Masuk Daftar
My Getplus

Wiji Thukul di Mana Rimbanya?

Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan, kita akan terus bergulat, pesan aktivis Wiji Thukul lewat puisinya untuk adiknya.

Oleh: Randy Wirayudha | 28 Agt 2023
Aktivis Wiji 'Thukul' Widodo yang statusnya masih hilang sampai saat ini (Ilustrasi: M. A. Yusuf/Historia)

WAHYU Susilo berdiri tegak di muka panggung. Melipat tangan kirinya ke punggung tetapi mantap memegang sebuah catatan di tangan kanannya. Dengan ekspresi tegar ia pun melantangkan sebuah puisi di depan mikrofon.

Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?

Oh, tidak, dik!

Advertising
Advertising

Kita akan terus melawan.

Waktu yang bijak bestari kan sudah mengajari kita.

Bagaimana bertahan menghadapi derita.

Kitalah yang akan memberi senyum kepada masa depan.

Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan.

Kita akan terus bergulat.

Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?

Oh, tidak, dik!

Kita harus membaca lagi.

Agar bisa menuliskan isi kepala dan memahami dunia.”

Baca juga: Hanyut dalam Nyanyian Akar Rumput

Potongan puisi bertajuk “Puisi untuk Adik” itu dibacakan Wahyu di hadapan ratusan aktivis yang menghadiri acara peringatan 60 tahun Wiji Thukul, “Selamat Ulang Tahun Wiji Thukul, Kau di Mana?”, di Galeri Nasional, Sabtu (26/8/2023). Tak hanya diramaikan pembacaan puisi, acara tersebut juga diisi penampilan musik dan pemutaran film biopik Istirahatlah Kata-Kata (2016) karya sineas Yosep Anggi Noen.

Dari sekian karya puisi Wiji Thukul, puisi yang dibacakan Wahyu punya arti tersendiri. Sebagaimana tajuknya, “Puisi untuk Adik” memang puisi yang dibuat khusus oleh Wahyu kala mengenyam pendidikan tinggi.

Wiji Thukul genap berusia 60 tahun jika ia tak dihilangkan paksa oleh rezim Orde Baru (Orba). Ia termasuk dari 13 aktivis yang hingga kini masih dilaporkan hilang, entah masih hidup atau sudah tinggal nama.

Wahyu Susilo membacakan "Puisi untuk Adik" di peringatan 60 Tahun Wiji Thukul (Instagram @wahyususilo)

Semenjak 1990-an, Thukul memang acap menembakkan “peluru-pelurunya” via puisi sebagai perlawanan terhadap rezim korup Orba. Terakhir kali ia terlihat membacakan puisi di depan umum yakni pada deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 22 Juli 1996 yang membuatnya jadi orang buruan lepas Peristiwa Kudatuli (27 Juli 1996).

Anggota keluarganya masih sempat bertemu Thukul secara sembunyi-sembunyi medio 1998. Tetapi pada 1999 dan 2000, Thukul dinyatakan termasuk ke dalam 13 aktivis yang hilang baik oleh tim investigasi PRD, Komnas HAM, maupun Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS).

Sejak 2007, DPR RI sudah membentuk Panitia Khusus Penanganan Peristiwa Penghilangan Paksa. Namun empat butir rekomendasinya –yakni Presiden membantuk Pengadilam HAM Ad Hoc, membentuk tim pencarian aktivis yang hilang, memberikan reparasi dan kompensasi kepada keluarga korban, dan ratifikasi Konvensi Anti-Penghilangan Paksa– tak jua dipenuhi baik oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkuasa dua periode (2004-2014) maupun pemerintahan Joko Widodo (2014-2024). Oleh karenanya, gelaran di atas jadi pengingat buat pengausa, bahwa jangan melupakan amanah penuntasan kasus penghilangan paksa itu.

Baca juga: Mereka yang Diburu Pasca Kudatuli

Wiji Thukul dalam Ingatan

Nama aslinya Widji Widodo. Imbuhan nama “Thukul” adalah pemberian dari Cempe Lawu Warta yang merupakan anggota Bengkel Teater kepada Wiji muda semasa sekolah.

Lahir di Solo, 26 Agustus 1963 sebagai putra sulung dari tiga bersaudara pasangan Sayem dan Kemis Harjosuwito, Thukul sedari kecil sudah dekat dengan dunia seni. Menurut Wahyu, kala berbincang dengan Historia di sebuah toko buku di Matraman, Jakarta Timur, medio Januari 2020, bukan hanya Thukul yang suka seni. Dua adiknya, Nasri Nugroho dan Wahyu Susilo, juga sudah intim dengan dunia seni sedari kecil. Keintiman itu diturunkan dari ayah mereka, yang penggiat seni musik lokal, kendati Kemis hanya bermatapencaharian sebagai penarik becak.

“Seingatku juga pernah ikut kesenian di desa, bapakku itu. Ya mungkin di zaman lalu, berkesenian di desa itu biasa selain narik becak,” kenang Wahyu.

Baca juga: Mengintip Belakang Layar Nyanyian Akar Rumput

Darah seni itu menuntun Thukul mengasah bakat seninya selama bersekolah di SMP Negeri 8 Solo hingga Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Dia bergabung ke dalam paduan suara paroki, seni tari, hingga teater.

“Sejak kecil (Thukul) sudah kreatif. Relijius juga. Sering ke gereja, makanya sebenarnya aktivitas seninya karena pengaruh gereja. Dia anggota paduan suara, anggota teater Paroki, sampai dia masuk ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia,” imbuh Wahyu.

Orangtua Wiji Thukul, Sayem (tengah) dan Kemis Harjosuwito (kedua dari kanan) (Dok. Wahyu Susilo)

Semasa bersekolah itu pula Thukul mulai mengenal sejumlah seniman teater, seperti Lawu Warta yang juga merupakan pendiri Teater JAGAT (Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak). Saking aktifnya di teater, Thukul sampai drop out dari SMKI dan tak meneruskan sekolah.

“Dia lebih sering di sini dibanding di rumahnya. Ruangan ini tempat favoritnya. Dia biasa membaca dan tidur di sini,” kata Lawu mengenang bekas rumah sanggar Teater JAGAT di Jebres, Solo, sebagaimana dikutip buku Wiji Thukul, Teka-teki Orang Hilang.

Baca juga: Kritik Lewat Aneka Gerak Estetik

Lawu juga terkenang bahwa salah satu “metode” untuk mendongkrak rasa percaya diri Thukul dalam berteater, ia diajak “ngamen” membacakan puisi dari kampung ke kampung. Tempaan itulah yang membuat Thukul kemudian bak kempompong yang menetas menjadi kupu-kupu ketika tampil di muka umum, baik lewat pentas teater maupun berpuisi.

“Pada dasarnya Thukul penakut dan minderan karena sejak kecil mungkin jadi bahan olok-olok teman-temannya,” tambah Lawu.

Wiji Thukul meneruskan aktivitas teaternya dengan membuka Sanggar Suka Banjir (Dok. Wahyu Susilo)

Di Teater JAGAT juga kemudian Thukul bertemu Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang kemudian jadi pendamping hidupnya. Sebagai konsekuensinya, Thukul mesti keluar.

“Karena di Teater JAGAT ada aturan anggotanya enggak boleh menikahi sesama, akhirnya Mas Thukul keluar dan membuat Sanggar Suka Banjir,” ujar Sipon dalam cuplikan di film dokumenter Nyanyian Akar Rumput (2020) karya sineas Yuda Kurniawan.

Thukul lalu mendirikan Sanggar Suka Banjir. Sejak saat itu dia makin vokal menyuarakan keresahan terhadap realitas yang dilihatnya lewat puisi-puisinya. Hal itu membuat ia dan keluarganya diteror dan diintimidasi rezim Orba.

“Sebenarnya sudah mengalami represi sejak lama. Awal 1990-an (kasus penolakan pembangunan waduk) Kedung Ombo, rumah disatroni,” sambung Wahyu lagi.

Baca juga: Lebaran dan Natalan Terakhir Bersama Wiji Thukul

Pasca-Peristiwa Kudatuli, Thukul menjadi buron. Meski sempat beberapa kali bertemu keluarganya, Thukul dinyatakan hilang sejak Maret 2000.

“Di film Istirahatlah Kata-Kata di situ digambarkan dia (kabur) sampai ke Kalimantan, lalu balik lagi beraktivitas di bawah tanah. Sempat ketemu (Oktober) 1997 di restoran Padang (di Matraman). Terakhir ketemu (secara) fisik waktu Natalan, sekaligus Lebaran 1998,” tambahnya.

Dari investigasi KontraS, Wahyu menjelaskan, ada gerakan-gerakan militer yang melakukan penculikan di senjakala rezim Soeharto. Beberapa aktivis diketahui tewas dibunuh dan 13 lainnya, termasuk Thukul, masih dinyatakan hilang dan terus pernah diungkap sehingga masih menjadi misteri sampai kedua orangtuanya wafat  dan disusul istrinya Sipon pada Januari 2023. Wahyu dan kedua anak Thukul: Fajar Merah dan Fitri Nganti Wani, yang tersisa masih terus berjuang mencari di mana gerangan Thukul berada.

“Bapak (Kemis) meninggal 2005, ibu meninggal 2007. Sampai hari terakhir masih menanyakan (Thukul). Dulu harapannya memang Mei 1998 (Era Reformasi) pulang. Itu selalu tanya, selalu cari. Kita hanya bisa bilang: belum pulang. Kita enggak ingin menyampaikan (penghilangan) itu secara politik,” tandas Wahyu.

Baca juga: Catatan Seorang Aktivis: PRD dan Penggulingan Soeharto (1)

Baca juga: Catatan Seorang Aktivis: PRD dan Penggulingan Soeharto (2)

TAG

aktivis puisi orde-baru orde baru wiji thukul

ARTIKEL TERKAIT

Nasib Tragis Sophie Scholl di Bawah Pisau Guillotine Zainal Zakse, Aktivis yang Melankolis Setelah Rohayan Menembak Soeprapto PRD dalam Pemilu 1999 Jalan Try Sutrisno ke Kursi RI 2 Maria Amin, Penyair Wanita Zaman Jepang Gerakan Aldera Melawan Orba AKU Gold dan Kisah Penipuan Tambang Emas di Kalimantan Berpulangnya Presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi