Masuk Daftar
My Getplus

Batavia Selain Jakarta

Batavia yang kini Jakarta, tak hanya di Hindia Belanda. Di New York, Amerika Serikat juga ada Batavia. Sama-sama terkait Belanda.

Oleh: Amanda Rachmadita | 07 Jun 2023
Kantor Holland Land Company yang dijadikan museum di Batavia, New York, Amerika Serikat. (Daniel Case/Wikimedia Commons).

JAN Pieterszoon Coen dan pasukannya berhasil merebut kota Jayakarta pada 30 Mei 1619. Gubernur jenderal VOC ini segera membangun kota berbenteng yang kemudian dikenal dengan nama Batavia. Mulanya Coen ingin memberi nama Nieuw Hoorn untuk mengenang kota kelahirannya, Hoorn di Belanda.

“Tetapi usul ini tidak digubris oleh para petinggi VOC di Amsterdam, yaitu De Heeren Seventien. Bahkan mereka lebih suka mengesahkan nama Batavia bagi kota yang baru didirikan Coen ini,” tulis Mona Lohanda, sejarawan dan arsiparis, dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia.

Dalam buku Sedjarah Pemerintahan Kota Djakarta terbitan Kotapradja Djakarta Raya disebutkan nama Batavia telah diumumkan oleh Pieter Van Raay, pimpinan benteng, pada 12 Maret 1619. Nama Batavia dipakai untuk mengingatkan kepada Batavieren atau Bataven, yaitu orang-orang dari suku bangsa Jerman yang mula-mula menduduki dan menetap di Belanda. Mereka adalah nenek moyang bangsa Belanda. Pucuk pimpinan VOC di Belanda sudah sejak 31 Oktober 1617 memerintahkan gubernur jenderal dan Raad (dewan) agar tempat-tempat kedudukan VOC dinamai Batavia sebagai simbol dari bangsa Belanda.

Advertising
Advertising

Baca juga: Ambisi Jan Pieterszoon Coen Membangun Koloni di Batavia

Mengenai kata Batavia sendiri, menurut Dr. F. de Haan dalam Oud Batavia, kata itu diambil dari titel (judul) sebuah buku yang dikarang oleh dokter Hadrianus Junius tahun 1588. Buku yang ditulis dalam bahasa Latin itu menguraikan ihwal bangsa Belanda pada zaman kuno dan semasa kemegahannya. Menurut Junius, pahlawan suku bangsa itu bernama Bato, dan kata Batavia berarti Bato’s have (milik Bato).

Ternyata, Batavia tidak hanya di Hindia Belanda. Sebuah kota di wilayah barat New York, Amerika Serikat, juga bernama sama.

Sebelum dinamai Batavia, menurut Barbara Ann Toal dalam Batavia: Images of America, kota itu memiliki lima nama berbeda. Jo-a-ki berarti “rakun” sebagai nama awal wilayah tersebut. Selanjutnya wilayah itu juga dikenal dengan nama Ton-nor-aun-to berarti “air mengalir deras”, Je-ne-an-da-sase-geh berarti “nyamuk”, dan Deo-on-go-wa atau “Tempat Pertemuan Agung”.

“Ketika orang Eropa datang, mereka menyebut tempat itu ‘The Great Bend of the Ton-ne-wan-ta’. Nama saat ini, Batavia, dipilih oleh Joseph Ellicott, agen lokal Holland Land Company, karena berkaitan dengan bangsa Belanda,” sebut Toal.

Baca juga: Nama Batavia Diresmikan

Terkait kepemilikan tanah tersebut, menurut John Kennedy dalam Robert Morris and the Holland Purchase, pada akhir Perang Revolusi, tanah yang tidak disurvei di wilayah barat New York menjadi milik negara bagian Massachusetts yang tunduk pada hak milik Indian. Namun, setelah hampir seluruh tanah di sebelah barat sungai Genesee dibeli oleh Robert Morris, tokoh penting dalam penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, pada 1791 ia membuat perjanjian dengan orang Indian di mana mereka setuju menyerahkan haknya atas semua tanah kecuali beberapa reservasi berukuran sedang. “Sebagian dari reservasi tersebut masih dipegang dan ditempati oleh orang-orang Indian,” tulis Kennedy.

Tak berselang lama, kondisi ekonomi Morris terpuruk imbas kekalahan dalam Revolusi. Ia terpaksa menjual sebagian besar tanahnya ke Holland Land Company pada 1792. Perusahaan Belanda itu kemudian mempekerjakan Joseph Ellicott (1760–1826), surveyor terkemuka, sebagai kepala survei untuk mempersiapkan pembangunan wilayah tersebut dan mengelola penjualannya.

Joseph Ellicott (1760–1826). (Repro Batavia: Images of America).

Tak hanya memikirkan pembangunan, Ellicott juga mencari nama yang cocok untuk kota baru yang akan didirikannya. Batavia bukan nama pertama yang terlintas dalam pikirannya. Ia sempat akan menamainya Bustia atau Bustiville, yang merujuk pada nama Paul Busti, agen umum Holland Land Company.

Namun, dalam surat Paul Busti kepada Ellicott yang dilampirkan oleh William Seaver dalam A Historical Sketch of the Village of Batavia, Busti menolak selain menganggapnya sebagai sebuah keangkuhan, nama itu juga terdengar bengis dan kejam. Sebagai gantinya, Busti menyarankan agar Ellicott menggunakan nama Batavia yang lebih dekat dengan Belanda, terlebih Holland Land Company merupakan perusahaan dari negara tersebut.

Meninggalkan nama Bustiville, Ellicott kemudian berencana menamai kota itu Tonnewanta. Akhirnya ia pun setuju menggunaka nama Batavia. Selanjutnya Ellicott fokus membangun kota baru yang berlangsung sejak awal tahun 1800-an.

Baca juga: Batavia dalam Litografi

Clara L.T. Williams dalam Joseph Ellicott and Stories of the Holland Purchase menulis bahwa Ellicott memusatkan perhatiannya pada Batavia sebagai tempat yang paling tepat untuk menempatkan kantor pertanahan Holland Land Company dan membangun sebuah kota. Oleh karena itu, tak mengherankan jika kemudian Joseph Ellicott dikenal sebagai pendiri kota Batavia.

Kabar pembangunan Batavia yang akan menjadi ibu kota Holland Purchase tersebar ke berbagai wilayah di Amerika Serikat. Orang-orang berdatangan dengan harapan wilayah tersebut akan menjadi tempat yang baik untuk membeli tanah dan menetap. Seiring berjalannya waktu, kota Batavia kian ramai oleh penghuni. Berbagai fasilitas dan infrastruktur dibangun untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Kereta api membawa industri Batavia ke puncak kejayaannya pada awal tahun 1900, karena semua kereta api berhenti di sini untuk bongkar muat. Kota ini kemudian dikenal sebagai titik distribusi dan pusat perdagangan untuk daerah peternakan sapi perah dan truk serta memiliki beberapa industri.

Ellicott, yang menjadi agen Holland Land Company selama 21 tahun, tak hanya membangun kota Batavia. Ia juga turut andil dalam pembangunan wilayah lain seperti New Amsterdam, Buffalo, New York. Tetapi kebanggaannya adalah kota Batavia. “Saya berniat melakukan semua yang saya bisa untuk Batavia,” kata Ellicott, “karena Yang Mahakuasa akan menjaga Buffalo”.*

TAG

batavia amerika serikat

ARTIKEL TERKAIT

Om Genit Mata Keranjang Mencari Pasangan Lewat Koran Samsi Maela Pejuang Jakarta Tak Bisa Bayar Utang Dipenjara di Ruang Bawah Tanah Berburu Binatang Berhadiah Uang Kebun Binatang Zaman VOC Dari Guci Jadi WC Dua Gubernur Jenderal VOC Panjat Sosial Zaman Kolonial VOC Ambisi Jan Pieterszoon Coen Membangun Koloni di Batavia