Masuk Daftar
My Getplus

Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto

Ibu Tien Soeharto meminta seorang pengusaha membuat sesajen dan memanggil pawang hujan agar pernikahan anak pertamanya berjalan lancar.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 21 Mar 2022
Pernikahan putra dan putri Presiden Soeharto pada Januari 1972. (IPPHOS/Perpusnas RI).

Awalnya Presiden Soeharto ingin pernikahan anak pertamanya, Siti Hardijanti dan Indra Rukmana, putra pengusaha Edi Kowara Adiwinata, diadakan sederhana di rumahnya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.

Namun, Ibu Tien tidak setuju karena menganggap kurang pantas seorang presiden menikahkan anaknya seperti itu. “Bagaimana rakyat kita nanti? Bagaimana kita bisa memberi tuntunan dalam membina budaya dan adat-istiadat kita kepada mereka di dalam upacara-upacara yang dianggap penting. Mantu itu ‘kan penting dan diharapkan hanya sekali,” kata Ibu Tien.

Akhirnya, diputuskan upacara pernikahan diselenggarakan di Istana Bogor pada 29 Januari 1972.

Advertising
Advertising

Ibu Tien seorang muslimah yang memegang teguh budaya Jawa. Sehingga, untuk kelancaran acara pernikahan, dia meminta kepada Sukamdani Sahid Gitosardjono untuk membuat sesajen. Sukamdani (1928–2017) adalah pengusaha hotel pendiri Grup Sahid dan ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) selama dua periode.

Baca juga: Kala Prabowo Mempersunting Putri Soeharto

Presiden Soeharto dan besan, Edi Kowara Adiwinata, pada pernikahan anak mereka, Siti Hardijanti dan Indra Rukmana. (Perpusnas RI).

Sesajen itu diberikan kepada sesurupan (roh halus) yang dihormati di Jawa Barat, yaitu Prabu Siliwangi dan Nyai Galuh Mangkualam. Sementara roh halus di Istana Bogor adalah Kyai Geprak dan istrinya, Nyai Geprak. “Jangan lupa dikasih sesajen. Sesajennya harus lengkap. Kalau Pak Kamdani tidak mengerti bisa tanya, karena ini menyangkut adat-istiadat daerah,” kata Ibu Tien.

Ibu Tien juga meminta Sukamdani untuk berpuasa karena di antara tamu-tamu yang akan datang adalah roh-roh semua raja dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. “Semua datang bersama-sama karena Bapak dan Ibu Soeharto mantu. Memberi sesajen berarti mengundang,” kata Sukamdani dalam Memoar Sukamdani S.G., Otobiografi II 1993–2001: Kisah Kegiatan Bisnis, Pendidikan, Sosial-Budaya, dan Harapan Saya.

Baca juga: Soeharto Tak Kunjung Pulang, Ibu Tien Bikin Sesajen

Panitia kemudian memberikan sesajen berupa kelopak-kelopak bunga mawar, melati, kenanga, sirih, kemenyan, kopi, rokok, dan sebagainya kepada Prabu Siliwangi di Batu Tulis Bogor, Nyai Galuh Pakualam, Kyai dan Nyai Geprak. Mereka juga meletakkan sesajen di kamar-kamar Istana Bogor dan pajupat klewokan (perempatan jalan). Pada saat panitia akan meletakkan sesajen-sesajen di istana, Polisi Militer (PM) menangkapnya.

“Saya lalu menelepon komandan security agar anak buahnya tidak menangkap panitia yang menyiapkan sesajen. Panitia lalu diberi tanda-tanda khusus agar tidak ditangkap,” kata Sukamdani.

Sukamdani Sahid Gitosardjono (tengah) menerima tanda kehormatan Bintang LVRI pada peringatan HUT LVRI ke-36 di Jakarta, Sabtu (2/1/1993). (ANTARA).

Selain memberi sesajen, Sukamdani juga diminta mencari pawang hujan. “Ini bulan Januari, musim hujan. Pak Kamdani, nanti kalau hujan ‘kan bisa dipawang,” kata Ibu Tien.

Dua hari sebelum upacara perkawinan, Sukamdani mendatangkan pawang dari Magelang, Jawa Tengah, bernama Mbah Kasan. Selain itu, dia juga mendatangkan pawang hujan dari Banten dan Jawa Timur. Dari ketiga pawang itu, hanya Mbah Kasan yang bersedia. Dua pawang lain tidak berani kemungkinan takut gagal. Mbah Kasan pun memberi syarat.

“Saya hanya sanggup sampai jam 12.00 siang. Sesudah jam 12.00, Allah tidak memberi ridho. Nanti supaya diusahakan semua upacara resmi sudah selesai pada jam itu,” kata Mbah Kasan.

Baca juga: Cerita Lama Pawang Hujan

Sehari sebelum perkawinan, diadakan upacara siraman (para sesepuh menyiram air ke kepala calon mempelai), malem midodareni (malam sebelum dinikahkan), pasang tarub (tenda), dan dodol dawet (jual cendol).

Setelah akad nikah, ada upacara balangan (saling melempar lintingan sirih antara mempelai pria dan wanita), pangkon (kedua mempelai dipangku orang tua mempelai wanita), dulangan (saling suap antara pengantin pria dan dan wanita), dan seterusnya. Semua urutan acara ini merupakan adat perkawinan Jawa. Yang dinikahkan pada waktu itu sekaligus dua pasang mempelai, yaitu Tutut, putri sulung, dan Sigit Harjojudanto, putra kedua.

“Pesta pernikahan mereka sangat unik. Pernikahan Tutut dan Indra serta Sigit dan Elsye, dilakukan bersamaan di Istana Bogor. Sebuah perhelatan yang begitu meriah. Inilah pesat pertama terbesar yang pernah dilakukan Mas Harto dan Mbakyu Harto,” kata Probosutedjo, saudara Soeharto, dalam Memoar Romantika Saya dan Mas Harto.

Baca juga: Berpulangnya Probosutedjo Pengusaha Cendana

Pada hari pernikahan udara pagi cerah. Para duta besar dan menteri datang menghadirinya. Setelah semua upacara selesai, hujan turun sangat lebat disertai angin kencang. Beberapa pohon dan dahan pohon di Istana Bogor sampai patah terkena tiupan angin.

Sukamdani kemudian bertanya kepada Mbah Kasan, “Ini maknanya apa?”

“Lho, ini berarti roh raja-raja datang memakai kekuatan angin. Mereka hadir sampai jam 12.00 siang, lalu pulang,” kata Mbah Kasan.

Sukamdani tidak mempertanyakan hal itu lebih lanjut. Baginya, yang penting upacara perkawinan berlangsung dengan lancar.

TAG

soeharto tien soeharto pernikahan pawang hujan

ARTIKEL TERKAIT

KSAD Pilihan Ibu Tien Soeharto Ratu Bendara, Perempuan Korban Pernikahan Politis Membina Rumah Tangga yang Baik ala Raja Jawa Try Sutrisno, Benny Moerdani, dan Soeharto Menengok Sejarah Gowok Akhirnya Soeharto Jadi Pahlawan Nasional Kunjungan Ratu Elizabeth II ke Indonesia Tips Memilih Jodoh Ala Raja Jawa Jenderal Keuangan Soeharto Berpulang Rias Pengantin ala Serat Centhini