Masuk Daftar
My Getplus

Persahabatan Dua Insan Bumiputra Beda Pandangan Politik Usai Peristiwa Olo

Peristiwa penyerangan terhadap orang Belanda di Padang membuat mantan tentara KNIL kembali aktif. Namun rasa kemanusiaannya membuatnya bersikap baik kepada pejuang RI.

Oleh: Petrik Matanasi | 29 Des 2023
Serah terima KNIL ke APRIS dalam sebuah acara di Muara Enim, Sumsel, 1 April 1950 (Ilustrasi foto: Arsip Nasional Belanda)

Sjahril sudah hidup enak setelah “pensiun” dari tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Dapurnya bisa tetap “ngebul” lantran dia tetap bekerja di tempat lain. Namun, sebuah peristiwa mengusik batinnya. Dia pun kembali mengenakan seragam KNIL-nya yang telah lama ditanggalkan.

Peristiwa itu terjadi di Olo. Olo adalah sebuah daerah di sisi barat bagian selatan kota Padang, Sumatra Barat. Setelah tentara Jepang kalah, banyak orang Belanda memilih tinggal di daerah itu. Mereka berseberangan pandangan politik dengan pemuda-pemuda pro-Republik Indonesia. Maka setelah 1945 hubungan orang Belanda dengan pemuda setempat tidaklah baik.

Pada 25 November 1945, sepreti dicatat Pramoedya Ananta Toer dkk dalam Kronik Revolusi Indonesia 1945, karena orang-orang Belanda itu dianggap menghina kemerdekaan Indonesia, rumah-rumah mereka itu dibakar oleh pemuda-pemuda Indonesia. Peristiwa ini membuat Sjahril terenyuh.

Advertising
Advertising

Sjahril berada di Padang pada zaman pendudukan Jepang. Dia bisa bekerja di Padang berkat bantuan orang-orang Indonesia yang bekerja di perusahaan keretaapi. Dia pun jadi aman dari gangguan tentara Jepang.

Namun, Peristiwa Olo membawanya berseberangan dengan orang-orang yang menolongnya di zaman Jepang. Dalam pandangannya, kebencian kepada orang Belanda tentu bisa menular kepada kebencian terhadap orang-orang yang bekerja pada Belanda. Sjahril adalah bekas sersan KNIL, jadi bisa saja dia menjadi sasaran kebencian karena masa lalunya.

“Itulah yang mendorongnya kembali ke KNIL dan bertugas di Sibolga sebagai bintara (sersan) di Bataljon Inlichtingen en Veiligheidsgroep (BIVG),” catat Soewardi Idris dkk. dalam Pengalaman Tak Terlupakan Pejuang Kemerdekaan Sumbar-Riau. BIVG adalah satuan intel dan keamanam batalyon yang kerap memeriksa tawanan dan rakyat sipil di daerah pendudukan.

Kala itu Belanda dengan mudah menerima siapa saja orang Indonesia yang mau bekerja untuk mereka. Bredasche Courant edisi 13 Januari 1947 menyebut, di Padang terdapat para bekas romusha (pekerja paksa) asal Jawa yang dijadikan serdadu KNIL. Mereka dikumpulkan oleh Letnan AL de Boer. Kolonel Scholten, salah satu komandan tentara Belanda di Sumatra, kemudian memberi izin untuk merekrut mereka semua di dalam sebuah kompi KNIL, yang awalnya dipersenjatai pentungan itu. Sjahril, yang berpangkat sersan mayor KNIL, dalam posisi seperti bekas romusha yang buta politik itu.

Suatu kali, Sjahril bertemu seorang tawanan perang bernama Isma Azir. Dia perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pernah dilatih sebagai perwira dalam pelatihan Opsir Divisi IX. Isma ditangkap Belanda pertengahan 1949, ketika bersama Nalis kawannya hendak pergi ke Aceh. Sjahril menjemputnya di pelabuhan karena Isma baru saja turun kapal dari arah Padang. Setelah bertemu, Isma tentu saja diperiksainya.

Sjahril memeriksa Isma dengan seksama. Sjahrir tentu menjaga jarak dengan tawanannya itu. Dalam pemeriksaan itu, Isma menceritakan bahwa perjuangan pemuda Indonesia begitu menggebu-gebu. Sjahril pun dibuat menaruh hormat pada lawannya itu.

Keramahan Sjahril terlihat oleh Isma ketika Sjahril dipanggilnya sebagai letnan. Sel untuk menahan para pejuang Indonesia di Sibolga rupanya telah penuh. Kondisi tersebut mendorong Sjahril menawarkan rumahnya sebagai tempat Isma. Namun Isma menolak.

“Saya mengenal daerah ini. Saya bisa melarikan diri dan mayor bisa mengalami kesulitan,” kata Isma kepada Sjahril, yang menyingkat sebutan Sersan Mayor dengan Mayor.

Sjahril tetap berusaha menolong Isma sebagai manusia. Sjahril berusaha mencarikannya tempat yang lebih baik daripada sel tahanan yang sempit itu. Sjahril berusaha membuat Isma lebih baik sebelum dipindahkan ke kota Medan, tempat tawanan lebih lanjut pihak Belanda.

Isma kemudian bebas dan sempat meneruskan karier militernya sebentar. Kecelakaan dalam terjun payung di Cimahi pada 1951 membuatnya terluka parah parah.

Isma kemudian dirawat di rumah sakit Cimahi. Ketika dalam perawatan itu, Isma mendapat sebuah karangan bunga. Rupanya karangan bunga itu dari bekas sersan mayor KNIL Sjahril yang pada 1951 itu telah pensiun dari dinas kemiliteran. Sjahril tahu Isma dirawat di Cimahi karena istrinya adalah perawat di rumah sakit militer tersebut.

TAG

knil perang kemerdekaan

ARTIKEL TERKAIT

Hukuman Penculik Anak Gadis Dulu Para Sersan Berserikat Pengawal Raja Charles Dilumpuhkan Orang Bali Pengawal Raja Charles Masuk KNIL Setelah Gerard van Daatselaar Ditawan Kombatan Minahasa dalam Serangan Umum Persahabatan Sersan KNIL Boenjamin dan dr. Soemarno Sejumput Kisah Sersan Baidin Pensiunan KNIL Menipu di Salatiga Murid Westerling Tumbang di Jogja