Masuk Daftar
My Getplus

Djojotoegimin dan Musik yang Menghidupkan Digoel

Djojotoegimin seorang musisi tentara kolonial Hindia Belanda. Namun dia anggota PKI dan Sarekat Rakjat. Bersama rekan sesama buangan, menghidupkan Digoel dengan musik.

Oleh: Petrik Matanasi | 22 Nov 2023
Korps musik KNIL. (Nationaal Archief).

BUTUH waktu tiga hari naik kapal untuk mencapai Digoel dari Merauke. Nyamuk malaria atau keganasan buaya di Sungai Digoel dan bermacam gangguan alam lain akan selalu menjadi ancaman begitu sampai. Belum lagi, di tahun 1927 hinga 1940 itu, kesunyian Digoel yang terletak di pedalaman belantara Papua tak kalah menakutkan.

Di sanalah mereka yang terkait Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) November 1926 dan Januari 1927 ditempatkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Atas nama Rust en Orde (Keamanan dan Ketertiban), mereka dikucilkan agar tak mengganggu apalagi merongrong penguasa.

Di tempat seperti Digoel itulah kehadiran Djojotoegimin seharusnya menjadi penting. Setidaknya dia bisa menjadi “pembunuh” kesunyian Digoel. Sebab, sebelum dibuang ke Boven Digoel, dia memang seorang musisi profesional.

Advertising
Advertising

Baca juga: Digoelis Makassar Itu Bernama Paiso

Djojotoegimin, seperti dicatat Rudolf Mrázek dalam The Complete Lives of Camp People Colonialism, Fascism, Concentrated Modernity, adalah bekas anggota Korps Musik militer tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) di Magelang. Koesalah Soebagyo Toer dalam Tanah Merah: Sebuah Catatan Sejarah bahkan menyebut Djojotoegimin adalah seorang kapelmeester (pemimpin musik militer) KNIL di sana.

Kendati ahli musik, Djojotoegimin bukan satu-satunya di Boven Digoel. Ada orang buangan bernama Oekar, yang juga pandai bermusik. Djojotoegimin bersama Oekar lalu mengembangkan musik Sunda di sana. Selain musik Sunda, musik gamelan Jawa pun ada di Digoel.

Namun, bukan hanya musik tradisional yang dimainkan di Digoel. Abdul Xarim, yang juga orang buangan, memimpin band yang membawakan musik jazz.

Selain Djojotoegimin dan nama-nama yang telah disebutkan, ada pula Mohammad Jasin. Menurut Koesalah Toer, dialah pencipta “Mars Boven Digoel”.

Baca juga: Digulis Jadi Artis

Di Digoel sendiri terdapat Kunst Kring Digoel (lembaga kesenian Digoel) yang membuat Corps Muziek Digoel. Perkumpulan musik macam itu cocok diurus Djojotoegimin sebagai bekas pemusik militer. Djojotoegimin, seperti dicatat Koesalah Toer berdasar pengakuan Darmin, “pandai membuat alat musik modern. [Dia] memimpin band dengan peralatan lengkap.”

Djojotoegimin ditempatkan di Digoel tentu bukan karena jago bermain musik, tapi dia juga terkait pemberontakan PKI 1926. Koran De Koerier tanggal 16 Desember 1927 menyebut dia adalah anggota Sarekat Rakjat dan propagandis PKI juga. Keterlibatannya dalam dua organisasi itu sudah bisa menjadi alasan bagi pemerintah kolonial untuk membuat kapelmeester ini pindah ke Digoel.

Sebelum dibuang ke tengah belantara Papua, pria Jawa yang pernah memimpin organisasi kepanduan untuk orang Indonesia ini pernah tinggal di Tayu, Keresidenan Semarang. Ketika dibuang ke Boven Digoel pada akhir 1927, Djojotoegimin berusia 32 tahun.

Seorang kapelmeester biasanya berpangkat sersan. Sebelum 1940, seorang sersan tergolong makmur hidupnya untuk ukuran kebanyakan orang Jawa. Gajinya tergolong tinggi dan hidupnya sejahtera. Sersan adalah pangkat yang cukup tinggi bagi orang Jawa kebanyakan sehingga amat dihormati.

Baca juga: Kesatria Ratu Belanda Menjaga Boven Digoel

Keterlibatan Djojotoegimin dalam pemberontakan melawan pemerintah tentu dianggap orang kebanyakan sebagai tindakan ceroboh yang menjerumuskan diri ke dalam bahaya sekaligus menghindari kehidupan yang makmur. Namun, mungkin bukan itu yang dicari Djojotoegimin sehingga dia rela menerima risiko berat dari sikapnya.

Toh, kemampuan bermusiknya membuat dia bisa tetap berkegiatan, minimal menghalaunya dari stres di tengah belantara. Tdak banyak informasi tentang Djojotoegimin di Digoel maupun setelah keluar dari Digoel. Di luar perkara musik dia tidak terkenal di Digoel. Yang pasti, kehadiran Djojotoegimin dan orang-orang sepertinya telah mengubah Digoel yang “angker” jadi meriah. Kamp pembuangan yang mesti menyiksa dan mematikan, berhasil mereka ubah jadi tempat “waras” untuk berkegiatan.*

TAG

boven digoel knil

ARTIKEL TERKAIT

Pengemis dan Kapten Sanjoto Abdoel Kaffar Ingin Papua dan Timor Masuk Indonesia JJ Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik Serdadu Württemburg Berontak di Semarang KNIL Pakai Pendeta dan Ulama Sersan Zon Memburu Panglima Polim Dikira Sudah Mati, Boediardjo Ternyata Selamat Persahabatan Dua Insan Bumiputra Beda Pandangan Politik Usai Peristiwa Olo Orang Nias Berontak Kepada Belanda Mohamad Gaos Sangat Keras