Masuk Daftar
My Getplus

Samsi Maela Pejuang Jakarta

Dia memimpin gerakan bawah tanah di Jakarta. Bersama kelompoknya, gerakannya merepotkan Belanda.

Oleh: Petrik Matanasi | 28 Des 2023
Laskar perjuangan pada masa revolusi fisik. (Repro 30 tahun Indonesia Merdeka 1945-1949).

SEBUAH gubuk di daerah kampung di Jembatan Lima menarik perhatian aparat polisi Belanda di daerah pendudukan Jakarta. Sebagian polisi itu pun bergegas masuk ke gubuk itu. Setelah gubuk itu dimasuki, mereka menemukan seorang laki-laki kurus yang terbaring di sebuah dipan. Di dekat laki-laki itu terdapat sebuah dokumen yang tidak diketahui asal-usulnya. Laki-laki kurus itu mulanya mengaku tidak tahu apa-apa.

Cahaya di dalam gubuk pun kemudian makin terang benderang. Salah seorang polisi di dalam kemudian terkejut. Kata polisi yang terkejut itu, orang yang terbaring itu adalah Moestapha Doela alias Mustofa Dulah, orang yang mereka cari-cari.

Belanda sedang mujur. Aparat keamanannya di Betawi berhasil membekuk orang yang mereka anggap sebagai pemimpin geng teroris di Betawi sekitar akhir Agustus 1948. Moestapha Doela alias Mustofa Dulah adalah ketua geng Kelelawar. 

Advertising
Advertising

Penangkapan itu jelas menjadi berita koran berbahasa Belanda era 1940-an. Koran Het Dagblad edisi 26 Agustus 1948 menyebut, kebanyakan orang tak kenal siapa Moestapha Doela alias Mustofa Dulah. Orang lebih kenal Samsi Maela, seorang petinju terkenal sebelum 1945. Padahal, tulis De Locomotief tanggal 5 September 1948, Moestapha Doela hanya nama samaran dan Samsi Maela adalah nama aslinya. Di zaman Jepang, dia pernah menang bertinju di Variapark, Jakarta.

Menurut pihak Belanda, sang ketua gerombolan Kelelawar itu sangat ingin orang lupa bahwa namanya Samsi Maela. Di zaman Jepang, posisi Samsi Maela tak disukai oleh pihak Belanda. Menurut pihak Belanda, ia pernah ingin dekat Kempeitai (Polisi Militer Jepang) namun dia kemudian menjadi Kempeiho (pembantu polisi militer Jepang).

Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, Samsi Maela berdiri di belakang Republik Indonesia. Dia jadi intel dan mendapat pangkat letnan. Meski pusat Republik Indonesia sudah berpindah ke Yogyakarta dan kota Betawi (alias Batavia, kini Jakarta) menjadi daerah pendudukan tentara Belanda, Samsi tetap tinggal di Betawi. Koran De Locomotief menyebut Samsi ditugasi menguasai kota Batavia untuk Republik Indonesia.

Bersama geng Kelelawarnya, Samsi mengadakan banyak gangguan yang merugikan pihak Belanda di Jakarta. Samsi pernah mencoba menyerang bengkel MTD di Struiswijk, sekitar Gang Tengah dekat Salemba arah Percetakan Negara. Serangan itu gagal total dan banyak orang-orangnya ditangkapi aparat Belanda.

“Mustafa sudah lama dengan berhasil mengadakan gerakan di bawah tanah, dan juga dalam memperoleh senjata,” catat Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Pemberontakan PKI 1948.

Samsi sendiri akhirnya tertangkap. Setelah menangkap Samsi, aparat Belanda menyita beberapa senjata dan peluru yang disembunyikan dalam banyak kaos kaki. Dalam beberapa penggeledahan pada akhir Agustus 1948, Belanda menangkap 51 orang. Namun pihak Belanda sulit melacak gerakan bawah tanah lain.

Samsi dikaitkan pula dengan organisasi Pasoekan Brani Mati. Organisasi ini mendapat pasokan granat tangan pada 1948 dari orang-orang yang bekerja di bawah Samsi. Dari penyelidikan Belanda, Samsi dianggap lebih sebagai orang di belakang layar saja. Selain itu, Samsi dianggap sebagai orang yang jago menghilang.

Samsi pun mendekam dalam penjara. Ia baru bebas setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada akhir 1949.*

TAG

perang kemerdekaan sejarahjakarta sejarah-batavia sejarah-betawi

ARTIKEL TERKAIT

Pengkhianatan VOC Terhadap Joncker Kala Kolera Menyerang Batavia Kecakapan Elie Ripon Sang Sersan Swiss di Banda Kecelakaan Helikopter di Puncak Korps Nyonya Belanda Salim Said Meninggal Dunia Gugurnya Arung Rajang Komandan Polisi Istimewa Digebuki Anggota Laskar Naga Terbang Eks Pesindo Sukses Ibu dan Kakek Jenifer Jill