Masuk Daftar
My Getplus

Temu Legenda Banyuwangi

Keindahan suaranya disebut-sebut sebagai eksotisme dari timur.

Oleh: Tim Historia | 30 Apr 2020
Temu Misti, ikon kesenian gandrung Banyuwangi, Jawa Timur. (@banyuwangi_kab).

IKON kesenian gandrung Banyuwangi, Jawa Timur, unjuk kebolehan. Meski usianya menua, gerakan tangan, pinggul, kaki, dan kepalanya masih lincah dan luwes. Mengikuti irama gamelan yang rancak. Sesekali, dengan cekatan, tangannya melempar sampur.

Begitulah Temu menari kala mengisi acara Sarasehan Budaya “Masa Depan Kesenian Gandrung di Banyuwangi” yang merupakan bagian dari Festival Lembah Ijen, medio Februari lalu.

Temu dikenal sebagai maestro gandrung Banyuwangi. Sebagai penari gandrung senior, Temu memiliki kemampuan dalam bernyanyi, menari, dan wangsalan.

Advertising
Advertising

“Penari gandrung sekarang, ada yang bisa menyanyi tapi tak bisa menari, atau ada yang bisa menari tapi tak bisa menyanyi –sehingga yang menyanyi adalah orang lain,” ujar Temu dalam wawancara yang dimuat buku Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan suntingan Philip Yampolsky.

Sang Primadona

Nama kecil Temu adalah Misti. Dia lahir 20 April 1953 di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, sekira tujuh kilometer dari Kota Banyuwangi. Misti adalah anak kedua dari pasangan Mustari dan Supiah.

“Darah seni Temu mengalir dari sang ayah yang merupakan pemain ludruk dan biasa membawakan lagu jula-juli yang disebut kidungan ludruk. Darah seni juga dimiliki sang kakek, yakni Samin. Beliau ahli dalam seni tradisi mocoan lontar,” tulis Dwi Ratna Nurhajarini dalam artikelnya “Temu: Maestro Gandrung dari Kemiren Banyuwangi”, dimuat Patrawidya, Desember 2015.

Misti kecil sering sakit. Karena khawatir, ibunya bernazar kalau sudah besar Misti menjadi gandrung. Mirip dengan kisah Semi yang dikenal sebagai penari gandrung pertama. Namun jalan Temu menjadi penari gandrung lebih berliku.

Baca juga: Tarian yang Mempesona

Karena orangtuanya bercerai, Misti kecil tinggal bersama keluarga bude dan pakdenya. Karena sejak kecil sakit-sakitan, Misti dibawa dan diobati ke seorang dukun. Misti juga dibawa ke juragan gandrung bernama Mbah Ti'ah. Oleh Mbah Ti’ah, dia diharapkan menjadi gandung.

“Kesembuhan Misti dari sakit menurut istilah dari juragan Ti'ah adalah nemu nyawa (mendapatkan kehidupan lagi setelah sakit parah). Dari istilah nemu kemudian berubah menjadi Temu,” tulis Dwi.

Temu mulai intens belajar gandrung. Menginjak usia 15 tahun, dia manggung untuk pertama kali di Dusun Gadok, tak jauh dari tempat tinggalnya. Pementasan ini merupakan fase wisuda sebagai penari gandrung atau biasa disebut meras. Nama Gandrung Temu kemudian melekat padanya, kendati orang Using sering menyebutnya dengan nama Gandrung Temuk atau Mak Muk.

Dengan suara dan gerak khas yang tak dimiliki gandrung lain, Temu perlahan dikenal orang. Dia kerap ditanggap. Jadwal pentasnya padat; bisa sampai 20 kali dalam sebulan. Temu jadi primadona.

Penari gandrung Banyuwangi, Jawa Timur. (@banyuwangi_kab)

Album Rekaman

Selain teknik menari yang bagus, Temu piawai melantunkan gending atau lagu gandrung. Dengan cengkok khas Osing, suara melengking tinggi dan jelas, keindahan suara Temu disebut-sebut sebagai eksotisme dari timur.

“Memang sulit untuk mempelajari lagu-lagu gandrung, saya tak tahu kenapa,” ujar Temu dalam buku Yampolsky.

Karena keindahan suaranya, Temu dilirik perusahaan rekaman. Sejumlah album lagu gandrung direkam dan dijual dalam bentuk kaset atau CD. Penjualannya lumayan laris di pasaran.

Farida Indiriastuti dalam “Dari Kemiren ke Hollywood” di Kompas, 3 November 2007, mengambil sampel album kompilasi Temu Disco Etnik Banyuwangi yang direkam Sandi Record. Album ini mampu menembus angka penjualan fantastis: 50.000 VCD dan 10.000 kaset dengan distribusi meliputi Jawa, Madura, dan Bali.

“Lagu bahasa Osing itu disenangi. Lagunya sendiri gak dimengerti. Tapi orang senang. Enak didengar,” ujar Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi, dalam tayangan berjudul “Bahasa Using (Osing) Banyuwangi” produksi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta yang beredar di YouTube

Baca juga: Merawat Kisah Nabi Yusuf

Suara emas Temu bahkan melanglang hingga ke mancanegara. Pada 1980-an, Smithsonian Institution dari Amerika Serikat melakukan proyek pendokumentasian dan penerbitan musik rakyat bekerjasama dengan Masyarakat Musikologi Indonesia –kini, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Mereka membuat 20 volume atau album yang dilabeli Music of Indonesia. Volume pertama adalah Gandrung Banyuwangi dengan judul Songs Before Dawn yang rilis tahun 1991.

Gandrung Banyuwangi dibawakan oleh Temu dan direkam di sebuah kebun pada malam hari di Desa Kemiren. Rekaman dalam bentuk CD itu berisi 11 lagu gandrung. Di Indonesia, album ini rilis enam tahun kemudian dengan judul Nyanyian Menjelang Fajar.

Seperti judul albumnya, 11 lagu itu biasa dibawakan kala seblang subuh atau bagian terakhir dari pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari gandrung menari sendiri sambil melantunkan lagu-lagu gending untuk mengakhiri pertunjukan. Tujuannya mengingatkan penonton atau para tamu untuk kembali ke rumah, bertemu dengan keluarga, dan memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Dewasa ini seblang subuh jarang dipentaskan.

Songs Before Dawn rupanya diperjualbelukan secara luas dan laku. Pada medio Juli 1992 saja, catat Farida, amazon.com (AS) mencatat angka penjualan sebanyak 284.999 keping CD dalam tempo 24 jam. Belum lagi kalau dihitung angka penjualan di negara-negara lain dalam format CD, kaset, dan unduhan via internet.

Popularitas Temu tak berbanding lurus dengan penghasilan yang didapatkannya. Temu tetap hidup sederhana. Dengan kesederhanaan pula dia menjalani hidup sebagai seniman.

Berkat Temu, gandrung Banyuwangi kian dikenal di dunia. Berkat dedikasi Temu pula, gandrung Banyuwangi tetap lestari dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Baca juga: Seblang Menolak Bala

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Temu menjadi salah satu inspirasi bagi Banyuwangi untuk menggelar Festival Gandrung Sewu. “Kami bangga memiliki Bu Temu yang tak pernah lelah dan bosan menguri-uri kesenian Gandrung. Festival Gandrung Sewu juga terinspirasi dari semangat Bu Temu,” ujar Anas dalam laman Pemkab Banyuwangi.

Kini, di rumahnya yang sederhana, Temu masih berupaya melestarikan gandrung. Temu memiliki grup gandrung sekaligus sanggar di rumahnya yang diberi nama Sopo Ngiro. Salah satu yang nyantrik atau belajar kepadanya adalah Mudaiyah, yang kini dikenal sebagai penari gandrung muda Desa Kemiren.

“Saya akan terus menari sampai saya tak laku lagi. Saya ingin terus menari sampai saya punya murid yang menekuni tradisi ini, sampai murid itu bisa menari semua tarian dan bisa menyanyi semua lagu. Baru saya bisa pensiun!,” ujar Temu dalam buku Philip Yampolsky.

TAG

banyuwangi wisata musik tari

ARTIKEL TERKAIT

Asal-Usul Pengamen Hanandjoeddin dan Sejuta Pesona Pariwisata Belitung Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda Awal Mula Pelesiran Lebaran ke Kebun Binatang Petikan Gambus Entakkan Gendang Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi Cerita di Balik Pembangunan TMII Kisah Hak Cipta dan Royalti Musik di Indonesia Zakia... Zakia... Di Balik Panggung Sejarah Grammy Award