Masuk Daftar
My Getplus

Agama-Agama di Majapahit

Pemeluk agama Hindu, Buddha, Islam, dan Gramadewata, hidup berdampingan di Majapahit.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 21 Jun 2019
Pemakaman Islam di Troloyo. (Tropenmuseum).

Prasasti Waringinpitu yang dikeluarkan oleh Raja Kertawijaya pada 1369 Saka (1447) menyebut nama-nama pejabat birokrasi kerajaan di tingkat pusat. Di antaranya Dharmmadhyaksa ring kasaiwan (pejabat tinggi yang mengurusi Agama Siwa) dan Dharmmadhyaksa ring kasogatan (pejabat tinggi yang mengurusi Agama Buddha).

Dari keterangan itu, menurut arkeolog dan epigraf Hasan Djafar, dapat diketahui di Kerajaan Majapahit setidaknya ada dua agama resmi, yaitu Agama Siwa dan Agama Buddha.

Pada perkembangannya, yaitu ketika Majapahit akhir, peran agama Buddha seakan “menghilang”. Sementara bangunan sucinya kebanyakan bercorak Siwa. Ini menunjukkan hubungan erat antara kedua agama itu. Oleh beberapa sarjana, hubungan ini disebut dengan berbagai istilah. H. Kern menyebutnya percampuran. N.J. Krom, W.H. Rassers, dan P.J. Zoetmulder menyebutnya perpaduan. Sedangkan Th. G. Th. Pigeaud menyebutnya kesejajaran.

Advertising
Advertising

“Hubungan ini sebenarnya telah berlangsung sejak masa sebelumnya sehingga seolah-olah agama Buddha telah terlebur menyatu dalam agama Siwa,” jelas Hasan dalam “Beberapa Catatan Mengenai Keagamaan Pada Masa Majapahit Akhir” termuat di Pertemuan Ilmuan Arkeologi IV.

Baca juga: Kebebasan Beragama Masa Kesultanan Islam di Nusantara

Suasana itu tergambar pula dalam sumber kesusasteraan dari masa Hayam Wuruk. Menurut Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma dan Kakawin Arjunawiwaha, pada dasarnya antara kedua agama itu tak terdapat perbedaan karena keduanya adalah satu.

Pengakuan adanya kepercayaan itu nampak lewat berita dalam prasasti yang pernah dikeluarkan Gajah Mada pada 1351. Di dalamnya tercatat soal pembangunan caitya bagi Kertanegara dan para brahmana tertinggi Siwa dan Buddha.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik, bangunan caitya yang dibuat Gajah Mada sangat mungkin adalah Candi Singhasari sekarang. Pasalnya prasasti itu ditemukan di halaman candi.

Bentuk candi ini unik. Ia bersifat Hindu dan Buddha sekaligus. “Itu mungkin karena candi dibuat untuk menghormati Kertanegara yang memuja Siwa dan Buddha,” kata Agus.

Islam di Majapahit

Kendati bukan agama resmi negara, jejak Islam juga sudah kuat di Majapahit. Bukti kehadiran Islam bisa ditunjukkan lewat pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto. Tak jauh dari situ diduga merupakan kompleks Kedaton Majapahit.

Dari nisannya, makam-makam ini berasal dari 1203 dan 1533 Saka (1281 dan 1611). Artinya, pada masa jayanya, di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, banyak penduduk Majapahit yang memeluk Islam.

Baca juga: Gajah Mada dan Islam di Majapahit

“Mengingat permakaman ini letaknya tak jauh dari kedaton, dapat disimpulkan ini adalah permakaman bagi penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah beragama Islam,” tulis Hasan.

Dari keterangan Ma Huan, seorang muslim dan penerjemah resmi Laksamana Cheng Ho, dalam Ying-yai Sheng-lan disebutkan kalau di Majapahit terdapat tiga golongan penduduk. Salah satunya penduduk muslim. Mereka adalah saudagar yang datang dari berbagai kerajaan di barat.

Baca juga: Catatan Ma Huan tentang Masyarakat Majapahit

Gramadewata

Semua kepercayaan itu lalu berkembang bersama agama rakyat yang masih tetap ada. Arkeolog Agus Aris Munandar dalam Wilwatikta Prana menyebut di beberapa daerah pedalaman Jawa Timur dijumpai arca-arca yang bukan berciri Hindu maupun Buddha. Arca-arca itu ditemukan di reruntuhan bangunan kuno yang bukan bekas bangunan candi dari kedua agama itu.

“Arca-arca itu kemudian dapat dianggap sebagai arca dewa setempat yang hanya dipuja di suatu kampung saja atau disebut gramadewata,” katanya.

Sayangnya, kajian terhadap arca-arca itu belum dilakukan secara tuntas. Apalagi soal kepercayaan yang menyertainya.

Kedati begitu, kata Agus, arca-arca itu bisa jadi menggambarkan nenek moyang kampung-kampung tertentu yang telah mangkat dan dianggap dewa. Praktik memuja nenek moyang telah ada sebelum Hindu-Buddha masuk ke Nusantara. Umumnya, masyarakat prasejarah memuja arwah pemimpin kampung atau kelompok yang dipilih pendukungnya.

Baca juga: Raja Mataram Menjaga Keberagaman

Ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk, nenek moyang itu lalu digambarkan dengan atribut dewa-dewi India. Kalau tidak, kata Agus, dalam masyarakat Majapahit masih ada sekelompok penduduk yang tetap mempertahankan kepercayaan asli yang mungkin berawal dari masa prasejarah.  

“Pada zaman Majapahit kehidupan beragama dalam masyarakat berkembang secara wajar. Bukannya saling menggangu, dan membiarkan setiap kelompok agama mengadakan ritual masing-masing,” tegasnya.

TAG

Majapahit

ARTIKEL TERKAIT

Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon Naskah Pegon Tertua di Jawa Memahami "Preman" yang Diberantas Gajah Mada Hikayat Putri Cempa dan Islam di Majapahit Bencana Gunung Api Menghantui Majapahit Syekh Jumadil Kubra dan Orang Islam di Majapahit Blambangan dan Kuasa di Ujung Timur Jawa Menak Jingga yang Ganteng Emas Kegemaran Bangsawan Jawa