Masuk Daftar
My Getplus

Pudarnya Pesona Hostel Pertama di Jakarta

Di tengah gempuran berbagai hotel masa kini dan pandemi, hostel pertama di Jakarta ini mencoba untuk bertahan hidup.

Oleh: Fernando Randy | 24 Jan 2021
Salah satu sudut di Wisma Delima yang merupakan hosterl pertama di Jakarta. ( Foto : Fernando Randy/Historia )

Di Jakarta ada satu nama jalan yang unik. Biasanya nama jalan berasal dari nama pahlawan, tokoh setempat, atau tetumbuhan. Tapi jalan yang satu ini diberi nama dari profesi : Jalan Jaksa. Nama ini mengacu pada orang-orang yang pernah tinggal di jalan ini. Sebagian besar mahasiswa Rechts Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum Batavia. Mahasiswa itu hampir tiap hari mengikuti kuliah di Koningsplein atau sekarang wilayah Monumen Nasional. Banyak diantaranya berasal dari luar Batavia. Mereka mencari penginapan murah yang tak terlalu jauh dari kampusnya. Pilihannya jatuh pada wilayah Gondangdia.

Seni mural yang bertuliskan Welcome To Jalan Jaksa terpampang di salah satu tembok jalan legendaris tersebut. (Fernando Randy/Historia.id).
Para turis berpose di depan Wisma Delima sekitar tahun 1970. (Fernando Randy/Historia.id).

Citra murah ini berlanjut sampai Indonesia merdeka. Penginap di Jalan Jaksa bukan lagi mahasiswa, tapi para pelancong dalam dan luar negeri. Selain penginapan murah, Jalan Jaksa juga sohor karena kafe dan tempat hiburan murahnya sehingga sangat ideal bagi para pelancong berkantong cekak dengan tas ransel (backpacker). Salah satu penginapan murah yang tertua di Jalan Jaksa bernama Wisma Delima. Penginapan dengan fasilitas sederhana ini didirkan oleh Nathanael Lawalata, lelaki asal Maluku. “Nama itu berasal dari jumlah keluarga kami saat itu : Papa, Mama, dan tiga anaknya termasuk saya. Ada lima dan pas juga nomor rumah kami nomor lima,” ujar Boy Lawalata (66) putra ketiga Nathanael yang kini mengelola Wisma Delima kepada Historia.

Pendiri Wisma Delima Nathanael Lawalata dan istri. (Fernando Randy/Historia.id) 

Boy ingat awal mula mereka merintis hostel yang didominasi warna coklat ini. Awalnya masih sepi peminat. Terus seperti itu sampai 1971. Padahal tarifnya sangat murah hanya 200 rupiah atau setara dengan 1 dolar saat itu. Berbagai cara pun ditempuh oleh semua keluarga agar Wisma Delima bisa diketahui oleh turis. “Dulu kami itu setiap hari nongkrong di Bandara Kemayoran untuk cari turis. Kami naik becak kesana. Pulang-pergi,” kata Boy. Tiap turis yang bersedia menginap di Wisma Delima akan diantar menggunakan becak. Jaraknya sekira 6.8 kilometer dengan jarak tempuh becak sejam.

Advertising
Advertising
Boy Lawalata dan foto salah satu kamar di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id).
Ibu Ning istri Boy Lawalata yang juga bertugas menyediakan sarapan bagi para tamu. (Fernando Randy/Historia.id).

Tapi tamu masih sedikit. Keadaan berubah ketika Nathanael mendaftarkan Wisma Delima pada International Youth Hostel Federation (IYHF) pada 1972. Sejak itu tamu berdatangan. Wisma Delima juga tercantum dalam buku panduan wisata sekelas Lonely Planet. Masa kejayaan Wisma Delima merentang dari 1979 hingga 1990. Pemasukan dari tamu diputar untuk menambah kamar, dari 12 menjadi 14. Juga ada tambahan 2 kamar bertipe khusus untuk rombongan enam orang atau dikenal kamar tipe dormitory. “Setiap musim liburan di Eropa, kamar penuh terus. Bahkan sampai ke lantai. Mereka tidur hanya dengan kantong tidur. Dan kita juga akhirnya mengontrak rumah tetangga kanan-kiri sini buat turis. Karena disini sudah tidak muat lagi,” lanjut Boy.

Pak Yanu karyawan yang sudah bekerja sejak 1985 di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id).
Berbagai sudut di Wisma Delima saat ini. (Fernando Randy/Historia.id).
(kiri) Salah satu hiasan ayam di sudut Wisma. (kanan) Moses Lawalata yang bertekad menjadi penerus untuk Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id).

Seiring perkembangan zaman, tantangan Wisma Delima pun berubah. Wisma Delima mulai sepi dari tahun 2014. Saat itu ada kebijakan dari pemerintah kota Jakarta tidak boleh parkir di trotoar. Orang jadi malas kemari karena tidak ada gedung parkir. Selepas itu, pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Di tengah berbagai polemik, Boy berupaya menjaga Wisma Delima dengan sekuat tenaga. Apalagi penginapan yang kini bertarif 200 ratus ribu semalam tersebut sudah menjadi bagian dari sejarah pariwisata di Indonesia.  “Saya akan menjaga Wisma Delima agar terus berdiri di Jakarta,” tutupnya.

Foto sang pendiri Wisma Delima Natanael Lawalata. (Fernando Randy/Historia.id).

 

TAG

jakarta wisma delima jalan jaksa pariwisata

ARTIKEL TERKAIT

Jaminan Keselamatan Rakyat saat Melakukan Perjalanan Kecak dari Sakral Jadi Profan Ketika Perayaan HUT RI Marak Lagi di Jakarta Buah dan Susu di Duren Tiga Merekam Dua Sisi Pematangsiantar Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak” Hanandjoeddin dan Sejuta Pesona Pariwisata Belitung Tempat Jin Buang Anak Jejak Bung Karno di Jakarta Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok