Masuk Daftar
My Getplus

Menak Jingga yang Ganteng

Sosoknya tak lagi menakutkan. Tapi ksatria dan pemimpin yang gagah, bijaksana, dan dekat dengan rakyatnya.

Oleh: Historia | 09 Mei 2020
Pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival The Kingdom of Blambangan pada Juli 2019. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi).

RIBUAN orang memadati pingir jalan protokol di jantung kota Banyuwangi. Mereka begitu terkesima menyaksikan parade kostum etnik modern nan megah dari pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019 yang mengangkat tema “The Kingdom of Blambangan”.

Sajian apik lainnya, yang membuka BEC 2019, tak kalah memukau penonton: sedratari Amuke Satria Blambangan. Ia  mengisahkan perang antara Kerajaan Blambangan dan  Kerajaan Majapahit, yang akhirnya dimenangkan Menak Jingga, adipati Blambangan yang kemudian jadi raja Blambangan.

Sendratari dibuka dengan fragmen kemegahan prajurit Blambangan yang melakukan olah kanuragan. Sekira 20 orang dengan kostum dominan hitam melakukan gerak silat ala Banyuwangi, diiringi gending gaya Banyuwangi yang rancak. Lalu masuklah tokoh Menak Jingga. Dia beserta para senapatinya menerima tamu dari Majapahit yang membawa undangan paseban agung ke Majapahit. Menak Jingga pun berangkat beserta keluarga dan prajurit pilihan, meski hal itu sudah dicegah oleh senapatinya.

Advertising
Advertising

Baca juga: Perlawanan Jagapati sebagai Hari Jadi Banyuwangi

Sesampai di Majapahit, dia disambut pasukan di bawah pimpinan Wikramawardhana dan Kencanawungu. Raja Majapahit ini menuduh Menak Jingga datang ke paseban diiringi pasukan pilihan itu hendak menyerbu Majapahit. Menak Jingga tak terima dengan tuduhan itu. Dia mengamuk sejadi-jadinya dengan membawa senjata gadanya.

“Lewat BEC penonton diajak menyelami sejarah dengan cara yang menyenangkan. Tidak hanya menampilkan pawai kostum saja, tapi juga disertai narasi sejarah dan tradisi lokal yang menambah wawasan. Inilah yang menjadi keunikan dari BEC,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip dari laman banyuwangikab.go.id.

Satria Menak Jingga

Kisah Menak Jingga dikenal di seantero Jawa. Tokoh dari Blambangan –sekarang Banyuwangi– dikisahkan sebagai kubu antagonis dalam persaingan antara Majapahit dan Blambangan. Dalam banyak cerita, Menak Jingga memiliki karakter mudah marah. Penggambaran ini membuat resah beberapa tokoh budaya Banyuwangi. Salah satunya Hasnan Singodimayan.

“Dibilang Banyuwangi ini nenek moyangnya Menak Jingga. Berwajah merah. Marah-marah saja sama Majapahit. Keturunannya cantik-cantik, sanghyang wedari gandrung, selendangnya merah,” ujar Hasnan dalam tayangan di laman YouTube.

Menak Jingga merupakan tokoh sentral dalam sejarah Blambangan, yang ditempatkan sebagai seorang ksatria atau pemimpin kebanggaan Wong Osing, suku asli Banyuwangi. Sebaliknya, dalam sejarah Majapahit, Damarwulan menjadi tokoh utama karena dapat membunuh Menak Jingga.

Blambangan sebagai sebuah negara adalah sebuah kenyataan sejarah. Serat Pararaton menuliskan perluasan kekuasaan Majapahit ke ujung timur Jawa, termasuk Blambangan. Saat pemerintahan Hayam Wuruk, wilayah Blambangan diserahkan kepada anaknya yang bernama Bhre Wirabumi.

Baca juga: Temu Legenda Banyuwangi

Setelah Hayam Wuruk mangkat, tahta Majapahit diserahkan kepada Wikramawardhana, menantu lelaki Hayam Wuruk. Sepuluh tahun Wikramawardhana berkuasa, tahta Majapahit diberikan kepada anak perempuannya yang bernama Dewi Suhita.

Bhre Wirabhumi menolak pengangkatan Suhita dan menginginkan Blambangan lepas dari Majapahit. Majapahit dan Blambangan pun berkonflik (1404-1406) yang berakhir dengan kehancuran Bhre Wirabumi. Lehernya ddipenggal lalu kepalanya dipersembahkan kepada Ratu Majapahit.

“Sejarah kematian Bhre Wirabumi mirip dengan salah satu cerita yang dituturkan dalam epik Jawa terkenal Serat Damarwulan. J. L. A. Brandes mengasosiasikan Bhre Wirabumi dengan Raja Menak Jingga, seorang figur antagonis dalam epik tersebut,” catat sejarawan Sri Margana dalam artikel “Jatuhnya Blambangan 1768”. Brandes adalah filolog berkebangsaan Belanda

Ada lagi Babad Blambangan yang menceritakan bahwa Menak Jingga adalah anak petapa dari Tengger bernama Ajar Guntur Geni. Atas kesaktiannya mengusir musuh Majapahit, petapa ini memperoleh nama baru dari raja Majapahit: Pamengger.

“Guntur Geni yang telah mematahkan serangan di pantai Jawa Timur; serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh raja Majapahit dari seberang laut. Penyerang-penyerang itu adalah orang-orang Siyem (Siam), Kaboja (Kamboja), dan Sukadana (Kalimantan),” tulis H.J. de Graaf dan Th.G. Thomas Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa.

Baca juga: Metamorfosis Hadrah Kuntulan

Pamengger tak memiliki anak. Dia hanya memiliki seekor anjing. Dia mengubah wujud anjing itu menjadi manusia yang tak sempurna karena masih berkepala anjing. Dia menamainya Menak Jingga. Akhir kisah babad ini juga berujung pada kekalahan Menak Jingga dari Damarwulan.

“Bhre Wirabumi, Pamengger, dan Menak Jingga, semua tokoh ini barangkali merujuk pada satu figur yang sama. Jika yang pertama diterima sebagai figur yang lebih historis, maka dua yang terakhir mestinya merupakan personifikasi dari yang pertama,” tulis Sri Margana.

Kisah legenda Menak Jingga dan Damarwulan kemudian diadaptasi dalam sejumlah karya sastra. Misalnya, Serat Damarwulan yang ditulis R. Ng Selawinata tahun 1885 atau pada masa Sultan Hamengkubuwana VII. Kisah legenda itu juga diadaptasi dalam seni pertunjukan seperti Langendriyan yang berkembang di Yogyakarta, ketoprak dengan lakon Damarwulan-Menak Jingga, dan Janger di Banyuwangi.

Dekonstruksi

Selama bertahun-tahun Menak Jingga dalam seni pertunjukan digambarkan sebagai antagonis yang sadis. Namun seniman-seniman Banyuwangi mencoba mendekonstruksi imej Menak Jingga sebagai tokoh buruk rupa, baik postur tubuh, wajah, suara, maupun sifatnya.

“Menak Jingga adalah seorang ksatria, tinggi besar, gagah berani, dan merupakan tokoh yang menjadi ikon dalam cerita itu dan sekaligus sebagai pahlawan Blambangan/Banyuwangi,” ujar Adi Purwadi dari Lembaga Masyarakat Adat Using, dikutip dari artikel Novi Anoegrajekti berjudul “Janger Banyuwangi dan Menak Jingga: Revitalisasi Budaya” di jurnal Literasi Volume 4 Juni 2014.

Baca juga: Di Balik Ritual Keboan

Citra baru Menak Jingga muncul dalam perhelatan BEC 2019. Menak Jingga tidak digambarkan berkaki pincang, berwajah anjing, dan memiliki perut buncit. Namun dia berbadan tegap, berparas layaknya manusia, serta menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat dan prajuritnya.

“Ketika melihat opening BEC, itulah Menak Jingga tampilan Blambangan. Orang lain tidak boleh sakit hati, sebagaimana kami tidak sakit hati melihat gambaran Menak Jingga bertahun-tahun yang jelek. Kita membalik bahwa Menak Jingga itu gagah, bijaksana dan tampan,” ujar Abdullah Fauzi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi di akun BTD channel di saluran daring YouTube.

TAG

banyuwangi wisata majapahit

ARTIKEL TERKAIT

Kecak dari Sakral Jadi Profan Merekam Dua Sisi Pematangsiantar Hanandjoeddin dan Sejuta Pesona Pariwisata Belitung Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno Awal Mula Pelesiran Lebaran ke Kebun Binatang Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon Naskah Pegon Tertua di Jawa Cerita di Balik Pembangunan TMII Wisata Sumatra Era Kolonial