Masuk Daftar
My Getplus

Kala Penduduk Tionghoa di Batavia Dipimpin Wanita

Kematian Kapitan Gan Dji Ko menyebabkan kekosongan pemimpin Tionghoa di Batavia. Istrinya mengambil alih sebagai kapitan tapi dipuji sekaligus dikritik.

Oleh: Amanda Rachmadita | 20 Mar 2023
Lingkungan Tionghoa di Batavia antara tahun 1900 dan 1940. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).

ISTILAH Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Bugis, hingga Kampung Bali, tak asing lagi bagi warga Jakarta. Beberapa wilayah di ibu kota masih dinamai sesuai istilah-istilah tersebut. Pada masa awal pendirian kota Batavia, penduduk menghuni wilayah yang telah ditentukan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, permukiman penduduk dikenali berdasarkan kelompok atau etnis penghuninya.

Kampung-kampung tersebut dipimpin oleh kepala yang memiliki wewenang mengatur berbagai hal, mulai dari administrasi, ekonomi, keamanan, hingga pembagian warisan, perkawinan, dan perceraian. Arsiparis cum sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menyebut kepala permukiman oleh penguasa VOC diberi jabatan dengan pangkat kapitan atau letnan.

Seperti penduduk di kampung-kampung lain, warga Tionghoa di Batavia juga dipimpin oleh kapitan. Nama besar yang menjabat kapitan Tionghoa di antaranya Souw Beng Kong, seorang saudagar sukses yang berpengaruh, dan Phoa Beng Gan, ahli irigasi yang membangun sejumlah kanal di Batavia.

Advertising
Advertising

Baca juga: Hikayat Gedung Para Kapiten

Souw Beng Kong diangkat sebagai kapitan Tionghoa pertama pada 11 Oktober 1619. Prosesi pengangkatannya dirayakan dengan pesta meriah dan perjamuan makan dengan mengundang para pembesar VOC. Yang menarik, menurut Mona, jabatan kapitan Tionghoa sangat tergantung kepada kemauan dan perhatian gubernur jenderal. “Dari tahun 1619 sampai 1666 hanya ada satu Kapitan Cina yang diangkat oleh VOC,” kata Mona. “Berturut-turut adalah: Souw Beng Kong, Lim Lacco, Phoa Bing Gam, dan Gan Dji Ko (Siqua).”

Setelah Gan Dji Ko meninggal tahun 1666, jabatan kapitan Tionghoa dibiarkan kosong. Hal itu karena Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker menganggap tidak perlu ada kapitan Tionghoa. Ia juga tak mau ambil pusing dengan segala urusan warga Tionghoa.

Meski tak ada pengangkatan kapitan Tionghoa baru, tugas kapitan Tionghoa tetap dijalankan oleh istri Gan Dji Ko. Mengutip majalah Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Vol. 80-81 tahun 1924, janda Gan Dji Ko yang merupakan seorang selir memegang kendali kepemimpinan selama 12 tahun sejak 1666 hingga 1678.

Baca juga: Rumah Merah Kapitan Lim

Sejarawan Leonard Blussé dan Nie Dening dalam The Chinese Annals Of Batavia: The Kai Ba Lidai Shiji And Other Stories (16101795) menulis, sepeninggal Kapitan Siqua pada 26 April 1666, jandanya, Niai d’Siko bertindak sebagai kepala orang Tionghoa selama dua belas tahun sebelum ia meninggal pada Desember 1678. Kapitan Siqua memiliki empat istri, tiga istri Bali dan satu istri Tionghoa di Tiongkok. Niai d’Siko merupakan istrinya dari Bali. Dari pernikahan tersebut, keduanya tak memiliki anak.

Kepemimpinan Niai d’Siko tak berjalan mulus. Meski beberapa pihak memujinya karena mampu membawa diri serta penilaiannya yang jelas dan adil, tapi tak sedikit pula orang yang mengkritiknya. Menurut Mona, salah satu yang kerap menjadi kritikan adalah status dan latar belakangnya sebagai seorang selir dan awalnya budak dari Bali.

Rohaniwan cum sejarawan Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta menyebut, meski ia pandai, bijaksana, dan tegas, tapi bagi sebagian orang kepemimpinannya berarti menjungkirbalikan yin dan yang, karena seorang wanita memberi perintah pada bawahan laki-laki. Hal ini dianggap tidak seperti semestinya. Selain itu, ada pula yang mengkritiknya karena ia tidak mengerti syair, musik, dan nilai-nilai luhur bangsa Tionghoa. Kritik yang menganggap bahwa seorang wanita tak dapat memerintah, walaupun ia diakui bijaksana dan pandai, dikuatkan dengan membengkokan sejarah Tiongkok: Ratu Wu-zetian dari wangsa Tang sebagai contoh buruk, walaupun ia menjalankan pemerintahan lebih baik daripada pria sezamannya.

Baca juga: Kepala Kampung Jawa Dihukum Mati dengan Keji

Kritikan bersifat patrilineal itu mendorong penduduk tertua dan mapan meminta kepada pemerintah kolonial untuk memiliki pemimpin laki-laki. “Setelah beberapa kali musyawarah, telah disepakati untuk mengadakan pemilihan kapten dan kepala baru bagi orang Tionghoa,” tulis Blussé dan Dening.

Akhirnya, menurut Mona, sesudah Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker diganti, posisi kapitan Tionghoa dikembalikan. Bahkan jumlah opsir ditambah karena urusan warga Tionghoa meningkat dan bermacam-macam masalah, sejalan dengan makin besarnya jumlah mereka di Batavia. Pada 1678 diangkat kapitan Tionghoa baru, yakni Tjoa Hiang Giok, dibantu seorang letnan dan seorang sersan. Pengangkatan Kapitan Tjoa Hiang Giok sebagai pemimpin penduduk Tionghoa di Batavia mengakhiri kontroversi kepemimpinan janda Kapitan Siqua, yang meski dikagumi tapi juga kerap jadi bulan-bulanan kritik penduduk laki-laki.*

TAG

tionghoa batavia

ARTIKEL TERKAIT

Om Genit Mata Keranjang Mencari Pasangan Lewat Koran Samsi Maela Pejuang Jakarta Njoo Han Siang, Pengusaha yang Tak Disukai Soeharto Mencari Ruang Narasi Peran Etnik Tionghoa dalam Sejarah Bangsa Tak Bisa Bayar Utang Dipenjara di Ruang Bawah Tanah Berburu Binatang Berhadiah Uang Kebun Binatang Zaman VOC Dari Guci Jadi WC Pajak Judi Masa Kompeni