Masuk Daftar
My Getplus

Antropolog Swiss dan Polisi RI Cincai

Terkena urusan hukum saat riset di Indonesia, antropolog Swiss berhasil menyelesaikannya dengan cincai.

Oleh: M.F. Mukthi | 28 Mar 2020
Penduduk di sebuah kampung di Siberut, Mentawai (Foto: wikimediacommons.org/www.geheugenvannederland.nl)

SETELAH dua hari mengarungi pelayaran sulit, antropolog asal Swiss Reimar Schefold akhirnya sampai di rumah Helmut Buchholz, kawannya yang berkebangsaan Jerman dan berprofesi sebagai penginjil di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Selain untuk mengurus perpanjangan visa, kepergian Reimar dari pesisir barat ke Muara Siberut pada akhir dekade 1960-an itu adalah untuk membicarakan surat dakwaan yang diterimanya terkait dugaan pembelaannya terhadap masyarakat Sakuddei.

“Aku langsung menemui dan berbicara kepada Helmut setelah kedatanganku di pos penginjilan itu. Selain itu ia juga ingin mengetahui apa makna sebenarnya dari: tindakanku sebagai ‘kepala suku orang-orang kafir.’,” ujar Reimar dalam memoar berjudul Aku dan Orang Sakuddei: Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai.

Kepolisian setempat mendakwa Reimar karena menganggap riset Reimar di pedalaman Mentawai dengan tinggal bareng masyarakat Sakuddei sejak 1967 sebagai dukungan terhadap masyarakat itu dalam melawan “modernisasi” yang digulirkan pemerintah sejak era Presiden Sukarno dan dilanjutkan pada era Soeharto. Dalam “modernisasi” itu, pemerintah memperkenalkan dan mengajak suku-suku terbelakang untuk mengadaopsi hal-hal modern dan meninggalkan hal-hal “primitif” seperti kehidupan berburu, bertato, berambut gondrong, dan lain-lain.

Advertising
Advertising

“Di Mentawai, pamongpraja menyuruh cukur rambut orang lelaki yang panjang, demi moderninsasi suku Mentawai, sedang di Jakarta dan kota-kota besar, laki-laki, tua dan muda memangjangkan rambut mereka! Di Pulau Fiki orang setengah telanjang ke sekolah itu modernisasi! Di Irian Jaya koteka dibuang, di Jakarta tari telanjang di nightclub. Sikap feodal ini juga langsung berakar pada sikap manusia Indonesia terhadap kekuasaan,” kata Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia.

Modernisasi yang dilancarkan pemerintah itu pula yang kerap menimbulkan gesekan dengan orang-orang Mentawai, terutama masyarakat Sakuddai tempat Reimar menumpang. Lantaran mendukung prinsip hidup masyarakat Sakuddai untuk melestarikan hutan tempat hidup mereka dan budaya leluhurnya, Reimar dicap melawan modernisasi oleh pemerintah. Hal inilah yang coba dinselesaikannya dengan Nico, kepala polisi RI setempat.

Saat Helmut esoknya memimpin misa Minggu di gereja penginjilannya, Reimar melihat Nico duduk di barisan depan. Dia langsung mengampirinya dan meminta membicarakan surat dakwaannya secara empat mata di kantor polisi. Keduanya pun sepakat untuk membicarakannya pada keesokan harinya di tempat penginjilan itu sesuai permintaan Nico.

Keduanya langsung masuk ke pokok pembicaraan ketika keesokan harinya bertemu. “Anda mungkin sudah mendengar cerita yang mereka katakan tentang Anda. Aku ingin sekali mendengar sendiri dari Anda tentang kebenarannya,” kata Nico, dikutip Reimar.

Setelah Reimar menjelaskan pandangannya, keduanya pun terlibat dalam perdebatan. Nico bertahan pada pendapatnya yang mendukung pandangan pemerintah Indonesia. “Ide-ide primitif seperti itu harus dilarang. Dan bila Anda ingin tahu kenapa: mereka menghambat kemajuan. Aku tidak akan menghalangi Anda untuk itu. Akan tetapi apabila ini berakibat membuat orang-orang berpaling dari kemajuan, maka aku akan tampil dan melawannya. Itulah mengapa aku memintamu datang kemari,” kata Nico.

 Perdebatan itu akhirnya selesai dengan pandangan solutif yang dikeluarkan Reimar. “Orang-orang seperti orang-orang Sakuddei itu pertama-tama harus mendapatkan kesempatan untuk mengerti mengapa mereka harus berubah dan kemudian ikut menentukan apa yang ingin mereka ambil alih. Bila tidak maka mereka diperlakukan sama saja seperti di bawah kekuatan kolonialisme.”

Suasana persahabatan kembali melingkupi keduanya. Nico menutup pertemuan dengan perintah agar Reimar melihat arloji Rolex yang dipakainya. Arloji itu rusak dan karena tak ada orang di sana yang bisa memperbaikinya, arloji itu terus dipakainya dalam keadaan mati.

“Aku akan dengan senang hati menolong Anda, tetapi barangkali Anda juga bisa menolongku. Kulihat Anda memakai Omega. Jadi begini: kuberikan Anda Rolex-ku; yang akan Anda bawa pulang untuk diperbaikin dan Anda memberikanku Omega itu sebagai gantinya,” kata Nico.

Keduanya pun sepakat. “Anda adalah teman orang Indonesia. Aku akan menolong Anda selama Anda ingin tinggal di sini,” sambungnya.

Ketika Helmut masuk ke ruangan sesaat kemudian, pembicaraan sudah selesai. “Ketika aku bercerita kepadanya bahwa Niko akan menolongku dalam memperpanjang visaku, Helmut terbelalak,” kata Reimar.   

TAG

sejarah indonesia

ARTIKEL TERKAIT

Peluang Emas Pasukan Baret Merah Seketika Musnah (Lanjutan) Ketika Baret Merah Berhasil Mengorek Informasi Gerombolan Bersenjata Aparat Salah Cegat Komandan Resimen Dikagetkan Tank Jadi-jadian Candaan Bung Hatta dan Kawan-kawan di Bangka Hoegeng dan Beking Judi Alex Kawilarang Kena Prank Alex Kawilarang Diserang Pasukan Lintah Gatot Subroto Bercanda Rambut Bawah Tujuh Cerita Ringan Sukarno