Masuk Daftar
My Getplus

Sepakbola Seniman Panggung

Selain memikat publik dengan pertunjukan, sejumlah rombongan tonil berlaga di lapangan hijau. Memberi corak baru bagi dunia sepakbola.

Oleh: Fandy Hutari | 29 Jun 2018
Willy Klimanoff (A. Piedro) pemimpin Dardanella, tampil dalam sebuah kesebelasan sepakbola. Foto: Varia, 24 September 1958.

TIM sepakbola bukan hanya milik klub profesional. Orang-orang dari dunia hiburan pun kepincut mereguk untung dari olahraga popular ini.

Pada masa Hindia Belanda, sejumlah kelompok tonil –istilah saat itu untuk menyebut teater– membentuk kesebelasan sepakbola karena keuntungan yang diraup dari pertandingan sangat besar.

Dalam bukunya Politik dan Sepakbola, Srie Agustina Palupi memberikan ilustrasi soal keuntungan itu. Dalam pertandingan yang diadakan Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) atau induk organisasi sepakbola Hindia Belanda di Bandung pada 1925, NIVB mendapatkan f10.633 dari penjualan 11.797 tiket.

Advertising
Advertising

Selain itu, kelompok tonil memanfaatkan sepakbola sebagai daya tarik untuk menggaet penonton pertunjukan mereka.

“Kalau kesebelasan rombongan opera atau sandiwara mencetak gol terbanyak, maka dengan sendirinya nama rombongan itu akan terangkat. Pertunjukan yang mereka adakan ikut terkenal dan dibanjiri penonton,” tulis Srie.

Seni dan Sepakbola

Miss Riboet Orion, kelompok tonil yang dibentuk Tio Tek Djien (T.D. Tio Jr) pada 1925, memiliki kesebelasan sepakbola yang cukup tersohor. Mereka menggelar pertandingan sepakbola di beberapa kota yang mereka singgahi.

Misalnya, De Indische Courant edisi 23 Agustus 1937 melaporkan mereka melakukan pertandingan dengan klub asal Tiongkok, Nan Hwa, di Bandung. Hebatnya, kesebelasan Miss Riboet mengalahkan Nan Hwa 3-0.

Menurut Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik Jilid 2, Miss Riboet membuat tradisi baru dalam kesenian. Setiap seniman musik dan teater yang ingin bergabung dalam rombongan itu harus menguasai seni dan sepakbola.

Seorang manajer kelompok tonil, menurut Srie, mencari pemain-pemain sepakbola andal dari berbagai kota demi membentuk sebuah kesebelasan yang tangguh. Mereka mengambil pemain yang bersedia ikut keliling dan menanggung kebutuhan hidupnya.

Para pemain umumnya tak menyia-nyiakan kesempatan ikut keliling bersama rombongan tonil. Sebab, mereka memiliki kesempatan untuk mendapat pengalaman bertanding melawan berbagai kesebelasan sepakbola di Hindia Belanda.

“Tapi, jika kurang hati-hati dalam memilih kelompok opera atau sandiwara, membuat mereka terlunta-lunta tak keruan,” tulis Srie.

Pertunjukan dan Pertandingan

Selain Miss Riboet Orion, kelompok tonil yang masyhur pada masa kolonial, Dardanella, yang dibentuk Willy Klimanoff (A. Piedro) pada 1926, juga memiliki kesebelasan sepakbola. Biasanya, pemain yang melamar ke kelompok tonil dimasukkan ke dalam tim sepakbola dahulu, sebelum nantinya menjadi bagian dari orang panggung.

Salah satu contohnya Rempo Urip, sutradara film tahun 1950-an. Menurut majalah Dunia Film edisi 1 April 1954, Rempo masuk sebagai anggota Dardanella pada 1934. Semula dia dipasang sebagai pemain sepakbola. Beberapa waktu setelah itu dia baru naik panggung.

Seperti halnya Miss Riboet, Dardanella keliling ke sejumlah kota, melakukan pertunjukan dan bertanding sepakbola.

Di dalam majalah Varia edisi 24 September 1958, Andjar Asmara, mantan penulis naskah Dardanella yang pernah menjadi sutradara, menulis bahwa pada 1934, kesebelasan Dardanella pernah melumat klub profesional paling top saat itu, Hercules, dari Batavia (Jakarta) 7-1.

Menurut catatan Bataviaasch Nieuwsblad edisi 28 Mei 1934, pertandingan tersebut berlangsung di Decapark (sekarang bagian utara Monumen Nasional) pada 29 Mei 1934.

“Willy (Klimanoff) sering ikut main (sepakbola) sebagai centervoor (gelandang) yang lihai,” tulis Andjar dalam Varia, 24 September 1958.

De Indische courant edisi 1 Februari 1934 juga menulis, Dardanella pernah mengalahkan THOR (Tot Heil Onzer Ribben) asal Surabaya 5-1. Padahal THOR adalah kampiun kompetisi klub se-Jawa Timur 1934/1935.

Tentu tak semuanya kisah kemenangan. Soerabaijasch handelsblad edisi 25 Januari 1934 pernah mencatat pertandingan seru antara Dardanella melawan Blitar Bondselftal. Dalam pertandingan tersebut, Dardanella kalah 1-3.

Penonton pertandingan antara kesebelasan perkumpulan tonil dan klub profesional biasanya hanya berkisar ratusan orang. Soerabaijasch Handelsblad edisi 20 Januari 1934 melaporkan pertandingan antara Dardanella melawan Hua Chiao Tsien Ning Hui (HCTNH) Kediri.

“Munculnya publik tidak besar. Lebaran menarik banyak minat dari orang Belanda, tetapi tidak lebih dari 200 orang. Klub Tiongkok (HCTNH) tidak cukup kuat, dan kalah 4-1,” tulis Soerabaijasch Handelsblad.

Tanggungjawab Berlipat

Srie Agustina Palupi menulis, Miss Riboet Orion dan Dardanella terkenal bukan hanya dari pertunjukannya, tapi juga dari kesebelasan sepakbolanya. Usaha yang dilakukan rombongan tonil memberi corak baru bagi dunia sepakbola.

Tapi, para seniman tonil yang juga pemain sepakbola itu mengalami hidup yang berat. Mereka harus memikul tanggungjawab berlipat ganda. Siang hari mereka bermain sepakbola. Malam harinya mereka harus ikut bekerja di panggung. Gaji hanya cukup untuk makan, membeli rokok, dan sedikit kesenangan untuk membunuh waktu.

Terlepas dari itu, Japi Tambajong menyebut sepakbola para seniman panggung ini menginspirasi toko olahraga dan musik di kemudian hari.

“Mengawinkan seni dan olahraga itulah menyebabkan mengapa sampai sekarang di Jakarta sering terlihat toko-roko yang menjual alat musik sekaligus alat olahraga pula,” tulis Japi Tambajong.

TAG

Tonil Dardanella Miss-Riboet-Orion A.Piedro Sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Tendangan dari Sakartvelo Singa Mesopotamia yang Menyala Naga Wuhan di Bawah Mistar Persebaya Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian II - Habis) Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian I) Memori Historis Barcelona di Wembley Di Balik Rekor Eropa Real Madrid Johny Pardede dari Sepakbola hingga Agama Jatuh Bangun Como 1907 Comeback ke Serie A Bata Selain Pabrik Sepatu