Masuk Daftar
My Getplus

Merawat Kisah Nabi Yusuf

Lontar Yusuf bukan hanya disimpan tapi juga dibacakan dan didendangkan dalam berbagai kesempatan.

Oleh: Historia | 17 Apr 2020
Mocoan Lontar Yusup oleh komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial Banyuwangi pada acara Bersih Desa dan peringatan Isra Mi'raj di Singojuruh, Banyuwangi. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi).

BERALASKAN tikar, sejumlah orang duduk bersila, berjajajar, saling berhadapan. Sebuah kitab diletakkan di atas bantal. Lalu, secara bergiliran, dengan takzim mereka mendendangkan larik-larik puisi Yusuf dalam ragam tembang cara Osing.

Ya ta rawuh Jabra'il, angucaping rasul ika, mawa surat Yusuf age, serawuhireng ayunan, tumulya tur peranata, punika jeng surat Yusuf.

(Maka tibalah Jibril, berucap kepada Sang Rasul Muhammad, membawa surat Yusuf, setiba di hadapannya, lalu berhatur sembah, inilah surat Yusuf).

Advertising
Advertising

Demikianlah petikan Lontar Yusuf, yang tertulis dengan aksara pegon dan berisi tentang kisah Nabi Yusuf. Di Banyuwangi, Jawa Timur, Lontar Yusuf bukan hanya disimpan tapi juga dibacakan atau ditembangkan (mocoan).

Baca juga: Seblang Menolak Bala

Tradisi mocoan Lontar Yusuf masih bertahan di desa-desa Osing, suku asli Banyuwangi, seperti Olehsari, Bakungan, Kemiren, Rejosari, dan Cungking. Biasanya dilakukan dalam prosesi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup manusia seperti kelahiran, khitan, perkawinan atau ritual bersih desa dan tolak bala.

Gunawan Suroto dalam “Dolan Menyang Blambangan”, dimuat majalah Kunthi, Juni 1973, menyebut mocoan di Banyuwangi mirip dengan macapat di Jawa Tengah dan mamaca di Madura. Bahannya dari dongeng atau cerita-cerita yang tertulis dalam lontar, buku-buku babad Jawa, ataupun kisah para nabi. Membacanya bergiliran.

“Tembangnya tembang Banyuwangi. Jika ditemukan ada tembang-tembang Jawa Tengahan, seperti Asmarandana, Durma, Pangkur, dan lain-lain, caranya juga menggunakan tembang atau cengkok Banyuwangi,” tulis Suroto.

Kisah Nabi Yusuf

Kisah Nabi Yusuf dalam bentuk tembang ditemukan di berbagai tempat di Jawa, Madura, Lombok, dan daerah lainnya. Jumlahnya mencapai tak kurang dari 1.000 naskah. Sebagian besar bersumber dari surat Yusuf dalam Al-Qur'an.

Pigeaud, javanolog asal Belanda kelahiran Jerman, dalam Literature of Java menduga kisah Nabi Yusuf merupakan hasil transformasi dari naskah Melayu yang dikreasi ulang berdasarkan teks asli Arab oleh para pujangga di Nusantara (Jawa). Siapa penulisnya tak diketahui. Mungkin seorang sarjana di komunitas keagamaan Muslim di Giri atau Gresik atau Surabaya pada abad ke-17. Namun Bernard Arps, ahli sastra Jawa dari Leiden, Belanda, menyebut asal-usul dan perkembangan yang tepat masih perlu diteliti.

Ada beberapa versi kisah Nabi Yusuf yang terbit dan mirip dengan “teks Jawa Timuran lama”. Salah satunya ditransliterasi dan diterjemahkan Titik Pudjiastuti dan Hardjana HP dengan judul Kitab Yusuf (1981).

Titik dan Hardjana sendiri menyebut Lontar Yusuf Banyuwangi kemungkinan besar merupakan salinan tak langsung dari sebuah manuskrip dari Cirebon, yang disusun pada tahun Jawa 1555 (1633-1634 M). Tapi, di antara kedua naskah tersebut, terdapat perbedaan yang menonjol, terutama dalam hal pemilihan kosakata dan detil pengisahannya.

Baca juga: Keindahan yang Terjaga dari Hutan Tua

Transliterasi dari manuskrip Cirebon itu juga mencantumkan toponim Karangpura. Dalam “Yusup, Sri Tanjung, and Fragrant Water: The Adoption of A Popular Islamic Poem in Banyuwangi, East Java”, dimuat Looking in Odd Mirrors suntingan V.J.H Houben dkk, Bernard Arps menduga Karangpura sebagai Karang kedhaton di Giri, salah satu tempat yang disebut Pigeaud. Yang berkuasa saat Kitab Yusuf ditulis adalah Panembahan Kawis Tuwa atau Kawis Guwa.

Namun, Lontar Yusuf mungkin dikenal di Blambangan –nama lama Banyuwangi– pada tahap awal. Mungkin pula sudah ada komunitas Muslim di Blambangan ketika Lontar Yusuf ditulis atau disalin di Karangpura. “Kemungkinan besar itu digunakan, sesuai dengan isinya, antara lain untuk mendukung pengenalan Islam,” tulis Bernard Arps.

Di sisi lain, di Blambangan berkembang tradisi seni mocoan kitab-kitab keagamaan. Maka, tradisi mocoan Lontar Yusuf berkembang seiring menguatnya pengaruh Islam. Dipakai sebagai sarana menarik hati masyarakat yang umumnya beragama Hindu. Ini mirip dengan pengislaman ala Sunan Kalijaga; memadukan kebudayaan Islam dan lokal (Hindu). Tak heran jika mocoan juga dilakukan dalam ritual adat di desa-desa Osing, suku asli Banyuwangi.

“Di Banyuwangi, Lontar Yusuf merupakan satu-satunya naskah kuno yang hingga kini masih dirawat dan ‘hidup’ dalam masyarakat lokal, terutama di wilayah pedesaan, Banyuwangi,” tulis Wiwin Indiarti, yang mentransliterasi dan menerjemahkan naskah berangka tahun Jawa 1829 (1890-an M) dengan judul Lontar Yusup Banyuwangi (2018).

“Naskah-naskah kuno Banyuwangi lainnya, seperti Kidung Sritanjung dan berbagai varian Babad Blambangan, hampir tidak pernah dibacakan lagi saat ini.”

Merawat Tradisi

Kegiatan mocoan mirip sebuah pengajian. Para pembaca setianya rutin membaca seminggu sekali dari rumah ke rumah secara bergiliran. Pembacaannya tidak lengkap hingga 12 pupuh melainkan hanya 2-3 pupuh awal. Namun jika mau dibaca lengkap semua pupuh, mocoan dimulai selepas Isya dan baru berakhir menjelang Subuh.

Di sejumlah desa Osing, mocoan Lontar Yusuf biasa digelar dalam prosesi selamatan terkait kelahiran, khitan, perkawinan. Mereka berharap limpahan berkah Nabi Yusuf menular dalam kehidupan mereka. Para orangtua berharap anak yang akan lahir memiliki wajah dan tabiat seperti Nabi Yusuf atau anak yang dikhitan tak merasakan sakit. Pasangan pengantin berharap rukun dan bahagia hingga akhir hayat.

Mocoan Lontar Yusuf juga mengiringi prosesi adat bersih desa dan tolak bala, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa agar terhindar dari segala bencana dan penyakit. Misalnya, ritual Ider Bumi, Tumpeng Sewu, dan Seblang Bakungan. Ritual-ritual adat tersebut masuk dalam agenda Banyuwangi Festival 2020; yang masing-masing digelar pada 25 Mei, 23 Juli, dan 9 Agustus.

Namun, setua apapun sebuah tradisi atau budaya, ia akan punah jika tanpa regenerasi. Perlu sebuah gerakan kultural agar warisan leluhur tersebut tak tergerus arus zaman.

Baca juga: Tarian yang Mempesona

Awal 2017, kaum muda Osing membentuk sebuah lembaga bernama Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Osing. Salah satu programnya adalah merintis sekolah adat Osing. Mocoan Lontar Yusuf merupakan salah satu materi pembelajaran di sekolah adat Osing tersebut. Mereka juga melakukan beragam bentuk kerja, dari pendokumentasian hingga pelatihan, untuk menjaga keberlangsungan mocoan Lontar Yusuf.

Dan semua usaha itu berbuah manis. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Mocoan Lontar Yusuf sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2019.

“Alhamdulillah, tahun ini budaya dan tradisi Banyuwangi kembali ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), melengkapi tradisi lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain apresiasi dari pusat, ini akan menambah semangat untuk terus lebih giat menjaga dan melestasikan tradisi luhur Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Agustus 2019.

Hal ini menambah daftar budaya tradisi Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda seperti Janger, Seblang Olehsari dan Bakungan, hingga Keboan Aliyan.

TAG

banyuwangi wisata

ARTIKEL TERKAIT

Hanandjoeddin dan Sejuta Pesona Pariwisata Belitung Awal Mula Pelesiran Lebaran ke Kebun Binatang Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi Cerita di Balik Pembangunan TMII Wisata Sumatra Era Kolonial Pudarnya Pesona Hostel Pertama di Jakarta Perjalanan Habitat Ora atau Komodo Menjadi Tempat Wisata Dihantam Pandemi Bali bak Kota Mati Berpacu dalam Kendang Kempul Suara Angklung dari Timur