Masuk Daftar
My Getplus

Karl Doenitz, Panglima "Singa" Suksesor Hitler

Pencetus taktik sohor kapal selam Jerman. Penyelamat ratusan ribu pasukan Jerman dari penawanan Uni Soviet.

Oleh: Randy Wirayudha | 13 Agt 2020
Großadmiral Karl Doenitz, Panglima Kriegsmarine (AL Jerman) di paruh kedua Perang Dunia II (Foto: The National WWII Museum/ww2incolor.com)

SEJAK awal persidangannya di Pengadilan Nuremberg, 20 November 1945, Großadmiral Karl Doenitz (Dönitz dalam ejaan Jerman) tak goyah pada pendiriannya. Dia yakin tak bersalah meski tiga dakwaan dialamatkan majelis hakim padanya selaku Der Führer (pemimpin tertinggi) Jerman Nazi terakhir.

Saat penjatuhan vonis setahun kemudian (1 Oktober 1946) pun, Doenitz duduk dengan sikap bersahaja di barisan para terdakwa bekas antek Jerman Nazi di ruangan yang penuh sesak. Air mukanya tenang. Dengan seksama, ia mendengarkan pembacaan vonisnya oleh hakim asal Prancis Henri Donnedieu de Vabres via alat penerjemah bahasa di telinganya.

“Pengadilan Kejahatan Perang Internasional Nuremberg memvonis Laksamana Besar Doenitz 10 tahun penjara. Doenitz terbukti bersalah atas dua dakwaan, yakni Kejahatan terhadap Perdamaian (merencanakan perang yang ilegal di mata Hukum Internasional) dan Kejahatan Perang (pelanggaran hukum perang). Tetapi Doenitz tidak terbukti bersalah atas dakwaan Konspirasi Perang,” kata Henri sebagaimana tersurat dalam arsip Office of Navy Intelligence (Dinas Intelijen Angkatan Laut  Amerika Serikat) yang dirilis Oktober 1946.

Advertising
Advertising
Laksamana Besar Karl Doenitz sebagai terdakwa Pengadilan Nuremberg (Foto: Office of Naval Intelligence)

Baca juga: Konspirasi Laksamana Wilhem Canaris

Dua dari tiga dakwaan terhadapnya merupakan konsekuensi dari perintah yang ia terima pada 2 Agustus 1939, jelang invasi Jerman atas Polandia yang membuka Perang Dunia II. Sebagaimana dimuat berkas dakwaan Pengadilan Nuremberg, Doenitz saat itu menjabat sebagai panglima Armada Kapal Selam (U-Boat/kapal selam) yang baru dipromosikan dari pangkat komodor menjadi laksamana muda.

Sebagai bawahan Panglima Kriegsmarine (AL Jerman) Großadmiral Erich Raeder, pada 2 Agustus 81 tahun lampau Doenitz menerima salinan perintah rahasia persiapan Operasi Koper Putih untuk menginvasi Polandia. Doenitz diperintahkan meracik rencana pengiriman sejumlah kasel ke Samudera Atlantik dan perairan di Polandia jelang invasi.

Menyempurnakan Taktik Wolfpack

Lahir di Grünau pada 16 September 1891, karier militer Doenitz bermula kala masuk Kaiserliche Marine (AL Kekaisaran Jerman) pada 1910 sebagai kadet. Saat pecah Perang Dunia I (1914-1918), Doenitz bertugas di kapal penjelajah ringan SMS Breslau hingga kapal itu dihibahkan kepada AL Kesultanan Utsmaniyah (kini Turki).

Tak lagi punya kapal, Doenitz minta dimutasi ke kesatuan kapal selam (kasel). Setelah setahun mengenyam pendidikan lanjutan tentang kasel, pada 1917 Doenitz menjadi perwira pengawas di kasel U-39 dan setahun berselang berturut-turut menakhodai kasel U-25 dan U-68.

Pada 4 Oktober 1918, kaselnya mengalami masalah teknis hingga dia ditawan Inggris hingga setahun kemudian. Di masa penahanannya itulah Doenitz menyempurnakan strategi termasyhur, Rudeltaktik, yang kelak di Perang Dunia II dikenal Sekutu sebagai wolfpack alias kawanan serigala. Taktik itu mulanya digagas salah satu komandannya, Panglima Kasel Jerman Laksamana Hermann Bauer.

Baca juga: Kawanan Serigala Jerman Nazi Berburu Mangsa

Doenitz kala berpangkat Oberleutnant zur See sebagai perwira pengawas di kapal selam U-39 (Foto: nationalww2museum.org)

Kasel Doenitz tertangkap Inggris setelah Rudeltaktik Bauer gagal kala diimplementasikan menghadapi satu konvoi Sekutu di Laut Mediterania. Doenitz menganggap taktik itu akan sangat efektif jika arus komunikasi antar-kasel lebih lancar dan koordinasinya lebih baik.

“Taktik kawanan (serigala) ini dikembangkan dalam pengetahuan yang jelas bahwa titik lokasi jadi masalah utama dalam perang kapal selam. Karena dalam konvoi yang terkonsentrasi, ruang yang kosong di lautan akan menjadi sangat luas. Di sisi lain hal terpentingnya adalah mengarahkan kasel sebanyak mungkin ke sebuah konvoi yang ditemukan, untuk kemudian mengatur konsentrasi kasel-kasel menghadapi sebuah konsentrasi konvoi,” ujar Doenitz dalam The Conduct of the War of Sea, yang dituliskannya di Penjara Spandau pasca-vonis Pengadilan Nuremberg.

“Taktik ini menyerupai prinsip yang dipegang selama ribuan tahun oleh tiap militer: agar bisa menyerang sekuat mungkin di tempat dan waktu yang tepat. Organisasi dan kontrol kasel-kasel diantarkan gelombang radio panjang dan pendek dari pos komando di Paris, dan kemudian setelah November 1940 dari Lorient,” sambungnya.

Baca juga: Kasel Elektroboot & Empat Senjata Mutakhir Jerman

Taktik inilah yang diajukan Doenitz sepulangnya dari masa tahanan kepada rezim Hitler yang berkuasa penuh sejak 1934. Untuk bisa melancarkan taktiknya, Kriegsmarine harus menggenjot produksi kasel. Ia acap beradu argumen dengan Panglima Kriegsmarine Erich Raeder yang lebih memprioritaskan kapal perang permukaan.

Kendati Doenitz bisa “memenangkan“ argumen terhadap Raeder, Kriegsmarine dalam kurun 1933-1936 hanya kebagian 13 persen dari total anggaran militer dari kabinet Hitler. Hingga 1936 ketika Doenitz sudah diangkat jadi panglima Kasel Jerman, ia hanya bisa mendapatkan 35 kasel anyar. Saat pecahnya Perang Dunia II, Doenitz ketambahan 28 kasel baru.

Kolase Laksamana Doenitz saat sudah menjabat Panglima Kasel Kriegsmarine (Foto: Bundesarchiv)

Meningkatnya produksi kasel Jerman menarik perhatian Royal Navy (AL Inggris). Dengan invasi Jerman atas Polandia, Perjanjian AL Anglo-Jerman empat tahun sebelumnya otomatis batal. Doenitz insyaf Inggris kembali jadi musuh yang bakal dihadapi lagi.

“Pada 1 September 1939 Jerman menginvasi Polandia. Inggris dan Prancis pun mendeklarasikan perang terhadap Jerman dan Perang Dunia II dimulai. Pada 3 September pukul 11.15, Doenitz mendapat laporan bahwa AL Inggris mengirimkan sinyal ‘Total Jerman’ dari B-Dienst (Dinas Intelijen AL Jerman): ‘Ya Tuhan! Jadi Jerman kembali berperang dengan Inggris!’” tulis John Terraine dalam Business in Great Waters: The U-Boat Wars, 1916-1945.

Panglima Singa

Betapapun kagumnya Doenitz pada reputasi legendaris Inggris sebagai penguasa lautan, toh ia mencoba tetap optimis. AL Inggris bakal dihadapinya lewat Pertempuran Atlantik, pertempuran laut terpanjang dan melelahkan (3 September 1939-8 Mei 1945).

Di permulaan perang, Doenitz memiliki total 57 kasel. Dua puluh tujuh di antaranya ia kirim ke Samudera Atlantik.

“Kita sudah kenal siapa musuh kita. Saat ini kita punya senjata dan kepemimpinan yang mampu menghadapi musuh seperti mereka. Perang ini akan berjalan sangat panjang: tetapi jika kita melakukan tugas kita dengan benar, kita akan menang,” seru Doenitz kepada para komandan kaselnya, dikutip Terraine.

Meski jadi perwira Kriegsmarine favorit Hitler, Doenitz sering bentrok dengan Goering (Foto: nac.gov.pl)

Kasel-kasel Jerman sukses melancarkan taktik kawanan serigalanya. Kepemimpinan Doenitz yang lugas dan tegas mengundang kekaguman banyak koleganya, termasuk Panglima Raeder. Doenitz pun dijuluki “singa” di kalangan militer Jerman Nazi.

Namun walau dalam semester pertama 1940 (Januari-Juni) kasel-kasel Jerman mampu menenggelamkan nyaris 200 kapal dagang Sekutu di Atlantik, Kriegsmarine kehilangan sedikitnya 15 kasel. Raeder yang mulai akur dengan Doenitz pun lantas menghadap Hitler untuk meminta anggaran lebih guna produksi lebih banyak kasel. Usahanya gagal lantaran Panglima Luftwaffe (AU Jerman) Reichsmarschall Hermann Goering, pejabat tertinggi kedua Jerman Nazi setelah Hitler, tak menyetujuinya. Goering punya rencana lain dengan anggaran negara, yakni hendak membesarkan postur Luftwaffe.

Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman

Sebagai solusinya, Hitler memberinya 26 kasel bantuan Italia yang merupakan sekutu Jerman. Permintaan Doenitz-Raeder kepada Hitler pada 1941 berupa satu skadron patroli maritim dan pesawat pembom juga “di-veto“ Goering. Sebagai gantinya, Goering mengizinkan dibentuknya sebuah komando bantuan Luftwaffe untuk Kriegsmarine, Fliegerführer Atlantik, namun tetap berada di bawah kontrol Armada Udara ke-3. 

Satuan udara maritim itu baru terbentuk pada April 1941. Itupun terdiri dari sekitar 80 pesawat sisa kekuatan utama Luftwaffe, seperti pesawat intai maritim Focke-Wulf Fw-200, pembom medium Heinkel He-111, pembom torpedo Heinkel He-115, pembom Messerschmitt Bf-110, dan pesawat tempur multiperan Junkers Ju-88.

“Per 30 Januari 1943, Doenitz dipromosikan menggantikan Raeder sebagai Panglima AL Jerman Nazi dengan pangkat großadmiral. Promosi yang tentu disambut gembira Hitler yang mengagumi patriotisme dan profesionalismenya, serta yang utama, loyalitasnya. Tapi seiring jabatannya, ia sengaja mengabaikan fakta-fakta holocaust yang dihasilkan dari peperangan itu,“ sambung Terraine.

Sejak jadi panglima, Doenitz melancarkan evakuasi kolosal di awal 1945 untuk menyelamatkan ratusan ribu pasukan Jerman dari front timur (Foto: nac.gov.pl/dhm.de)

Setelah kegagalan Goering di Pertempuran (udara) Britania (Juli-Oktober 1940) dan mulai mundurnya posisi Jerman di berbagai front darat, Doenitz dianggap sebagai satu-satunya perwira tinggi yang loyal. Cap itu berangkat dari prestasi Doenitz yang tidak terlibat dalam konspirasi Plot 20 Juli yang mencoba membunuh Hitler (1944) dan memberi Hitler kegembiraan pasca-invasi Sekutu ke Normandia. Pada November-Desember 1944, kasel-kasel Doenitz yang tersisa sekitar 40-an masih sanggup menenggelamkan banyak kapal logistik Sekutu berbobot 85.639 ton di perairan Inggris.

“Kami mengalami masa-masa berat dengan U-boats. Kami bisa menguasai 90 persen ruang udara tapi di perairan dangkal kami kerepotan,“ tutur Panglima Armada Inggris Laksamana Andrew Cunningham, dikutip Terraine.

Setelah menyadari Jerman kian terdesak oleh Uni Soviet dari timur, pada Januari 1945 Doenitz menggelar Operasi Hannibal untuk mengevakuasi sisa-sisa pasukan Jerman di front timur melalui pesisir Polandia. Mirip dengan operasi evakuasi Inggris di Dunkirk (Mei-Juni 1940), Doenitz mengerahkan setiap benda yang bisa berlayar, mulai dari perahu nelayan, kapal kargo, kapal pesiar, hingga kapal Kriegsmarine yang tersedia.

Baca juga: Halt Order Hitler Mencegah Sekutu Musnah di Dunkirk

Kolase Doenitz sebagai Führer terakhir Jerman dalam penahanan hingga Pengadilan Nuremberg (Foto: National Archives/iwm.org.uk)

Dalam 15 pekan pertama operasi, sekira 350 ribu pasukan dan 900 ribu warga sipil Jerman dievakuasi ke Jerman Utara dan Denmark, yang masih diduduki Jerman, via Laut Baltik. Sepekan jelang kapitulasi (1-8 Mei) Jerman, total 168 ribu pasukan dan sipil berhasil diselamatkan sehingga terhindar dari penawanan Uni Soviet. Penawanan amat dihindari karena setelah kapitulasi, pasukan Jerman yang ditawan Soviet mesti menghadapi nasib getir dikirim ke gulag-gulag di Siberia.

Menjelang akhir perang pula Doenitz ketiban tanggung jawab terbesar setelah dipilih jadi pewaris Hitler sebagai Presiden Jerman pasca-Hitler bunuh diri (April 1945). Karena itulah Doenitz jadi tawanan dengan jabatan tertinggi yang disidang di Pengadilan Nuremberg.

Dalam vonisnya, Doenitz dihukum 10 tahun bui di Penjara Spandau. Selepasnya dari masa tahanan, 1 Oktober 1956, Doenitz menghabiskan hari tuanya di Aumühle, desa terpencil di timur kota Hamburg, hingga mengembuskan nafas terakhir pada 24 Desember 1980 karena serangan jantung. Sebagai pensiunan perwira Jerman terakhir dengan pangkat großadmiral, pemakamannya di Waldfriedhof dihadiri banyak mantan anak buahnya dan perwira AL asing yang menghormatinya.

Baca juga: Berebut Takhta Hitler

TAG

jerman nazi jerman jerman-nazi perangdunia ii perang-dunia perang dunia angkatan laut kapal selam nazi

ARTIKEL TERKAIT

Kurt Waldheim Mantan Nazi jadi Sekjen PBB Asal-Usul Jeriken Spion Wanita Nazi Dijatuhi Hukuman Mati Mata Hari di Jawa Roland Garros Pahlawan di Udara Mendarat di Arena Tenis Ada Rolls-Royce di Medan Laga Pangeran Bernhard, dari Partai Nazi hingga Panglima Belanda Kisah Putri Bangsawan India Jadi Mata-mata Inggris (Bagian II) Kisah Putri Bangsawan India Jadi Mata-mata Inggris (Bagian I) Momentum Bayer Leverkusen