Masuk Daftar
My Getplus

Tempat Menyepi dan Belajar Agama

Bagi para bangsawan pendidikan bisa didapat di keraton. Di luar keraton, banyak yang mencari pengetahuan hingga ke lereng gunung.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 07 Jun 2018
Candi Kendalisodo, salah satu candi di lereng Gunung Penanggungan

I-TSING, pendeta asal Tiongkok, tinggal selama enam bulan di Sriwijaya untuk memperdalam bahasa Sanskerta sebelum bertolak ke India. Dia menyaksikan banyak pusat keagamaan berbentuk wihara di Sriwijaya, khususnya sebagai tempat menuntut ilmu.  

Selain kabar dari I-Tsing, keberadaan institusi pendidikan pada era Hindu-Buddha tercatat dalam prasasti, relief dan karya sastra. Pada masa itu, pendidikan erat kaitannya dengan agama. 

Misalnya, di lingkungan penganut Hindu, pendidikan didominasi oleh kaum brahmana. Paling tidak ada dua sistem pengajaran, yaitu di dalam lingkungan keraton dan di dalam sistem pertapaan. Sistem pendidikan keraton dilakukan dengan cara guru mendatangi murid. Sementara dalam sistem pertapaan, murid biasanya yang mendatangi gurunya. 

Advertising
Advertising

Gambaran mengenai pendidikan di dalam istana bisa ditemukan lewat kisah pewayangan. Dalam kitab Mahabharata, dikenal tokoh Drona yang merupakan guru Kurawa dan Pandawa. Dia mengajarkan seni peperangan, di mana Arjuna menjadi murid favoritnya. 

Di Nusantara, keberadaan guru di lingkungan keraton, paling banyak diketahui setelah masuk periode Jawa Timur. Misalnya, pada masa Kadiri, Raja Jayabhaya diketahui memiliki seorang pendamping yang menjadi gurunya. Keterangan ini terdapat dalam Prasasti Hantang (1135 M). 

Sang guru, menurut Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa, disebut pangajyan sri maharaja mpungku naiyayikadarsana-samreddhi-karana bhairawa-margga-nugamandha-yogiswara. Artinya “guru dari raja, empu yang mahir menjalankan yoga dengan jalan bhairawa, yang menyebabkan tercapainya kesempurnaan sesuai dengan aliran Nyaya.”

Begitu juga Raja Kertanagara. Raja terakhir Singhasari itu mati diserang penguasa Glang Glang, Jayakatwang, saat tengah bermabuk-mabukan. Menurut Suwardono, sejarawan Malang, Kertanegara ketika itu sedang melangsungkan upacara Tantrayana. Sulitnya upacara tantra ini membuat para penganutnya harus diawasi oleh guru sebagai pendamping. 

“Baca Prasasti Gajah Mada, banyak pendeta dan patih yang mati bersama Kertanagara. Pendeta siapa? Ya itu mereka yang ikut upacara,” jelasnya. 

Agaknya, guru-guru di lingkungan istana punya fungsi berbeda-beda, sebagaimana Drona sebagai guru seni perang.

Menurut Supratikno di dalam karya sastra terdapat istilah untuk menyebut orang yang menjalankan tugas di bidang agama. Misalnya, wiku haji dalam Nagarakrtagama, diperkirakan menunjuk kepada para wiku yang bertugas di dalam keraton. Kedudukan ini tidak didapat karena kelahiran, melainkan pilihan hidup.

“Bagi setiap orang yang ingin menjadi wiku, dia dituntut menjalani semacam inisiasi di bawah pimpinan seorang yang telah maju dalam kehidupan rohani,” jelas Supratikno. 

Ada pula istilah kawi, yaitu golongan penyair. Secara lebih luas lagi, sebutan kawi merujuk pada mereka yang mempelajari kitab-kitab dan mahir dalam hal itu. 

Di luar keraton, dalam teks kuno, ada yang disebut karsyan, patapan, dan mandala. Dalam Nagarakrtagama, ketiga istilah itu merujuk pada kelompok bangunan yang berfungsi sebagai pusat pendidikan agama. Ketiganya tempat menyepi serta tempat memuja leluhur dan dewa.

Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Arkeologi Pawitra mengartikan karsyan sebagai tempat bertapa para rsi, yang letaknya biasanya di lereng gunung atau tempat sunyi lainnya. Sementara mandala merupakan perkampungan para rsi

Dwi Cahyono, pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang mengatakan, areal mandala kadewagurwan biasanya dilengkapai bangunan semi permanen (srama atau asrama) untuk para siswa (sisya) dan guru (acarya).

“Apabila lokasinya di dalam hutan, maka muncul sebutan wanasrama,” jelas Dwi. 

Di antara para rsi, banyak yang berusia lanjut. Dalam konsep ajaran Weda, seseorang yang sudah mempunyai cucu pertama dianjurkan untuk meninggalkan dunia ramai menjadi pertapa. Ketika itu mereka masuk dalam fase kehidupan wanaprastha (tinggal di hutan). 

Tak hanya orang lanjut usia yang menyepi demi memperdalam ilmu. Anak muda juga melakukan hal serupa. Seperti Airlangga, penguasa Kahuripan. Prasasti Pucangan (1042 M) menguraikan, sang raja memulai karier politiknya setelah menjalani kehidupan di lingkungan pertapa. Selama dua tahun dia mendalami latihan rohani di Gunung Pucangan, yang ada di perbatasan Lamongan dan Jombang. 

Pucangan merupakan salah satu di antara tujuh tempat rsi bersemadi pada era Majapahit sebagimana disebut dalam Nagarakrtagama. Enam lainnya adalah Gunung Penanggungan (Pawitra), Sampud, Rupit, Pilan, Jagadhita, dan Butun.

Wanasrama juga dilukiskan dalam relief candi. “Pada relief cerita Parthayajna di teras 2 candi Jajaghu misalnya, digambarkan wanasrama pada lereng gunung khusus untuk para pertapa wanita atau tapini, tapasi,” ujar Dwi.

Baik dalam karsyan maupun mandala kadewaguruan, tapa merupakan materi pokok pelajaran. Karenanya tempat itu kemudian pada masa yang lebih muda dikenal dengan “tempat persamadian” atau yang menjadi cikal-bakal dari padepokan. 

Bukan cuma urusan agama, mandala kadewaguruan juga mengajarkan ilmu kehidupan. Misalnya, keterampilan dan kebijakan hidup sebagai bekal menjalani kehidupan sosial. Pun juga adaptasi terhadap lingkungan, olah pikir, seni, kanuragan, olah batin, dan sebagainya. 

Dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit, Lydia Kieven menulis bahwa tradisi pertapa yang tinggal di daerah terpencil mengalami peningkatan pada akhir periode Majapahit. Status sosial mereka pun melambung. 

“Kemungkinan besar, peziarah dari semua bagian masyarakat, khususnya anggota aristokrasi dan bahkan raja-raja, menyepi ke pertapa guna mencari pengetahuan dan kekuatan spiritual,” tulis Lydia. 

Keterpencilan gunung menarik peziarah yang mencari kesunyian untuk inspirasi dan memahami pengetahuan religius. Misalnya, di Gunung Penanggungan, selain bertapa setelah mundur dari keduniawian, para rsi juga menerima peziarah yang mencari wejangan religius. 

Sementara dari lingkungan peziarah, banyak di antaranya merupakan anggota keluarga kerajaan atau keluarga kaya yang mungkin juga pendonor tempat suci. “Pertapaan menjadi pusat untuk menyepi dari dunia dan pusat pengajaran agama,” tegasnya.

Baca juga: 

Pendidikan Agama di Kadewaguruan

TAG

Majapahit Sriwijaya agama pendidikan

ARTIKEL TERKAIT

Pendidikan Seks dalam Serat Nitimani Korupsi di Perguruan Tinggi Tokoh Yosua dalam Alkitab Kisah Perancang Mode pada Zaman Jepang Setelah Pulang Sekolah Melengserkan Dekan yang Suka Perempuan Mahar Mardjono, Rektor UI yang Pandai Menjaga Keseimbangan Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno Sungai yang Membangun Peradaban di Sumatra Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon