.  

Populasi ata modo tak banyak bertambah. Tempat tinggal mereka relatif jauh dari pusat Kesultanan. “Karena pulau itu jauh sekali dari Bima, urusannya kurang diperhatikan oleh Kesultanan itu,” tulis Karl Brandt.

Baca juga: Perjalanan Habitat Ora atau Komodo Menjadi Tempat Wisata

Bajak laut pun sempat menjadikan Pulau Komodo sebagai pangkalan operasi mereka sepanjang abad ke-19. “Untuk menyerang desa-desa di pantai utara Sumba dan menangkap penduduknya untuk dijadikan budak yang diperjualbelikan,” sebut Didik Pradjoko dan Bambang Budi Utomo dalam Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia.

Selain itu, Pulau Komodo juga sempat menjadi tempat bagi orang-orang buangan. “Mereka adalah orang-orang yang menjadi budak akibat hutang dan orang hukuman yang berada di bawah pengawasan wakil dari Kesultanan Bima,” tambah Didik dan Bambang.

Memasuki abad ke-20, ata modo mulai lebih sering berinteraksi dengan orang-orang dari luar pulaunya. Orang-orang itu datang untuk menggali keterangan tentang ora. Kemudian ide pengembangan wisata ikut muncul. Infrastruktur seperti jalan dan sekolah mulai dibangun. Tapi fasilitas kesehatan masih sangat minim sampai 1970-an.

“Hanya dua kali setahun dikunjungi oleh dokter dan di sana tidak ditempatkan tenaga perawat,” terang Verheijen. Meski begitu, ata modo jarang sakit. “Di sini pasti ada lapangan penelitian yang menarik bagi ahli eugenetika dan pada dokter,” sambung Verheijen.

Baca juga: Komodo-komodo Hadiah Presiden Soeharto

Seiring perhatian pemerintah Orde Baru pada pengembangan sektor pariwisata, transportasi menuju Pulau Komodo kian terjangkau. Verheijen menyebut masuknya bisnis pariwisata ke pulau ini sebagai masa baru bagi ata modo. Dia mengkhawatirkan agitasi pariwisata terhadap bahasa dan kebudayaan ata modo.

“Ada bahaya bahwa pertanian, perikanan, pengumpulan di pantai dan di darat, serta kebebasan gerak penduduk pada umumnya akan lebih dibatasi lagi. Dengan demikian hancurlah hak mereka atas karya, tradisi, dan lingkungan hidup bebas,” ungkap Verheijen.

Tapi sejauh pengamatan Verheijen hingga 1980-an, pemerintah terlihat masih berusaha mempertahankan hak-hak penduduk Komodo. Kemudian zaman bergulir dan pemerintahan berganti. Pada 2019, muncul wacana relokasi ata modo ke pulau lain. Alasannya Pulau Komodo menjadi kawasan konservasi ora dan ata modo tak punya sertifikat legal atas tanah tersebut.

Sejak itulah muncul pro-kontra tentang pengembangan daerah tersebut. Antara mendahulukan kepentingan pariwisata, hewan, atau manusianya. Sejak jauh hari, Verheijen telah mengingatkan, “Kepentingan manusia harus didahulukan.”

TAG

komodo

ARTIKEL TERKAIT

Pemerintah Kolonial Libatkan Masyarakat dalam Kawasan Konservasi Perlindungan Komodo dari Masa ke Masa Komodo-komodo Hadiah Presiden Soeharto Perjalanan Habitat Ora atau Komodo Menjadi Tempat Wisata Pertemuan Ilmuwan Amerika dengan Komodo Ratna Assan, Gadis Cilik Penyambut Sukarno di Amerika PlayStation dan Nostalgia Mainan Anak-anak 1990-an Dakocan dari Boneka ke Lagu Anak-anak Ria Jenaka, Panakawan, dan Pesan-pesan Pemerintah Orde Baru Kembali ke Sunda Kelapa