Masuk Daftar
My Getplus

Pawang Hujan dalam Peresmian TMII

Pembangunan TMII ditandai dengan menanam kepala kerbau. Pada peresmiannya dikerahkan pawang hujan.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 22 Mar 2022
Ibu Tien Soeharto memberikan sambutan dalam peresmian TMII pada 20 April 1975. (Repro 50 Th. Indonesia Merdeka).

Dalam pertemuan pengurus Yayasan Harapan Kita di rumahnya, Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, pada 13 Maret 1970, Ibu Tien Soeharto menyampaikan gagasan ingin membangun sebuah tempat wisata yang menampilkan keanekaragaman Indonesia. Dia memperoleh gagasan itu setelah berkunjung ke Thai-in-Miniature di Thailand dan Disneyland di Amerika Serikat selama kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto.

Ibu Tien membayangkan tempat ini akan mempunyai sebuah kolam besar berbentuk kepulauan Indonesia. Tanaman-tanaman hias dari seantero Indonesia berada di sekitar kolam. Kemudian ada pula bangunan-bangunan khas dari tiap daerah di Indonesia. Lengkap dengan perabot, pakaian, dan senjata adatnya. Dalam rapat diputuskan proyek tersebut bernama Miniatur Indonesia Indah (MII).

Baca juga: Gagasan Awal TMII

Advertising
Advertising

Kebanyakan pengurus Yayasan Harapan Kita merupakan istri dari kawan-kawan Presiden Soeharto. Mereka mengagumi gagasan Ibu Tien dan sepakat mendukungnya. Usai rapat, mereka menghubungi pemerintah DKI Jakarta. Gubernur Ali Sadikin tertarik dengan rencana pembangunan MII karena proyek ini mirip dengan proyek Bhinneka Tunggal Ika yang diusulkan DPRD DKI Jakarta pada 1968.

Pembangunan MII di areal seluas 100 hektar di Pondok Gede, Jakarta Timur, diperkirakan menelan biaya sebesar Rp10,5 miliar. Karenanya proyek ini ditentang keras oleh mahasiswa, seniman, dan intelektual, yang direspons dengan keras pula oleh pemerintah.

Baca juga: Gerakan Menentang Pembangunan TMII

Ibu Tien Soeharto menanam kepala kerbau sebagai tanda dimulainya pembangunan TMII. (Repro 50 Th. Indonesia Merdeka).

Kepala Kerbau

Kendati ditentang, pembangunan MII tetap berjalan. Peletakan batu pertama dilakukan pada 30 Juni 1972. Buku 50 Th. Indonesia Merdeka memuat gambar Ibu Tien tengah menanam kepala kerbau sebagai tanda dimulainya pembangunan MII.

Ibu Tien kembali menanam kepala kerbau ketika membangun rumah yang diidamkannya di TMII pada 1995.

Probosutedjo, saudara Presiden Soeharto, dalam Memoar Romantika Saya dan Mas Harto menyebutkan, Ibu Tien membangun sebuah rumah berarsitektur gaya Jawa. Di sana dia berencana akan menghabiskan akhir pekan bersama sahabat dan kerabat dekat. Rumah itu akan menjadi tempat ngumpul ibu-ibu.

“Jadi, waktu peletakan batu pertama yang ditandai dengan penanaman kepala kerbau, yang dia undang pun hanya kerabat wanita, termasuk istri saya. Jadi, beramai-ramailah para ibu itu menanam kepala kerbau,” kata Probosutedjo.

Baca juga: Berpulangnya Probosutedjo Pengusaha Cendana

Untuk apa kepala kerbau itu?

Harmanto Bratasiswara dalam Bauwarna: Adat Tata Cara Jawa Volume 1 menjelaskan bahwa mendhem kebo (penanaman kepala kerbau) merupakan bagian dari tata upacara adat Jawa untuk mengawali suatu pekerjaan besar.

Tujuannya, pertama, agar pekerjaan besar tersebut dapat dilaksanakan secara lancar dan selamat tanpa suatu hambatan. Kedua, agar pekerjaan tersebut dapat diselesaikan tepat waktu, dengan hasil yang setinggi-tingginya, dan tanpa ada korban apa pun karena korbannya sudah ditebus (diganti) dengan kebo siji (kepala kerbau) yang ditanam sebelumnya.

Sukamdani Sahid Gitosardjono, pengusaha hotel pendiri Grup Sahid, yang mengumpulkan pawang hujan dalam peresmian TMII.

Pawang Hujan

Pembangunan MII berlangsung selama empat tahun. Sebelum dibuka secara resmi pada 20 April 1975, namanya diubah menjadi Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Sukamdani Sahid Gitosardjono, pengusaha hotel pendiri Grup Sahid, yang terlibat dalam pembangunan TMII, mengungkapkan bahwa orang-orang tak sabar menunggu sampai hari peresmian, dari hari ke hari berdatangan ingin melihat sendiri keadaan yang sebenarnya. “Daya tarik proyek ini memang besar. Banyak hal baru yang tak pernah dilihat orang di sini sebelumnya,” kata Sukamdani dalam otobiografinya, Wirausaha Mengabdi Pembangunan.

Baca juga: Cerita di Balik Pembangunan TMII

Misalnya, kereta kabel buatan Swiss yang selama ini hanya dapat dilihat dalam film, yang menggambarkan kereta gantung meluncur di atas pegunungan Alpen di Eropa, sekarang dapat dinaiki di TMII, satu-satunya tempat rekreasi di Indonesia yang pertama kali memperkenalkan lift udara (sky lift).

Bagi anak-anak sekolah, yang menarik adalah anjungan-anjungan provinsi yang menggambarkan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk pertama kali mereka dapat melihat dari dekat model rumah tradisional semua daerah yang berada dalam satu deretan di satu kompleks. Sebelumnya mereka kebanyakan hanya melihat beberapa model atau hanya melihat gambarnya saja.

Menjelang 20 April 1975, media massa banyak menyiarkan berita tentang rampungnya proyek MII, sehingga memperbesar hasrat masyarakat ingin melihat upacara peresmian. Pada hari H, TMII benar-benar jadi pusat perhatian. Penduduk memenuhi tempat-tempat di luar alun-alun Tugu Pancasila. Di rumah-rumah, masyarakat mendengarkan RRI yang menyiarkan langsung upacara peresmian TMII.

Baca juga: Cerita Lama Pawang Hujan

“Rupanya mereka yang dulu menentang juga memperhatikannya. Apalagi yang setuju. Seolah-olah kejadian yang dulu penuh ketegangan itu tak pernah terjadi. Ataukah karena memang bangsa Indonesia pemaaf dan mudah melupakan pertentangan antarsesama bangsa yang tak menyenangkan di masa lalu. Kalau begitu halnya, saya bersyukur,” kata Sukamdani.

Dalam pidato peresmiannya, Ibu Tien menyinggung para penentang pembangunan TMII.

“Saya juga teringat, betapa masyarakat menyatakan setuju dan tidak setuju terhadap gagasan saya itu. Sebagian dengan suara tenang, sebagian lagi dengan suara lantang. Saya berterima kasih kepada mereka yang tidak setuju. Karena ketidaksetujuan mereka itu sebenarnya ingin mengingatkan kami agar tidak berbuat salah. Dan dengan begitu mendorong kami untuk bekerja lebih berhati-hati,” kata Ibu Tien.

Baca juga: Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto

Setelah sambutan Ibu Tien, Presiden Soeharto meresmikan pembukaan TMII: “Dengan penuh rasa haru, berterima kasih kepada semua yang telah membangun Taman ini, saya nyatakan Taman Mini resmi dibuka.”

Tak lama setelah upacara pembukaan TMII, hujan lebat mengguyur kota Jakarta. “Hujan yang gelagatnya sudah mau turun pada waktu upacara tapi ditunda oleh doa-doa yang dipanjatkan oleh pawang-pawang yang saya kumpulkan,” kata Sukamdani.

Setelah 44 tahun dikelola oleh Yayasan Harapan Kita, sejak 2021 TMII diambil alih oleh negara melalui Kementerian Sekretariat Negara.

TAG

ibu tien soeharto soeharto taman mini indonesia indah pawang hujan

ARTIKEL TERKAIT

Try Sutrisno, Benny Moerdani, dan Soeharto Akhirnya Soeharto Jadi Pahlawan Nasional Kunjungan Ratu Elizabeth II ke Indonesia Jenderal Keuangan Soeharto Berpulang Kritik Sarwo Edhie Wibowo kepada Soeharto Suasana Mudik dan Lebaran di Awal Orde Baru Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto Peran Soeharto dan Keppres Hari Penegakan Kedaulatan Negara Jika Masa Jabatan Presiden Tak Dibatasi Sukarno Mengunjungi Bali