Masuk Daftar
My Getplus

Riwayat Perakit Pesawat

Jauh sebelum B.J. Habibie, Indonesia punya Achmad bin Talim. Perakit pesawat lulusan sekolah teknik zaman Belanda.

Oleh: Petrik Matanasi | 28 Feb 2023
Achmad bin Talim. (mylesat.com).

Pada zaman Hindia Belanda, di Bandung hiduplah seorang juragan roti dan daging kaya raya yang sangat ingin membuat pesawat terbang sendiri. Ia adalah Kho Kee Hien. Juragan ini rela menggelontorkan uang yang sangat banyak untuk membuat sebuah pesawat.

Untuk itu, ia bekerja sama dengan para ahli dari Militaire Luchvaart (ML) alias Jawatan Penerbangan dari Koninklijk Nederlandsch Indishe Leger (KNIL) di Bandung. Untuk desain pesawat dipercayakan kepada L.W. Walreven dan M. Pattist. Sedangkan untuk perakitan diserahkan kepada seorang pemuda berusia 25 tahun bernama Achmad bin Talim, yang dibantu beberapa asisten. Pada 1935, pesawat itu berhasil mengudara. Pesawat ini bukan satu-satunya yang dirakit Achmad dkk.

Baca juga: Pesawat Pertama Buatan Hindia Belanda

Advertising
Advertising

Achmad juga teknisi di ML-KNIL. Pemuda jebolan sekolah teknik ini sejak umur 16 tahun sudah bekerja di bengkel penerbangan KNIL di Andir, Bandung. Dalam hal perakitan pesawat, Achmad memulai dari nol.

“Mulai pekerjaan dari kikir mengikir. Sejak kecil ingin mempelajari teknologi pesawat terbang. Pemuda pendiam, tekun, cekatan dan suka belajar sendiri ini, berupaya cepat mahir dan dipercaya sebagai teknisi pesawat,” catat B. Setyodji di majalah Mutiara No. 278, 29 September–12 Oktober 1992. Achmad mungkin tidak suka terbang, namun beberapa kali ia harus ikut terbang ketika pesawat itu diuji.

Gaji Achmad tak setara dengan sesama teknisi pesawat bangsa Belanda. Gaji orang Belanda lebih tinggi daripada orang Indonesia meski kemampuan orang Indonesia lebih baik.

Setelah Hindia Belanda kalah, Achmad kehilangan gaji bulanannya. Tentara Jepang memanfaatkan tenaganya dengan upah yang ala kadarnya. Ia kerap disuruh memperbaiki pesawat. Termasuk pesawat bomber Blenheim milik Sekutu yang berada di Cilacap dan kemudian Jepang membawanya ke negeri mereka.

Baca juga: Dua Satu Tiga Puluh Pesawat Jet Buatan Anak Negeri

Setelah Jepang kalah, Achmad sempat jadi petani untuk bertahan hidup sampai datang kawan bernama Tosin dan Dedeh yang mengajaknya ke Yogyakarta. Ketika Achmad tiba di Yogyakarta, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) mendirikan Biro Rencana dan Konstruksi yang merawat, memperbaiki, dan membuat pesawat, di Pangkalan Udara Maospati, Madiun. Biro ini dipimpin oleh Wiweko Supono dan Nurtanio.

“Kemudian Achmad bin Talim melanjutkan karier di AURI, membantu Opsir Udara III Wiweko Supono dalam pembuatan pesawat RI-X di Madiun. Ia juga ikut berperan dalam pembuatan pesawat Si Kumbang, Belalang, Kepik, dan Kunang,” catat Irna Hadi Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945–1950. Achmad diberi pangkat ajudan udara, yang kini kira-kira setara dengan pembantu letnan satu di AURI.

Baca juga: Nurtanio, Patriot Udara Indonesia

Setelah Yogyakarta diduduki Belanda pada akhir 1948, Achmad kembali ke Jawa Barat. Ia menjadi guru pada sebuah sekolah teknik di Cibadak. Achmad pernah diajak militer Belanda untuk bekerja di bengkel pesawat, namun ia menolak.

Setelah kedaulatan Indonesia diakui Belanda pada 27 Desember 1949, Achmad dipanggil lagi masuk AURI. Ia kembali ke bengkel pesawat untuk kepentingan Indonesia. Ia bekerja di AURI sekitar 16 tahun.

Pada 1966, Achmad bin Talim pensiun dari AURI dengan pangkat terakhir mayor. Setelah pensiun, ia menjadi tukang las besi.*

TAG

pesawat achmad bin talim

ARTIKEL TERKAIT

Pesawat Multifungsi Tulang Punggung Matra Udara Jerman Nasib Nahas Kapten Mussolini Marcel Dassault dan Jet Tempur Kebanggaan Prancis Pembajak Pesawat Garuda Woyla Tuntut Tebusan 1.5 Juta Dolar Amerika Si Jago Udara di Bawah Panji Swastika Jenderal Nasution Terseret Kasus Pembajakan Pesawat Garuda Alkisah Jago Udara yang Di-Grounded Gegara Sepakbola Kisah Bule Nekat di Pesawat Garuda Woyla Kala Pesawat Jet Mengudara Perdana Netanyahu Bersaudara dalam Pasukan Khusus Israel